Irish Story Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Irish Story Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dewasa Irish Story Part 5

Kita Ini Apasih?

Tanyakan pada Reagan apa yang membuat yang membuatnya tergila-gila pada Irish. Reagan akan menjawab, pertama bibir Irish, kedua bibir Irish, ketiga bibir Irish, baru yang terakhir tubuh mungil Irish yang sedang mendesah-desah dibawah tubuhnya. Dasar Reagan mesum!

Reagan sudah lupa kapan terakhir kali dirinya melakukan adegan 17 tahun keatas tersebut, yang Reagan ingat hanya Irish perempuan terakhir yang bangun disampingnya 2 bulan lalu, di villa, di Ubud.

Reagan tidak lagi mencari kesenangan diuar. Semua waktunya tersita hanya untuk Irish seorang. Mulai dari antar jemput sampai membuntuti Irish kemanapun gadis itu pergi.

Sampai Irish yang kesal karena kelakuan Reagan membentak cowok itu.

“Loe nggak ada kerjaan lain ya selain buntutin gue Re?”

“Loh gue kan bossnya. Jadi kerjanya suka-suka gue lah.”

“Tapi loe tiap hari ngikutin gue kemana-mana. Emang loe nggak capek?”

“Nggak!”

Susah bicara baik-baik sama Reagan.

***

Dua anak manusia. Tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Saling mendesah. Bersentuhan. Tubuh keduanya bergerak-gerak. Si pria duduk bersandar di kasur. Dan si perempuan duduk di pangkuan pria.

Tangan sang wanita meraih kepala pria itu dalam pelukannya. Dan sang pria menjilati leher sang wanita. Lalu turun menghisap puting payudara sang wanita.

“Re..”

“Hmmm..”

“Re…..”

“Apa sayang?”

Tangan sang pria mengelus-elus punggung wanita yang telanjang itu. Begitu halus.

“Kita ini apa sih Re?”

“Hmmm…”

“Re… Jawab donk!”

“Pacaran?”

“Hmmm..”

“Sahabat?”

“Hmmm..”

“Suami istri?”

“Hmmmm..”

“Sahabat di ranjang?”

PLETAK! Irish memukul kepala Reagan. Sontak Reagan langsung menghentikan aksi bibirnya yang sedang menjelejahi dada Irish.

“Sakit Rish. Kamu jahat banget sih.” Reagan mengusap-usap kepalanya yang dipukul Irish tadi.

“Biarin. Habis jawaban kamu nggak bener semua.” sembur Irish kesal.

“Terus apa donk? Suami istri?”

“Ya nggak donk.”

“Tapi kita sering ngelakuin adegan ranjang beberapa bulan ini loh Rish.”

Pipi Irish bersemu merah mendengar perkataan Reagan. Pria itu dengan gemas mencium pipi Irish.

“Nikah ya Rish sama aku.”

“Hah?”

“Nikah. Kamu sama aku. Nikah. Kita bisa lebih sering kayak gini.”

“Ogah ah!”

“Kenapa?” wajah Reagan mendongak untuk menatap mata Irish.

“Kamu nggak suka komitmen kan.”

“Aku suka komitmen kalau pasangan aku itu kamu.”

“Kalo sama aku kamu nggak boleh macem-macem loh Re.”

“Nggak akan.”

“Nggak boleh selingkuh.”

“Iya sayang.”

“Nggak boleh lirik-lirik perempuan lain.”

“Iya sayang.”

“Nggak boleh….” belum selesai Irish melanjutkan kata-katanya Reagan mengunci bibir dengan sebuah ciuman lembut.

“Nikah ya sama aku. Aku bakal jagain kamu seumur hidup aku.”

Irish mengangguk samar. Kemudian direngkuhnya lagi Reagan dalam pelukannya sambil kembali bergoyang.

***

Reagan melonjak kegirangan saat Irish menerima lamarannya. Tanpa cincin. Tanpa sehelai benangpun. Ketika mereka sedang asik bersenggama.

Bilang saja Reagan pria tidak waras. Karena jika seorang pria waras, tidak akan melamar kekasihnya saat mereka sedang bersenggama.

Pria itu pasti menyiapkan makan malam romantis yang dihiasi bunga-bunga, serta sederet hadiah bagus lainnya. Jangan lupakan cincin berlian.

Dan pria itu jelas bukan Reagan.

Reagan langsung menghadiahi ciuman bertubi-tubi pada Irish ketika gadis itu mengangguk samar menjawab ajakannya menikah.

Reagan memang tidak pernah secara langsung mengatakan cinta pada Irish. Dia hanya menunjukkan lewat perhatian dan sikap posesif yang berlebihan. Hingga sering membuat Irish kesal.

Dengan cara seperti itu Reagan mengklaim bahwa Irish adalah miliknya. Termasuk ketika Nando mencoba lagi mendatangi Irish di Jagapati. Reagan melayangkan lagi pukulannya, membuat Nando yang datang dengan maksud menjelaskan hubungannya dengan Dayu malah pulang dengan sebuah bogem mentah di wajah.1

Reagan tidak pernah berpacaran serius sebelumnya. Semua wanita hanya sekedar lewat di matanya. Namun Irish berbeda. Semenjak bibir gadis itu menempel pada bibirnya, radar Reagan sudah mulai merasakan keanehan pada sahabatnya itu.

Reagan merasa ingin melindungi Irish, selalu menjaganya, dan memenuhi semua keinginan gadis itu. Di mata Reagan, Irish bukan sekedar sahabatnya. Irish sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Irish yang selalu bersedia menolong Reagan. Irish yang hobi curhat sambil mewek. Irish yang nggak bisa menolak apapun permintaan Reagan. Dan Irish yang belakangan ini selalu membuat dirinya tidak tenang saat melihat gadis itu sedang bercengkrama dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki.

“Re..” suara merdu Irish menghentikan lamunannya.

“Hmm..” jawab Reagan sambil memeluk tubuh Irish dari belakang. Mereka baru saja selesai bercinta.

Kepala Reagan rebah di leher Irish.

“Pesta pernikahannya mau yang kayak gimana?”

“Terserah kamu aja sayang.”

Reagan sudah tidak segan-segan lagi memanggil nama Irish dengan embel-embel ‘sayang’, ‘baby’, ‘queen’, ‘love’, yang terkadang membuat Irish mengernyit geli.

“Kamu niat nikah nggak sih? Daritadi jawabannya cuma terserah.”

“Niat donk sayang.”

“Tapi kamu ditanyain selalu bilang terserah.”

“Kamu mau tau jawaban aku?”

“Apa?”

“Skip aja semua yang nggak penting, kecuali pemberkatan. Biar kita bisa langsung malam pertama.”

***

Pernikahan

Reagan mengernyit bingung saat Irish masuk keruang kerjanya, lalu menyodorkan alat tes kehamilan padanya. Ada dua garis merah terpampang disana.

“Ini apa Rish?”

“Menurut kamu apa?”

“Test pack.”

“Yaudah.”

“Kamu hamil sayang?”

“Kamu nggak bisa test pack ya Re?”

Mata Irish mulai membulat kesal menunggu kesadaran Reagan.

“Bener kamu hamil?”

“Iyaalah. Nanya mulu dari tadi.”

“Sudah dari kapan Rish?”

“Dokter bilang sudah 4 minggu. Kayaknya dari sejak kita berhubungan beberapa hari lalu deh.”

Reagan bangkit dari kursinya, menghampiri gadis itu, dan memeluk Irish.

“Kecebong aku tokcer banget ya Rish. Bisa langsung jadi begini. Untung aku pinter, nggak pake kondom.” kata Reagan pelan disela-sela pelukannya pada Irish.

***

Pak Made, Ibu Naima, Pak Gading, dan Bu Naora, serta Arabel duduk berdampingan, di sofa, di rumah Keluarga Varma. Didepan mereka Irish duduk dengan perasaan cemas, berbeda dengan Reagan yang duduk tenang sambil menggenggam erat tangan Irish.

“Kok begini sih Rish?” tanya Bu Naima memulai percakapan.

“Mama bilang suruh Irish nikah. Ya sekarang kan Irish sama Reagan mau nikah.” jawab Irish pelan. Ada nada ketakutan pada suaranya.

“Tapi nggak pake kebobolan 4 minggu juga kali Rish.” desah Bu Naima.

“Maafin kelakuan Reagan ya, bu.” disamping Bu Naima terdengar isakan kecil dari Bu Naora.

“Saya nggak nyangka si penjahat kelamin ini nggak bisa tahan napsunya.”

“Nggak apa-apa bu. Ini salah Irish juga. Anak itu kelamaan jomblo jadi jablay begini.” Bu Naima membesarkan hati Bu Naora dengan menepuk-nepuk punggungnya.

Ish mama ish! Decak Irish sebal dalam hatinya. Bisa-bisanya anaknya dikatain jablay. Di depan calon mertua pula.

“Ma, uda deh. Jangan lebay.” protes Reagan.

“Maafin Reagan tante. Reagan akan bertanggung jawab.”

“Terus kalian kapan mau menikah?” kali ini Pak Made yang angkat bicara.

“Secepatnya oom. Kalo perlu besok.”

Irish yang mendengar jawaban Reagan langsung memukul keras lengan Reagan dan menghadiahi calon suaminya itu pelototan. Emang Reagan kira ngurus acara pernikahan gampang apa.

“Memang kalian mau pesta yang bagaimana sampai minta dinikahkan besok?” tanya Pak Made lagi.

“Yang simpel ajah oom. Kalo perlu habis pemberkatan langsung malam pertama.” jawab Reagan lugas.

Dasar bocah gemblung!

***

Setelah melalui perdebatan panjang diantara 2 keluarga besar, akhirnya dipilihlah tanggal 15 bulan keenam dalam tahun ini sebagai hari pernikahan mereka. Pesta pernikahan digelar lebih dulu sebelum Arabel dan Degha menikah.

Irish dan Reagan memilih Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Kuta sebagai tempat pemberkatan nikah. Lalu malamnya diadakan pesta sederhana yang digelar di balroom Jagapati Hotel.

Balroom Jagapati disulap menjadi ‘taman’ indoor, lengkap dengan dekorasi bunga-bunga mawar cantik berwarna-warni kesukaan Irish. Berbagai hidangan lezat juga tersedia disana.

Irish nampak cantik dengan gaun pengantin berwarna putih tulang, lengkap dengan payet yang menghiasi bagian tungkainya. Gaun itu bertali tipis, dan bagian belakangnya memerkan keindahan punggung gadis itu.

Reagan sempat mencak-mencak karena Irish memilih gaun pengantin yang begitu sexy. Namun akhirnya dia mengalah karena Irish mengancam batal menikah kalo tidak boleh memakai gaun yang saat ini dia kenakan.

Sedangkan Reagan nampak gagah menggunakan tuxedo dengan warna serupa. Wajahnya begitu sumringah sepanjang acara berlangsung.

Kedua mempelai memperoleh banyak ucapan selamat dari rekan-rekan mereka. Banyak pejabat serta pengusaha turut hadir disana. Salah satunya calon mertua Nando. Pak Ngurah. Tapi Nando dan Dayu tidak terlihat disana. Padahal Irish sudah mengirim undangan pada mereka.

Dari jauh tampak Kinta maju ke panggung pelaminan bersama pacar bulenya untuk memberi ucapan selamat. Gadis itu memeluk Irish sambil terpekik senang.

“Selamat ya, Rish. Elo akhirnya nikah juga sama nih penjahat kelamin.” kelakar Kinta sambil melirik Reagan disamping Irish.

“Thank you ya Kinta. Loe cepet nyusul gue ya.”

“Amin.”

Kedua adik Reagan, Olivia dan Alaric serta oma Reagan juga pulang ke Bali untuk merayakan kebahagian Irish dan Reagan.

Impian Olivia untuk menjadikan Irish sebagai kakak iparnya akhirnya terlaksana, meski kelakuan kakak sulungnya itu cukup memalukan. Membuat Irish hamil duluan.

Toh, yang penting sekarang Reagan bahagia bersama perempuan yang tepat.

***

Resepsi pernikahan Irish dan Reagan berjalan lancar sesuai harapan. Acara tersebut berakhir pukul 12 malam.

“Kamu capek sayang?” tanya Reagan sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.

Irish dan Reagan sudah berganti piyama sejak tadi.

“Dikit. Tapi aku bahagia. Thanks ya Re.”

Irish berbalik memutar tubuhnya menghadap Reagan dan mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya itu. Reagan menarik tubuh Irish agar lebih mendekat padanya. Dikecupnya dengan sayang kening Irish.

“Terimakasih juga kamu akhirnya mau juga nikah sama penjahat kelamin kayak aku.”

Irish tertawa.

“Sekarang kamu bukan penjahat kelamin lagi kok. Sekarang kamu pencuri hati aku.”

Ciye Irish!

“Hahaha. I love you sayangku Irish Varma.”

“I love you too Mr. Jagapati.”

“No! Mr. Jagapati itu bapak aku. Berarti kamu cinta sama bapak aku donk.”

Mata Irish membulat kesal. Reagan selalu pandai merusak suasana romantis seperti ini.

“Yang betul itu Mr. Reagan. Ayok diulang sekali lagi ”

“Sakarepmu Re!”

Tamat