Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 END

Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 1

Start Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 1 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 1 Start

By the way namaku tidak terlalu penting untuk disebutkan di sini. Hanya saja seluruh anggota keluarga besar memanggilku dengan sebutan ‘Akang’ karena itulah panggilan sayang istriku kepadaku sehingga seluruh anggota keluarga kemudian mengikuti dengan menyebut ‘Akang’. Usiaku saat ini sudah 28 tahun dan istriku 24 tahun. Pernikahan kami sudah memasuki tahun ketiga dan telah memiliki seorang putri 2 tahun yang lucu.

Istriku adalah anak ketiga dari empat bersaudara dan semuanya adalah perempuan. Kakak ipar tertuaku bernama Umi, umurnya 31 tahun dan yang kedua bernama Ani, setahun lebih muda dariku. Sedangkan Ima, adik istriku yang bungsu berusia 20 tahun dan beberapa bulan yang lalu melangsungkan pernikahan dengan calon suaminya. Di sinilah peristiwa itu bermula.

Beberapa bulan yang lalu adik iparku yang bungsu melangsungkan pernikahan. Berhubung karena ini adalah pernikahan terakhir di keluarga istriku maka mertuaku berniat menggelar pesta yang cukup besar. Hal ini kuketahui ketika aku disuruh untuk memesan 2.000 undangan. Seminggu sebelum acara semua saudara iparku beserta suami telah berkumpul di rumah mertua. Mereka mengambil cuti dari pekerjaan masing-masing hanya untuk mempersiapkan pesta perkawinan di Ima.

Tiga malam menjelang pesta pernikahan, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah untuk membahas persiapan esok hari dan mengevaluasi kerjaan hari ini. Setelah beberapa lama berdiskusi akhirnya Ani meminta tolong kepadaku untuk membantunya mengerjakan tugas kuliahnya di pascasarjana.

“Kang, bisa minta tolong?” Ani bertanya sambil menyerahkan anaknya yang sudah tidur kepada suaminya.

“Boleh. Apa yang bisa dibantu?”

“Aku punya data mentah untuk mencari standar deviasi hasil ujian siswaku, tapi aku belum bisa ngerjain di Excell”

“Coba sini tugasnya aku lihat”

Ani kemudian mengambil laptopnya sambil sesekali menggerutu tentang dosennya yang killer katanya. Setelah melihat data di dalam laptopnya, aku juga bingung karena aku tidak memiliki kemampuan di bidang statistik. Aku lalu mengambil posisi duduk di lantai dan meletakkan laptopnya di pahaku sedangkan Ani duduk selonjor di sampingku.

Piyamanya yang tipis dari sutera membalut kulitnya yang mulus pada awalnya tidak terlalu menarik perhatianku hingga tanpa sengaja aku melihat kancing piyamanya yang paling atas terbuka dan menampakkan dada indahnya yang tersembunyi di balik kain itu. Betapa putih dan mulus. Maklumlah, iparku yang satu ini paling ribet kalau masalah perawatan kulit. Karena malu dan takut ketahuan mengintip aku segera membuang pandanganku ke monitor laptop, tetapi pikiranku mulai dipenuhi bayang-bayang dada putih berhias tahilalat kecil yang terbungkus bh hitam tadi.

Sementara aku sedang sibuk berkutat dengan laptopnya, Ani terlihat agak meringis sehingga menarik perhatian istriku yang sedang duduk di sofa tak jauh dari tempat kami.

“Kakak kenapa?” Tanya istriku.

“Migrain ku kambuh lagi”

“Si Akang itu pintar pijat terfleksi kok.” Kata istriku. Si Ani kemudian menoleh kepadaku seolah menkonfirmasi kebenaran info dari adiknya tadi.

“Beneran itu, Kang?” Tanya Ani.

“Adalah dikit. Tapi sakit lho. Namanya pijat refleksi itu kalo memang ada kelainan pasti akan sangat sakit di titik tertentu yang di pijat” terangku. Seperti menimbang sesuatu akhirnya Ani minta dipijat refleksi olehku.

Sebenarnya aku tidak terlalu faham dengan dunia refleksi. Hanya saja aku pernah googling beberapa waktu lalu ketika sakit gigiku kumat lalu mencari info tentang refleksi pada saat sakit gigi. Di situlah aku banyak menghafal titik-titik pijatan untuk beberapa penyakit.

“Aaaww……!!!” Ani agak berteriak ketika ujung jempol kirinya ku tekan, sebab sejauh pengetahuanku, titik untuk migran adalah dengan menekan ujung jari tangan kiri. Kontan hampir seisi rumah menoleh ke arah kami.

“yang pelan donk” Ani merengut

“Lha ini udah pelan banget, Ni”

“Tapi sakit” ujarnya ketus. Tapi wajah sewot yang dia pasang justru memberikan kesan yang cantik.

“Ya iya donk sakit. Namanya juga pijat refleksi” tukasku tidak kalah sengit. Suamiinya menimpali dari balik pintu kamar.

“Makanya kalo mau sembuh jangan manja” ujar suaminya.

“Papa bukannya dibelain……” Ani makin sewot tapi di mataku kok makin cantik. “Eh, Kang. Ada titik di daerah yang lain gak? Di tangan sakit banget nih….”

“Ada. Di telapak kaki sama di jempol kiri. Mau?” tawarku. Ani lalu membetulkan duduknya lalu menyelonjorkan kakinya menghadapku. Gila. Mulus dan halus sekali.

“Kok bengong. Ayo dong” Ujarnya menyadarkan rangsangan syahwat yang mulai meracuni otakku.

“O…Ok….”

Aku gelagapan takut ketahuan sedang mengagumi kaki mulusnya yang mungil. Segera ku letakkan tangan ku di betis kirinya. Maksudku untuk membetulkan posisi kakinya agar titik refleksi di jempolnya mudah ku pijat. Tetapi justru aku tidak percaya apa yang ku lihat dank u dengar.

“Ahhhhssshhh…”

Ani mendesah sangat pelan seolah takut terdengar. Aku tau persis itu bukan reaksi refleksiku karena aku belum memulainya. Tatapannya menatapku tajam tapi nanar sehingga membuat aku jadi salah tingkah. Tiba-tiba dia berdiri tanpa bicara apapun dan masuk ke kamar tempat suaminya meninggalkanku yang penuh tanda Tanya.

“Tung..”

Pukul 21 malam lewat beberapa menit BBM di hp-ku bergetar tanda ada notifikasi baru. Aku memang lebih suka menyetel hapeku dengan getar saja. Nada dering termasuk hal yang norak menurut persepsiku.

“Kamu jahat, Kang” begitu tulisan di BBM ku. Ku perhatikan pengirimnya. Ani.

“What…?? Hellow…ada apa bu?” segera ku balas chat itu dengan nada sedikit becanda. Agak lama aku menunggu sampai hp ku bergetar kembali.

“Kamu tadi nyentuh bagian sensitifku”

Deg….masa sih? Setahuku tangan kananku memegang betis kirinya dan tangan kiriku memegang telapaknya. Aku duduk bersila. Jadi bagian mana tubuhku yang menyentuhnya? Lebih baik ku diamkan BBM itu tanpa ku balas.

Ku perhatikan ternyata hamper semua orang telah tidur di rumah ini, termasuk istri dan anakku di kamar depan. Aku yang memang tidak terbiasa tidur bila bukan di rumahku segera beranjak untuk pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 500m dari rumah mertua.

Baru saja aku menghidupkan motor matic ku, tiba-tiba Ani muncul di pintu.

“Kang, mau kemana?”

“Mau pulang. Ngantuk”

“Aku ikut, bisa?

Wow. Aku langsung serasa terbang. GR

“Mau BAB. Itu toiletnya di belakang mampet. Yang di samping gak ada pintunya”

Oh. Mau BAB toh. Aku kira ada apa.

“Ya udah. Ayo.”

“Tungguin aku pake jilbab dulu”

Tidak beberapa lama dia muncul dengan mengenakan jaket casual dan jilbab kecil untuk menutupi rambutnya yang panjang sebahu. Iparku ini bukan orang yang terlalu ketat menerapkan aturan keyakinannya sehingga dia mengenakan jilbab hanya untuk bepergian saja.

Kami tiba di rumah mungilku. Baru saja membuka kunci rumah, Ani langsung nyelonong ke toilet. Mungkin sudah sangat kebelet. Sekitar limat menit kemudian dia sudah selesai menunaikan hajatnya. Aku sudah menyiapkan teh hangat di meja. Kami duduk terdiam dalam lamunan masing-masing. Hingga akhirnya Ani mulai bersuara.

“Tadi kamu pegang betisku. Itu sensitif banget” kata Ani. Aku jadi ngeh, kalau betis termasuk titik rangsangnya.

“Ya, maaf toh…aku kan gak tau” ucapku membela diri.

“Tapi kalo udah begini kan repot. Mana papanya Faqih udah tidur, lagi” Ani sewot. Kami kembali terdiam. Dalam diam kami yang entah berapa lama itu aku serasa mendengar dengusan nafasnya yang berat. Entah iblis dari mana yang merasukiku hingga aku kemudian mengajaknya berbincang yang justru semakin membakar syahwatnya.

Bersambung

END – Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 1 | Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 1 – END

FIRST CHAPTER | Selanjutnya(Kakak Ipar dan Adik Iparku Part 2)