Irish Story Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Irish Story Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dewasa Irish Story Part 4

Cemburu Lagi

Sejujurnya Irish ingin memperpanjang cutinya. Dia tidak berniat masuk kerja. Tapi dia tidak enak pada Pak Lukman. Kemarin minta cuti seminggu mendadak. Masa sekarang minta extention lagi. Benar-benar nggak tahu diri. Seperti bukan Irish saja.

Dan sejujurnya lagi, Irish tidak siap bertemu Reagan. Irish malu akibat perbuatannya. Irish takut kalau-kalau Reagan menertawainya. Irish takut kalau Kinta tahu dirinya dan Reagan sudah ena-ena. Kinta pasti akan mencemooh dirinya.

Kinta memang bukan penganut paham ‘jangan lepas kendali sebelum menikah’ seperti Irish.

Kinta adalah perempuan bebas. Selama dirinya senang, dia akan menikmatinya. Dan kebanyakan mantan pacar Kinta memang bule. Kinta memang penggemar sejati terong import.

Begitu sampai di hotel, Irish berjalan cepat-cepat memasuki ruangan kerjanya. Matanya mengawasi Reagan yang bisa saja tiba-tiba muncul.

Saat berbalik usai menutup pintu, Irish terkejut melihat Reagan sudah duduk di kursinya. OMIGOD!!

Irish memperhatikan Reagan yang bangkit dari kursi lalu berjalan kearahnya dan tiba-tiba memeluk Irish.

Kenapa pelukan Reagan terasa hangat ya? Dan Reagan tidak menertawai dirinya seperti yang Irish takutkan.

“Kamu bikin aku khawatir tau nggak. Aku pusing mikirin kamu. Mana aku nggak bisa ketemu kamu lagi selama cuti.”

Telinga Irish nggak salah dengar kan barusan? Gadis itu menangkap nada kekhawatiran pada suara Reagan.

“Lain kali jangan kayak gini ya Rish. Aku beneran stress mikirin kamu. Aku bener-bener minta maaf soal kejadian itu. Aku juga.. Kangen sama kamu..”

Kali ini telinga Irish beneran nggak budek kok. Reagan beneran bilang kangen. Dan pelukan Reagan makin erat di tubuhnya. Membuat Irish sesak napas.

“Re. Aku nggak bisa napas.”

Reagan lalu melepas pelukannya. Matanya menatap Irish lama, lalu tersenyum.

“Maaf.” ujar Reagan sekali lagi.

“Yaudah aku balik ke ruangan aku dulu ya. Nanti siang kita makan siang bareng ya.” lanjut Reagan lagi sambil mengacak-acak rambut Irish. Lalu Reagan pamit padanya.

Irish masih terpaku dengan kejadian manis barusan. Kepala Reagan habis kebentur tembok mungkin, batin Irish.

*****

Reagan bergerak kesana kemari dengan gelisah di ruangannya. Irish sukses membuat Reagan jadi pria tidak normal akhir-akhir ini.

Bersikap manis saat menemui Irish di ruangan gadis tadi. Reagan berkali-kali menatap jam tangannya. Jam makan siang kenapa rasanya lama banget sih.

Reagan ingin sekali menemui Irish. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Atau sekedar memandangi wajah cantik Irish. Tubuh mungilnya yang begitu menggoda.

Oh ya ampun! Mikir gitu ajah udah bikin celana bahan Reagan sesak lagi. Reagan seperti cacing kepanasan. Cacing kepanasan yang sedang jatuh cinta…..

Jatuh cinta ya? Dipikirin nanti deh. Reagan mau ketemu Irish dulu. Reagan kangen.

Akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Setengah berlari Reagan segera menuju ruangan Irish. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Reagan nyelonong masuk. Reagan melihat Kinta juga disitu.

“Ayok makan Rish.” Reagan mengulurkan tangannya menarik Irish.

Kinta yang hendak mengeluarkan aksi protes karena sikap Reagan yang semena-mena melongo melihat Reagan berlalu keluar menggandeng Irish.

Tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Irish, Reagan menuntun Irish menuju parkiran mobil.

Irish bingung melihat kelakuan ajaib Reagan. Irish seperti kerbau di cucuk idungnya. Mengikuti kemanapun Reagan membawanya. Tanpa perlawanan. Berkali-kali pula Irish menunduk-menunduk saat berpas-pasan jika bertemu dengan para pegawai hotel.

Duh Re!

“Makan di Happy Chappy ajah ya Rish.” ucapan Irish segera menyadarkan bahwa dirinya dan Reagan sudah sampai di parkiran mobil.

Irish tidak menyahuti Reagan sama sekali. Irish duduk tenang di dalam mobil. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di tempat tujuan mereka. Lagi-lagi Reagan menggandeng tangan Irish saat memasuki restauran bernuansa oriental tersebut.

Reagan juga berlaku sangat manis, menarik kursi untuk Irish dan mempersilahkan Irish duduk.

Manik mata Reagan diam-diam mengawasi seluruh tubuh Irish yang duduk di sampingnya. Dirinya baru sadar Irish saat melihat Irish menyilangkan kaki. Reagan menelan ludah. Betis Irish berkeliaran dimana-mana. Rok sepan Irish membuat tubuh Irish tambah sexy.

“Besok-besok kamu jangan pakai rok gini lagi ya.” Reagan membuka suara.

“Loh kenapa? Aturan hotel kan memang berpakain seperti ini.” jawab Irish setengah bingung.

“Betis kamu mencuat kemana-mana. Aku nggak suka lihatnya. Ingetin aku untuk bilang sama Pak Lukman, khusus buat kamu pakai celana panjang ajah tiap hari.”

Irish mencibir kesal. Ingin sekali di bekepnya bibir Reagan yang mengeluarkan kata-kata ketus tadi dengan bibirnya. Duh, kenapa Irish jadi nakal begini sih!

“Kamu tambah aneh deh Re. Jangan ngomong sembarangan sama Pak Lukman. Gaya banget mentang-mentang anak boss.”

“Biarin! Pokoknya aku nggak suka liat kamu pake rok. Dan jangan membantah!”

Reagan gila!

*****

Irish dan Reagan baru saja hendak keluar dari restauran saat pandangannya menangkap sosok Nando berjalan mendekat kearah mereka. Reagan yang paham akan kode yang disampaikan Irish lewat remasan tangannya, menatap tajam Nando yang semakin mendekati mereka berdua.

“Rish. Akhirnya aku bisa ketemu juga. Aku susah banget hubungin kamu. Aku..” kata-kata Nando segera terhenti ketika menyadari Reagan menggenggam tangan Irish dari tadi.

“Kalian berdua..”

“Jangan pernah ganggu calon istri gue lagi. Dan gue minta loe nggak usah ngejar-ngejar Irish lagi! Loe urusin sana pernikahan loe.” perkataan tegas Reagan membuat Irish melongo.

Apa Reagan bilang tadi? Calon istri? Kapan Reagan melamarnya?

“Ck.. Dari awal aku udah curiga. Mana ada sih cowok-cewek sahabatan tanpa punya maksud apapun di dalamnya.” Nando mendengus mendengar pernyataan tegas Reagan.

“Jangan-jangan kamu mutusin aku waktu itu gara-gara Reagan lagi? Bukan karena kamu takut hubungan jarak jauh yang nggak berhasil.”

Irish yang kesal maju dan menuding-nuding Nando.

“Jaga mulut kamu ya Ndo. Kita putus bukan gara-gara Reagan. Dan benar kata Reagan urus ajah pernikahan kamu sama Dayu. Aku nggak percaya lagi sama kamu. Bilangnya nggak cinta sama Dayu. Tapi cipokan di restauran seafood.”

Nando langsung menganga mendengar ucapan Irish.

“Aku waktu itu.. Rish..”

Belum sempat Nando melanjutkan kata-katanya, Irish sudah lebih dulu memotong.

“Ah udahlah. Aku nggak percaya lagi sama kamu. Sampai kapan pun aku nggak bakal nunggu kamu!” bentak Irish.

Lalu, BUKK!!

Reagan meninju wajah Nando, sebelum Reagan menarik Irish kembali ke hotel.

“Itu hadiah buat bajingan yang udah nyakitin Irish!” desis Reagan tepat di telinga Nando.

*****

“Aku nggak suka lihat kamu nangis karena bajingan itu.”

“…..”

“Aku nggak suka lihat kamu ketemu dia.”

“…..”

“Pokoknya mulai detik ini, kalo bajingan itu nyari kamu lagi. Kamu harus langsung lapor sama aku. Biar aku gebukin dia.”

“…..”

“Rish. Kamu denger aku nggak sih?”

“HAHAHAHAHA!”

Tawa Irish pecah seketika. Entah sudah berapa kali Reagan melontarkan kalimat “nggak suka” padanya sepanjang hari ini. Sekali lagi Reagan bilang hal yang sama, Irish akan menghadiahi Reagan piring cantik.

“Kok kamu malah ketawa sih? Aku serius ini..”

“Habis kamu kayak cowok posesif tau nggak hari ini. Hahahaha. Ngelarang aku pake rok. Ngelarang aku ketemu Nando.” kemudian Irish tertawa lagi.

Hingga mobil Reagan berhenti di parkiran hotel, Irish tetap saja tidak berhenti tertawa.

“Irish aku serius. Aku nggak suka…”

“Tuhkan… Bilang nggak suka lagi. Habis gini aku kasi kamu piring cantik loh Re.”

Reagan menggeram kesal karena Irish tak berhenti menertawakan dirinya.

“Aku serius Irish!”

“Aye-aye Mr. Reagan. Kamu cemburu banget deh kayaknya sama aku. Hihihi.”

Setelah berkata seperti itu Irish melenggang keluar dari mobil Reagan dan berjalan memasuki hotel. Sedangkan Reagan masih terperangah di tempat duduknya.

Cemburu? Apa iya Reagan cemburu. Tapi saat menyadari kelakuannya barusan memang tidak wajar. Reagan menghela napas panjang.

***

Posesif

Semenjak pertemuan dirinya, Reagan, dan Nando–yang tidak sengaja–di Happy Chappy, Irish merasa Reagan banyak berubah akhir-akhir ini.

Reagan nggak suka keluyuran malam lagi. Bahkan sudah berhenti berburu wanita. Perempuan-perempuan yang rajin menghubunginya di blok semua oleh Reagan.

Reagan jadi rajin antar jemput Irish. Saking rajinnya, Arabel sampe curiga tiap melihat Reagan sudah standbye setiap saat di depan rumah Irish, setiap kali gadis itu mau berangkat kerja.

“Mas Re kok rajin banget antar jemput Mbak Irish akhir-akhir ini? Mas Re masih kerja di Jagapati kan?” tanya Arabel waktu Reagan menjemput Irish pagi-pagi.

“Masih Bel. Emang kenapa?” tanya Reagan balik.

“Ohh. Nggak. Kirain Mas Re udah nggak jadi anaknya oom Gading lagi. Terus diusir dari hotel. Dan sekarang mas Re jadi sopir grab. Habis Mas Re rajin bener antar jemput Mbak Irish.”

Tawa Reagan langsung meledak mendengar penuturan polos adiknya Irish. Reagan lalu mengacak-acak poni Abel.

“Ada-ada ajah kamu Bel. Mas cuma takut mbak mu kenapa-kenapa di jalan. Jadi, mas antar jemput deh tiap hari.”

“Mbak Irish kan udah khatam bawa mobil mas dari dulu. Nggak usah diantar jemput. Yah kecuali kalian emang lagi ada something.”

Reagan hanya tersenyum kikuk menanggapi perkataan Abel.

Reagan jadi sering memberi perhatian pada Irish. Hanya sekedar menanyakan apakah Irish sudah makan atau belum? Irish mau pergi kemana saat weekend? Reagan bahkan rela menemani Irish ke salon. Yang penting gadis itu pergi diantar oleh dirinya.

Reagan pun sering muncul di rumah Irish, menemani oom Made melukis atau melihat tanta Naima mengajar tari Bali.

Kelakuan Reagan benar-benar seperti orang yang tidak punya kerjaan.

Yang lebih parah adalah, Reagan menjadi semakin posesif! Contohnya kemarin. Saat Irish akan pergi menemui klien untuk meeting. Reagan memaksa ikut. Padahal Irish mengatakan sudah cukup oleh Kinta saja. Tapi pria itu kekeuh memaksa ikut.

“Pokoknya aku ikut! Titik!” ujar Reagan tegas dengan tangan melipat di depan dada.

“Aku biasa pergi sama Kinta kan Re.. Kamu ngapain ikut? Kamu itu bossnya. Cukup duduk diam. Terima hasil kerja aku.” Irish ikut bersedekap melihat kelakuan Reagan yang semakin menjadi-jadi.

“Yaudah Kinta boleh tetep ikut. Dan aku juga ikut donk.” Irish mencibir sebal. Reagan lama-lama nyebelin deh.

“Nggak mau!”

“Harus!”

“…..”

“Aku udah ngecek kamu bakalan ketemu sama siapa ajah di meeting nanti. Dan demi Tuhan, Irish sayang, disitu ada cowoknya. Nanti kalo mata mereka jelalatan ngeliatin kamu gimana? Aku bisa jagain kamu disitu.”

Yaowoh Reagan Jagapati! Ingin sekali Irish menendang bokong sexy Reagan. Pikirannya jauh banget kemana-mana. Ampon deh!

Kinta saja yang melihat kelakuan Reagan ikut geleng-geleng kepala. Waktu Irish hendak menyalami klien saja, Reagan menepuk tangan Irish, memberi kode agar jangan lama-lama bersalaman.

“Rish.”

“Hmmm..”

“Loe bener udah jadian sama boss kancrut itu?” tanya Kinta di suatu pagi, saat Irish baru saja masuk ke ruangannya.

“Jadian nggak ya?”

“Ck.. Yang bener donk. Loe jadian kagak?”

“Gue juga nggak tau ini namanya pacaran apa bukan. Reagan nggak pernah nembak gue.”

“Tapi tuh lakik posesif banget sama loe. Mau ini nggak boleh. Mau itu nggak boleh. Udah kayak suami loe ajah lagaknya.” papar Kinta kesal.

“Iya emang sih. Dan loe yang tau lebih parah apa?” Kinta menggeleng menjawab pertanyaan Irish.

“Sous Chef Ardy ditegur sama dia gara-gara ngobrol sama gue. Sampe gue nggak enak sama si Ardy. Padahal gue cuma ngobrolin masalah makanan yang buat acara seminar dokter itu. Hih! Sumpah. Ngeselin.”

“Ckckckck.. Kelakuan laki loe tuh. Parah.”

“Padahal dulu nggak gitu loh Ta.”

“Dia cinta mati kayaknya sama loe.”

*****

Irish sedang mendengarkan musik sambil membaca buku novel di kamarnya saat Arabel masuk, menghampirinya. Perempuan 28 tahun itu mendongak ketika melihat Arabel berjalan mendekatinya.

“Mbak Irish lagi ngapain?” tanya Arabel. Gadis itu mengambil spot di ujung kasur Irish.

“Lagi baca buku, dek.”

“Mbak. Abel mau tanya.”

“Tanya ajah.”

“Mbak pacaran sama Mas Re?”

Irish yang sejak tadi fokus membaca novelnya kembali mendongak menatap Arabel.

“Nggak.”

“Tapi Mas Re rajin banget main kesini.

“Biarin tuh orang emang kurang kerjaan.”

“Pacaran juga nggak papa kali mbak. Pasti mama setuju.”

“Tapi Re nggak pernah nembak Mbak Irish, dek.”

“Cinta nggak perlu ungkapan lewat mulut kali mbak. Cukup lewat perbuatan.”

“Maksudnya?” Irish mengernyit bingung.

“Ciuman dan pelukan mungkin. Tapi mbak..” kalimat Arabel menggantung. Gadis berdehem sedikit kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Jangan lupa pake kondom ya. Mas Re kan penjahat kelamin.”

Irish langsung tersedak dengan wajah memerah.

Bersambung