Irish Story Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Irish Story Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Irish Story Part 1

Coffee In The Morning

Irish menghempaskan bokongnya di kursi, sesaat setelah dirinya sampai di kantor. Terlalu pagi untuk Irish sampai di hotel, tempatnya bekerja.

Masih sepi. Irish biasanya akan datang 10 atau 15 menit sebelum jam ceklok. Tapi pagi ini dia memutuskan untuk berangkat lebih awal, untuk menghindari omelan mama yang menanyakan kapan dirinya akan menikah.

Tahun ini usia Irish genap 28 tahun, namun masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri masa lajang. Padahal adiknya, Arabel, yang terpaut 3 tahun dengannya, sudah dilamar oleh Dhega, kekasihnya.

Irish bukannya tidak pernah berusaha mencari jodoh. Tak terhitung banyaknya lelaki yang mendekatinya, tapi itu semua hanya untuk tidur dengannya. Tak pernah benar-benar ada yang serius.

Entah harus merasa beruntung apa merasa sial, pesona Irish hanya sampai pada tempat tidur. Namun Irish bukan perempuan seperti itu. Sampai detik ini, dirinya masih perawan ting-ting. Irish hanya akan memberikan mahkotanya hanya untuk suaminya!

Reagan, sahabatnya sering menertawakannya.

“Yaampun Irish! Sudah umur berapa elo ini? Masa masih perawan ajah? Hahahaha. Harusnya elo bisa menikmati hidup. Prinsip hidup elo itu terlalu sulit dipahami untuk jaman sekarang.”

Irish mendelik sebal kalo Regan sudah membahas tentang prinsip hidupnya. Memang kenapa kalau memegang prinsip no sex before merried, bagus kan? Itu artinya sebagai perempuan dia mampu menjaga dirinya dengan baik.1

“Jangan elo samain, gue sama elo Re. Emang elo, hobi tanam benih dimana-mana.” Irish mendengus.

“Loh bertanam itu bagus, kan itung-itung olahraga, tapi di tempat yang enak donk, bukan di sawah.”

“Jijik gue sama elo!”

“Hahahahaha.”

“Woi Rish! Masih pagi nih. Ngelamun ajah lo. Loe ribut lagi ya sama bu Naima?” sapaan Kinta membuyarkan lamunan Irish. Bu Naima siapa lagi kalau bukan mamanya Irish.

Kinta, asisten sekaligus sahabatnya itu sudah tau, kalau Irish datang lebih pagi berarti Irish habis perang dunia sama ibunya. Apalagi kalau bukan karna masalah pernikahan.

“Loe kawin lha, Rish. Biar nyokap loe seneng. Eh, maksud gue nikah.” Kinta menasehati.

“Loe kira gampang apa nikah. Calon suaminya ajah kagak ada gini.” balas Irish sambil memijit pelipisnya.

“Ya loe cari lah, jangan diam ajah. Emangnya jodoh dateng gitu ajah. Atau… Elo kawin ajah sama Reagan. Lumayan kan tuh. Elo dapat hartanya Jagapati Grup, Reagan dapat bini perawan. Hahahahaha.”

Ide gila Kinta sontak membuat Irish ingin melemparkan kotak tissue yang berada di mejanya.

“Gue ngomong sama elo nggak ada bedanya gue ngomong sama Reagan. Nggak ada yang bener isi otak kalian!”

***

Irish berjalan menuju ruangan Reagan Jagapati sambil membawa 2 cangkir kopi ditangannya. Satu kopi hitam untuk Reagan, dan kopi susu untuk dirinya sendiri.

Reagan itu cerewet, dia hanya mau minum kopi buatan Irish. Setiap pagi kopi Irish adalah penyambung nyawanya setelah kelelahan ONS, atau begadang dengan pacar-pacarnya.

Padahal Irish hanya membuat kopi itu dengan tambahan 1 sendok gula, karena Reagan tidak terlalu suka manis. Tapi tetap saja menurut Reagan itu adalah kopi terenak, bahkan OB hotel saja tidak ada yang mampu menggantikan kopi buatan Irish.

“Elo kasih jampe-jampe pasti nih kopi gue, masa gue ketagihan cuma sama kopi elo doank Rish.”

“Lebay!” dengus Irish.

Reagan Jagapati, COO muda di Jagapati Hotel, sosoknya yang sukses membesarkan Jagapati Grup – yang juga menaungi Jagapati Residence, membuat dirinya digadang-gadang akan menggantikan posisi ayahnya, Gading Jagapati, yang sebentar lagi akan pensiun.

“Elo ONS sama siapa lagi semalem?” tanya Irish sambil meletakan kopi hitam di meja Reagan lalu duduk di sofa ruangan Reagan.

“Adalah. Ketemu di Sky semalem. Makasih ya Rish kopinya.” jawab Reagan sambil menyesap kopinya perlahan.

“Elo kudu tobat deh Re. Masa tiap hari kerjaan elo gitu-gitu ajah. Cari cewek sana yang bener.”

“Nggak tiap hari Rish, gue udah kurang-kurangin. Sekarang ajah cuma seminggu 2x. Habis akhir-akhir ini gue sibuk ngurus launching Jagapati Residence di Seminyak.”

“Maksud gue, elo berhenti. Berhenti main-main. Cari perempuan yang bener. Jangan cuma buat bobok-bobok cantik ajah.”

Perlahan Reagan bangkit dari kursinya lalu berpindah duduk di sebelah Irish. Wajahnya maju menatap gadis berambut coklat yang sudah di harnet rapi itu. Irish mengernyit curiga melihat tatapan Reagan padanya.

“Kalo elo mau jadi partner gue dikasur, gue siap kok berhenti jadi tukang tabur benih dimana-mana. Gimana Rish?” Reagan menggoda Irish, wajah gadis itu sedikit memerah.

“Ogah!”

***

Setelah Irish lulus dari salah satu kampus pariwisata ternama di Bali, Reagan yang sahabatnya–dan juga anak sulung Gading Jagapati–segera menarik Irish untuk bekerja di Jagapati hotel. Kala itu Jagapati Grup hanya memiliki satu hotel di daerah Kuta.

Awalnya Irish menolak, dia ingin mencoba di tempat lain, karena merasa sungkan, takut orang lain mengira dirinya bisa bekerja disana menggunakan koneksinya dengan keluarga Jagapati. Namun Gading dan istrinya sendiri–Naora Jagapati–yang membujuk Irish langsung bekerja di hotel mereka. Irish memulai karirnya sebagai sales wedding.

Seiring perkembangan, kini Jagapati memiliki 4 jaringan hotel di Ubud, Denpasar, Kuta, dan Uluwatu, dan 1 apartemen–Jagapati Residence–yang sebentar lagi akan launching di Seminyak.

Irish dan Reagan sudah saling mengenal dari usia mereka 7 tahun. Reagan adalah tetangga dekat Oma Irish. Setiap Irish main ke rumah Oma Ayu, setiap kali itu pula Irish akan bertemu Reagan. Sampai akhirnya sedari SMP sampai kuliah mereka selalu satu tempat.

Orang-orang yang mengenal keduanya akan mengira Irish dan Reagan pacaran. Padahal kenyataannya tidak. Irish tidak mau berurusan dengan sahabatnya itu pakai perasaan, karena Irish cukup tahu, Reagan bukan cowok yang melabuhkan hatinya pada satu perempuan saja.

Irish berhasil membuktikan pencapaian dirinya sebagai sales manager saat ini karena kerja kerasnya. Bukan semata karena keluarga Jagapati yang merupakan teman dekatnya.

Siapa yang tak mengenal nama Reagan Jagapati? Semua orang tau dia pecinta wanita. Pecinta wanita yang benci komitmen. Menurutnya komitmen pernikahan hanya ada di halaman terakhir kamusnya.

Oiya, sudah berapa lama ya dirinya tidak bersenang-senang. Sejak kesibukannya mengurus Jagapati Residence. Sepertinya Jenja sudah lama tak dikunjunginya. Reagan mengusap-usap dagunya. Juniornya sudah terlalu lama dianggurin. Reagan butuh pelepasan malam ini.

***

Kapan Kamu Mau Berumah Tangga?

Irish memutar bola matanya saat mendengar omelan mamanya di telepon yang mengharuskan dia pulang tepat waktu hari ini. Keluarga Degha, calon iparnya akan berkunjung malam ini kerumah mereka. Rencananya mereka akan makan malam dan menentukan tanggal pernikahan untuk Arabel dan Degha.

Sebenarnya Irish berencana pergi dengan Kinta saja malam ini. Dia tidak berniat ikut acara keluarga. Bukan. Bukan karena dia tidak suka melihat Arabel bahagia. Namun karena mamanya pasti akan bertanya lagi kapan dirinya akan menikah.

Apa tidak malu sampai dilangkahi oleh Arabel? Padahal Irish sudah mengatakan dirinya ikhlas, sangat-sangat ikhlas kalau Arabel mai menikah duluan dengan Degha. Toh, sesuatu yang baik harus disegerakan bukan?

Irish teringat percakapan dirinya dengan Arabel beberapa malam yang lalu saat Arabel mengatakan Degha telah melamarnya.

“Mbak, Degha udah ngelamar Abel.” kata Abel pelan.

“Wah, selamat ya, dek. Akhirnya!” Irish langsung loncat memeluk Arabel ketika mendengar kabar bahagia itu.

“Makasih mbak.”

“Kapan dia ngelamar kamu?”

“Kemarin malam pas makan malam.”

“Akhirnya ya, kamu sama Degha menikah juga. Mbak ikut senang. Semoga lancar ya, dek, sampai hari H.”

“Tapi mbak..”

“Tapi apa?” kening Irish mengernyit.

“Ehmmn, mbak kan belum nikah. Nggak apa-apa nih Abel ngelangkahin mbak?”

“Ya nggak apa-apa lah, dek. Emangnya mbak bakalan jadi jomblo berkarat kalo kamu nikah duluan? Hahahaha.

“Bukan gitu mbak. Tapi Abel kan nggak enak. Mbak harusnya duluan. Nanti mama pasti marah sama mbak kalau tau Abel mau nikah. Mbak pasti dijodohin-jodohin lagi.”

Irish tersenyum kecut mengingat kegigihan mamanya yang menjodohkan dengan anak teman-temannya yang tidak pernah berhasil. Ada saja kekurangan mereka di mata Irish.

Irish selalu membandingkan mereka dengan Nando, mantan pacar terlamanya. Mereka pacaran sekitar 4 tahun, namun putus karena Nando ingin melanjutkan kuliah di Sydney. Sedangkan Irish tak yakin dengan hubungan LDR. Karena itu Irish akhirnya merelakan kepergian Nando dan putusnya hubungan mereka.

“Mbak harus move on dari Nando. Banyak laki-laki yang mau sama mbak.” ucapan Arabel membuyarkan lamunannya.

“Atau… Mbak balik ajah sama Nando? Mbak masih cinta kan sama dia?”

“Apaan sih kamu dek. Idemu nggak masuk akal. Nando sudah punya pacar. Sebentar lagi mau nikah.”

Iya, yang Irish tau setelah Nando kembali ke Bali, dia sudah memiliki kekasih. Usai Nando melanjutkan S2 nya Sidney, Nando ditawari oleh Convic Hotel untuk bekerja disana sebagai General Manager. Dirinya dan Nando sempat chat di Facebook saat Nando sudah tiba di Bali. Mereka sekedar bertukar cerita.

Dan yang Irish tau juga dari mulut Nando sendiri, pria itu tengah dekat dengan manager F&B di hotel itu, yang tak lain adalah putri tunggal pemilik Convic. Convic sendiri merupakan hotel saingan tempat Irish bekerja.

Sebentar lagi Nando dan Dayu–putri tunggal Convic akan menikah. Mereka sedang ramai dibicarakan di grup WA SMA. Dan itu berarti sudah tidak ada harapan lagi untuk Irish dan Nando kembali.

“Tapi Nando kan cinta sama mbak.”

“Iya tapi sebentar lagi orangnya mau nikah, dek.”

“Kan belum mbak. Mbak masih punya kesempatan. Mama pasti seneng kalo mbak balik lagi sama Nando.”

“Iya mama seneng. Pacarnya Nando yang senep. Kamu mau mbak dijambak-jambak sama anaknya Convic itu gara-gara godain Nando?”

“Ya, nggak mbak. Maksud Arabel, mbak bisa mulai baik-baik. Misalnya doain mereka berantem terus putus. Terus mbak masuk deh di celah-celah itu. Mbak bikin deh si Nando klepek-klepek lagi sama mbak.”

“Yaampun Arabella Janish Varma! Otak kamu nulai ketularan Reagan kayaknya. Nggak bener semua isinya.” teriak Irish sambil menyebutkan nama lengkap adik kesayangannya.

Arabel terkikik melihat kakaknya marah-marah.

***

Seluruh keluarga Arabel menyambut kedatangan keluarga Degha dengan hangat. Pria yang sudah dipacari Arabel 3 tahun itu mengenakan kemeja berwarna biru dongker. Tangannya begitu mantap saat menjabat tangan pak Made, papa Irish.

Degha datang dengan membawa kedua orang tua serta kedua adik lelakinya yang masih kuliah. Arabel tersipu-sipu saat melihat Degha. Pacar tercintanya begitu tampan malam ini. Rambut ikal agak gondrong milik Degha dikuncir rapi di belakang.

“Dek, elo ngeliatin Degha kayak mau ngajak dia ngamar tau gak?” bisik Irish di telinga adiknya.

“Mbak, ah!” balas Arabel sebal.

Memang sih, kalau dia tidak ingat ini acara keluarga pasti sudah diseretnya pacar tampannya ini lalu diciuminya sampai kehabisan napas. Yaampun memalukan sekali isi otakmu Arabel! Bener kata kakaknya, mungkin dia mulai tertular Reagan, sahabat kakaknya yang mesum itu.

Setelah dipersilahkan duduk oleh keluarga Arabel, keluarga Degha mulai menyampaikan maksud kedatangan mereka. Apalagi kalau bukan meminta Arabel menjadi menantunya.

“Abel mau ya jadi menantu papa mama–istrinya Degha?” tanya pak Djaya, papa Degha.

“Mau. Mau banget!” jawab Arabel bersemangat.

Degha yang duduk di seberangnya terkikik geli melihat kelakuan pacarnya. Irish sempat memukul tangan adiknya untuk mengingatkan jangan terlalu bernapsu. Wajah Arabel kontan memerah.

Kemudian acara dilanjutkan dengan makan malam keluarga. Keluarga Degha berjanji akan membuatkan acara lamaran yang lebih resmi dengan mengundang seluruh keluarga besar mereka. Pertemuan kali ini hanya sekedar untuk memuluskan kelancaran lamaran resmi mereka.

“Kalau Irish, pacarnya siapa?” tanya Lila, mama Degha.

“Belum ada tante.” jawab Irish malu-malu.

“Ohh. Tapi nggak masalahkan kalau didahului oleh Abel sama Degha? Maaf ya Irish. Tante gak tau soalnya.”

“Nggak apa-apa tante. Abel sudah bilang sama saya. Masa sesuatu yang baik harus ditunda?”

“Makasih ya Irish, tante doakan segera bertemu dengan jodohnya ya.”

“Amin makasih tante.”

“Doakan juga bu, kalo ketemu jodohnya sebelum Abel sama Degha menikah. Jadi kan lebih enak. Hahaha.” celetuk usil mama Irish yang langsung di sambut oleh pelototan Irish dan tentu saja gelak tawa keluarga besar Degha.

***

“Tuh kan Rish. Mama bilang apa. Makanya cari pacar. Terus nikah.” mamanya sedang membersihkan meja makan setelah kelurga Degha pamit pulang.

Irish yang sedang sial kedapatan tugas membantu bersih-bersih malah kena omel lagi.

“Irish lagi usaha ma.” jawab Irish malas.

“Usaha gimana? Mama kenalin sama anak-anaknya temen mama, kamu nggak mau semua.”

“Irish nggak suka dijodoh-jodohin. Irish bisa cari sendiri.”

“Cari yang kayak Nando? Emang bisa dapet?”

“Mamah ishhh! Nando lagi yang dibahas.”

“Kamu sih, coba dulu nggak putusin Nando karena LDR. Pasti kalian sudah nikah nih habisnya Nando pulang dari Sydney.”

“Irish sama Nando itu gak jodoh, ma. Makanya putus.”

“Kamu itu ngeyel ajah kalo dikasi tau orang tua.”

***

Pacar Bayaran

“Gue kan udah bilang, gue udah punya pacar baru Kezia. Gue nggak bisa jalan sama elo lagi. Visi kita berbeda.” jelas Reagan halus, tak ingin menyakiti Kezia. Pacarnya sebulan ini.

“Tapi Re.. Tapi.. Aku cinta sama kamu.” suara sesengukan Kezia terdengar di seberang meja.

“Kez, elo bisa dapetin laki-laki yang lebih baik dari gue.” kata Reagan pelan.

Irish yang duduk disampingnya sudah tak sabar ingin nyeletuk.

“Elo cari cowok lain deh Kez. Reagan udah milih gue. Mending elo mundur.”

“Nggak bisa. Cuma Rere yang bikin aku bahagia.” tangis Kezia makin menjadi.

What? Rere? Panggilan kesayangan heh? Batin Irish jijik.

“Tapi Rere-nya nggak bahagia sama elo. Dia bahagianya sama gue. Ya kan sayang?” tanya Irish sok mesra pada Reagan.

“Tentu sayangku.” jawab Reagan senang sambil mengecup pipi Irish.

Irish sontak menginjak kaki Reagan yang dijawab dengan wajah meringis Reagan. Jangan lupa ingatkan Irish untuk mencuci mukanya bersih-bersih karena ciuman si penjahat kelamin, sahabatnya ini.

Sama seperti kasus-kasus sebelumnya, Reagan akan meminta bantuan Irish, kalau dirinya sudah mentok, tidak bisa memutuskan pacar-pacarnya. Irish akan diutus Reagan berpura-pura jadi pacarnya, lalu blam! Pacar Reagan langsung mundur.

Bagaimana tidak mundur kalau melihat rupa Irish yang cantik. Putih, langsing, meski badan Irish cukup mungil, namun perempuan manapun yang melihat Irish pasti akan iri. Irish itu makannya banyak, tapi anehnya nggak bikin dia gemuk. Terpujilah Tuhan yang menciptakan kelebihan pada Irish.

Tapi Irish tidak begitu saja membantu Reagan dengan cuma-cuma. Pasti ada imbalannya. Irish memanfaatkan Reagan untuk meminta imbalan yang paling bagus.

Misalnya tas atau sepatu bermerek yang mahal, yang sudah Irish taksir, tapi takut kantongnya terjerembab, maka Irish memintanya pada Reagan. Biarpun dengan mengomel karena kelakuan tidak tahu diri Irish, toh pria itu tetap menuruti keinginan Irish.

“Aku nggak percaya kalian pacaran. Rere baru mutusin aku. Masa langsung punya pacar baru?” tantang Kezia.

Irish mendengus sebal.

“Kami beneran pacaran Kez.” jawab Reagan kesal, sepertinya kesabarannya mulai habis menghadapi Kezia.

“Aku nggak percaya! Pasti perempuan ini akal-akalan kamu kan Re, biar bisa lepas dari aku? Atau kamu sebenarnya masih cinta sama aku, kamu cuma mau ngetes aku kan?” tanya Kezia lagi.

Reagan langsung melotot menatap Kezia. Bagaimana Kezia bisa tau ini akal-akalannya Reagan? Iyasih memang ini akal-akalan, tapi masa kebaca banget? Kurang mesra apa coba dirinya memeluk Irish yang duduk disampingnya dari tadi. Dan bisa-bisanya Kezia dengan percaya dirinya mengatakan Reagan hanya mengetes Kezia.

Cih! Harus segera dihentikan. Reagan sudah pusing tujuh keliling menghadapi perempuan di hadapannya ini.

“Oke kalo kamu nggak percaya. Aku buktiin ini bukan akal-akalan.”

Setelah menarik napas yang cukup panjang, tangan Reagan terulur meraih tengkuk Irish. Irish yang sudah was-was langsung melotot, takut kalo Reagan berbuat hal yang tidak senonoh padanya. Mana mereka sedang berada di restaurant mahal pula. Kan malu dilihat orang-orang.

Tanpa babibu, Reagan mendaratkan ciumannya di bibir mungil Irish. Sorry Rish! Batin Reagan. Irish yang tanpa persiapan kaget mendapati bibirnya sudah dicium Reagan di muka umum.1

Brengsek Reagan. Ini nggak ada di skenario. Tapi wait-wait. Kok enak?9

Irish harus mengakui, ini pertama kalinya Reagan mencium dirinya. Tapi mendapati dirinya menikmati ciuman Reagan, Irish merasa seperti perempuan murahan. Apalagi waktu Reagan menggigit bibir bawahnya hingga bibir Irish terbuka, Reagan kemudian menelusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Irish, mengecek deret satu persatu gigi Irish.

Tangis Kezia makin menjadi melihat adegan mesra dihadapannya, lalu perempuan itu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Reagan dan Irish yang menyatukan bibir mereka.

Reagan yang tersadar Kezia sudah pergi daritadi, lalu melepas ciumannya dari Irish.

“Ternyata bibir loe manis juga ya, Rish. Tau gitu dari dulu gue cicipin.”

***

Tangan Irish memukuli Reagan tanpa henti saat mereka berdua sudah di dalam mobil. Pria itu mengaduh kesakitan.

“Reagan bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh.” sebal Irish.

“Maaf Rish. Cuma itu cara satu-satunya. Jangan dipukulin terus. Gue nggak bisa nyetir nih.” Reagan meringis menatap sahabatnya.

“Biarin! Tapi loe nggak usah pake acara nyipok gue juga kaleus.” kali ini tangan Irish terulur untuk menjambak rambut Reagan.

Regan langsung menghindar.

“Tapi enak kan? Buktinya elo suka.” goda Reagan.

“Suka dari Hongkong!” Irish mendelik.

“Buktinya mata loe merem melek, udah gitu loe buka mulut loe.”

“Itu karena loe gigit bibir gue otoy!”

“Tapi elo menikmatinya kan?”

“Nggak!”

“Yaudah terserah.”

Sepanjang perjalanan mereka dihabiskan dengan Irish yang tak berhenti mengoceh tentang kelakuan biadab Reagan barusan. Pria itu hanya tertawa menanggapi omelan Irish.

Begitu mobil Reagan sudah sampai di depan rumah Irish, gadis itu langsung melepas seatbelt nya dan hendak keluar dari mobil, namun tangan Reagan menahannya.

“Bibir loe beneran enak Rish. Besok-besok gue boleh incip lagi ya?” tanya Reagan polos.

“Reagan Kamvret!!”

***

Dikamarnya Irish termenung sambil memegangi bibirnya. Ciuman Reagan masih terasa sampai saat ini. Mana enak pula. Dasar mureh loe Rish!

Bisa-bisanya Irish menikmati ciuman tadi. Sama Reagan pula, sahabatnya yang notabene adalah penjahat kelamin.

Nggak nggak boleh! Irish menggeleng-gelengkan kepalanya. Irish nggak boleh terjerembab sama bibir manis Reagan. Itu tadi cuma pura-pura biar si Kezia cepet minggat.

Pura-pura!

Bersambung