Istri Binal Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Tamat
Kenikmatan Dua Lubang

“Aku kebelakang dulu ya mbak… Perutku laper….” Kata Seto yang ketika melihat Citra sedang menggoda adik iparnya, beranjak bangkit dan melangkah kearah dapur.

“Kamu punya makanan khan…?”

“Ada roti tuh dikulkas… Makan aja kalo mau….” Jawab Citra singkat.

Sejenak, suasana kembali hening.

“Hihihi… Dasar tetangga mesum…. Kamu jangan berbuat seperti Seto ya Klis…

“Berbuat gimana mbak…?”

“Ya berbuat seperti tadi… Masa istri tetangga diajak bermain mesum… Hihihi….”

“Hmmm… Klis…” Bisik Citra lirih.

“I…Iya mbak….?”

“Kamu mau mbantuin mbak khan..?” Tanya Citra santai sambil terus-terusan mengocok penis adik iparnya.

“Ngggg… Ssshh….Mbantuin ngapain mbak…?” Balas Muklis bingung sambil berusaha menahan nikmat pada penisnya.

“Mbantuin…. Hmmm… Gimana ngomongnya ya….? Hihihi…” Ucap Citra malu-malu,”Kamu bisa khan mbantuin mbak buat melampiaskan nafsu mbak…?”

“Waduh…..???” Bingung Muklis, “Maksud mbak…. Beginian…?” Tanya Muklis lagi sambil menunjukkan jempolnya yang diselipkan diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Hihihihi…. Hiya Klis…. Mungkin ini kepengenan si dede bayi….” Jawab Citra sambil mengusapi perutnya yang mulai membesar,

“Mbak pengen kamu…. Entotin memek mbak… Hihihihi…..”

Mendengar permintaan kakak iparnya, muka Muklis mendadak memerah. Ia sama sekali tak pernah menyangka akan keberuntungannya malam ini. Bagaimana tidak. Menyetubuhi kakak ipar yang sering kali ia bayangkan.

“Ayo sini Klis… Jangan malu-malu… ” Kata istri Marwan itu yang tiba-tiba mengamit kedua tangan mukis dan meletakkannya dikedua payudaranya.

“Mmm… Mbak… ?” Kata Muklis ragu sambil celingukan kesekelilingnya.

“Hihihi… Remes aja Klis… Nggak apa-apa kok…” Kata Citra yang berupaya membuat santai Muklis,

“Nikmati aja kedua tetek mbak ini Klis… Remas yang kenceng… “ucap Citra bak guru yang sedang mengajari muridnya,

“Pelintir puting mbak juga ya Klis… Iya gitu… Shhh… Ayo jangan malu-malu…”

Dengan kikuk, Muklis berupaya menuruti semua permintaan aneh kakak iparnya. Dalam keheningan malam ini, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara detak jantung Muklis dan tegupan air liur nafsu pada tenggorokannya.

“Kok diem aja Klis…? Kamu ga suka ya ama tetek mbak…?” Bingung Citra.

“Ngggg… Anu mbak… Su… Suka banget… Cuman… Aku nggak ngira kalo akhirnya aku bisa megang tetek mbak… Besar banget mbak…. Empuk…”

“Hihihi… Syukur deh kalo kamu suka… Kalo kamu mau ngisep… Nggak apa apa juga kok Kliss… Cuman puting mbak belom bisa ngeluarin asi loh yaaa…. Hihihi….”

“Be… Bener boleh mbak…?” Tanya Muklis seolah tak percaya, “Bener aku boleh ngisep tetekmu…?”

Citra mengangguk sambil tersenyum, tangannya pun menuntun kepala Muklis supaya mendekat kepayudaranya. Alih-alih segera menyosorkan mulut, Muklis malah berubah menjadi patung. Adik Marwan itu hanya mengusapi payudara istri kakaknya itu pelan sambil sesekali mencium payudara besar Citra.

“Mmmmhhh,,,,Kok kamu malah diem aja Klis…? Ayo iseeep Kliss….”

“Nggg… Ini bukan mimpi khan mbak?…? Semua ini nyata khan mbak…?”

“Mimpi…? Hihihi… Bukanlah Klis… Ini beneran…”

“Tetek putih nan besar ini mbak… Yang selalu ada di mimpiku… Tetek dengan urat-urat kehijauan milikmu ini juga selalu terbayang-bayang di pikiranku… Putingmu… Yang berwanra pink kecoklatan… Bikin aku selalu nggak bisa menahan hasrat untuk beronani…”

“Aaaahhhh…. Muklissss…. Sekarang kamu jago ngegombal deeeh…”

“Enggak mbak… Aku serius… Ini tetek impianku mbak… Tetek yang selalu membuat aku iri dengan mas Marwan…. ” Puji Muklis, “Dan akhirnya… Aku bisa merasakannya…”

“Hihihi… Dan tahu nggak Klis…? Sekarang….. Tetek besar mbak ini… Boleh kok kamu apa-apain… Sepuasmu… Hihihi….” Canda Citra, “Tetek yang dulunya hanya milik masmu… Sekarang bisa juga kamu nikmati…. Hihihi…”

Muklis yang begitu girang mendengar ucapan wanita hamil yang ada dihadapannya, langsung saja menyedot puting Citra keras-keras, mengenyot seperti bayi yang kehausan.

“Uuuhhss.. Pelan-pelan Klisss… Tetek mbak masih terasa ngilu karena tadi mbak baru dapet orgasme…”

“Hehehe…. Maap mbak…. Aku terlalu nafsu…”

“Hihihi… Iyaaa… Jadi….? Kamu mau khan Klis… Mbantuin kepengenan mbak….?”

“Nggg….Buat aku entotin ya mbak….?”

“Iya Klis….Hihihi…. Kamu mau khan ngasih memek mbak kenikmatan dengan kontolmu yang besar itu…”

“Ngggg….. Gimana ya….?”

“Ayolah Klis ini kepengenan dede bayi Klis…. ” Jelas Citra mencoba meyakinkan Muklis,

“Kamu nggak mau khan…. Ngelihat keponakanmu ini nantinya ngileran karena kepengenan mbak nggak kamu turutin…..?”

Semesum-mesumnya Muklis, ia sama sekali tak pernah membayangkan kejadian langka ini sedikitpun.

“Nggg,,, Nggak mau sih mbak… Tapi….” Jawab adik ipar Citra itu galau.

“Emangnya kamu nggak sayang mbak ya Klis…?”

“Bukan gitu mbak… Kita khan saudara….”

“Emangnya saudara nggak boleh saling memberi kasih sayang….?”

“Nggg…. Boleh sih…. Tapi….Nggg….Anu mbak….”

“Gini aja…. Anggep aja kamu sekarang sedang mbantuin saudara Klis…” Jelas Citra, “Kamu nggak pengen khan ngelihat mbak sampe mengiba-iba ke orang lain buat minta dientotin….?”

“Nggg… Jangan ah mbak…”

“Kamu nggak pengen khan ngelihat mbak sampe terkena penyakit menular gara-gara mbak dientotin orang yang nggak mbak kenal…?”

“Ngggg…. Amit-amit mbak….”

“Naaah… Yaudah…. Buruan kamu maju sini…. Mbak pengen ngerasain kehebatan kontol besarmu ini loh… Lihat deh kepala kontolmu yang mirip helm tentara ini… Pasti bisa ngaduk-aduk liang memek mbak… . Urat-urat yang melingkar-lingkar di batang kontolmu itu, pasti bisa menggelitik dinding memek mbak… ”

“Gitu ya mbak….?”

“Hiya Klis….Dan lihat… Kantung peler ini… Pasti bisa menyemburkan banyak pejuh ke rahim mbak… ” Kata Citra sambil meremas perlahan buah zakar Muklis pelan.

“Uuuhhh,… Mbak….Jangan remes kenceng-kenceng….Ngilu mbak…”

“Hihihi… Ayo Klis…. Kamu mau khan…?” Tanya Citra yang lalu mengajak Muklis mendekat kearah sofa ruang tamu.

Dan dengan posisi rerebahan diatas sofa, Istri Marwan itu kemudian membuka kedua pahanya lebar-lebar, memamerkan celah surgawinya yang sudah menganga lebar akibat tusukan penis jumbo milik Seto beberapa saat lalu.

“Yaudah… Ayo sini… Majuan dikit…Sini…” Kata Citra lagi sambil meraih kepala penis adik iparnya yang sudah mengeras kaku dan mendekatkannya ke mulut vaginanya.

“Shhh… Pelan-pelan ya mbak… ” Pinta Muklis begitu tangan Citra menarik penisnya mendekat.

“Hihihi… Harusnya aku yang bilang gitu kali Klis… Secara memek sempitku ini mau disodok kontol super besarmu…. Hihihi…. Ayo sini majuan lagi…..”

Dengan santai, jemari lentik Citra lalu mengajak kepala penis Muklis ke liang vaginanya. Dan begitu kepala penis itu menyentuh mulut vaginanya, Citra segera mengapit pantat Muklis dengan kedua kakinya.

“Hehehe…. Nggak usah malu kali Klis… Nikmati saja memek mbak iparmu ini…. ” Kata Seto yang tiba-tiba keluar dari arah dapur sambil memakan roti untuk mengganjal perutnya yang kelaparan. Lalu dengan santai Seto duduk disofa. Disamping Muklis yang akan menyetubuhi kakak iparnya.

“Santai aja Klis… Malam ini kamu nikmati aja suguhan dari mbakmu yang seksi ini… Aku nggak bakalan laporin ke masmu kok….. Hehehe… ” Kata Seto lagi sambil menghabiskan potongan roti yang ada ditangannya, “Sumpah mbak… Roti bikinanmu ini enak banget…..”

“Hihihi… Citra gitu loh… ” Sombong Citra sambil menepuk dadanya. “Eh bagi dong Set… Aku juga lapar…”

“Bentar…. ” Kata Seto yang kemudian memotek potongan rotinya lalu mendekatkan ke mulut penisnya.

Sambil megocok pelan, Seto memeras sisa sperma dari penisnya dan membubuhkan ke roti yang ada ditangannya.

“Nih mbak… Aaaaaaaa….” Suap Seto setelah melumuri roti itu.

“Iiiihh Seto mah… Itukhan jorok bangeeet….” Protes Citra yang walaupun agak geli melihat kelakuan tetangganya itu tetap saja membuka mulutnya lebar-lebar dan memakan roti yang belepotan sperma itu dengan lahap.

“Katanya jorok mbak…? Tapi kok dihabisin….?”

“Hihihi Habisan gurih Set…”

“Hahaha….Enak khaaan….? Yaudah Kliiss… Sok dilanjut….. Santai aja yaaak… Kalo kamu malu anggep aja kamu sekarang sedang ngentot ama pacarmu… Atau kalo nggak anggep aja sekarang kamu mau ngentot ama lonte…”

“Ihhh….. Seto… Tega deh ah… Masa nyamain aku seperti aku lonte? ” Sungut Citra sewot.

“Laaah… Emangnya kalo bukan lonte, lalu kamu apaan mbak…. Hehehehe…..” Goda Seto, “Suaminya kerja banting tulang peras keringat, bininya kerja keras peras pejuh dari kontol lekaki lain… Ya nggak Klis..? Hahaha…..”

“Nggg…. Hiya mas…”

“Eeehhh… Klis.. Kok kamu malah manggut-manggut gitu sih….?” Protes Citra, ” Tapi… Iya juga sih… Hihihi… ” Tambah Citra sambil tertawa cekikikan.

“Klis… Kamu jangan bilang-bilang masmu ya… Kalo mbak suka pake memek kesayangan dia ini buat peras-peras pejuh kontol lelaki lain…. Hihihi….”

“Kamu beruntung Klis… Punya mbak ipar seperti mbak Citra ini…” Celetuk Seto.

“Ngg…. Emangnya kenapa Mas…?” Tanya Muklis bingung.

“Mbakmu ini… Udah cantik, seksi, semok, baek, pintar, banyak duit… Dan murah hati loh….”

“Murah hati…?”

“Iyalah… Dimana lagi kamu bisa nemuin mbak ipar sekaligus LONTE seperti dia… Hahaha…” Tawa Seto kencang,

“Khan jarang-jarang ada mbak ipar yang mau dientotin ama adik iparnya…. Hahaha…”

Muka Muklis memerah. Walau dia baru beberapa lama kenal dengan Seto, namun entah kenapa, perkataan mengenai kakak iparnya barusan membuat hatinya panas.

“Sssttt… Setooo… Jangan bilang gitu aaaahhh… Aku khan jadi malu ama Muklis nih…Hihihi….” Kata Citra

“Hahahaha.. Ngapain malu mbak…? Bilang aja terus terang… Biar ga ada ganjalan dihati…” Jawab Seto.

“Hihihi… Yang ada… Ganjalan di memek ya Set….?… Hihihi… Ayo Klis, buruan masukin kontolmu… Mbak udah nggak tahan lagi nih… Memek mbak udah gatel pengen disodok-sodok kontol besarmu…” Kata Citra sembari menepuk tepukkan kepala penis Muklis ke liang kenikmatannya.

“Hahahaha… Dasar istri nakal kamu mbak….” Celetuk Seto,

“Hihihi… Biarin… Yang penting aku puas… Hihihi… Ayo sayang buruan sodok memek mbak…” Pinta Citra manja.

Tanpa disuruh dua kali, Muklis segera mengambil posisi di sela-sela paha Citra dan mulai menggesek-gesekkan batang penisnya ke klitoris kakak iparnya

“Ayo Klis… Masukin…. Jangan digesek-gesek doang…” Pinta Citra.

“Nggg… Beneran nggak apa-apa mbak…? Mbak nggak bakalan laporin aku ke mas Marwan khan…?”

“Hahahaha… Ya enggak bakalan lah kliiiissss…. Kalo mbak Citra lapor… Siapa coba yang bakal muasin nafsu birahinya…?” Celetuk Seto sambil tiba-tiba menjejalkan kembali batang penisnya ke mulut Citra “Mbakmu ini liar Klis… Dia seperti kuda binal… Pengen dientotin mulu….”

Lagi-lagi, mendengar kata-kata vulgar Seto, muka Muklis memerah.

“Husss….. Seeetoooo… Enak aja… Aku tuh nggak binal… Cuma agak kegatelan… Hihihi…. ”

“Hahaha… Sama aja kali sayaaang…..” Jawab Seto sambil menjepit hidung Citra, membuat wanita cantik yang sedang rebahan di kursi sofa ruang tamunya itu megap-megap kehabisan nafas.

“Hudah ah Klis… Hayo bhuruan hodok mhemek mbhak… Hangan hihesek-hesekin mhulu…. Mhemek mbhak hudah hatel hanget nih….”

“Tuh Klis… Liat sendiri khan….? Betapa gatelnya istri masmu itu…..? Hahaha….” Celetuk Seto. “Ayo mbak… Jilatin biji pelerku juga… Huuuoooohhh…”

“Hihihi… Habis ghitu… Entotin mulutku huga yhaa hayang…. Hihihi….Sluurp… Sluuurrrppp…..” Ucap Citra sambil mulai mencucupi lubang kencing Seto. Menyucup sisa sperma penis Seto sekuat-kuatnya.

“Sssshhh.. Enak banget mbak….” Jawab Seto sambil mulai mengerak-gerakkan pinggulnya guna menyetubuhi mulut Citra. “Liat khan Klis…. Mbakmu sendiri khan yang minta buat dientotin….”

“Hiya Mas….”

“Makanya ayo buruan kontolin memek mbakmu ini… Mumpung dia masih horny….”

“Tahan bentar ya mbak….” Ucap Muklis sambil cepat-cepat menyorongkan batang penisnya kemulut senggama Citra. Dan dengan sekali tusukan, penis Muklis mulai merangsek masuk.

CLEEEP

“Hhhhuuuuoooohhhh… Pelan-pelan Klisss… Ngiluuu…. Kontolmu besar bangeeett… Sssssshhhh…..” Erang Citra yang tak mengira jika Muklis bakal menyodokkan penisnya secara mendadak seperti itu.

“Eeehh… Maaf mbak… Maaf….” Jawab Muklis sambil mencabut penisnya yang sudah terlanjur masuk.

PLOP

“Uuuuhhh… Kliiisss… Kok malah dicabut siiihhh…. ” Erang Citra sewot. “Ayo masukin lagi Klis… Tapi pelan-pelan yaaa…”

“Udaaaah…. Hajar aja langsung Klis… Memek mbakmu ini hebat kok… Bisa nahan kontol sebesar apapun… Hahahah…”

“Emang gitu ya mas…?” Tanya Muklis polos sembari kembali melesakkan kepala penisnya lagi.

CLEEP

“Uuuuuhhhh… Pelan-pelan Klis… Jangan buru-buru…”

“Hahahaha…. Gayamu mirip perawan aja mbak… Lucu…. ” Canda Seto,

“Nggak tau aja khan Klis… Selain dengan Masmu…. Memek mbakmu ini udah dientotin ama banyak kontol… Jadi bukan kontol kita berdua aja yang udah ngerasain empotan nikmatnya memek mbakmu..

“Se…serius mas…?” Tanya Muklis seolah tak percaya dengan apa yang Seto katakan. Berulang kali Muklis menatap heran kewajah sange Citra, mencari tahu kebenaran perkataan Seto.

“Be.. Bener gitu mbak…?” Tanya Muklis yang tiba-tiba kembali mencabut batang penisnya.

PLOP

“Ini memek kok susah banget disodoknya sih mbak…?” Kata Muklis sambil kembali menepuk-tepukan batang penisnya ke vagina Citra,

“Uuuh Masa sih Klis….? Wong udah becek gini kok dikata susah….?”

“Beneran mbak….” Kata Muklis kembali mencoba menusukkan batang penisnya,” Nih liat… Kontolku aja sampe bengkok gini mbak…”

“Uuuuuhhhh…. Kontolmu kegedhean kali Klis…. Pelan-pelan kliiisss… Ngilu banget memek mbak…..”

CLEEEP

Lagi-lagi Muklis menyodok vagina Citra keras-keras..

“Uuuuhhh…… Klisss….. Pelaaaann….. Memek mbak jadi berasa perawan nih… Ngilu…. Hihihi….”

“Hehehe… Maaf mbak….” Ucap Muklis.

“Eh mbak….. Gimana rasanya punya bayi yang bukan dari benih suamimu…?” Tanya Seto tiba-tiba.

“Huuusssh…. Setoo…..” Potong Citra

“Hehehe….Ngaku ajalah mbak… Khan kalo mbak nggak dientotin laki-laki lain gini… Mana bisa kamu hamil seperti sekarang..? Hayooo….?” Kata Seto.

“Hah…?” Kaget Muklis, ” Jadi… Mbak…? Jadi dede yang ada di dalem perut mbak itu….?”

“Hahahaha…. Iyalah Klis… Masmu itu mandul… Hahahaha…..” Tawa Seto puas. “Lagian punya bini secantik dan sesemok ini dianggurin mulu….”

“Ssssssttt… Seto…. Mas Marwan nggak nganggurin aku….” Bela Citra sambil melepas penis Seto dari mulutnya, “Dia cuman nggak bisa muasin nafsu aku… Hihihi….”

“Hehehehe… Tapi beneran khan Klis… Masmu itu nggak pernah bisa ngasih mak Citra anak. Buktinya setelah sekian lama mereka menikah, mbakmu ini baru bisa hamil… Ya itu juga karena gini… Karena pejuh-pejuh lelaki lain.. Hahaha….” Jelas Seto.

“Ssshh.. Udah udah… Jangan hiraukan omongan Seto ya Klis… ” Kata Citra,

“Lupakan aja semua itu dari otakmu… Sekarang ayo kita bersenang-senang dulu…Ayo Klis…. Cepetin lagi sodokan kontolmu…. sodok dalem-dalem kontolmu ke memek mbak…. ” Pinta Citra sambil menarik maju pantat Muklis ke arah vaginanya dengan kedua kaki jenjangnya.

Dengan mengambil ancang-ancang, Muklis pun mulai memajukan pinggulnya lagi, memasukkan kepala dan batang penisnya semakin dalam ke dalam vagina Citra.

CLEEEP

“Uuuuhhh… Kontolmu Klisss…. Bikin memek mbak terasa sesak…..Gedhe bangeeett…..” Lenguh Citra dengan membuka lebar-lebar pahanya “Oooosshh….Pelan Klis… Kontolmu agak terlalu besar buat memek mbak…”

“Kamu seksi sekali mbak… Melihat memekmu dientot adik iparmu, aku jadi horny lagi….” Kata Seto yang tiba-tiba mencabut penis besarnya dari mulut Citra lalu melahap payudara istri tetangganya itu.

“Ssshh…. Ayo Klis… Sodok terus….” Gelijang Citra.

“Nggg…Susah mbak… Sempit banget…”

“Sempit ya….? Hihihi…. Nggak apa-apa Klis…. Terus aja sodok, ntar juga kontolmu terbiasa….”

“Ludahin aja kontolmu Klis… biar agak licin….” Saran Seto

Muklis segera mencabut tusukan penisnya lalu meludahi kepala penisnya yang sudah berwarna merah kehitaman saking kerasnya, “JUUHH…” Tak lupa, ia juga meludahi vagina kakak iparnya.

“JUUHH…”

“Naaah… Sekarang coba kamu tusuk lagi memek ipar lontemu itu…. Hehehehe…”

CLEEEP

“Ouuuuhhh… Kliiiissss…. Pelan-pelan Klisss…”

“Nggghhh…. Maaf mbak…. Habisan enak sih…. Hehehe….” Kata Muklis malu-malu ” Aku dorong terus ya mbaaak…”

“Oooouuussshh…. Iya Klis…. Terus… Terus masukin….”

CLEEEP… PLEK

Tak lama, kepala penis Muklis berhasil menguak liang senggama kakak iparnya, dan mulai masuk, menusuk dengan perlahan. Hingga pada akhirnya, seluruh batang penis Muklis terbenam seluruhnya kedalam lubang kenikmatan Citra.

“Hhuuuooohh….. Memekmu enak sekali mbak… ” Puji Muklis sambil mencoba mendiamkan sejenak sodokan pinggulnya dan menikmati sensasi denyut dinding vagina Citra. “Mbak…. Memek mbak kok sepertinya sedang memijat kontolku ya mbak…?”

“Hmmmmpppp…. Enak nggak Klis…? Sshhh…..”

“Ennnaaaaak bangeeeeet mbaaakk…”

“Yaudah… Ayo sekarang kamu coba tarik pelan-pelan Klis… ” Kata Citra berusaha mengajarkan apa yang harus adik iparnya lakukan pada penisnya yang sudah terbenam dalam ke vagina Citra.

” Uuuhh…. Ssshhh….Terus dorong lagi Kliss…. Tariiiikkk…. Dorong lagi…. Uuuhh….”

“Sumpah mbak… Ini enak bangeeeet mbaak…” Ucap Muklis berulang kali sambil merem-melek.

“Hihihi…. Syukur deh kalo kamu suka Klis….”

CLOK…CLOK…CLOK…

Perlahan, Muklis mulai mahir menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur, membongkar vagina kakak iparnya dengan penis jumbonya.

“Memekmu wuenak banget mbak…. Sumpah…. Sempit banget….”

Tak henti-hentinya Muklis memuji kehebatan vagina kakak iparnya itu sambil terus memaju mundurkan pinggulnya, menikmati setiap mili tusukan penis besarnya pada vagina istri kakak kandungnya.

Saking sempitnya vagina Citra, tak jarang bibir kemaluannya ikut terdorong dan tertarik keluar seiring tusukan penis Muklis.

CLOK…CLOK…CLOK…

“Enak mbak…? Dientot saudara suamimu….?” Tanya Seto

“Hooh Set… Kontolnya berasa banget… Mirip kontolmu… ” Kata Citra yang mulai membalas goyangan tubuh Muklis.

“Ck…Ck…Ck… Pastilaah… Wong memekmu sampe berbuih gitu mbak…. Pasti rasanya enak banget tuuh….”

“Oooohh…. Eeehhmm…. Remes tetekku Set… Remes yang kuat… Oooohh…. Ooohh… Ooohh…”

CLOK…CLOK…CLOK…

Suara hantaman penis Muklis makin lama makin terdengar keras. Membuat perut hamil Citra yang besar ikut bergoyang-goyang seiring hentakan pinggul Muklis pada vaginanya. Payudaranya pun demikian, ikut terguncang-guncang hebat, naik turun dengan dahsyat.

CLOK…CLOK…CLOK…

” Ooohh… Ooohh… Ayo terus sodok memekku Klis… Sodok memek istri masmu ini… Yang keras Klis… Yang keraaass…. Ooohh…” Rintih Citra tak henti-hentinya sambil terus mengusapi rambut Seto yang juga sibuk menjilat dan meremasi payudara besar Citra,

“Ssshh…. Remes tetek aku Set… Remes yang kenceng…. Shhhh…. Enak banget… Oooouuuuhhh….”

SLUUURRRPP… SLURP…. SLUUURUUUURRPPP….

” Ahhh…. Ahhh…. Ahhh…. Ahhh…. Terus klisss… terusss…. mbak mau sampee…” Rintih Citra sembari terus mempelintir puting payudaranya, “Sodok terus memek mbak Klisss…. Ooohh… Ooohh… Ooohh…”

“Hhhh… Hhhh… Enak bangeet mbaaak… Hhhh… Hiya mbak… Ini juga lagi aku sodok-sodok… Hhhh… Hhhh… Hhhh…” Racau Mulis. “Aku juga mau keluar mbak… Aku mau ngecrot… Hhhh… Hhhh…”

” Ooohh… Ooohh… Tahan bentar Klis… Kita keluarin bareng-bareng… Oooohhhh… Ooohh… Ooohh… Aaakkhhh … Enak bener tusukan kontolmu Klis….. ” Lenguh Citra keenakan.

“Memekmu juga enak mbak… sempit abis…. ” Balas Muklis.

“Terus Klis… terus sodok yang kenceng…”

” Hhhh…. Hhhh…. Hhhh…. Memekmu jauh lebih nikmat dari yang aku bayangkan mbak… Jauh lebih ennnaaakkk….” Racau Muklis yang tak henti-hentinya menghentakkan pinggulnya kuat-kuat kevagina kakak iparnya. ” Aku mau keluar mbak… Aku mau keluaaarr….”

“Aku juga Klis… Ayo sodok yang kenceng… sodok yang dalam ….. AAAARRRGGGGHH…. MUKLISSS MBAK KELUAR LAAAGGGIIIIIII…OOOUUUGGGHHH…” Rintih Citra tiba-tiba menjerit.

CREET… CREEET… CREEECEEETTT…

” AAAARRRGGGGHH…..KONTOLMU ENAK BANGET KLIIISSS.. AAAARRRGGGGHH….. ENAAAAK BAAA…. MMMMPPPFFFHHH….”

Suara jerit kenikmatan Citra terdengar begitu keras membahana, memenuhi ruang tamunya yang gelap. Saking kerasnya, sampai-sampai Seto harus berdiri dan langsung menjejalkan batang penisnya guna menyumpal mulut Citra kuat-kuat, khawatir jika ada tetangganya yang mendengar perselingkuhan mereka.

“Ssssttt… Mbaaak…. Jangan teriak-teriak… Ini masih sore….” Kata Seto sambil terus menjejalkan batang penisnya kuat-kuat ke tenggorokan Citra.

“MPPPPHFFFF…. MPPPPHHHFFFF…” Jerit Citra tertahan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya melotot, dan mulutnya menganga lebar.

Tiba-tiba, tubuh hamil Citra bergetar hebat dan punggungnya melenting-lenting kebelakang. Sambil meremasi payudaranya yang besar, Citra berusaha melampiaskan kenikmatan yang ia rasakan seeksperif mungkin.

“AAAARRRGGGGHH…. AAAAAAARRRRRRRGHHHGGGHHHHHH….. UUUOOOOOHHHHH…..”

CREETT… CREEETT… CREEETTTT

“Mbaaak…. Kamu kenapa..?” Tanya Muklis bingung melihat istri kakaknya mendadak beringas seperti itu.

“Dia sedang multi orgasme Klis…” Jelas Seto sambil menjaga tubuh Citra yang terus menggeliat-geliat supaya tak terjatuh dari sofa.

“Kontolmu pasti berasa diperas-peras tuh….”

“Hiya mas… Huuuooohhh….Enak banget….” Erang Muklis sambil menikmati pijatan vagina Citra yang terus-terusan mengeluarkan lendir bening.

“Wuuooohhh…. Sekarang giliranku ya mbak… Aku juga mau keluaaaar… Hhhh…. Hhhh…” Ucap Muklis sambil terus mempercepat genjotan pinggannya. “Keluarin dimana mbak….?”

“Didalem aja Klis… Wong mbakmu udah hamil ini… Hehehe…” Kata Seto mewakili Citra.

“Hoooh…Hoohh… Aku keluarin ya mbaaak….NGENTOOOTTT… MEMEKMU ENAK BANGET MBAAK…”

CROT… CROOT… CRROOOCOOOTTT…

Dengan gerakan membabi buta, Muklis menghujamkan penisnya dengan hebat dan cepat, sembari memuntahkan benih kejantanannya kedalam liang rahim kakak iparnya. Saking kuatnya hentakan pinggul Muklis, membuat sofa tempat mereka bersetubuh ikut terdorong-dorong maju hingga menabrak tembok ruang tamu.

CROT… CROT… CROT….

“Mmmpppuuuaahhhh….” Erang Citra begitu Seto mencabut penisnya dari mulut mungil Citra

“Huuoohhh…. Memekmu juara mbaaak….” Erang Muklis sambil merangsek maju, memeluk tubuh kakak iparnya yang tergeletak lemas karena orgasmenya.

“Heeeeeehh Muklisssss… Jangan peluk mbaaakk…. Kasihan perut mbak kamu tindihin giniiiii….”

“Eh..Eh… Maaf mbak… Maaf…” Kata Muklis yang buru-buru duduk dengan penis yang masih menancap erat pada vagina Citra.

“Hhhhssss…. Banyak banget pejuhmu sayang…. Memek mbak sampe luber gini….Hihihi…”

“Hehehehe.. Banyak ya mbak….?” Tawa Muklis sambil cengengesan, “Habisan mbak juga nafsuin banget sih…. Jadi aku nggak bisa nahan-nahan buat mejuhin memek mbak… Hehehe….”

“Hihihi… Nggak apa-apa Klis… Yang penting kamu puas…”

“Nggg…. ”

“Kenapa Klis…? Kok kamu kliatan bingung gitu…? Jangan-jangan kamu belom puas…?”

“Nggg… Hehehe… Iya mbak… Aku masih pengen…. Boleh ya mbak….?”

“Wah wah wah…. Iya boleeeh…. Pantesan kontolmu masih berasa keras gitu ya…

“Hehehe…. Memek kok bisa berasa mijitin kontolku mulu ya mbak…. Mijitin cenut-cenut…” Kata Muklis keheranan.

“Memek mbak berasa jauh lebih enak dari yang aku bayangin… ”

Melihat kakak beradik yang masih bercengkrama pasca orgasme, membuat Seto merasa tersisihkan. Oleh karenanya, dengan penis yang masih tegang mengeras, ia mendekati Muklis dan menyuruhnya menjauh.

“Klis… Udah ah… Ayo gantian…. Aku juga pengen ikut mejuhin mbak iparmu….” Pinta Seto kasar,

“Ayo gantian mbak…” Tambah Seto yang buru-buru menggeser tubuh Muklis kepinggir, dan menggantikan posisi penis Muklis.

PLOP….

Penis Muklis tercabut dengan paksa, membuat lendir-lendir kenikmatan Citra seketika membanjir keluar.

“Uuuuuuuuhhhhhhh… ” Jerit Citra yang sedang merasakan sisa-sisa orgasmenya.

“Ayo gantian mbak….”

“Seeetooo… Bentaran napaaaa…” Protes Citra sewot.

“Khan aku pengen ngerasain enak ama kontolnya Muklis dulu….”

“Hehehe…. Yaelah.. Mbakkk…. Aku khan juga pengen ngentotin bini tetanggaku yang mesum ini….Hehehe… ” Kata Seto yang buru-buru mengambil kedua pergelangan kaki Citra dan membentangkannya lebar-lebar.

“Kasihan Muklis kali Seeet…. Dia khan baru ngerasain enak….”

“Hehehe… Aku udah nggak tahan mbak….”

“Lagian kamu khan udah sering make memek aku Set….”

“Hehehe…. Klis… Memek mbakmu aku pake dulu nggak apa-apa khan Klis…?” Tanya Seto tanpa menghiraukan omelan Citra.

Muklis yang masih menikmatin sisa rasa enak pada selangkangannya, hanya bisa mengangguk pasrah ketika melihat tetangganya itu mulai menusukkan batang penisnya yang tegang itu kedalam liang vagina kakak iparnya.

“Heheheehe…. Benar-benar lelaki yang pengertian….” Ucap Seto.

CLEEEEP…

“Huuuoohhh….Uuuhhh… Seeet… Bentaran Seeet..” Pinta Citra mencoba menghentikan goyangan pinggul Seto,

“Ngilu Seeet… Ngilu….Aku pengen ngerasain sisa-sisa orgasmeku….”

“Hehehe… Mbak bisa khan ngerasain sisa-sisa orgasmenya nanti saja… Aku udah sange ngeliat kebinalanmu tadi….” Ucap Seto sambil mulai menggenjot pinggulnya lagi.

“Huuuooohhh… Pelan pelan Set… Memek aku masih ngilu….”

“Hehehe… Udaahlaaah…. Nikmatin ajah mbak…. Pasti ngilu-ngilu enak…. Hehehe….” Canda Seto,

“Eh Mbak…. Gimana supaya acara ngentot kita makin heboh… Kita pindah kekamar aja yuk….?” Kata Seto yang kemudian tanpa meminta persetujuan Citra segera melingkarkan tangannya kepunggung Citra. Lalu

Segera mengangkat tubuh hamil Citra dan menggendongnya didepan tubuhnya.

Tanpa mencabut penis yang masih erat tertancap di vagina Citra, Seto mulai melangkahkan kakinya satu-persatu hingga sampai ke kamar tidur Citra.

“Sumpah… badanmu sekarang berat banget mbak…. Hehehehe..”

“Huuuoooohhh… Seeett… Ngiluuu…Kontolmu bikin memek aku berasa geli bangettt….” Kata Citra begitu ia merasakan nikmatnya bercinta sambil berada digendongan. Terlebih gelombang orgasmenya yang masih terus-terusan berkedut pada vaginanya, membuat Citra seperti linglung karena nikmat.

“Sssttt…Klis… Mau ngerasain yang lebih enak lagi nggak….?” Tanya Seto pada Muklis ketika ia berjalan kearah kamar tidur.

“Ma… Mau mas….”

“Yowes… Sekarang kamu tutup semua pintu dan jendela… Kita lanjutkan ngentotin mbakmu di ranjang pengantinnya… Hehehe…” Ucap Seto kepada Muklis yang berdiri sambil mengurut-urut batang penisnya yang masih tegang.

“Ba…Baik….”

“Kita habisin tubuh hamil nan seksi ini sampe pagi…. Gimana…? Setuju khan…?”

“Hehehe….Setuju banget mas…”

Dengan iming-iming kenikmatan tubuh kakak iparnya, Muklis entah sejak kapan menjadi begitu akrab dengan Seto.

Sesampainya di kamar, Seto segera meletakkan pantatnya di kasur dan merebahkan tubuh kurusnya.

“Ayo Klis… Peluk tubuh mbakmu dari belakang…. Pegang yang kenceng ya… Jangan sampe lepas….”

“Begini mas…?”

“Hiyalah…. Bener begitu…..”

“Hei…Hei…. Kalian mau ngapain…?” Tanya Citra panik karena melihat gelagat yang tidak benar pada kedua lelaki yang berada di kamarnya. Terlebih melihat adik iparnya yang ikut-ikutan dalam rencana Seto, mendekap tubuh hamil Citra erat-erat.

“Hehehe… Mbak diam aja ya…. Pasti bakal berasa enak kok….” Kata Seto berusaha menenangkan Citra.

“Tapi kenapa harus megangin badan aku seperti ini sih…?”

“Karena malam ini, aku ama Muklis mau nyiksa istri LONTE kaya kamu ini mbak… Hehehehe….”

“Klis… Ayo lepasin tangan mbak….!” Teriak Citra.

“Jangan turutin Klis… Pegang terus tangannya…. Atau kalo nggak… Remes teteknya keras-keras….” Kata Seto.

“Ba… Baik mas…”

” Huuooohh…. Jangaaan….. Kliiisss… ” Teriak Citra yang tiba-tiba berubah menjadi desahan ketika tangan kasar Muklis mulai meremasi payudara besarnya. Gejolak orgasmenya yang tak kunjung berhenti membuat tubuhnya begitu sensitif terhadap segala macam sentuhan. Termasuk sentuhan pada kedua payudaranya.

“Kalo mbakmu menolak semua perintah kita…. Kamu remes-remesin tetek mbakmu kuat-kuat Klis…”

“Hahh….Serius…? Beneran nggak apa-apa Mas…?” Tanya Muklis kaget sambil berulangkali menatap keseriusan di wajah Seto.

“Hehehe… Percaya deh ama aku Klis… Kalo teteknya udah kena remes, mbakmu nggak bakalan bisa nolak…. LONTE kaya mbakmu gini kadang harus dikerasin biar nafsu birahinya terpuaskan….”

Lalu, dengan satu sentakan kuat, Seto lalu mencengkeram kedua pantat bulat Citra, dan mulai menggerakkan kedua pantat itu maju mundur menghantam pinggangnya, membuat seolah-olah vagina basah Citra sedang menggiling penis Seto.

“Huuooh…. Seeet…. Berhenti…Berhenti…..” Ucap Citra kaget.

Ia sama sekali tak menyangka jika Seto bakal menstimulus vaginanya seperti itu. Walaupun ia menolak, tapi tetap saja, pinggulnya bergerak seperti sedang menyetubuhi Seto. Terlebih ditambah dengan remasan tangan adik iparnya, membuat Citra yang masih sedang menikmati sisa-sisa gelombang orgasmenya tak dapat menahan rasa ngilu yang amat sangat.

“Ooohh…Seet… Seeett.. tunggu bentaran seet… tunggu bentaraaaann… SETOOOO…. AAARRGGHHH… AAHHHH…..AAAAARRRGGHHH….”

Namun, sepertinya permintaan Citra tak digurbis Seto sama sekali, karena nyatanya Seto malah semakin cepat menggerak-gerakkan pantat Citra maju mundur, membuat seolah vagina Citra sedang menggasak penis besar Seto kuat-kuat.

“SEETOOOO… BRENTI SEEEETTT….AKU MAU KELUAR LAGI INI…. NGEENTOOOT…. AKU MAAU KELUAAR….”

Tak menunggu lama, tiba-tiba, tubuh Citra yang indah kembali bergetar-getar. Punggungnya meliuk-liuk. Mulutnya menganga dan matanya terpejam erat.

CRET… CRET… CREEECEEETTT…

“AAARRRGGGHHHH.. NGEEENTOT KAMU SEEETT…. KONTOLMU BIKIN MEMEKKU ENAAAK… KONTOLMU ENAK SEEETT… NGEEENTOOOOTTT…” Rangkaian ucapan mesum nan jorok terlontar dari bibir tipis Citra. Membuat Muklis yang ada dibelakangnya terpesona dengan kebinalan kakak iparnya.

“Hehehe… Rasain kontolku mbak…. Rasain….” Kata Seto yang tak mengentikan goyangan pantat Citra maju mundur kearah pinggulnya.

“Ini hukumannya jadi istri nakal… Ini hukumannya jadi istri lonte….” Tambah Seto sambil kembali menggoyangkan pantat Citra kuat-kuat, membuat Citra megap-megap keenakan.

“Ooooohhhh…..Remes tetek mbak Klis… Remes tetek mbak kuat-kuuuaaaatttt… NGEEENTOOOOTTT…”

Menuruti permintaan kakak iparnya, segera saja Muklis memperkuat remasan tangannya sambil sesekali menarik keras kedua puting payudara Citra.

“Ooogghh… Yaahh Iya gitu Klis… Enak Klis… EEENNNAAAAKKKK… Sssh… Oooh…”

“Mbak… Lubang anusnya nganggur tuh… Muklis sodok pake kontol boleh ya…?” Celetuk Seto sambil terus-terusan menggoyang pantat Citra.

“Hhooo’oohh… NGENTOOOTT… ENAK BANGEEET SEEEET…” Raung Citra tak sadar dengan apa yang Seto tanyakan.

“TERUS SEEET… NGENTOT TERUUUUSSSS….”

“Bener yaa… Muklis bakal nyodok bo’ol sempitmu loh mbak….” Goda Seto,

“Muklis bakal menyodomi liang analmu dengan kontol besarnya…. ”

“Hiyaaah… Hiyaaaah…. Tusuk ajaaah… Ssshh…. Tusuk ajaaah bo’ooolkuuuu…..” Racau Citra tak sadar karena masih tenggelam dalam kenikmatan orgasmenya.

Tiba-tiba, Seto mengedipkan sebelah matanya dan menganggukkan kepala kepada Muklis.

Perlahan, Seto memajukan tubuh hamil Citra. Membuat wanita cantik itu membungkuk kedepan dan memamerkan lubang anusnya yang berwarna coklat muda.

“Ayo tusukin kontolmu ke bo’ol mbakmu Klis… Buruan….” Ucap Seto sambil gantian meremasi payudara Citra. “Aayooo tusuk sekarang….”

Segera saja Mulis menempatkan kedua pahanya diantara paha Seto. Lalu sambil meludahi kepala penisnya, adik ipar Citra itu mulai memasukkan perlahan-lahan kepala penisnya ke dalam liang anal Citra.

“HUOOOHHH…. KAMU NGAPAIN KLISSS….?” Tanya Citra panik. Seolah tiba-tiba tersadar akan apa yang sedang terjadi pada dirinya, Citra mulai menggeliat.

“AYO BURUAN KLIS… DORONG KONTOLMU…. DOROOONG….” Terak Seto lantang.

CLEEEPPPP….

“HUUUOOOOHHH…. SSSSSHHH… KLIIIISSSSS…..” Erang Citra ketika ia merasakan kedua lobang tubuhnya dimasuki oleh dua batang berukuran ekstra besar dalam satu waktu.

Perlahan-lahan, Muklis terus menancapkan tusukan penisnya dalam-dalam ke vagina Citra. Terus, makin dalam hingga akhirnya, separuh batang kejantanannya tertanam diliang anus kakak iparnya itu.

PLEK

“Oooohhh…Ssshhh… Kliiiissss… Seeempiiittt…..” Desah Citra,

“Kontolmu kegedeeeaaannnn Kliiiisss…..” Raung Citra, “KEGEDEAN KLIIIISSSS….. OOOOHHHH…..”

“Hhhoohh….? Aku… Aku cabut nih mbak…?” Tanya Muklis panik.

“Jaangaaan…. Kontolmu…. Gedddeeeee…. Taaapi… Ennnaaaaaaakkkkk……”

“Hayo Klis… Sikat….” Perintah Seto, “Hajar itu anus mbakmu dengan kontolmu….”

Tanpa menghiraukan erangan Citra, Muklis segera memegang pundak putih Citra dan menghentakkan batang penisnya keras-keras. Ia tanpa henti terus berusaha membenamkan batang penisnya dalam-dalam ke lubang anus Citra. Membuat wanita hamil itu menggeretakkan giginya sembari terus terusan menggeliat-geliat.

“Sakit mbak…?” Tanya Muklis polos.

“Hoooohhhss… Ssshh…..” Jawab Citra sambil menggelengkan kepala.

“Aku terusin ya mbak….Sumpah…. Lubang anusmu enak banget mbak… ” Puji Muklis, “Nggak kalah enaknya dengan lubang memekmu… Legit… Sempit… menggigit….”

“AYO KLIS…. Terus kocok yang cepet Klis….” Pinta Seto.

“Hoooooohhh…. Kalian nakaaal baaangeeeettt….. Ooohh… Ooohh…” Kata Citra. “Beraninya maaaennn keroyokaaan…. Hhhmm….Ssshhh….”

“Hehehe… Tapi enak khan mbaaaakkk….?” Ucap Seto sambil meremasi payudara besar Citra yang bergoyang maju mundur seiring sodokan penis kedua lelaki itu pada kedua lubang senggama istri Marwan itu.

“Kontol kalian emang tiada duanya….” Puji Citra sambil memajukan tubuhnya, mengecup bibir Seto yang ada didepannya. Lalu dengan buas mengais-ngais lidah basah Seto dengan ganas, “Cuppp… Muaah…. Muuaaahh….Sluurp….”

“Mbak.. Jangan rebahan mulu…. Inget mbak…. Kamu sedang hamil…” Kata Seto memperingatkan.

“Eh iya…. Hehehe…”

Melihat kakak iparnya sama sekali tak memberikan penolakan, Muklis mulai sedikit memberanikan diri untuk mempercepat goyangan pinggulnya. Mengaduk liang anus Citra dengan lebih kuat lagi.

“Kenapa Klis….? Enak ya….?” Tanya Seto disela-sela ciumannya dengan Citra.

“Sssshhh…. Hiya Mas….”

Muklis, Seto dan Citra, makin lama makin terlena dalam kenikmatan masing-masing.

Muklis yang ada diatas tubuh Citra terus tanpa henti menusuk dan mencabut batang penisnya ke dalam liang anal kakak iparnya. Sembari terus menecup punggung putih nan mulus Citra dengan penuh kasih sayang.

Seto yang ada bawah juga tak hentinya menggoyang-goyangkan pantat Citra cepat-cepat guna terus menstimulus vagina Citra yang sibuk menggilas batang penisnya. Sesekali, Seto juga menghentakkan pinggulnya, membuat batang penisnya terus keluar masuk di dalam celah vagina Citra hingga mulai membusa.

Sedang Citra yang berada diantara tubuh Seto dan Muklis, terus-terusan menggeliat, melayani goyangan nafsu tetangga dan adik iparnya, sekaligus mengayuh biduk kenikmatan persetubuhannya.

“Ssssh…. Enak baaangeeet sayaaang….” Ucap Citra tak henti-hentinya mendesah sambil menggerakkan pinggul dan pinggangnya dengan liar. Terlebih karena ia merasakan kenikmatan hisapan mulut dan lidah Seto yang terus menyusu pada payudaranya secara bergantian.

“Ngeeentoooottt… Enak baaangeeet…..” Jerit Citra keras, “NGEEENT….OOOHHH… TOOOOTTTT…”

“Gimana Mbak…?” Tanya Muklis,” Bo’olnya udah enakan…? Hehehehe….”

“Sssshhhh….Kamu nakal Klis… Nakaaal bangeeettt… Ssshh…. ” erang Citra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku khan mbakmu Klis…. Aku istri masmu….”

“Habisan mbak juga sih yang minta…. Hehehe…”

“Hihihi… Ooohh… Ohh… Oh… Ssshhh…. Iya juga sih…. Nggak kebayang apa yang ada di otak masmu Klis… Ehhhmmm… Kalo…. Kalo dia tahu istrinya kamu entotin dengan brutal seperti ini… Ssshh….”

“Hehehe…. Mas pasti bangga mbak…. Bisa liat istrinya menjamu adik iparnya seenak ini…”

“Ihhh… Sumpah… Mesummu nggak ilang-ilang… Mmmmmhhh….”

“Hehehe… Habisan mbak seksi banget sih… Aku jadi nggak tahan buat nggak ngentotin mbak… Ini tuh seperti… Mimpi yang jadi kenyataan…”

“Ckckck…. Dasar keluarga mesum…. ” Celetuk Seto melihat percakapan Citra dan Muklis,

“Melihat kalian berdua…Bikin aku makin horny aja… Hehehe….”

“Kamu juga Set…. Udah tahu aku sedang hamil muda seperti ini… Masih aja dientotin….Ssshh… ”

“Hahaha…. Kaya kamu nggak doyan aja mbak….”

” Habisan kontol-kontol kaian tuh enak sih… Hihihi…. “Tawa Citra manja,

“Udah yuk… Cepetin goyangan kalian.. Aku mau keluar lagggi….. Ooohh… Oooh…Ohh….”

Seto dan Muklis secara cepat menyetubuhi tubuh hamil Citra dengan buas dan ganas. Mereka seolah tak menganggap jika wanita yang ada didepannya sedang hamil, terus-terusan menyetubuhi Citra tanpa ampun sedikitpun.

Seto yang ada dibawah tak henti-hentinya menyodokkan batang penisnya keras-keras keatas, menumbuk vagina Citra yang semakin basah, sementara Muklis yang menyodok liang anus Citra juga tak mau kalah, menghajar lubang belakang tubuh kakak iparnya kuat-kuat.

Benar-benar persetubuhan yang amat dahsyat. Wanita hamil yang sedang digarap kedua lelaki berpenis besar tanpa henti, tanpa ampun.

“Oooh…Ohhh…Ohhh…. Setooo… Mukliiisss… Aku…. Aku keluar lagi…. Ouuugghhhhhhh … Ssshhh … Aakkkhh…. NGEEENNNTTTOOOOTTTT….” Jerit Citra.

“Mbaaakk… Aku juga mau keluaaar…. ” Teriak Seto dan Muklis hampir berbarengan.

Rupanya, Seto dan Muklis tak mampu menahan denyut kenikmatan yang mereka rasakan dari dinding vagina dan anus Citra. Karena tak lama kemudian, Seto dan Muklis mencabut batang-batang penis mereka secara tiba-tiba dan meminta Citra merebahkan badannya.

“Buka mulutmu mbak….” Pinta Seto.

“Aku pengen mejuhim mulutmu….” Sahut Muklis.

“Aaaaaaaa……” Jawab Citra sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

CROT… CROT… CROOCOOTT… CROT… CROT… CROCOOOTTT…

Semburan demi semburan muncrat memenuhi rongga mulut Citra. Bukan main, walau tadi mereka berdua baru saja memuntahkan sperma, namun sepertinya bersetubuh dengan istri Marwan itu membuat persediaan sperma mereka tak habis-habis.

Dengan buas Citra lalu menangkap kedua penis jumbo yang berada di depan wajahnya, lalu segera mengenyotnya bergantian

“Wuuuooohh… Mbaaak…. Enak bangeeeet… “Kata Seto.

“Sedotan mulutmu bikin kontolku ngilu mbak… ” Sahut Muklis.

“Mbakmu benar-benar lonte sejati ya Klis…?” Ucap Seto,

“Hiya mas…. Lonte banget…. Hhehehe….”

Sambil tersenyum, Citra mempermainkan sperma yang ada didalam mulutnya. Sesekali ia memonyongkan mulutnya, mengeluarkan sedikit sperma hingga meleleh melalui bibir seksinya. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun, ia menelan semua benih kejantanan Seto dan Muklis itu hingga habis tak tersisa.

“Aaahh….. Nyap…Nyap….” Ucap Citra sambil menjilati sekitar bibir mungilnya, mengais semua sperma yang berceceran di wajah cantiknya.

“Gurrriiiiihhhh….”

“Busssyeet daaah… Mbaaakkk…. Sumpaaaah… Kamu memang wanita idolaku…..” Teriak Muklis yang tiba-tiba menghambur kearah Citra telentang dan menciuminya bertubi-tubi. “Jangan salahin aku ya kalo aku jadi pengen ngentotin mbak terus…”

“Hihihi… Gitu ya Klis….”

“Hiya mbak….. Kamu bikin aku selalu nafsu….”

“Kalo gitu…. Apa sekarang kamu masih pengen ngentotin memek ama anus mbak lagi nggak…?” Tanya Citra yang kembali memposisikan dirinya seperti anjing, bertumpu pada kedua tangan dan lututnya.

Mendengar pertanyaan Citra, Muklis segera meloncat naik dan menempatkan kepala penisnya yang sudah memerah kebiruan itu keselangkangan kakak iparnya, sembari mengelus-elus punggung, pinggul payudara dan perut Citra dari belakang tubuhnya.

“Dedenya….Udah berapa bulan mbak…? ” Tanya Muklis.

“Kenapa Klis…?” Tanya Citra

“Udah gedhe ya mbak perutmu…” Jawab Muklis sambil terus mengelusi perut besar Citra.

“Hihihi…. Iya… Sebentar lagi… Kamu bakal jadi paman Klis…”

“Iya mbak… Aku harap anak mbak cewek…”

“Hmmm…. Emang kenapa kalo cewe…?”

“Ya biar kalo besok udah gedhe… Aku bisa ngentotin mbak sekaligus keponakanku sekalian…Hehehe….”

“Hihihi… Kamu paman yang mesum Klis…” Jawab Citra sambil mengarahkan kepala penis Muklis ke lubang anusnya, ” Benar-benar mesum… Hihihi….”

“Mbak masih mau dientot di bool lagii…?”

“Hiihihi… Hiya Klis… ” Kata Citra genit sambil mulai menusukkan penis Muklis masuk kedalam anusnya,

“Habisan… Enak banget kontolmu Klis…”

Tak lama, Penis Muklis kembali memasuki liang anus Citra dan segera menganalnya dalam posisi berlutut.

“Eh Klis…. Kalo kamu capek…. Tiduran aja Klis… Biar mbak yang ngegoyang kontolmu dari atas….” Saran Citra singkat,

“Kamu rebahan aja ya sayang….” Tambah Citra sambil mengisyaratkan supaya adik iparnya tiduran telentang dengan penis yang masih tetap berada di dalam lubang analnya.

“Mbak pengen maen diatas ya…?”

Citra mengangguk, rupanya ia mengambil inisiatif untuk menggerakan pinggulnya naik-turun hingga penis Muklis bisa keluar masuk dengan bebasnya ke dalam liang analnya.

Disela persetubuhan analnya, Citra memutar tubuhnya membelakangi Muklis. “Set.. Kamu masih kuat nggak….?”

“Emang kenapa mbak….?”

“Bisa sodok memek aku lagi….” Pinta Citra yang kemudian merebahkan punggungnya diatas dada Muklis.

“Hehehe… CITRA AGUSTINA…. LONTEKU TERCINTA…. Nggak pernah ada puas-puasnya….” Kata Seto menurutin permintaan Citra.

“GILAAAA…. ” Batin Muklis melihat kebinalan kakak iparnya.

“Kami melakukan seks sandwich…. Aku dibawah, mbak Citra ditengah, dan mas Seto diatas…” Tambahnya sambil terus meremas kasar payudara Citra dari bawah.

Tak lama, mereka bertiga sudah kembali tenggelam dalam kenikmatan persetubuhan mereka. Lenguhan dan desahan Citra tak lagi Seto pedulikan. Ia membiarkan saja istri Marwan itu berteriak-teriak sesukanya. Sepuasnya.

“Kamu kenapa Klis….?” Tanya Seto yang melihat Muklis senyum-senyum sendiri dibawah sana,

” Kamu masih kuat khan Klis…?”.

“Hoo’ooh Massss… Masih Jooosss….” Jawab Muklis sambil terus merasakan kenikmatan jepitan liang dubur Citra dan sensasi berbeda ketika is sedang melakukan seks sandwich itu.

Penis Muklis yang sedang berada di lubang anus Citra sampai bisa merasakan gesekan penis Seto yang sedang mengobok-obok vagina Citra. Kedua penis yang hanya dipisahkan oleh dinding vagina Citra itu terus-terusan saling bersenggolan tanpa henti seiring tusukan dan sodokan kasar Seto dan Muklis.

Hingga tak beberapa lama kemudian, entah kenapa Seto tiba-tiba mencabut penisnya keluar dari vagina Citra lalu berpindah mendekat ke wajah Citra sambil terus mengocoknya dengan cepat.

“Hhh… Hhhh… Mbak… Aku nggak kuat lagi mbak… ”

Looh Kok dicabut Set…?”

“Aku mau keluar… Mbak…”

“Tunggu Set… Aku juga mau keluar lagi…. Ssshh….  Kata Citra yang tiba-tiba juga bangkit dari atas tubuh Muklis dan segera mengambil alih tangan Seto. Dengan sigap, istri Marwan itu menggenggam penis Seto dan mulai mengocoknya cepat.

“Huuuooohhh…. Mbaaaakkk…” Erang Seto, “Aku nggak kuat lagi mbaaak.. Aku mau keluuuuaarrrr…”

“Keluarin di mulutku Set… Keluarin yang banyaaak… ” Kata Citra sambil mencucup kepala penis tetangganya kuat-kuat ke dalam mulutnya.

CROT CROT CRET

Cairan sperma Seto pun kembali muncrat untuk terakhir kalinya. Tak banyak, namun cukup kuat untuk meloncat mengenai wajah dan mulut Citra.

“Sluuurrrp….Pejuh favoritku… Sluurrppp…Muaaaahh…” Ucap Citra yang sama sekali tidak jijik menjilati cairan yang keluar dari penis Seto.

“Adekku sayang… Kok kamu diem aja sih…?” Tanya Citra yang tiba-tiba bangkit dan menoleh kearah Muklis yang hanya terdiam dibelakang tubuh Citra,

” Udah bosen ya ama tubuh mbak…?”

“Nggg… Nggaklah mbak…. ” Jawab Muklis.

“Yaudah Yuk…. Ayo entotin mbak lagi…” Pinta Citra genit.

“Hehehe.. Siaaap mbaaak….” Kata Muklis yang segera saja menghentak-hentakkan pinggulnya dengan keras menghantam pantat Citra.

“Sssshhh…. Ooohhh… Kliisss… Cabut kontolmu dari bo’olku Klis…. Cabut bentaaar… ”

“Looh..Kenapa mbak….?”

“Udah.. Cabut aja sayang….”

PLOP

“Uuuuhhh…..Nikmaaattt….. ” Ucap Citra spontan, “Naah.. Sekarang…. Kamu entotin memek aku Klis….”

“Hah….? Ngentotin memek mbak… Khann….Khan kontol aku habis dari boo….”

“Sssttt… Udah…” Potong Citra, “Ayo Klis…. Masukin kontolmu kesini….” Perintah Citra sambil menyibakkan liang vaginanya dengan satu tangan.

“Beneran mbak….? Ini kontolku masih belepotan lendir anusmu loh…..”

“Sssshhhh…… Uddaaahhh…. Buruan masukin sini Klissss…. Buruaaannn…..”

CLEP

“Huooohhh…. Enak bangeeet… Mbaaaak….” Gelijang Muklis ketika merasakan penisnya mendadak tercelup kedalam liang senggama Citra. Sejenak, adik ipar Citra mencoba merasakan pijatan lembut vagina Citra sebelum akhirnya mulai menggenjot batang penisnya lagi.

“Hihihi… Enak khaaan….” Tawa Citra,

“Sekarang…. Gantian lagi Klis… Cabut kontolmu dari memek mbak… Lalu masukin ke bool mbak lagi….”

“Haaah….? Pindah lagi mbak….?”

“Ssssh….. Udaaahh… Nurut aja kamu sayang….”

PLOP

Suara penis Muklis ketika tercabut.

CLEEP

“Uuuhhhh…. Enak banget kontolmu Klisssss……” Erang Citra,

“Sekarang cabut lagi Klis… Trus tusukin ke memek mbak….”

PLOP

CLEP

PLOP

CLEP

Berulang kali penis Muklis diminta Citra untuk menyodok kedua liang senggamanya secara bergantian. Sehingga membuat kedua lubang bawah Citra memerah dan menganga lebar. Lendir kenikmatan, bercampur sperma tak henti hentinya keluar seiring tusukan penis besar Muklis.

Setelah 7-8 kali Muklis menghujamankan batang penisnya divagina Citra, wanita hamil nan cantik menggoda itu memintanya untuk mencabut penisnya dan berpindah ke anus. Setelah 7-8 kali Muklis mengadukkan anus nan sempit itu, istri Marwan itu memintanya untuk berpindah kembali.

Begitu seterusnya, hingga akhirnya Citra kembali menjerit. Pertanda orgasmenya akan segera datang lagi. “Aaaaggghhh.. Mukliiisss… Mbak mau keluar laaagi…. Ooohhhsss…. Nikmatnyaaahhhhh kontolmu Klissss….. NGENTOOOOTTT…. Ooooogggghhhh…. Jerit Citra keras dengan badan yang mulai bergetar.

CRET CREET CREEET….

Sejenak, Citra berdiam diri. Nafasnya tersengal-sengal, dan tubuhnya kelojotan tanpa henti. Sepertinya orgasmenya terlalu hebat bagi dirinya.

“Memek mbak…. Bener-bener… Ngilu…. Klis…. ” Kata Citra dengan nafas putus-putus, “Lutut mbak… Udah nggak kuat lagi… Buat berdiri….”

“Kita istirahat dulu aja kali ya mbak….?”

“Sssshhh….Tapi kamu khan… Belum keluar Klis….”

“Nggak apa-apa mbak… Aku mah bisa keluar kapan aja….”

“Yaudah… Kita istirahat bentaran ya…. ” Kata Citra sambil melirik Seto yang sudah mendengkur karena kelelahan di sudut kasur,

“Tapi Klis… Kamu masih kuat khan….?”

“Masih mbak….”

” Kamu masih mau khan ngentotin mbak sampai pagi….? Hihihi….”

“Gila… Wanita hamil ini memang tak pernah ada matinya….” Kata Muklis dalam hati.

Semalam suntuk Citra dan Muklis mengaruhi lautan kenikmatan. Berulang kali Muklis diminta Citra untuk menyetubuhi lubang kenikmatannya secara bergantian, anus, vagina, anus vagina, anus, vagina.

dan sudah tak terhitung, sudah berapa puluh kali Citra Agustina ini mendapatkan orgasmenya dari Muklis.

Hingga akhirnya, CROT CREET Crocot Crecet.

Penis muklis berejakulasi tanpa mengeluarkan sperma sama sekali. Yang ada hanya kedut kenikmatan tanpa henti akibat remasan vagina Citra ketika ia orgasme.

“Ampun mbaak…. Aku sudah nggak kuat lagi….” Keluh Muklis.

“Looohh… Tapi kok ini kontolmu masih berasa keras gini Klis…..”

“Aaampuuunnnn…. Aku juga nggak ngerti mbak kenapa nih kontolku masih tegang aja….”

“Hihihi… Iya iya…. Kita udahan aja ya Klisss…” Kata Citra sambil mengecup salah satu tangan Muklis yang sedang tak meremasi payudaranya,

“Mbak sayang kamu Klis… Cup Cup Cuppp…”

Kedua insan yang masih bersaudara itupun akhirnya tumbang karena kelelahan. Dengan masih terus memeluk tubuh hamil Citra dari belakang, Muklis membiarkan penisnya mengecil didalam vagina Citra.

“Benar malam yang melelahkan… ” Kata Muklis sambil terus mengecupi pundak kakak iparnya.

“Makasih ya mbak…”

“Hihihi…. Harusnya mbak Kali Klis yang bilang makasih sama kamu….”

“Eh mbak… Kira-kira…Mas Marwan tahu nggak ya kalo mbak ternyata sebinal ini…?”

“Hihihi… Kayaknya enggak deh…Emang kenapa Klis…?”

“Mbak liar banget… Mirip pemain bokep yang ada di film-film porno…..”

“Aaaaaahhh kaaamuuuu…”

“Beneran mbak… Apalagi ketika mbak mengajak untuk maen anal… Sumpah… Aku sampe terkaget-kaget…”

“Hihihi… Iya ya…?”

“Iya mbak…. Aku aja nggak ngira mbak… Kalo wanita yang aku impikan selama ini… Ternyata sama dengan apa yang sering aku bayangin…..”

“Emang kamu mbayangin apaan….? Waaaah… Jangan-jangan kamu sering ya mbayangin bo’ol mbak…? Atau malah…. Kamu sering ya ngarep buat maen anal ama istri masmu ini….? ”

“Hehehe…. ”

“Woalaaaahhh….. Kliiis Klisssss…. Dasar otak mesuuummmm…. Hihihihi…..”

TIIT TIIIT… TIIT TIIIT… TIIT TIIIT… TIIT TIIIT…

Suara handphone Seto terdengar begitu nyaring hingga membangunkan mereka bertiga. Dan tak terasa, hari ternyata sudah menjelang siang.

“Haaalooo….?” Suara Seto menyapa penelepon dengan malasnya,

“Ada apa ya mah….?” Terdengar suara sewot Anissa yang sedang marah-marah kepada Seto, suaminya.

“Iyaaaa…..Aku ini masih dikantor mah… Tadi malam khan aku udah pamit ama kamu…” Kata Seto.

“Iyaaa.. Beneran aku udah pamit mamah sayaaaang… Tapi kayanya aku nggak kamu gubris…. Wong pas aku pamit kamu sedang peluk-pelukan ama Lik Leman…. ” Jelas Seto dengan wajah bete,

“Mana seru pula…. sampe cium-ciuman segala…. Khan aku cemburu mah….”

“Haaa…? Kenapa mah….? Mbak Citra teriak-teriak….? Masa sih dia selingkuh ….? Khan suaminya sedang keluar kota….”

“Enggak kok… Aku nggak dirumah mbak Citra… Kamu salah denger kali… ?” Tambah Seto sambil meremasi payudara Citra yang mulai menegang,

” Mana mungkin aku selingkuh ama dia mah…..” Tawa Seto terkekeh-kekeh sambil menutup mulutnya, “Mana mungkin mbak Citra mau sama kontol aku mah….”

“Iya deh… Iya iya… Kamu pergi aja ama Lik kesayanganmu itu… Nanti mas pulang bawa makanan deh…”

“Iya maaah…. Sayang jugaaa….”

KLIK

“Mbak…” Panggil Seto sambil menggoyang-goyangkan payudara besar Citra.

“Hmmmm….” Jawab Citra sambil mencoba mengumpulkan semua kesadarannya.

“Aku pulang duluan ya mbak… Mumpung si Anissa sedang keluar ama pamannya….”

“Eeeh… Beneran kamu mau pulang Set….?” Tanya Citra dengan nada mengantuk,

“Bukannya kalo bini kamu pergi… Kita jadi makin gampang seneng-senengnya…..?”

“Hehehe… Ntar lagi aja deh mbak….Aku bener-bener harus pulang dulu….”

Tanpa mengenakan pakaiannya secara lengkap, Seto segera berlari kebelakang rumah. Karena rumah kontrakan Seto dan Citra memiliki pintu koneksi di halaman belakang, Seto dapat dengan mudah berpindah rumah tanpa harus diketahui oleh tetangga sekitarnya.

Hingga akhirnya, kedua kakak beradik itu kembali ditinggalkan Seto dalam sunyi.

“Makasih ya Klis… Kamu Sudah mbantuin mbak….” Kata Citra membuka percakapan.

“Iya mbak….. Aku juga makasih mbak… Mbak sudah mau ngajarin hal yang sama sekali baru bagiku….”

“Hihihi… Iya Klis… Sama-sama…. ” Jawab Citra, “Eh Klis….Mandi yuk Klis…. Badan mbak lengket banget ini abis kena pejuh-pejuh kalian berdua….”

“Be… Beneran boleh mbak…?”

“Hihihi…Iya beneran… Mbak kali ini ajak kamu mandi…”

“Hehehe….. Kirain mbak mau ngerjain aku lagi….”

“Hahahaha… Buat apaan Klis…? Khan kamu udah ngerasain tubuh mbak…. Jadi buat apa mbak ngerjain kamu lagi….?”

“Hehehe…. Bener juga ya…. sekal lagi makasih ya mbak….”

“Iyeee baweeeeellll….. Udah-udah yuk kita mandi… Udah makin siang ini…”

“Tapi… Kalo misal ntar pas kita mandi tiba-tiba aku pengen….. Aku boleh minta lagi nggak mbak…?”

“Minta apaan Klis…?”

“Nggg….Minta…. Ngggg… Anu… Minta ngentotin memek mbak…” Ucap Muklis lirih.

“Hheeeeaaaalah… Yaudah yuk… Dikamar mandi aja yaaa… Ama skalian kita mandi bareng… Hihihi….”

“Beneran mbak….?

“Iyeeeee….Yuk ah….”

“Sodok bo’ol juga….?”

“Iiiiiiiyyyeeeeee…. Adik iparku yang paling mesum seeduuuniiiiiaaa…. Mulai saat ini… Kamu bisa deh puas-puasin buat nikmatin tubuh istri masmu iniii….. Dasar otak mesum…. Hihihi….”

Tak lama, kedua insan yang masih punya hubungan saudara inipun kembali meraih kenikmatan-kenikmatan birahinya. Sambil saling menyabuni tubuh lawan mainnya, mereka berdua kembali menyempatkan bermain beberapa ronde di bawah guyuran segarnya air.

Sambil terus tersenyum, Citra merasa, keceriaannya yang telah lama hilang seakan kembali lagi.

Bersambung,