Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 END

Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16

Start Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16 Start

Akhh…..Penat yang menumpuk setelah mandi akhirnya buyar sudah seiring rembesan air yang perlahan menyusut di kamar mandi. Dan kini aku sadar, satu masalah telah usai, kini muncul masalah baru. Aku tidak membawa pakaian ganti. Melewati malam dengan pakaian bekas dinas yang telah penuh dengan berbagai macam tekanan pasti tidak menyenangkan. Apa boleh buat, aku akan meminjam baju ke Ima saja. Baju kaos dan celana training mungkin muat. Mungkin, karena ukuran badanku lebih besar dari suami Ima.

Dengan hanya dililit handuk selutut, kupandangi tubuhku di dalam cermin kamar. Hm, perut yang agak buncit ini memang harus dikecilkan lagi. Ku ambil ponsel di saku celanaku dan ku kirimkan BBM ke Arni.

Sayang. Pinjemin baju di Ima donk
Agak lama ku menunggu hingga kemudian ku dengar ketukan di pintu kamar. Ketika ku buka, Arni masuk ke kamar dan membawakanku baju kaos panjang dengan celana training.

“Nih, Kang. Mudah-mudahan muat”

“Iya. Makasih sayang”

“Sama-sama. Loh…kok nonjol? Si Jagoan bangun ya? Hmmmm….”

“Hehehe….Lihat kamu mah si Jagoan selalu bangun sayang…..”

“Halahh gombal….. giliran aku lagi haid aja ganjennya minta ampun. Nih pake dulu bajunya, trus kamu beliin kita makanan yah? Si Ima mau makan bakso ama martabak”

“Hellohh….itu makan atau apa? Kok brutal banget?”

“Namanya juga hamil, sayang. Waktu aku hamil gara-gara ini kan aku juga makannya kalap” Kata Arni sambil menggenggam senjataku. Ah, si Jagoan bagun lagi. Arni memang tidak pernah membuat gairahku padam. Sayang sekali dia haid. Seandainya tidak, aku akan menggarapnya hingga dia teriak-teriak yang membuat saudaranya melojotan sendiri. Arni memang susah mengontrol suaranya setiap kami bercinta. Kadan ia menjerit kadan ia berteriak, itulah sebabnya dia kadang menggigit pinggiran bantal bila dia sudah dikuasai kenikmatannya. Ah, sudahlah. Cerita tentang Arni cukup di sini saja. Aku tidak mau kalian membayangkan istriku.

Aku turun ke bawah dan duduk di sofa sambil menatap istriku dan kedua iparku bercerita tentang apa saja yang ingin mereka ceritakan. Ani sedang membelai Faqih yang sudah tertidur di karpet lembut, dan Ani sedang memangku anak kami Riva. Sedangkan Ima duduk bersila sambil sesekali membelai perutnya yang sudah agak membuncit. Hanya Ima yang mengenakan jilbab. Ima memang belakangan ini sering mengikuti kegiatan di Organisasi Arni hingga ia kini mulai konsisten mengenakan jilbab dan semakin hari jilbabnya semakin panjang. Ani memang dari dulu terkenal agak liberal. Dia baru mengenakan jilbab bila keluar rumah atau pergi mengajar.

Baru saja aku mendudukkan pantatku, Ima datang dan menyodorkan beberapa uang.

“Kang, minta tolong beliin bakso, ya?”

Ku ambil uang itu. Dan menyanggupinya.

“Ama martabak juga. Kalian mau apa?” lanjut si Ima. Satu persatu pesanan mulai meluncur dari mulut Ani dan Arni hingga aku bingung saking banyaknya. Mereka ini perempuan tapi pesen makanannya banyak sekali.

“Banyak banget. Gimana mau dibawa di motor?” protesku.

“Yang… ayo temenin aku donk….” Pintaku ke Arni, meskipun ku tahu itu mustahil karena Arni sedang memangku Riva yang sedang pulas. Sekali saja Riva terbangun, akan sudah baginya untuk tidur lagi.

“Sama kak Ani aja, sayang. Biar aku yang jagain Faqih.” Kata Arni. Ku lirik Ani yang sedang membelai Faqih. Ani melirikku sekilas, dan aku rasa ada yang aneh dalam lirikannya. Segaris senyum yang sangat misterius mengembang di bibir mungilnya.

“Gimana, kak?” Tanya Ima ke Ani. Ani menghela nafas.

“Hhhh…iya, deh.”

Ani mengambil jaketnya dan mengenakan jilbabnya yang ukurannya jauh lebih kecil ketimbang jilbab Arni dan Ima lalu berjalan di belakangku menuju garasi.

“Jadi…..Rahma itu siapa, Kang?” Tanya Ani setelah sekitar lima menit kami meninggalkan rumah Ima.

“Temen kantor, Ni”

“Iya. Aku tau. Kamu tadi udah bilang, Kang” kata Ani. Perlahan tangannya bergeser ke depan dan menjalar turun di selangkanganku. Perlahan tangannya turun dan kini telah menggenggam senjataku dari luar. Ini agak mengganggu konsentrasiku.

“Enakan mana, Kang?” Tanya Ani sambil terus meremas senjataku.

“Enakan apanya? Awwhhhh….Sakit Ni…!” Ani mencubit senjataku dengan keras.

“Gak usah pura-pura bego, deh……Enakan memek siapa? Aku, Arni, atau Rahma?”

“Kasi tau gak ya? Adddohhh….” Dicubit lagi

Aku tidak tahan lagi menerima perlakuan ini. Kali ini harus ada balas dendam. Ku arahkan motor ke arah rumahku.

“Lho….kok bukan ke arah yang bener, Kang?”

Aku diam saja dan mempercepat laju motor. Ani sepertinya mengerti maksudku. Kini tangannya menyelusup masuk dan mengocok senjataku dengan cepat. Tidak beberapa lama kami tiba di rumahku. Ku Tarik lengan Ani dengan agak kasar ke dalam rumah lalu ku angkat tubuhnya.

“Kangg…..Hhhhhh…..Apa Apaan kamuhhhh…..”

Ku banting dia di kasur kamar ku dan ku Tarik dengan cepat celananya. Ku kangkangkan pahanya lalu ku tempelkan senjataku yang telah tegang maksimal.

“Ada permintaan terakhir sebelum ku hajar, nona?” tanyaku menggeram. Ani menggigit bibir bawahnya. Suasana yang singkat ini sangat didominasi oleh birahi. Dapat ku lihat lender yang mengkilap dan mengintip dari celah garis kelaminnya.

“Hajar ajaahhhhhh….gak usah banyak ngom……Aaaakkhhh……”

Zlebb….

Ku tancapkan batangku sebelum Ani menelesaikan kata-katanya. Matanya melotot memandangku dan bibirnya tergigit. Aku tidak peduli apaah sudah licin atau belum. Yang aku tahu, aku telah dilecehkan malam ini, dan aku punya dendam yang harus diselesaikan. Segera ku serang Ani dengan gaya cepat pola 11.

“Oohhhhh….Ahhh….Ahhh……Ahhhh…..”

Ani meracau seiring genjotanku dengan cepat. Misi ini adalah misi balas dendam, bukan misi bercinta atau misi memuaskan. Aku tidak berniat orgasme kali ini, karena tujuanku hanya satu, yaitu Ani harus tahu rasanya disiksa oleh birahi yang tak terpuaskan. Ku arahkan jempol dan telunjuk kananku di vaginanya yang semakin becek. Perlahan ku pilin klitorinya dengan gerakan memutar. Ani melengkung dan melolong,

“Aaaaooookkkhhhh….Kaaanggggg……Mantthaaapppp…….Kammuhhhh bhaanggggsshaaattt….Ooohhhhhh”

Bentuknya pakaiannya semakin tidak karuan. Ku percepat genjotanku seiring himpitan celah vagiannya yang semakin kencang. Ani melilitkan kakinya di pingganggu pertanda orgasmenya akan datang. Luar biasa, padahal belum dua menit aku menggarapnya. Mulutnya menganga dan matanya terpejam rapat tanda di sedang di ambang gerbang orgasmenya. Ku pilin lagi klitorisnya kali ini disertai cubitan ringan.

“Kaaanggggghhhh……Brengggsekkhhhh….Kammuuuhhhh……Aku mau dapppetttthhhh……”

Ani menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang. dan ketika tubuhnya mulai tersentak, dengan cepat ku cabut senjataku.

Plop

“Kaaaangggg….!!!!!!”

Aku bangkit berdiri diiringi tatapan nafsu dan heran dari Ani. Rasakan pembalasanku.

“Ayo berangkat. Ntar dicariin kita” kataku melirik ke Ani. Namun entah mengapa mukanya begitu menakutkan. Nafsunya yang hampir meledak tertahan di ubun-ubunnya. Dia segera berdiri di ranjang ketika aku mulai membalikkan badanku dan menaikkan celanaku.

“Bangkek kamu, Kang….”

Ani lalu menarik tanganku dengan keras ke ranjang hingga aku terbanting dan tidur terlentang.

“Wow….apaan nih…” seruku kaget karena tidak menyangka tubuhku bisa terbanting. Secepat kilat Ani menunggangiku dan mengarahkan celahnya ke senjataku yang memang masih menegang maksimal. Tanpa banyak suara langsung ditekannya pantatnya turun.

“Oooohhhhhh………..Kaaangggghhhh…….”desah Ani sambil menggigit bibir bawahnya sairing merengseknya batangku ke dalam celahnya yang telah sangat becek.

Ani menggoyang-goyangkan pantatnya dengan liar di atas tubuhku. Mau tidak mau perasaan dendam tadi berubah menjadi perasaan nikmat. Aku mengaku kalah pada syahwat yang menguasai kami malam itu. Ani terus bergerak sambil terus meracau. Ku telusupkan tanganku ke dalam bajunya. Dadanya menggantung tanpa bh. Sepertinya dia sudah menyangka ini akan terjadi. Ku plintir kedua putingnya hingga Ani kelojotan. Dia orgasme.

“Kaaanngggghhhhh….Aaaakkkkhhhhh…….Dapppeettthhhhhhhh….Ooohhhhh…..”

Ani tumbang di atas tubuhku tapi tetap menggoyangkan pantatnya. Goyangannya sangat nikmat hingga ku rasa orgasme yang tadi tidak ku impikan kini semakin mendekat. Ku peluk tubuhnya lalu ku sodok dengan gerakan sangat cepat dari bawah.

“Aaahhhhhhh……Kaangggghhhh…….Ennnaakkkkhhhhh…….”

Plak…plak…plak….suara tungkai dan paha kami yang beradu kencang memenuhi kamarku. Ani menjambak rambutku tetapi tu tidak membuatku mengendurkan kecepatanku. Ku konsentrasikan pernafasanku di dada dengan tempo pernafasan yang cepat. Cara ini bisa mempermudahku orgasme.

“Kaaaanggghhhhh….Uuuuuuuggghhhhhh….mau dapppettt lagggiiiiihhh……”

Ku ayunkan pantatku semakin cepat hingga ku rasa seluruh otot pahaku menegang. Aku orgasme.

“Aaahhhhhh……Aniiiiihhhhhh….”

“Kaaanggggggghhhh……Kammuhhh siaalllaaaannnnnhhhh….Aaaaaahhh……”

Ku semburkan amunisi kentalku ke dalam liang vaginanya berulang-ulang dan ku rasakan juga kepala senjataku terkena banjir dari dalam sana. kami orgasme bersamaan. Tetap ku gerakkan pantatku untuk menguras isi senjataku dalam vagianya, hingga kemudian tidak beberapa lama kemudian kami lemas. Ani tertelungkup pasrah dan lemas di atas tubuhku. Untuk sementara kami terdiam dalam nikmat. Ku rasakan di dalam sana kedutan-kedutan liang vaginanya masih memijit lembut senjataku yang kini sudah mulai lunglai. Kedutan-kedutan itu kemudian dibantu dengan goyangan pelan pantat Ani.

“Kang…..”

“Ya…?”

“Kamu hebat…..”

“Udah biasa kali”

“Iiiihhhhh….kamu ah….”

“Kamu juga hebat, lho, Ni. Liar…Jalang…..cabul….mes….Aduh….”

Ani menggigit putingku dengan gemas. Tetapi di bawah sana pantatnya bergoyang semakin intens. Putarannya semakin lebar.

Drrrtttt……BBM dari Ima

Kang. Lama banget….
Sabar….Ini lagi ngantri. Yang mesen banyak banget
Iya
“Jangan gerak dulu…..” bisik Ani ketika aku ingin bangkit. Aku faham. Rupanya Ani masih haus. Tiba-tiba gerakannya menjadi cepat dan liar padahal batangku sudah tidak tegang penuh lagi. Tinggal tersisa sekitar 40 persen ketegangannya.

“Ooooohhhhhhhhh…..Kaaaanggggg……Aku dapppetthhhh lagiiiihhhhhh….Aaaaaaaaawwwwwwhhhh…….”

Tubuh Ani menegang di atas tubuhku. Kakinya yang tadi menunggangiku kini lurus tegang. Otomatis batangku di dalam sana terjepit erat. Ku rasakan kembali batangku disirami cairan hangat di dalam sana. Tidak beberapa lama kemudian Ani lemas kembali.

“Kaanggghhh…..senjatamu udah lemes ajahhh masih bisa ngalahin akuhhh…..”

Aku tersenyum dan mengecup kening wanita yang sedang berbaring tengkurap di atas tubuhku. Kali ini pantatnya sudah tidak bergoyang lagi.

“Yuk…kita siap-siap” kataku.

“Masih mau meluk kamu, kang. Aku kan kangen…..”

“Iya. Tapi ntar lagi jam sepuluh, Ni.”

Ani memonyongkan bibirnya.

“Iya deh….aku cabut ya, Kang?”

“Iya…”

Plop…..

Cerrrrr……

“Ahhhh…Kaangghhhh…..”

Cairan putih kental segera merembes melalui celah vaginanya ketika ia berdiri. Ku tatap iparku yang mungil ini memakai pakaiannya kembali. Aku pun merapikan celanaku dan segera menuju ke motor. Luar biasa, dalam sehari ini telah dua kali aku mengeluarkan peluru kentalku, dan ini membuat otot kegelku menjadi agak ngilu. Ani membonceng di belakang dengan memelukku. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kang…..”

“Ya…?”

“Pertanyaanku belum dijawab…..”

“Pertanyaan apa?”

“Enakan memeknya siapa?”

Waduh.

BERSAMBUNG

END – Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 16 – END

(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 15)Sebelumnya | Selanjutnya(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 17)