Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 END

Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 14

Start Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 14 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 14 Start

Drrrttt……Drrrttttt……Drrrtt……

“Kang….”

“Ng?”

“Hp kamu bergetar, tuh…..”

“Iya…..sampe ketiduran. Aku cabut ya?”

“Iya.”

Plop

“Aakkhhh….”

Kucabut senjataku yang telah mengecil dari dalam vagina Rahma. Ku ambil ponselku yang tergeletak di lantai ruangan kantorku dan ku lihat nama istriku di sana.

“Halloooohhhh…..Sayanggg…..” ucapku dengan suara yang dibuat lemas. Ku tatap jam di dinding telah menunjukkan pukul 19.40.

“Sayang, kamu ketiduran?”

“Iyahh….tadi habis ngurusin berkas-berkas untuk laporan bulanan”

“Kasiannnn…..yang semangat yah lemburnya”

“Oke deh cintaku….. eh ada apa kok tumben nelpon. Apa aku udah harus pulang?” tanyaku. Ku perhatikan Rahma yang telah mengenakan kembali jubbah dan jilbab lebarnya yang panjang hingga lututnya. Cadarnya pun telah dikenakan kembali. Dia duduk di mejanya tetapi pandangannya hanya tertuju padaku yang masih telanjang dan sedang duduk di lantai yang dialasi karpet karet.

“Nggak atuh, Kang. Aku mau minta izin, mau nginap di rumah si Ima”

“Untuk?”

“Kan suaminya udah empat hari tugas. Kasian orang lagi hamil empat bulan kok nginap sendiri”

Suami Ina adalah seorang pilot yang jam terbangnya cukup lumayan, karena rute yang biasa ditempuhnya adalah rute regional Asia.

“Oh gitu. Ya udah gak papa. Tapi ke rumah Ima sama sapa?”

“Kan ada Ani di rumah mama. Jam lima tadi dia datang diantar suaminya tapi suaminya juga udah pulang”

“Ohhhh…..”

Ani datang. Berarti liburan kenaikan kelas telah tiba. Hufftttt…..Terkadang aku iri dengan guru PNS. Mereka bisa libur ketika siswanya juga libur. Ku tatap Rahma yang juga menatapku. Entah apa ekspresi yang ditunjukkan mukanya yang tertutup cadar itu. Hanya mata lentiknya yang agak menyipit.

“Ya udah dulu sayang. Yang lemburnya semangat ya? I Love U”

“I Love U too. Hati-hati ya” jawabku sambil menutup telepon.

Aku lalu mengumpulkan satu persatu seragamku yang entah dibuang kemana oleh Rahma setelah pertempuran hebat yang tidak disengaja menurutnya.

Drrtttt….

Notifikasi WA dari Arni.

Yang, aku berangkat dulu sama Riva (nama anak kami). Ani yang bawa motor. Oh ya kalo Akang mau entar nginap di rumah Ima ya?
OK. Ntar aku nyusul
Aku dudul di samping Rahma. Dia menunduk. Kami terdiam untuk kesekian menit dalam pikiran masing-masing. Aku yakin pikirannya dipenuhi dengan rasa bersalah atau berdosa, sedangkan aku sendiri berfikir hampir tidak percaya. Perempuan yang bercadar ini yang hampir tidak pernah berbicara denganku justru terlibat pertempuran dahsyat denganku di ruangan bagian kami, di saat yang lain telah meninggalkan kantor.

Aku beranjak dan berdiri meninggalkan Rahma yang masih sibuk dengan lamunannya. Ku rapikan berkas-berkas yang sempat berserakan terimbas oleh pertempuran kami. Ku pakai jaketku lalu ku toleh Rahma.

“Masih mau tinggal?” tanyaku. Rahma menatapku. Terlihat sebening titik di sudut matanya yang lentik. “Yuk. Aku antar” tawarku lagi sambil menjulurkan tangan. Perlahan Rahma menyambut tanganku dengan tangannya yang selalu tertutup sarung tangan hitam, selaras dengan busana serba tertutup yang ia kenakan. Dia berdiri di hadapanku. Entah ada dorongan apa, tiba-tiba ku dekatkan bibirku dan ku kecup bibirnya, meskipun cadarnya menghalangi kulit kami.

Cup.

Hanya sebuah kecupan kecil.

Kami meninggalkan ruangan setelah menguncinya. Ku bonceng Rahma pulang ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kantorku, lalu menuju ke rumah Ima.

****

Bersambung

END – Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 14 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 14 – END

(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 15)