I Miss Simplicity Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Tamat
Prolog​

“Bulus bulus…”

“Yang bulus yang bulus, Lebak bulus abis…”

Sayup sayup aku mendengar suara kernek bus AKAP itu memberitahukan pada penumpang kalau bus yang aku tumpangi ini sudah sampai tujuan akhir terminal, terminal lebak bulus.

Dini hari ini aku akan menginjakkan kaki ku ke ibu kota lagi. Ya, aku memang bukan sekali ini datang ke ibu kota yang terkenal dengan segala kemacetan dan kesemrawutannya ini. Terhitung sudah empat kali ini aku ke sini.

Tujuannya sama, datang ke rumah kakak pertama ku. Bedanya, kalau sebelunnya hanya untuk liburan atau main, kali ini aku datang berniat untuk melanjutkan kuliah. Dan mungkin kerja juga bantu-bantu usaha milik kakak ipar ku. Oiya, aku baru saja lulus SMA. Umur ku jalan Sembilan belas, dan aku orangnya biasa saja, apa adanya.

Suasana pagi ini masih sangat gelap. Aku lihat jam, baru jam empat lewat. Sayup-sayup juga aku bisa mendengarkan suara adzan yang berkumandang. Sudah subuh rupanya. Aku lalu bergegas mempersiapkan barang bawaan ku yang hanya sebuah tas ransel yang berisi baju saja, dan sebuah kardus kecil yang aku lupa isinya apa, yang jelas beberapa makanan khas kampung ku, titipan dari kedua orang tua ku, untuk keluarga kakak ku.

“Hap”, aku menapakkan kaki ku di terminal ini lagi. Mulai hari ini semuanya akan dimulai. Aku sudah bukan anak sekolah lagi. Aku harus sudah bisa merubah pola pikir ku. Apalagi karena sekarang aku akan tinggal bersama kakak ku.

Meskipun dia kakak kandung ku, tapi bagaimanapun juga dia sudah menikah, dia sudah membangun keluarga sendiri, dan bisa dibilang aku ini akan menumpang di rumah nya. Aku tidak boleh malas-malasan lagi. Aku harus bisa membantu apapun yang bisa aku bantu. Begitulah pesan yang selalu disampaikan oleh ibu ku sebelum aku berangkat kemarin.

Berat sebenarnya untuk meninggalkan kampung ku. Tapi mau bagaimana lagi, di sana aku tidak bisa apa-apa. Peluang kerja sangat kecil. Paling paling menggarap sawah milik bapak. Tapi itu tidak mungkin karena orang tua ku tidak mau aku melakukannya. Mungkin sudah menjadi kebiasaan dan pola pikir orang tua di kampung.

Mereka tidak ingin anak nya menjadi seperti mereka yang hanya seorang petani. Padahal, kalau rajin dan pintar, petani pun juga bisa menghasilkan uang banyak. Atau mungkin yang mereka harapkan adalah gengsi nya? Entahlah.

Berbekal pentunjuk yang dikirimkan melalui SMS kemarin, aku lalu mencari angkot yang menuju rumah kakak. Mudah-mudahan sih tidak nyasar. Terakhir kesini aku bareng dengan kakak ku, tapi sekarang aku hanya sendiri. Seorang diri. Merantau ke ibu kota. Untuk mengadu nasib.

Setelah melalui perjalanan sekitar 30 menit, aku tiba di rumah kakak ku. Suasana masih agak gelap meski matahari sudah hampir menampakkan wujudnya. Aku mengabari kakak ku kalau aku sudah di depan gerbang rumah mereka. Untungnya kakak ipar ku sudah bangun.

Namanya Rizal Zulkarnaen. Punya darah campuran Sumatera, Sumatera barat dan lampung. Seorang wiraswasta. Dia adalah salah satu panutan ku selama ini. Orangnya asik, tapi kadang suka rese. Tapi yang pasti orangnya sangat ulet dan tekun.

Meskipun hanya seorang lulusan SMA, sama seperti istrinya yang tak lain adalah kakak kndung ku, tapi bisnisnya sekarang cukup berhasil dengan relasi dimana-mana.

Kakak ku sendiri, seorang ibu rumah tangga. Namanya Endang Ayuningtyas. Sangat bawel dan cerewet, khas ibu ibu rumah tangga masa kini. Tapi sangat sayang dan perhatian dengan adik adiknya. Umur mereka berdua sekarang sama-sama dua puluh delapan tahun.

Aku sebenarnya empat bersaudara, dan aku anak nomer tiga. Kakak ku yang ke dua laki laki, tinggal di kampung. Sama seperti kakak ipar ku, dia juga punya jiwa bisnis. Bedanya kakak ku ini lebih ke dunia peternakan. Dia beternak bebek dan ikan lele. Alhamdulillah sekarang menjadi supplier tetap untuk beberapa rumah makan di kampung. Namanya Prayoga Restu Kusuma.

Awalnya aku heran kenapa mas Yoga boleh tetap tinggal di kampung dan berbisnis di sana. Dan tidak ada yang protes ketika dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Sedangkan aku, orang tua ku dan mba Endang ngotot aku harus melanjutkan sekolah di sini.

Tapi ucapan mba endang beberapa waktu lalu telah menyadarkan ku. Aku dan mereka berdua berbeda. Karakter dan sifat kami berbeda. Mas yoga sekarang berusia dua puluh tiga tahun.

Sedangkan aku sendiri, Alfian Restu Kusuma. Seorang anak muda biasa biasa saja berumur Sembilan belas tahun. Benar-benar biasa. Hanya memiliki sedikit keunggulan di bidang akademis. Serius, selain itu aku tidak punya keterampilan apa-apa. Bahkan, cenderung agak malas. Dan hanya akan melakukan hal hal tertentu saja yang menurut ku menyenangkan.

“Kamu harus lanjut sekolah ian, kamu berbeda dengan aku dan mas mu Yoga. Aku hanya beruntung bisa dapat suami seperti mas Rizal yang pekerja keras. Mas mu Yoga, tidak lebih pinter dari kamu, tapi dia punya keterampilan dan ketekunan.

Dia mau berusaha. Sedangkan kamu, otak mu jauh lebih pinter dari kami berdua, sayang kalau kamu tidak lanjut sekolah. Tapi males mu itu juga harus dikurangi. Masalah biaya, ga usah dipikirin. Aku bisa bantu, tapi kamu juga harus belajar cari duit juga, kamu bisa bantu bantu mas Rizal selama di sini nanti”.

Itu lah pesan dan petuah yang selalu diucapkan mba Endang menjelang kelulusan kemarin. Inget betul aku bagaimana reaksinya yang tidak setuju ketika aku tidak ingin melanjutkan sekolah dan langsung kerja saja. Mba ku yang satu itu memang sangat perhatian.

Terakhir, adik ku satu-satunya. Cewek, namanya Binar Ayuningtyas dan sekarang berumur enam belas tahun. Baru masuk SMA. Di kampung juga. Sama seperti ku, di antara kami berempat kecerdasannya yang paling lumayan. Orangnya periang, mudah bergaul, sedikit manja, tapi paling susah dibilangin alis ngeyel.

Oiya hampir lupa, kedua orang tua ku, Kusuma dan Hernaningtyas, sepasang suami istri paruh baya yang selalu berusaha membahagiakan dan mencukupi segala kebutuhan anak anaknya. Merakalah penyemangat kami.

Tujuan hidup kami. Tidak banyak yang bisa aku tuliskan untuk mereka berdua. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku bisa segera sukses dan bisa membahagiakan mereka suatu saat nanti. Aamiin.

***​

Setelah dibukakan pintu dan masuk, aku langsung meletakkan tas ku di kamar yang memang telah disediakan untuk ku. Rumah ini punya satu kamar tidur utama, dan dua kamar tidur anak.

Sedangkan mba Endang dan mas Rizal baru memiliki satu orang anak perempuan, namanya Tiara Zulkarnaen. Umurnya sekarang lima tahun dan baru masuk TK. Jadi pas tuh kamar satu buat aku.

Rumah mas rizal ini cukup besar untuk lingkungan sini. Eh salah, bukan rumahnya, tapi tanahnya. Ada halaman depan dan samping juga. Nah halaman samping inilah yang biasa digunakan untuk mengerjakan usaha sampingannya.

Mas rizal punya usaha sampingan berupa jasa pengepakan dan pembuatan hardcase untuk barang barang pecah belah. Tapi kadang tidak terbatas pada barang itu saja, semua barang yang bisa di “duit” in, pasti akan dia kerjakan.

“Gimana perjalanan semalam? Bisa tidur di bus?”, tanya mas Rizal saat aku tiba di ruang keluarga. Aku melihat sudah tersedia teh hangat dan beberapa macam kue yang di hidangkan di meja makan. Ruang keluarga dan ruang makan memang menjadi satu dalam sebuah ruangan besar.

“Bisa sih mas, tapi tetep aja berasa juga capeknya, pegel, hehehe.”

“Ya udah, hari ini kamu istirahat dulu aja, mulai bantu bantu kerjanya besok aja. Oiya diminum dulu tuh teh manis dah di buatin tadi sama mba mu.”

“Iya mas, eh mba endang mana mas?”

“Tuh di kamar Tiara lagi bangunin bocahnya, dibiasain bangun pagi tapi susah”

“Ya wajar sih mas, anak kecil hehehe.”

Aku lalu duduk di meja makan dan meminum teh manis serta makanan kecil yang ada.

“Gimana? Udah tentuin belum mau lanjut dimana?” tanya mas Rizal lagi.

“Hehe, belum mas. Tapi nyari yang murah murah aja, yang terjangkau.”

“Ya jangan yang murahan juga, lihat kualitasnya juga, masalah biaya tenang aja ga usah dipikirin, yang penting kamu rajin di sini.”

“Iya tuh, dengerin mas mu, masalah biaya kamu ga usah mikirin. Yang penting kamu rajin dan mau bantu bantu di sini,” ucap mba endang yang baru keluar bareng tiara. Aku pun hanya tersenyum mengiyakan ucapannya.

“Eh ada om iaaaan”, teriak Tirara. Tiara yang melihat aku langsung berlari ke arah ku dan duduk di pangkuan ku.

“Eh tiara udah bangun. Mau sekolah ya? Sekolahnya pinter ga?”, tanya ku.

“Pinter dong om, dapet bintang 5 terus, hehehe,” jawabnya membanggakan diri.

“Wuiiih, ponakan Om ini memang hebat,” puji ku kepada nya sambil mengusap lembut kepalanya. Anak ini selalu membuat ku gemas. Terakhir ketemu lebaran tahun lalu.

Akhirnya setelah berbincang bincang dan bercanda dengan tiara sebentar, aku dipersilahkan untuk istirahat. Aku pun ke kamar. Mas Rizal sepertinya juga akan segera pergi untuk cari objekan. Mba Endang juga seperti biasa akan melakukan pekerjaan rumah tangganya termasuk menyiapkan keperluan sekolah tiara.

Aku merebahkan badan ku di pembaringan. Akhirnya, jadi juga aku merantau ke kota ini. Aku harus kuat. Ga boleh males lagi. Harus bisa bantu-bantu apapun yang bisa aku bantu. Pekerjaan rumah pun akan aku lakukan. Aku tidak mau hidup gratis di sini. Begitulah tekad ku pagi ini. Sekaligus menyemangati diri ku sendiri.

Pandangan ku menerawang ke atas. Melihat langit langit kamar. Tiba tiba terbayang wajah seseorang. Seseorang yang selama ini mengisi hati ku. Yang selalu menyemangati ku.

Bahkan ketika aku harus meninggalkannya, dia tetap memberikan dukungan kepada ku, karena dia sadar ini adalah demi masa depan ku, dan mungkin masa depannya juga, bila kami berjodoh tentunya. Selain kedua orang tua ku, dia lah salah satu alasan ku berat meninggalkan kampung halaman ku.

Lagi apa ya dia. Kabarin sekarang apa ntar ya? Entar aja deh. Mata ku sudah terlalu capek. Tak sadar aku pun terlelap dalam tidur ku. Tapi sebelum itu aku masih sempat membatin, berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Engkau memudahkan segala jalan yang aku tempuh. Aamiin.

Di Atas Langit Masih Ada Langit, Kita Di Bumi Kenapa Harus Meninggi?​

Satu hari setelah kedatangan ku di jakarta, aku mulai diajari sama mas rizal bagaimana cara pembuatan hardcase. Prosesnya ternyata cukup panjang, tapi tidak terlalu ribet menurut ku.

Mulai dari memotong triplek sebagai bahan dasarnya, merangkainya menjadi kotak sesuai ukuran, hingga melapisinya dengan kain sebagai finishing. Semua diajarkannya pada ku dengan sabar. Untungnya aku cepat menangkapnya, jadi sekali dua kali diajari langsung ngerti.

Mas Rizal sebenarnya memiliki dua pegawai lepas yang dipanggilnya kalau lagi ada orderan saja. Orang sekitar sini juga. Tapi karena sekarang orderan lagi sedikit, dan ada aku juga, maka mereka tidak dipanggil. Gantinya, akulah yang mengerjakannya.

Sempat terfikir oleh ku, kalau ceritanya seperti ini apakah sama saja aku ngambil rezeki orang? Sempat ada perasaan tidak enak. Tapi, bagaimana kita bisa bertahan di kota jakarta yang keras ini kalau kita tidak ambil setiap peluang yang ada?

Yang penting aku tidak ngrampok, aku tidak nyuri, dan aku tidak nipu, maka itu sah-sah saja. Dan itulah pesan yang diberikan mas Rizal kepada ku.

Hari ini hari sabtu, kebetulan mas Rizal tidak akan pergi kemana mana. Tidak ada urusan yang penting katanya. Jadi seharian ini full ngajarin aku bagaimana membuat hardcase dari awal hingga akhir. Dan alhamdulillah, meskipun belum sebagus yang lain, aku sudah bisa melakukannya.

“Tinggal dirapihin aja, dan dicepetin aja kerjanya,” itu lah komentar yang diberikan mas Rizal tadi.

Saking asiknya mengerjakan hal baru yang menyenangkan ini, tak terasa hari sudah menjelang sore. Kenapa pekerjaan ini menurut ku menyenangkan? Karena setiap prosesnya membutuhkan perhitungan dan ketelitian yang memang aku cukup tertarik dengan hal itu.

Mulai dari mengukur triplek dan bahan lain yang di butuhkan, hingga menghitung perkiraan berapa banyak bahan yang digunakan, semuanya membutuhkan ketelitian dan aku sangat menyukainya. Entahlah, ada semacam kepuasa tersendiri ketika aku bisa mengerjakannya dengan sempurna.

“Kamu ambil arsitek aja ian, itu ukuran dan gambar yang kamu bikin akurat banget, cocok itu buat kamu. Apalagi kamu kalau itung itungan cepet kan?” saran mas Rizal tadi.

“Ah, belum tau mas, liat nanti deh, hehe, lagi pula mahal kan kuliah arsitek?” balas ku.

“Dibilangin ga usah mikirin biaya,” ucapnya lagi dengan muka agak sewot tapi aku tau dia tidak bermaksut begitu.

“Iya mas, nanti aku pikirin lagi, hehe,” balas ku sambil nyengir.

Rasanya senang sekali hari ini. Ternyata seperti ini rasanya cari duit. Capek, pasti. Apalagi ini termasuk pekerjaan kasar. Panas, keringetan, jelas. Tapi gak tau kenapa aku sangat menikmatinya.

Bahkan mba Endang sampai menyuruh ku dua kali untuk istirahat makan siang. Yang pertama aku mengacuhkannya karena saking asiknya. Yang ke dua, tentu aku tidak mau durhaka dengan tidak mendengarkan perintah kakak ku sendiri, walau sebenarnya aku juga sudah mulai lapar.

Tiara? Beberapa kali dia menghampiri ku dan ayahnya untuk sekedar bercanda. Kadang juga dengan usilnya dia malah mengganggu pekerjan kami, tapi kami tidak menanggapinya serius, justru malah menganggapnya sebagai hiburan dan sebagai obat capek kami.

Oiya, Hari ini dia libur sekolah. Seperti kebanyakan sekolah di kota, hari sabtu mereka libur. Beda dengan di kampung yang biasanya masuk hingga sabtu.

Sore harinya, setelah dirasa cukup, mas rizal menyuruh ku untuk menghentikan pekerjaan ku dan di lanjut besok lagi. Katanya yang order kali ini tidak buru buru. Kalau kebetulan pelanggannya santai seperti ini enak, kita jadi tidak dikejar waktu.

Tapi kalau lagi banyak order dan yang order memberikan target barang harus dikirim kapan, tidak jarang mas rizal dan pegawainya mengerjakan hardcase ini hingga tengah malam. Dan sepertinya aku juga harus bersiap-siap begadang sampai tengah malam bila nanti mendapatkan pelanggan dengan karakter seperti itu.

Begitu masuk rumah aku mendapati mba Endang sedang nonton tv berdua dengan Tiara di ruang keluarga. Iseng aku ikut bergabung dengan mereka. Mas Rizal, lagi ngerokok kayaknya tadi.

“Gimana Ian pekerjaannya? Kamu nikmatin ga?” tanya mba endang.

“Nikmatin mba, seru, hehe,” jawab ku.

“Nah gitu, aku ga ngelarang kamu mau kerja atau belajar cari duit, tapi sekali pesen ku ya ian, kamu harus lanjut sekolah, aku mau kamu jadi orang sukses nantinya. Bahagiain bapak ibuk di kampung. Ya!! Ngerti kan maksud ku,” pesannya lagi.

“Hehe, iya mba ngerti,” balas ku sambil nyengir. Tiba tiba pandangan ku beralih ke Tiara yang sadar ga sadar ternyata memperhatikan ku dari tadi.

“Eh, Tiara kok liatin om gitu sih?” tanya ku bingung.

“Om ian jeleeek, dekil, bau acem, hihihi,” ejeknya sambil tertawa cekikikan.

Setelah aku perhatikan, badan ku emang dekil banget sore ini. Tapi wajar sih, setelah apa yang aku kerjakan seharian ini. Rese juga nih bocah, kalau ngomong sekenanya. Mirip banget sama bapaknya. Haha.

“Hahaha, kamu tuh yang bau aceeeem, belum mandi kan weeeek,” balas ku bercanda. Dia balas menjulurkan lidahnya.

“Hus, tiara!! ga boleh ngomong gitu ah sama om nya, ga sopan,” tegur mba Endang sambil melotot. Tiara hanya tertawa menanggapinya.

“Ga apa apa kali mba, namanya juga anak kecil, ya kan tiara?” bela ku ke keponakan ku satu satunya itu.

“Iyaaa oommmm…haha…tapi om beneran jeyeeeek deh hihihi,” ucapnya lagi.

Aku tertawa mendengarnya. Hahaha. Bener-bener deh ini bocah. Udah dibelain tapi masih aja ngeledekin. Mba Endang hanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku anaknya itu.

Bahagianya mba ku yang satu ini. Punya suami yang penyayang. Anak yang lucu. Keluarganya sudah sempurna. Aku kapan ya? Haha, kerja aja belum udah mikirin keluarga.

Selepas bercanda dengan mba endang dan tiara, aku melanjutkan kegiatan ku sore itu dengan menyapu dan ngepel rumah. Ya, seperti tekad ku sebelumnya bahwa aku tidak mau hidup gratis di sini, maka sebagiam pekerjaan rumah aku yang kerjakan.

Setelah berdebat singkat, aku kebagian jatah nyapu, ngepel dan mencuci piring plus segala peralatan dapur yang kotor lainnya.

Awalnya aku hanya diberi tugas nyapu dan ngepel saja. Tapi aku ngotot untuk mencuci piring juga. Kalau nyuci baju, masing masing. Dan tidak mungkin juga aku nyuci pakaian dalam mba Endang. Masak, sudah jelas itu tugas utama mba Endang. Kita semua tinggal makan enak saja.

***​

Setalah makan malam, aku pergi ke warnet dekat rumah untuk mencari informasi seputar kampus yang dekat dengan daerah rumah mba Endang ini, dan yang terjangkau juga pastinya.

Setelah browsing sana sini akhirnya aku mendapatkan dua alternatif yang menurut ku lumayan. Paling tidak akreditasinya “A” dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal per semesternya. Tidak lama setelah itu aku langsung pulang dan menunjukkannya pada mas Rizal dan mba Endang.

“Nih aku dapet dua, ga terlalu jauh dua-duanya, kisaran biayanya juga ga beda jauh, gimana menurut mas Rizal sama mba Endang?” tanya ku pada mereka berdua. Saat ini kami sedang santai nonton tv di ruang keluarga.

“Aku sih ga ngerti gitu-gituan, kamu atur aja deh Ian, menurut mu gimana mas?” tanya mba Endang.

“Sama aku juga ga ngerti, kamu tau sendiri kan kita sama-sama ga kuliah, haha,” canda mas rizal.

“Bener kata mba mu Ian, kamu atur aja. Atau…kalau ga kamu survey aja dulu ke masing masing kampusnya. Lebih cocok yang mana,” lanjutnya.

“Gitu ya?”

“Ya-iya, kamu lihat dulu suasana kampusnya, dari situ kamu pasti akan tau mana yang lebih cocok.”

“Ngomong ngomong pendaftarannya ditutup kapan?” tanya maa rizal.

“Ehmmm…masih dua mingguan lagi sih mas.”

“Ya udah, senin nanti kamu coba survey, sekalian muter muter biar tau jalan. Nanti kalau ada orderan hardcase dan kebetulan aku lagi ga bisa ngukur kamu bisa dateng buat ngukur,” saran mas Rizal.

“Ya udah kalau gitu, nanti aku survey dulu. Oiya, Tiara mana?” tanya ku yang tidak melihat Tiara sejak tadi.

“Tuh udah molor, kecapekan kali seharian main mulu kan bolak balik ke samping?” ucap mba Endang.

“Hehe, iya bolak balik mulu ke samping, ngerusuhin mulu tapi seru jadi rame hehe,” balas ku.

Kehadiran tiara seharian tadi memang cukup memberikan keceriaan. Tawa dan kejahilannya seolah mampu menghapus setiap lelah dan letih yang aku rasakan, dan mas Rizal juga tentunya.

Setelah berbasa-basi sebentar, aku pamit ke kamar untuk istirahat, mas Rizal dan mba Endang sepertinya lagi pengen berduaan, meskipun mas Rizal tadi sempat melarang ku.

“Baru jam segini masa udah mau ngamar sih?” candanya.

“Hehe, ngantuk mas, mau rebahan dulu,” balas ku.

“Ya udah sana, aku mau pacaran dulu sama mba mu, haha”, godanya ke mba Endang.

“Iiih, apaan sih mas, malu tau…”, ucap mba Endang tersipu sambil mencubit pingang mas Rizal. Aku hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebahagiaan mereka berdua. Aku pun langsung masuk ke kamar.

Senang rasanya melihat keluarga kecil ini bisa terus bahagia. Meskipun dengan segala kesederhanaannya, mereka tetap bisa saling melengkapi, saling menyayangi, saling bercanda dan saling tertawa. Aku kapan ya? Haha, muncul lagi pikiran itu. Entahlah kapan, mungkin hanya Allah Tuhan semesta alam yang tau akan suratan takdri ku.

Setelah merebahkan tubuh ku ke kasur, iseng aku membuka ponsel ku untuk sekedar melihat lihat. Ternyata ada beberapa SMS masuk.

From: De Binar said:
Piye mas? betah ga di kota? Eh iya, aku tadi sore ketemu mba Diah lho, dia nanyain kamu, hihihi, tega sampeyan mas anak orang ditinggalin gitu aja haha…

Aku tersenyum membaca sms dari binar. Diah nanyain aku? Jadi tidak enak hati sebenarnya. Tapi aku yakin pertanyaannya itu pasti hanya basa-basi karena kemarin sebelum berangkat dia sendiri yang menyemangati aku untuk pergi ke kota Jakarta ini.

Dan kemarin waktu aku kabarin kalau aku sudah sampai di Jakarta pun balasan SMS nya juga baik baik saja.

Diah Nawang Wulan. Satu pesan dari nya yang selalu aku ingat, “Kalau udah sukses, jangan lupain aku ya”. Aku juga berharap bisa segera sukses dan kembali ke kampung halaman lalu mempersunting mu Diah, menjadikan mu nyonya Alfian. Dan semoga kamu juga sabar menunggu ku. Ah, pikiran ku malah jadi kemana mana lagi.

Sesaat kemudian aku langsung membalas sms dari Binar.

From: De Binar said:
Alhamdulillah kabar baik de, kamu apa kabar? Bapak ibuk apa kabar? Mas Yoga? Sehat-sehat semua kan? Mba Diah nanyain aku? Wajar sih, namanya juga orang paling ganteng se Womosari, pasti banyak yang nanyain, haha…

Setelah membalas sms Binar dengan sedikit bercanda, iya bercanda karena jangan kan se Wonosari, se RT pun aku belum tentu yang paling ganteng, hahaha, aku cek inbox lagi dan ternyata ada sms dari mas Yoga juga.

From: Mas Yoga said:
Piye bro? telung dino nang kuto wes oleh wedokan urong? Ndang balio, iki bebek bebek ku podo kangen karo awak mu, haha…

(Gimana bro? 3 hari di kota udah dapet cewek belum? Cepetan balik, ini bebek bebek ku pada kangen ama kamu haha)

Hahaha. Aku tertawa membaca sms dari mas yoga. Dia kalau ngomong memang suka asal. Duh, jadi makin kangen sama kampung, padahal baru juga tiga hari. Langsung ku bales saja sms dari nya.

To: Mas Yoga said:
Akeh mas, ayu-ayu lho. Mangkane dolan merene ben reti ayune perawan kuto! Eh, tapi emang wani karo mba Laras? Hahaha…

(Banyak mas, cantik cantik lho. Makanya maen sini biar tahu cantiknya cewek kota! eh, tapi memang berani sama mba laras? Hahaha)

Aku ganti meledeknya. Aku tau pasti kalau mas Yoga itu emang paling takut sama pacarnya, Larasati. Aku biasa manggilnya mba Laras. Sebenernya bukan takut sih, tapi lebih ke sayang banget. Mungkin itu juga alasan dia ga mau ninggalin kampung. Entahlah.

Yang pasti hubungan mereka sudah sangat dekat. Kedua orang tua kami pun juga sudah sama-sama setuju. Mungkin tinggal tunggu waktu saja mereka berdua akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Aku harap secepatnya.

Terakhir ada sms juga dari diah. Aku senyum senyum sendiri dan langsung membukanya.

From: My Diah said:
Gimana hari ini? Jadi bantu-bantu kerja? Semangat ya. Jangan lupa jaga kesehatan juga ya… Hehe ^_^

Jujur aku sangat senang sekali mendapatkan perhatian darinya. Walaupun hanya lewat sms, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar mengobati kekangenan ku kepadanya. Ya Tuhan, semoha engkau memudahkan dan melancarkan setiap usaha hamba mu ini. Aamiin. Lagi dan lagi aku memanjatkan doa agar usaha ku ini di berikan kemudahan.

Tidak menunggu waktu lama, aku langsung membalas sms dari diah.

To: My Diah said:
Jadi dong, dan Alhamdulillah lancar. Makasih ya untuk semua doa nya. Kamu juga jaga kesehatan. Salam buat keluarga di sana.

Begitulah aku membalas sms nya. Diah Diah Diah. Bayangan wajahnya muncul terus di pikiran ku. Aku janji, aku akan segera kembali. Untuk mu.

Tak terasa waktu semakin malam. Mata ku juga sudah semakin berat. Lebih baik aku tidur. Sms ku belum tentu akan di balas malam ini juga karena aku tau kebiasaan warga kampung jam segini biasanya sudah pada tidur. Jadi lebih baik aku tidur sekarang juga.

***​

Berbekal petunjuk rute angkot yang aku peroleh dari orang kampus yang sebelumunya aku telephone, aku tidak tau jabatannya apa, bagian informasi mungkin, pagi menjelang siang ini aku kunjungi dua universitas yang menjadi pilihan ku. Sesuai saran mas Rizal, aku akan melihat dulu lingkungan kampusnya seperti apa sebelum menentukan pilihan. Semoga tidak nyasar.

Mas Rizal awalnya mau mengantar ku. Tapi mba Endang melarang. Katanya aku kan laki laki. Biarin aja aku usaha sendiri. Kalau tidak usaha sendiri kapan aku bisanya. Aku tau mba endang memang keras terhadap ku, tapi itu semata mata agar aku bisa mandiri. Lagi pula aku juga ga mau merepotkan mas rizal. Ya sudah akhirnya jalan sendiri.

Setelah sekitar satu jam lamanya berada di dalam angkot, akhirnya aku tiba di kampus yang pertama. Pertama-tama aku kelilingi seluruh sudut kampus yang ternyata tidak terlalu luas ini.

Aku perhatikan lingkungannya, sekaligus semua fasilitasnya, termasuk kantinnya, karena bagaimanapun juga kalau kantinnya tidak nyaman, maka makan siang ku di kampus nanti juga bakalan tidak akan nyaman, ujung-ujungnya kuliah ku juga bisa jadi bakalan tidak nyaman, yang bisa jadi juga akan berpengaruh ke prestasi kun anti, hahaha, terlalu panjang analisa ku.

Dan terakhir aku kebagian informasi mencari tau seluk beluk kampus secara lebih detail. Dan yaaah, pada akhirnya aku sudah tau gambarannya secara langsung dan. Sekarang waktunya meluncur ke kampus yang ke dua.

Begitu sampai di lokasi, sama seperti yang pertama tadi, aku melihat lihat kondisi sekitar. Secara umum tidak jauh berbeda. Hanya saja di sini lebih tenang suasananya. Aku banget nih pikir ku. Langsung aku ke bagian informasi dan pendaftaran.

Saat aku masuk kedalam ruang ber AC itu, aku melihat ada beberapa anak muda seusia ku yang sepertinya juga calon pendaftar.

“Pagi mas, ada yang bisa di bantu?” sapa seorang petugas yang berada di belakang meja. Ramah sekali orangnya. Masih muda juga.

“Ini mas, eh pak, saya mau nanya nanya nih soal pendaftaran, sekalian tolong di jelasin juga untuk detail biaya kuliahnya,” ucap ku.

“Oh, jadi gini mas…”

Petugas itu mulai menerangkan dengan detailnya. Mulai dari apa saja syarat-syarat yang dibutuhkan, biaya perkuliahan, kegiatan diluar perkuliahan, hingga jam perkuliahan. Semuanya di jelaskan dengan sangat jelas.

Setelah di rasa cukup jelas, petugas itu menyuruh ku menunggu sebentar karena kebetulan stock formulir pendaftaran habis dan dia akan mengambil dulu ke belakang. Aku pun berjalan ke arah bangku untuk duduk dan menunggu.

Ku lempar pandangan ku ke deretan bangku yang berjajar dengan rapi yang di sediakan untuk para calo mahasiswa baru seperti ku ini. Terlihat beberapa orang duduk di sana, baik yang seumuran maupun yang sudah setengah baya, mungkin mereka adalah keluarga si calon mahasiswa.

Sebentar lagi aku akan jadi anak kuliahan. Pikir ku dalam hati. Sedikit bangga juga karena di kampung ku sana hanya beberapa saja anak-anak muda yang bisa atau mau lanjut kuliah.

Kenapa aku bilang begitu? Karena selain biaya, ada juga beberapa teman ku yang sebenarnya mampu untuk kuliah, meskipun bukan di kampus yang bonafit, masalahnya kebanyakan dari mereka malas dan enggan untuk lanjut kuliah.

Kalau ga langsung kerja, ya paling garap sawah. Yang cewek-cewek paling langsung nikah. Aku sekarang memiliki dua-duanya. Biaya, ada. Semangat, alhamdulillah masih menggebu. Aku harus memanfaatkannya dengan sebaik baiknya.

Lumayan lama juga aku termenung. Mas nya tadi juga belum balik. Pandangan ku tiba-tiba tertarik ke arah samping ku. Seorang wanita, cewek, perempuan, apapun istilahnya, yang jelas manusia yang duduk di samping ku ini adalah sebangsanya yang mampu menarik perhatian ku.

Karena kalau laki-laki, tentu aku tidak akan perduli. Aku perhatikan dia lebih detail. Awalnya dia tidak sadar. Tapi lama-lama sepertinya dia sadar dan mungkin agak risih juga. Iseng aku membuka pembicaraan.

“Mau daftar juga ya mba?” tanya ku dengan agak ragu namun aku paksa dengan se percaya diri mungkin.

Dia tidak langsung menjawab tapi malah menatap ku dengan pandangan sinis. Matanya melotot, lidahnya menjulur, eh enggak, tidak pakai menjulur, seram amat, hehehe. Tapi yang jelas pandangannya sangat tidak bersahabat dan tidak suka dengan sikap ku yang sok dekat kepada nya. Si mba-mba ini kemudian sedikit menggeser duduknya menjauh.

“Menurut lo?” jawab nya dengan sebuah pertanyaan yang kasar bagi ku.

Waduh…salah nanya nih kayanya aku. Atau memang semua orang kota begitu ya sikapnya? Manis sih orangnya, tapi kok jutek gitu. Akhirnya aku hanya bisa nyengir, ga tau harus menjawab apa. Kembali memalingkan pandangan ku ke arah depan dan berharap kejadian beberapa saat tadi sebenarnya tidak terjadi.

Untung tidak lama setelah itu mas-mas petugas tadi sudah balik dan menyelamatkan nasib ku dari momen tidak enak ini. Sedangkan mba-mba di samping ku tadi sepertinya juga sudah selesai mengisi kertas entah apa itu.

Form pendaftaran? Mungkin. Dia bangkit dan meninggalkan ku begitu saja, berjalan ke arah petugas tadi. Dasar orang kota. Ga punya sopan santun pikir ku. Pamit kek atau apa gitu basa-basi. Pamit? Situ siapa Alfian, hahaha.

Setelah itu petugas tadi memberiku isyarat kalau form pendaftarannya sudah ada dan siap untuk aku isi. Aku pun langsung mengisinya dengan teliti. Di ruang itu sebenarnya masih ada beberapa calon pendaftar lagi. Cewek maupun cowok. Tapi tidak aku pedulikan lagi. Selain takut, aku juga bodo amat. Dari pada dijutekin lagi kaya tadi. Males banget pikir ku.

Setelah selesai mengisi formnya, aku langsung menyerahkannya ke mas petugas. Aku lalu diberi sebuah kertas kecil berupa jadwal tes untuk menentukan grade ku yang akan berpengaruh pada biaya kuliah nanti. Selain itu aku juga di beri list persyaratan yang harus dilengkapi, copy ijaza, pas foto, dan temen temennya yang bisa aku bawa pas tes nanti.

Setelah itu aku langsung pulang karena tidak tau mau kemana juga. Teman juga belum punya. Tapi saat jalan keluar dari area kampus, aku mampir dulu ke warung untuk beli air mineral.

“Air mineralnya satu bang yang botol sedang,” ucap ku sambil merogoh saku celana

Mas nya lalu mengambilkan satu plus sedotan dan kantong plastik kecil. Tapi aku menolak kantong dan sedotannya karena tidak memerlukannya. Aku dari dulu memang kalau beli sesuatu ke warung atau mana pun selama bisa tanpa kantong plastik, aku tidak pernah meminta kantong plastik.

Karena hanya akan memperbanyak limbah plastik saja menurut ku. Dan itu tidak akan baik untuk lingkungan.

“Nih mas.”

“Berapa?”

“4 ribu.”

Aku lalu menyerahkan 2 ribuan dua lembar. Abangnya menerimanya dengan tersenyum ramah.

“Mas nya baru ya di sini?” tanya nya tiba tiba.

“Kok tau bang?”

“Keliatan dari logat nya, hehe,” jawabnya.

“Baru daftar?” tanyanya lagi.

“Loh kok tau lagi?” tanya ku dengan polosnya.

“Iya baru liat ini kayanya, saya sudah 15 tahun jualan di sini, jadi hampir hafal muka-muka mahasiswa yang lewat depan sini,” lanjutnya.

“Owh gitu toh,” aku lalu menenggak air mineral dalam botol itu.

“Mas nya dari daerah mana memangnya,” tanya nya lagi. Ni abang-abang banyak nanya ya pikir ku. Tapi tidak apa-apa juga sih, paling tidak dia ramah kepada ku.

“Jogja bang, abangnya? Kayanya bukan asli sini ya?” iseng aku menebak.

“Walaaah, lha gene tonggo. Aku sleman, sampeyan jogjane pundi mas?”

(Walah, ternyata tetangga. Aku sleman, anda jogjanya dimana mas?)

“Wonosari mas, sampeyan slemane pundi?” tanya ku balik.

(Wonosari mas, anda slemannya mana?)

“Aku nang maguwoharjo, dolano nek muleh kampung. Mengko tak pek ke salak, haha,” canda mas-mas itu.

(Aku di maguwoharjo, main lah kalau pulang kampung, nanti aku petikin salak, haha)

Ternyata mas-mas ini orang sleman. Pantes sikapnya khas banget orang daerah. Setelah berbasa basi sebentar aku lalu pamit pulang. Tapi sebelumnya kami sempat bertukar nomer hp. Katanya kalau ada masalah atau apa apa di daerah sini kasih tau dia saja. Sesama perantauan harus saling membantu tambahnya.

Lumayan lah dapet satu kenalan baru. Meskipun awalnya tadi dapat kesan pertama yang tidak enak dari mba-mba judes itu. Ga apa-apa lah temenannya sama mas-mas tukang warung. Yang penting orangnya baik, ramah dan sopan.

Singkat cerita aku sudah sampai rumah. Walaupun perjalanan tadi tidak singkat singkat amat. Macet hampir dari ujung keujung. Bisa stress nih lama lama. Beda banget sama di kampung. Tapi aku ga boleh ngeluh, harus tetap semangat.

Setelah makan dan istirahat sebentar, aku lalu ke halaman samping untuk melanjutkan pekerjaan ku. Membuat hardcase. Alhamdulillah ada saja orderan satu dua biji. Untuk sementara cukup lah buat ongkos ke kampus dan beli pulsa, pikirku.

Ya, aku harus belajar mandiri. Apapun akan aku kerjakan. Yang penting halal. Ya Tuhan, Semoga Engkau Melancarkan Usaha hamba Mu. Doa yang selalu aku panjatkan.

[Bersambung]