Irish Story Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Irish Story Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dewasa Irish Story Part 3

Pertama

Irish benar-benar shock melihat kemesraan Nando dan Dayu tadi. Seketika itu juga rasa laparnya mendadak hilang. Dikeluarkannya 2 lembar seratus ribuan dan diletakkannya di meja. Irish lalu bangkit berdiri dan pergi dari situ tanpa pamit.

Irish masih mengingat jelas pernyataan cinta Nando padanya, dan juga ketersediaan Irish menunggu Nando memutuskan Dayu. Sampai capek Irish galau berminggu-minggu. Menangis tidak jelas. Bela-belain kabur ke Ubud. Yang digalauin malah asik ciuman sama tunangannya.

Katanya nggak cinta, tapi kok ciumannya mesra banget. Menghayati pula. Irish menggosok-gosok bibirnya dengan kasar. Menghilangkan jejak bibir Nando disana.

Di dalam mobil Irish berusaha menahan air matanya agar jangan sampai keluar. Menangisi orang seperti Nando membuat dirinya terlihat menyedihkan.

Pandangan Irish sudah mengabur. Dibelokannya mobilnya ke arah bar yang dia lewati.

Irish butuh hiburan!

***

Sejam kemudian…

Kinta terkejut menerima telepon dari Irish. Kinta mendengar isak tangis dan racauan Irish dari seberang telepon. Kinta menduga Irish sedang mabuk.

“Kin.. Gue.. Hikss.. Hikss..”

“Loe kenapa Rish?”

“Gue.. Hikss.. Hahaha. Gue lihat Nando sama Dayu ciuman.”

“Hah? Kok bisa? Dimana?”

“Disini. Didepan mata gue. Hikss. Hiksss.”

“Rish. Loe baik-baik ajah kan?” suara Kinta terdengar khawatir.

“Gue.. Hikss. Hikss. Gue benci sama Nando. Gue tangisin dia capek-capek. Dia malah kayak gitu. Taik banget!”

“Rish loe dimana sih? Gue samperin ya sekarang.”

“Gue di.. Gue nggak tau dimana. Pokoknya di tempat remang-remang. Gue depresi habis lihat kelakuan Nando. Hahahaha.”

“Tempat remang-remang itu apa? Yang jelas dong.” Kinta mulai kesal dengan omongan Irish yang tidak jelas di telepon.

“Ck. Gue di Ubud kali. Tau ah. Gue mau seneng-seneng dulu lupain mantan brengsek. Hahahaha.”

Sambungan telepon itu terputus sebelum Kinta mencari tau lebih detail keberadaan Irish dimana.

Kinta mendial nomer Reagan. Setelah telepon diangkat Kinta langsung menjelaskan kondisi Irish saat ini. Tanpa babibu Reagan langsung mengerahkan orang kepercayaannya mencari Irish.

Tak sulit untuk menemukan Irish. Kenalan Reagan banyak dimana-mana. Akhirnya Reagan menemukan Irish di Chill Out Bar Ubud.

Awalnya Kinta ingin ikut menjemput Irish, tapi dia tersadar dirinya sedang MOD. Siapa yang akan bertanggung jawab di hotel kalau dia pergi. Akhirnya Reagan berangkat sendirian untuk menjemput Irish pulang.

***

Tubuh Irish bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang menghentak. Entah sudah berapa gelas minuman yang sudah dia tegak. Irish benar-benar mabuk.

Di tengah lantai dansa Irish bergerak sempoyongan kesana kemari. Tubuhnya yang tidak seimbang hampir jatuh dilantai kalau saja dua lengan kekar tidak segera menangkapnya.

Irish mendongak untuk melihat malaikat penolongnya malam ini. Matanya mengerjap-ngerjap memastikan bahwa malaikatnya malam ini adalah Reagan.

“Reagan?”

“Loe mabuk Rish. Ayok kita pulang.” Reagan berusah menyeret tubuh Irish.

“Gue nggak mau pulang. Gue mau disini.” tubuh Irish bergerak kesana kemari untuk melepaskan diri dari kungkungan Reagan.

“Kita pulang Rish. Loe parah banget malam ini tau nggak.”

“Nggak tahu! Hahahaha.”

Reagan yang sudah tidak sabar melihat kelakuan Irish yang makin menjadi-jadi segera menelusupkan lengannya diantara lutut dan leher Irish.

Reagan menggendong Irish keluar, sebelumnya tidak lupa mengambil tas Irish di meja bar dekat situ sambil menyerahkan sejumlah uang pada bartender.

Sepanjang perjalanan ke parkiran mobil Irish terus menerus meracau tidak jelas yang makin membuat Reagan kesal.

Irish lalu menangkup pipi Reagan dan mengecup bibir pria itu. CUP! Mata Reagan membelalak melihat kelakuan Irish barusan.

“Bener kata loe Re. Mending gue ONS sama loe daripada balikan sama bajingan kayak Nando. Hahaha.”

Shit! Celana Reagan menyempit seketika.

***

Reagan membawa Irish kembali ke villa tempat gadis itu menginap. Reagan menemukan alamatnya dari kartu nama yang berada di tas Irish.

Reagan menyuruh sopir hotelnya yang mengantar dia kemari untuk pulang membawa mobilnya. Sedangkan Reagan kembali ke villa menggunakan mobil Irish.

Sepanjang perjalanan Reagan berusaha untuk konsentrasi menyetir. Tangan Irish yang menggrayangi tubuhnya sedari tadi membuat Reagan menahan diri. Tangan Irish sempat-sempatnya bermain di paha Reagan.

Sialan!

***

Reagan sudah tidak tahan lagi. Celananya sudah menyempit. Sentuhan tangan Irish pada tubuhnya membuat libido Reagan naik.

Setelah berhasil menggendong Irish keluar dari mobil dan masuk ke kamar, Reagan langsung menyerang Irish dengan ciuman.

Dimulai dari bibir. Leher. Paha. Dan berakhir di dada. Reagan membuka satu persatu kancing baju Irish dan celananya. Hingga tinggal bra dan celana dalam berwarna biru gelap yang tertanggal di tubuh gadis itu. Lalu Reagan melucuti pakaiannya satu persatu.

Setelah berhasil menelanjangi dirinya sendiri dan Irish, Reagan melumat lagi bibir Irish. Digigitnya bibir bawah Irish hingga terbuka. Lidah Reagan menelusup kedalam rongga mulut Irish.

Irish juga tak kalah lincah dengan Reagan, dibalasnya tiap pagutan Reagan di tubuhnya. Irish juga meremas junior Reagan.

“Ops! Hahaha.” Irish terkikik geli melihat kelakuan liarnya sendiri.

“Oh shit!”

Reagan mendorong tubuh Irish hingga jatuh ke kasur. Gadis itu terkikik senang. Reagan menindih tubuh Irish sambil berusaha melepaskan pengait bra lalu melemparnya ke sembarang tempat.

Reagan meremas payudara Irish yang sudah terbebas. Desahan langsung lolos dari bibir mungil Irish. Reagan melumat puting Irish dan menghisapnya pelan.

“Uhh Re..”

Kepala Reagan kemudian turun kebawah mengecupi perut Irish. Dilepaskannya celana dalam Irish dan dikecupinya titik sensitif Irish. Bibir Reagan bermain sebentar disana sampai Irish sudah benar-benar basah.

Lalu kepala Reagan naik untuk melihat wajah Irish.

“Aku bakal pelan-pelan Rish. Kalau sakit kamu boleh gigit aku.”

Irish mengangguk pasrah. Kepalanya sudah pening oleh gairah. Air mata mengalir di pipi halus gadis itu.

Reagan mengusap air mata Irish dan mengecup matanya. Reagan yang sudah telanjang segera menyatukan dirinya di dalam tubuh Irish. Bergerak pelan untuk menerobos pertahanan selaput tipis milik Irish.

Irish kesakitan saat pertahanannya jebol. Jarinya mencengkeram kuat lengan Reagan. Pria itu memberi kecupan di wajah dan leher Irish untuk mengurangi rasa sakit. Lalu bergerak hati-hati agar Irish merasa nyaman.

Irish mulai bisa mengikuti irama tubuh Reagan. Dirinya ikut bergerak bersama Reagan. Saat gerakan Reagan mulai sedikit cepat dan lebih dalam bisa dirasakannya cairan Reagan memenuhi rahimnya. Mereka berdua mencapai orgasme.

Sebelum Reagan merebahkan dirinya disamping Irish dia mencium lembut bibir Irish. Memberi penghormatan pada keperawanan Irish.

“Thank you Rish.” bisik Reagan.

Setelah itu Reagan menarik Irish dalam pelukannya. Bisa dirasakannya napas teratur gadis itu menyapu lehernya terganti oleh dengkuran halus karena kelelahan. Reagan tersenyum bahagia.

Malam ini, pertama kali dalam hidupnya, Reagan merasakan bercinta yang sesungguhnya.

***

Cemburu

Mata Irish mengerjap-ngerjap. Rasanya sulit sekali untuk membuka mata. Apalagi kepalanya terasa sakit sekarang.

Setelah berusaha bangun kali ini Irish merasakan pangkal pahanya sakit dan titik sensitifnya sedikit perih. Disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya.

Irish terpekik kaget saat dilihatnya tubuhnya telanjang bulat. Dan ada bercak darah di dekat sudut pahanya.
Irish menoleh kesamping menemukan tubuh Reagan yang juga tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya.

Fix! Dirinya dan Reagan semalam ena-ena. Irish melepas keperawanannya pada penjahat kelamin di sebelahnya ini.

Irish lalu memukul kencang perut Reagan hingga pria itu terbangun dan mengaduh kesakitan.

“Aduhhh!”

“Loe apain gue semalem hah? Loe perkosa gue ya? Brengsek loe Re!!” lagi-lagi Irish melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Reagan.

Karena tak kuat menghadapi pukulan Irish terus menerus, tangan Reagan bergerak mengunci Irish dalam pelukannya.

“Tenang dulu Rish.” ujar Reagan di sela-sela leher Irish.

“Loe semalem mabuk. Dan loe bilang mending ONS sama gue daripada balikan sama Nando si bajingan.” jelas Reagan lagi.

Irish kemudian berhenti berontak. Semua kejadian semalam berputar di otaknya. Nando sama Dayu ciuman mesra. Irish mabuk. Reagan menjemputnya. Kelakuan liar Irish.

Oh No! Irish malu setengah mati.

“Rish.” panggil Reagan pelan.

“Maaf ya. Semalam pasti sakit banget.”

“…..”

“Aku tau ini pertama kalinya buat kamu.”

“…..”

“Tapi kalau pagi ini kamu mau lagi nggak papa kok. Siapa tau bisa bikin sakitnya semalam ilang.”

“…..”

REAGAN SETANNNNNN!!

*****

“Rish.” panggil Reagan pelan.

“…..”

“Rish…”

“…..”

Dalam waktu sehari semalam Reagan berhasil menjadi pria paling peka terhadap perasaan wanita. Setelah bercinta dengan Irish, Reagan tidak meninggalkan Irish sedetikpun seperti dia meninggalkan para wanita buruannya.

Reagan yang membuntuti Irish terus-menerus, mengelilingi villa, membuat Irish ingin sekali menendang bokong Reagan jauh-jauh. Bahkan pria itu memeluk Irish terus-terusan. Takut Irish histeris lagi gara-gara kejadian semalam.

Mungkin Reagan merasa bersalah sudah bercinta dengan perempuan dalam keadaan setengah sadar alias mabuk. Apalagi perempuan itu adalah sahabatnya. Tapi di sisi lain, hatinya merasa senang. Menjadi yang pertama untuk Irish.

Dalam hati Reagan berjanji, kalau Irish minta lagi, dia pasti akan melakukan dengannya sukacita dan sebaik-baiknya. Namun nyatanya Irish malah memandanginya dengan sengit. Membuat Reagan meringis.

Harus Reagan akui, baru pertama kali dalam sejarah hidupnya, Reagan merasakan bercinta dengan hati bahagia. Tanpa napsu birahi saja. Reagan menggunakan hatinya.

Apa mungkin dia sudah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri? Entahlah…

“Rish…”

“…..”

“Irish sayang…”

Kali ini suara Reagan agak meninggi memanggil Irish. Reagan kesal karena Irish tidak menanggapinya sama sekali. Bersikap acuh selama perjalanan pulang ke rumah.

Reagan memutuskan menyeret Irish pulang, meski awalnya gadis itu menolak mati-matian. Dirinya sudah menyewa villa susah-susah. Reagan seenaknya saja menarik dirinya pulang.

Bukan tanpa alasan Reagan membawa Irish pulang. Dia takut gadis itu berbuat macam-macam lagi. Mabuk lagi. Lalu Irish akan jatuh ke pelukan hidung belang.

Tidak! Tidak! Reagan tidak rela kalau Irish sampai mabuk dan melakukannya dengan orang lain. Reagan akan membunuh orang itu!

Tunggu dulu! Apa mungkin Reagan sedang dilanda cemburu. Memikirkan Irish bersama pria lain. Walau dia tau kejadian itu tak akan mungkin terulang. Reagan akan memastikan Irish hanya boleh mabuk di depannya saja.

“Berisik tau gak Re!”

“Habis kamu diam ajah dari tadi.”

“…..”

“Aku tau aku salah. Maaf karena aku nggak bisa nahan diri aku juga.”

“…..”

“Kelakuan kamu bener-bener mancing aku malam itu Rish.”

“…..”

“Tapi aku bersyukur laki-laki itu aku. Bukan orang lain. Bukan penjahat kelamin lainnya. Aku nggak bisa bayangkan kalo……”

Omongan Reagan terhenti saat Irish menyelanya.

“Loe pake kondom nggak semalem?”

Oh crap! Reagan lupa!

***

Pagi ini Irish bangun dengan mata bengep. Pikiran Irish melayang kemana-mana. Kebohongan Nando. Dirinya yang mabuk. Sampai dirinya yang bangun dengan keadaan telanjang di samping sahabat baiknya selama ini.

Setelah Reagan mengantarnya pulang, Irish memilih mengurung diri di kamarnya. Merenungi kebodohannya kemarin malam. Berbuat liar tak terkendali.

Tapi ada sisi lain dari hatinya yang mengatakan bahwa dirinya ikhlas melakukan itu semua dengan Reagan. Si penjahat kelamin yang merupakan sahabatnya.

Tidak ada perasaan marah seperti perempuan habis diperkosa. Padahal Irish melakukannya dengan keadaan mabuk. Irish merutuki dirinya yang terlihat begitu murahan di mata Reagan.

Bertahun-tahun Irish mempertahankan prinsipnya. Namun kemarin malam, dia melanggar semua prinsipnya. Dia serahkan dirinya cuma-cuma pada Reagan.

Reagan si pria yang tak suka pada komitmen. Auk ah! Irish pusing mikirinnya.

Irish mengambil hapenya yang terletak di nakas, di samping tempat tidurnya. Dilihatnya pesan yang masuk serta ratusan panggilan tak terjawab. Dari Kinta, dan sisanya kebanyakan dari Reagan. Juga ada beberapa dari Nando si bajingan.

Reagan : Kamu baik-baik aja kan?

Mana ada perempuan yang baik-baik saja habis melepas keperawanannya pada penjahat kelamin macam Reagan.

Reagan : Aku nggak bisa hubungin kamu. 😣 Tolong jangan bikin aku khawatir Irish.

Reagan : Kamu sudah makan? Masih ada yang sakit nggak? Kalo ada apa-apa bilang sama aku ya.

Reagan : Kalo kamu nggak angkat telepon aku, nggak balas WA aku. Aku bakalan ke rumah kamu sekarang juga! Aku bakalan datang buat ngelamar kamu! Aku bakalan bilang sama orang tua kamu apa yang udah terjadi sama kita.

Untuk pesan terakhir yang dibaca Irish, dari Reagan, membuat Irish ingin tertawa. Mana mungkin Reagan berani melakukannya. Pria itu nggak suka komitmen.

***

Sementara itu di kamarnya, Reagan benar-benar gelisah. Irish tidak bisa dihubungi. Tidak membalas pesannya sama sekali.

Irish berhasil membuat Reagan menjadi gila sepanjang hari. Memikirkan keadaan Irish membuat Reagan mencak-mencak.

Rencananya, setelah mengantar Olivia ke bandara–adiknya akan kembali ke Jerman siang ini–kalau Irish tidak juga membalas pesannya, Reagan akan mendatangi rumah Irish, mengatakan apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua pada orang tua Irish. Kalau perlu Reagan akan melamar Irish hari ini juga.

Yaampun, Irish benar-benar membuat kerja otaknya pendek. Reagan yang tak suka komitmen, bisa tersenyum bahagia memikirkan dirinya dan Irish akan bersanding di pelaminan.

Namun rencananya gagal setelah menemukan balasan pesan Irish muncul di layar hapenya.

Irish : JANGAN MACAM-MACAM ATAU GUE SUNAT LAGI LOE! DAN JANGAN COBA-COBA MENGGANGGU SISA CUTI GUE!!

Irish-nya masih hidup. Thanks God!

Bersambung