Irish Story Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Irish Story Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dewasa Irish Story Part 1

Bertemu Mantan

Gara-gara ulah Reagan kemarin hari ini Irish sukses terkantuk-kantuk saat briefing mingguan hotel. Apalagi dirinya pagi ini briefing dipimpin langsung oleh Reagan sendiri. Bahkan usai briefing, Reagan masih sempat-sempatnya menggoda Irish, yang dibalas Irish dengan memukulkan agendanya ke kepala Reagan.

“Jahat banget sih loe Rish! Sakit nih.” Reagan mengusap-usap kepalanya akibat agenda Irish yang melayang tadi.

“Biarin! Loe resek soalnya.”

“Resek tapi bibir gue enak kan? Coba lagi yuk Rish. Di ruangan gue.”

Setelah mengatakan itu Reagan langsung ngacir menghindari amukan Irish yang lebih besar lagi.

“Nih, kontrak sama Travelo yang loe minta kemarin.” Kinta yang berjalan di sebelah Irish menyerahkan sebuah map berwarna biru.

“Thanks ya Ta.”

“Btw, elo semakin akrab ajah ya sama si Jagapati itu.” ujar Kinta sambil menaikkan alisnya sebelah.

“Dari dulu gue udah akrab sama dia kali Ta.”

“Tapi pagi ini beda Rish. Waktu morning briefing tadi, gue perhatiin Reagan dikit-dikit ngeliatin elo. Terus muka loe merah lagi waktu diajak ngobrol sama dia. Kalian berdua udah naik kelas?”

“Naik kelas?”

“Iya, udah nggak sahabatan lagi. Pacaran maksud gue.”

“Gue nggak pacaran sama penjahat kelamin.”

“Tapi tuh penjahat kelamin ngeliatian elo dengan tatapan penuh cinta Rish.”

“Elo kurang kopi ya, Ta? Masih pagi udah ngelindur.” dengus Irish sebal.

“Yaudah kalo nggak percaya. Awas ajah elo sampai pacaran sama dia dan nggak cerita sama gue. Gue pites loe!”

“Yaampun Kinta, gue nggak pacaran sama penjahat kelamin.”

“Iyadeh iya. Btw, entar siang, makan di Beach Walk ajah yuk Rish. Gue pengen nasi Hainan nih.”

“Oke.”

***

Seorang pria berkemeja merah, lengkap dengan jas hitam tersampir di lengan kirinya, berjalan mendekat kearah Irish yang tengah makan sambil mengobrol di foodcourt dengan Kinta.

Kinta yang menyadari kehadiran Nando, menjawil tangan Irish yang kelewat asik dengan es campurnya. Irish pun mendongak ke samping setelah Kinta memberinya kode akan kehadiran seseorang.

“Yaampun Nando. Apa kabar?” tanya Irish sedikit kaget melihat kehadiran mantannya.

Nando tambah cakep setelah 2 tahun tidak bertemu.

“Baik Rish. Elo apa kabar?”

“Gue juga baik. Elo sama siapa kesini?”

“Sendiri. Tadi habis ketemu temen makan siang, gue mau balik, gue ngeliat elo. Jadi gue samperin.”

“Ohh…”

Irish merasa sedikit canggung akan pertemuan dadakannya Nando. Sebelumnya Irish hanya berkomunikasi seadanya dengan Nando lewat chat.

“Mau duduk disini apa langsung balik Ndo?”

“Gue langsung balik ajah. Habis ini ada meeting. See you next ya Rish. Gue duluan ya Ta.” ujar Nando setelah berpamitan pada Irish dan Kinta.

“Ciyehhhh, yang ketemu mantan. CLBK nih ceritanya sampe ngeliatinnya gitu amat. Kenapeh neng? Bokong Nando tambah sexy ya habis pulang dari Sydney.” goda Kinta hingga membuat wajah Irish memerah.

Irish baru sadar, selain tambah cakep, bokong Nando juga tambah sexy seperti yang Kinta katakan tadi. Duh, pikiran Irish jadi tambah ngelantur ketularan Kinta.

“Sialan loe! Mesum amat sih pikirannya.”

“Habisnya mata loe kagak ngedip waktu memandangi punggung Nando yang menjauh. Punggung apa bokong ya?” Kinta tergelak saat Irish melempar kentang ke arahnya.

“Habisin nasi hainan loe. Makin siang makin nggak beres pikiran loe.”

***

Reagan : Rish, nanti loe pulang sama gue ya.

Irish : Ogah ah. Gue bawa mobil sendiri kok. Gue bisa pulang sendiri.

Reagan : Mobil loe ditinggal di hotel ajah. Pokoknya loe pulang sama gue. Titik!

Irish : Maksa!

Reagan : Biarin!

30 menit sebelum pulang, Irish berbalas chat dengan Reagan. Mau apalagi tuh si mesum ngajakin pulang bareng. Jangan-jangan mau nyuruh Irish akting jadi pacarnya lagi terus dicipok dengan semena-mena lagi.

Ketika Irish sedang membersihkan mejanya sebelum pulang, kepala Reagan sudah nongol duluan di balik pintu.

“Yuk Rish, pulang.”

“Nggak ah, gue pulang sendiri.”

“Kan gue udah bilang loe pulang sama gue.”

“Cewek mana lagi yang mau elo putusin tapi susah?”

“Hah?”

Reagan sedikit tidak paham dengan pertanyaan Irish.

“Habis gue pukul agenda tadi pagi, otak loe geser ya Re? Ditanyain malah hah hoh hah hoh. Cewek mana lagi yang mau elo putusin? Tapi susah, terus elo minta bantuan gue lagi.”

“Ohhh.. Ck. Curigaan amat elo sama gue.” decak Reagan.

“Gue ngajak loe pulang karna ada yang mau ketemu sama loe di rumah.” lanjutnya.

“Siapa?” tanya Irish bingung.

“Ya loe lihat ajah nanti di rumah.”

***

“Mbak Irish!” teriak Olivia Jagapati–adik bungsu Reagan saat melihat Irish tiba di depan pintu rumahnya bersama kakak lelaki tersayangnya.

“Yaampun Livi. Apa kabar?”

Irish yang kaget melihat kehadiran Livi langsung memeluk Livi dengan senang.

“Baik mbak. Sudah lama ya kita nggak ketemu. Aku kangen sama mbak Irish. Abel gimana kabarnya mbak?”

“Diajak duduk dulu kali Liv, mbak Irishnya. Main sosor ajah.” celetuk Reagan yang sejak tadi memperhatikan kehebohan adik dan sahabatnya ini.

“Yaampun, maaf mbak. Sampe lupa. Hahaha. Duduk dulu yuk mbak.” ajak Livi masuk ke ruang tengah rumahnya.

“Mas Re tolong bikinin Livi sama mbak Irish minum ya.” pinta Livi sembari memandang Reagan.1

“Enak ajah. Emang mas mu ini dayang-dayang apa? Sudah disuruh bawa Irish pulang, sekarang minta dibuatin minum pula.” sungut Reagan sambil berlalu kedalam kamar

“Udah, Liv, nggak usah. Mbak belum haus kok. Nanti kalo haus mbak bisa ambil sendiri.” kata Irish.

“Yaudah deh mbak. Eh, gimana-gimana kabarnya Abel? Livi kangen sama dia.”

“Abel baik. Abel mau nikah loh. Kamu dateng ya nanti.”

“Oh pasti donk mbak. Terus mbak Irish gimana? Udah punya pacar?”

“Belum nih Liv. Kamu pulang dari Jerman bawa bule kek buat mbak.”

“Yaelah mbak. Livi ajah disana nggak dapet-dapet juga. Apa mbak Irish sama mas Re ajah. Mas Re kan ada bulenya biarpun cuma dikit.”

“Bule-potan ya Liv. Hahahaha.”

Livi ikut tergelak bersama Irish.

Oma dari ibunya Reagan memang berdarah Jerman asli, dan Olivia Sunny Jagapati, adik bungsu Reagan Naryan Jagapati ini memang sedang tinggal di Jerman bersama omanya. Olivia mendapatkan beasiswa kedokteran disana. Gadis ini tidak mengikuti jejak keluarganya yang menjalankan bisnis hotel. Sedangkan adik Reagan yang kedua, Alaric Ganindra Jagapati malah menetap di Jepang, bekerja sebagai pembuat game setelah lulus dari salah universitas di Jepang.

Olivia yang sedari dulu juga dekat dengan Irish dan Arabel bersemangat minta dipertemukan dengan mereka saat pertama kali sampai ke tanah air. Namun hanya Irish yang berhasil diboyong pulang oleh Reagan karena mereka satu tempat kerja.

“Nanti Livi main ke rumah mbak ya. Livi pingin ketemu oom sama tante sama Abel juga.”

“Boleh. Mereka pasti seneng lihat kamu disini.”

***

CLBK

Setelah Irish bertemu lagi dengan Nando untuk pertama kalinya setelah 2 tahun, Nando mulai gencar mengirimi Irish pesan. Sekedar menanyakan bagaimana kabar gadis itu, sudah makan atau belum, dan sempat mengajak Irish makan siang, yang tentu saja langsung di tolak Irish karena tau Nando sudah punya kekasih.

Sebenarnya Irish agak merasa risih dengan Nando yang akhir-akhir ini rajin mengiriminya pesan. Bukannya gimana-gimana sih, tapi Nando kan sudah punya pacar, dan kabar yang beredar Nando sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.

Jelas saja Irish takut kalo nanti calon istri Nando mencurigainya yang tidak-tidak. Meskipun sampai sejauh ini Irish belum pernah disamperin sama Dayu apalagi dilabrak.

Tapi di sisi lain, Irish merasa senang karena Nando masih mengingat dirinya. Memberinya perhatian, yang selalu dilakukan cowok itu dulu saat mereka berpacaran.

Dalam hati Irish sedikit menyesal telah melepas Nando, tidak berusaha untuk memperjuangkan hubungan LDR mereka. Irish merasa takut dan tidak yakin pada dirinya sendiri dan Nando. Apalagi di Sydney pasti banyak bule-bule cantik yang akan kepincut dengan Nando. Irish bergidik ngeri membayangkannya.

Harus Irish akui Nando itu ganteng pake banget. Pria berkulit kuning langsat itu adalah pacar kedua Irish saat memulai masa kuliah. Mereka berpacaran sekitar 8 tahun.

8 tahun tentu bukan waktu yang singkat melupakan Nando. Kadang Irish teringat akan wangi parfum maskulin pria itu. Dan Nando adalah tipe pria yang bersih, rajin mencukur bulu-bulu halus disekitar rahangnya. Itu yang membuat Irish senang menciumi Nando.

Benar kata ibunya, kalau saja Irish tidak nekat melepas Nando, pasti sepulang dari Sydney, Irish yang dilamar oleh pria itu. Bukannya si Dayu.

***

“Gue perhatiin akhir-akhir ini hape loe bunyi terus. Lagi banyak laki yang ngejar elo ya?” tanya Kinta pada Irish di sela-sela makan siang mereka.

Kali ini mereka makan nasi campur Bali di warung dekat hotel.

“Sembarangan loe. Nggak ada laki manapun yang ngejar gue.” jawab Irish sekenanya.

“Terus siapa donk? Atau loe udah mutusin mau kawin sebelum Abel kawin.”

“Nggaklah Ta. Orang lakinya ajah gue belum nemu. Ini si Nando chat gue terus.” akhirnya Irish buka mulut juga.

“Hmmm.. CLBK nih. Wah, bisa batal kawin tuh si Nando.”

“Mulut loe Ta. Amit-amit. Nggaklah. Cuma chat biasa ajah gimana bisa CLBK.”

“Chatnya emang biasa, tapi kalo intens jadi luar biasa.”

“Tapi kan gue jarang nanggepin.”

“Ditanggepin sering-sering juga nggak papa Rish. Kali-kali jodoh loe. Kan bu Naima juga yang seneng, anak sulungnya menikah.”

“Orangnya udah mau nikah habis gini Kinta. Gue males ribut sama orang. Apalagi ribut soal laki.”

“Kan jodoh siapa yang tau neng.”

“Ck ah.. Udah nggak usah dibahas. Gue nggak bakal balikan sama calon laki orang.”

***

Sepulang kerja, Irish sempat makan malam dulu bersama Kinta. Sahabatnya itu memperkenalkan gandengan barunya. Bule Kanada yang wanginya mirip sama wangi Nando. Kinta sampai nyeletuk gara-gara Irish cerita tentang wangi parfum Derek.

“Awas loe jatuh cinta sama laki gue karena wanginya mirip mantan loe.”

Sesampainya di rumah Irish mendengar tawa membahana dari dalam ruang keluarga rumahnya. Irish berjalan masuk untuk melihat ada berisik apa disana.

Ternyata Reagan dan Olivia sedang berkunjung ke rumahnya. Mereka sedang bersenda gurau dengan orang tua Irish dan Arabel.

“Loh ada Livi sama Re. Tapi kok nggak ada mobil kalian di luar?” tanya Irish bingung, yang waktu di depan pagar tidak melihat ada mobil siapapun kecuali mobil papanya.

“Halo mbak Irish. Aku kesini sama Mas Re dianter sama pak Hadi tadi. Tapi pak Hadi balik dulu mau anter papa ke bandara.” jawab Livi.

Irish lalu duduk di sebelah Arabel.

“Ohiya, papa kamu kan mau ke Jakarta ya.”

“Livi kuliahnya kapan kelar? Livi jarang pulang Indo ya.” tanya mama Irish.

“Kurang setahun setengah lagi tante. Ini agak senggang, makanya baru bisa pulang.”

“Wah, ketemu banyak bule disana ya Liv.” celetuk Abel.

“Banyak bel. Tapi belum ada yang nyantol. Hahahaha.” jawab Livi.

“Reagan gimana kerjaan? Lancar?” giliran papa Irish yang bertanya.

“Lancar oom. Selama Irish yang bantuin saya, semuanya lancar.”

“Mas Re mah mana bisa apa-apa tanpa mbak Irish. Ya kan mbak?” Irish hanya tersenyum menanggapi candaan Livi.

“Ngomong-ngomong galeri lancar ya oom?” tanya Livi pada papa Irish.

“Lancar Liv. Kemarin ada hotel baru di daerah Sanur yang pesen lukisan. Lumayan jumlahnya.”

“Wah, bagus tuh oom.”

Pak Made, papa Irish adalah pekerja seni. Beliau pelukis lokal, yang cukup dikenal di Bali. Karya-karyanya banyak menghiasi sudut-sudut hotel mewah di Bali. Lukisannya banyak menggambarkan identitas Pulau Dewata.

“Oiya tante masih ngajar kan?” tanya Livi lagi pada mama Irish.

“Masih. Murid les tante tambah banyak. Kalau pagi ya masih berkutat sama mahasiswa Liv.” mama Irish merupakan dosen bahasa Inggris di salah satu Universitas di Bali, sorenya beliau adalah pengajar tari Bali di sanggar yang menjadi satu dengan galeri suaminya.

“Nanti kalau Livi sudah kelar kuliahnya, pulang Indo, Livi ikut tante ngajar tari Bali ya. Pasti asik.”

“Boleh Liv. Biar tambah rame. Anak-anak pasti seneng denger ada bu dokter ngajar tari.”

Malam itu dihabiskan Reagan dan Livi melepas kangen pada keluarga Irish. Makhlum biarpun dekat, Reagan juga jarang mengunjungi keluarga Irish sejak dirinya sibuk bekerja.

***

Kiss

Reagan duduk di kursi kerjanya sambil melamun. Livi yang kebetulan hari itu janjian pergi dengan Abel sorenya, menghabiskan waktu menemani kakaknya di hotel. Jam kerja Abel selesai pukul 4 sore nanti. Abel adalah guru bahasa Inggris di sekolah internasional.

“Mas Re kerjanya ngelamun ajah dari tadi. Banyak mikirin kerjaan apa mikirin yang nggak-nggak?” tanya Livi.

“Mikirin kerjaan lah Liv. Mau launching Reseidence nih.” jawab Reagen sambil berpura-pura menatap tumpukan kertas dihadapannya.

Bohong! Sesungguhnya Reagan tidak sedang memikirkan pekerjaannya. Pria itu sedang memikirkan Irish, sahabatnya.

Sejak kejadian dirinya mencium Irish hari itu, Reagan selalu terbayang-bayang manis bibir gadis itu. Rasanya benar-benar enak. Meskipun Irish tidak membalas ciumannya hari itu. Namun perpaduan rasa cherry dan mint yang menguar dari bibir mungil itu selalu menari-nari di benak Reagan.

Setiap kali Reagan bertemu Irish, ingin rasanya pria itu menarik Irish ke pelukannya lalu mencium bibir Irish lagi. Reagan tahu dirinya adalah penjahat kelamin kelas kakap. Berulang kali Irish mengatai dirinya seperti itu. Tapi Reagan tidak pernah marah. Malah tertawa.

Dan sudah hampir 3 minggu kejadian itu, Reagan tidak pernah lagi mencium bibir perempuan lain. Having sex pun tidak. Pesona bibir Irish seperti melarang Reagan berkhianat dengan wanita pun. Reagan merasa hidup selibat akhir-akhir ini karena Irish.

Saat morning briefing beberapa waktu lalu, Reagan mendapati dirinya terus-menerus menatap bibir mungil Irish. Sewaktu mereka jalan pulang ke rumah Reagan, lagi-lagi dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak mencium Irish.

Oh holy shit! Bibir Irish kayak candu buat Reagan.

***

Irish sudah tidak mampu lagi menolak ajakan pergi Nando. Awalnya Nando menyambangi Irish di Jagapati. Mau tak mau Irish menjamu Nando di Addara, salah satu resto milik Jagapati yang menyajikan masakan khas Bali.

Mereka ngobrol cukup lama, hingga Nando pamit kembali ke tempat kerjanya. Dan sekarang, Nando muncul lagi di Jagapati, menjemput Irish pulang kerja. Dia ingin mengajak Irish makan di Laota. Tempat makan bubur ikan favorit mereka waktu pacaran.

“Kenapa nggak ngajak Dayu aja makan di Laota?” tanya Irish begitu mereka sudah sampai di Laota.

“Karena Dayu nggak suka makan bubur. Dan aku lagi pengen makan bubur. Dan aku tau kamu juga suka. Jadi aku ajak kamu.” jawab Nando panjang lebar.

“Kenapa nggak pergi sendiri ajah?”

“Aku nggak mau makan sendiri.”

“Tapi Dayu..”

“Udahlah jangan bahas dia. Sekarang yang ada disini cuma kita berdua Rish. Kita ngobrol sebagai teman nggak apa-apa kan?”

Irish menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ya nggak papa sih.”

Nando memang tidak berbohong mereka memang hanya mengobrol. Tapi obrolan Nando selalu nyerempet pada masa lalu mereka. Itu yang membuat Irish cemas. Takut terbawa suasana.

Irish tidak mau dicap sebagai perebut pacar orang. Tapi bersama Nando, Irish menemukan apa yang tidak dia dapat dari lelaki manapun yang dikenalkan oleh mamanya selama ini. Kesopanan dan kebaikan Nando yang membuat detak jantung Irish berdebar kencang tiap berdekatan dengan Nando.

***

Irish dan Nando duduk di dalam mobil cukup lama. Bokong Irish seperti tidak rela meninggalkan kebersamaannya dengan Nando. Dan Nando juga tak kunjung membuka central lock mobilnya, membiarkan Irish turun. Padahal mereka sudah tiba di depan rumah Irish dari sejam yang lalu.

Nando mencuri pandang berkali-kali ke arah Irish, begitu pula sebaliknya. Mereka seperti pasangan malu-malu yang baru jadian.

Akhirnya dengan penuh keberanian Nando meraih tengkuk Irish, mendekatkan dirinya pada Irish, kemudian mencium bibir gadis itu perlahan.

Irish awalnya terkejut dengan serangan tiba-tiba Nando. Namun gadis itu membalas ciuman Nando. Ciuman penuh rindu milik Irish untuk Nando.

Dengan susah payah, Nando berhasil menarik Irish ke pangkuannya. Ciuman Nando lalu turub ke leher jenjang Irish. Gadis itu sudah mulai mendesah.

“Nando.. Uhhh..”

Tangan Nando bergerak membuka kancing kemeja Irish, hingga bra berwarna hitam mencuat dari sana. Diremasnya payudara kenyal milik Irish yang masih terlindung bra. Gadis itu memekik tertahan.

Irish terus membalas ciuman Nando, tangannya ikut bergerak melepas kancing kemeja Nando, kemudian mengelus-elus dada bidang pria itu.

Tangan Nando yang meremas payudara Irish lebih kencang, menjadi alarm untuk gadis itu menghentikan ‘pergulatannya’ dengan Nando. Kalau dibiarkan mereka bisa kebablasan. Grepe-grepe boleh, tusuk-tusuk jangan. Begitu prinsip Irish.

Dengan napas terengah-engah keduanya saling melepaskan diri.

“Sorry Rish..” ucap Nando terpaku.

“Aku juga sorry Ndo..” balas Irish pelan.

“Yaudah sampai besok ya, Rish.”

“Thanks juga ya Ndo sudah dianterin.”

Nando mengangguk.

Irish lalu merapikan dirinya sebelum turun dari mobil Nando. Nggak lucu kalo sampai mama papa dan Arabel melihat Irish masuk rumah dalam keadaan kacau. Bisa-bisa dikira mereka Irish habis melakukan tindakan asusila. Walaupun bisa dibilang hampir melakukannya.

Bersambung