Hidup di Jakarta Part 61

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 61

Start Hidup di Jakarta Part 61 | Hidup di Jakarta Part 61 Start

Spesial Episode

Seorang laki-laki, berkaca mata, sedang gelisah, sendirian, dimalam hari.
Laki-laki, itu bernama,
Raditya Haryanto.

(Stop-stop. Apa-apaan, ini? Kenapa ada karakter, lain, yang jadi sorotan selain gw? Gw mau dikudeta?)
(‘Lah, elo kan, udah asik, sendiri. Jadi kita peke temen lo, aja, yang masih usaha mendapatkan hati gebetannya’)
(“Tau, lo, Ge. Udah diem, aja”)

(Hohoho, kagak bisa gitu, boy. Orang gw pemeran utamanya. Masa di ganti)
(“Ini, spesial episode, bro”)

(Tetep, aja. Gw harus hadir, dong. Apalagi, spesial episode)
(‘Oke kalau, gitu. Povnya tetep elo, tapi ceritanya Radit. Gimana, deal?’)

(Lah, berarti gw, jadi melihat setiap kehidupan Radit, dong?)
(” ‘ iya, betul sekali ‘ “)

(Kayaknya seru. Gw boleh, jadi suara ajaib juga, nggak?)
(“Yah, liat nanti, deh, Ge”)

(Tapi, nggak aneh, bro, jadinya?)
(‘Biar, aja. Namanya juga cerita’)
(Oke, deh)
——————————————

Oke pov kembali milik gw, HaHaHaHaHa.
Mari kita ubrak-abrik, kehidupan si Radit.

Menuju, Radit!

“Stefi sebenarnya gw suka sama, elo. Lo mau, nggak jadi pacar, gw?” Si Radit, lagi menyusun kata-kata, yang tepat, buat nembak, Stefi.

“Ah, jelek-jelek”

Ya, elah, belum di jajal, udah, patah semangat.
Kok, baru sebentar jadi narator cerita, lo, gw udah pesimis, ya.

“Ah, tidur dulu, lah” kata si Radit.

Nah, iya tidur dulu. Sapa tahu, dapet, pencerahan.

Lah, sekarang, berarti, gw ngeliatin orang tidur? Wah, asem.
Eh, dia belum tidur.

“Stefi! Oh, Stefi!”

Anjrit! Oi, author, masa gw harus narasiin, si Radit, coli! Wah, bangke, lo. Udah, ah. Skip-skip. Najis gw.

‘Meong-meong’
Rekan duet Barton, jatuh sakit. Jadi hanya Barton, yang bersuara di pagi hari.
Kalau, tidak salah, rekanya sedang flu.
Lah, flu burung, dong.

“Huamm. Sejak kagak, ada Gege sama Monique, ini kost-kostsan, jadi sepi. Biasa pagi-pagi, udah rame” kata Radit, ketika baru bangun tidur.

Lalu Radit, keluar kamar menuju, ruang makan.

“Hai, Dit. Baru bangun?” Tanya Stefi.

Ayo, bos, ini kesempatan.

“Eh, iiii……ya, baru”
Yah, pake salting, lagi.

“Yuk, sarapan. Nggak seenak, bikinannya Monique, sih. Tapi, layak, kok. Gw panggil anak-anak, yang lain dulu, ya” kata Stefi.

“Iya, silahkan” jawab Radit.

“Aduh, gw dek-dekkan, banget” kira-kira, itulah, pikiran Radit. Ternyata gini, toh, rasanya, menceritakan cerita orang.

“Oi, Dit! Melamun aja, lo. Sadar, jangan bengon. Ntar kesambet, nyaho, lo” kata Kevin.

“Ah, nggak, gw lagi, berpikir” jawab Radit.
“Mikir apa, lo? PDKT, ya?” Tanya Alex.
“Ya elah, gitu, dipikirin. Mendingan ikut kita abis ini. Kita jalan-jalan” kata Boni.

“Nggak, gw mikirin yang, lain” kata Radit.

Yee, boong. Orang gw tahu, lo mikirin, apa.

“Udah, ikut, aja” kata Kevin.
“Ya, udah. Sarapan dulu tapi” jawab Radit.

Lalu, merka sarapan. Hah, gw jadi ikut laper.

Setelah, mereka semua siap, mereka pergi, entah kemana.
Tunggu-tunggu, ini kearah rumah, gw. Ada apa, ini?

Dan, bener aja, mereka kerumah, gw. Waduh, gw lagi sibuk, nih.
Gw siap-siap, dulu, deh.

“Gege!” Teriak mereka.
“Kenapa?” jawab gw.
“Nah, orangnya ada. Suruh masuk, napa” kata Alex.
“Nggak, diluar aja” kata gw.
“Et, dah, sombong lo. Udah, masuk, aja. Jangan pedulikan mahluk, ini” kata Kevin.
Main masuk, aja, lo coy.

Lalu mereka duduk, di ruang tamu.

“Bini, lo ada, men?” Tanya Boni.
“Nggak, lagi, keluar, sama Cathy dan emaknya” jawab gw.

Btw, si Cathy udah, nggak ngekost lagi, dia tinggal bareng mama Susi dan bokap, gw.
Kadang-kadang, nginep dirumah gw.

“Nah, begini, bro. Temen kita Radit mau, nembak Stefi hari ini juga. Bisa lo bantu, nggak?” Kata kata Alex.
“Eh. Nggak” kata Radit.
“Udah, tenang aja, Dit” kata Kevin.

Hmmm. Baik kalau, gitu.

“Ayo, kita duduk, dilantai. Kevin, ambilin gw gelas, berisi air” kata gw.
“Siap” kata dia.

“Nah, elo, Dit, duduk di depan gw” perintah gw.

Dia menuruti, perintah gw.

“Nih, Ge, airnya” kata Kevin.
“Makasih”

Lalu gw bacakan mantra, dia air itu.
Gw komat-kamit, lalu gw kumur-kumur.

‘Burrrrrrrrrrr’
Gw sembur airnya, ke wajah, Radit.
“Anjrit, apaan, nih?” Kata dia.
“Supaya, elo siap, men” kata gw.
“Siap, apaan?”
“Siap, seandainya elo, ditolak” jawab gw.

“Huawaahahahahahahahaha” mereka bertiga, tertawa.
“Bangke lo, Ge. Gw pikir elo, nikah, jadi bener. Nggak tahunya, tambah parah” kata Alex.

“Wah, sialan, lo” kata Radit.
“Ya, lagian, kita mau ngapain juga, Kalo, elonya takut, buat, apa? Mending minta di jodohin, aja” kata gw.

“Nih, gw telpon si Stefi, ya. Gw ajakin ketemu, elo” lanjut, gw.
“Eh, jangan. Gw,malu” kata dia.
“Malu. Emang, lo nggak pake baju” kata Kevin.

“Udah, dengerin saran, gw. Elo, ajak si Stefi makan. Yang bagus, tapi. Terus lo, tembak. Kan, abis lo tembak, dia mati. Nah, jasadnya, lo kawinin” kata Alex.
“Hehehe, ide bagus juga, tuh, bro. Setidaknya nggak mungkin ditolak” kata gw.
“Kok, bisa, ya, gw temenan sama, orang kayak, lo pada” kata Radit.

“Jangankan, elo, Dit. Gw ditinggal nikah, mantan, aja, jadi bahan mereka bertiga. Mereka bertiga, kagak punya hati. Bayangin aja, temennya susah, mereka malah main judi, terus mikirin dangdutlah. Ada aja, maunya. Cuma mereka, belum ketahuan, aja, problemnya. Jadi masih seenaknya” kata Boni.

“Hah, gw dengerin, curahtan jomblo. Kasian” kata gw.
“Huawaahahahahahahahaha” tawa Kevin dan Alex.

“Wah, parah lo, pada. Go fuck yourself!” Kata Radit.

Lalu Alex, mencopot celananya.

“Mau, ngapain, lo?” Tanya gw.
“Lah, tadi kata Radit, suruh fuck yourself. Berartikan, coli” jawab dia.
“Huwahahahaha” tawa gw dan Kevin.

“Anjrit, lo, Lex” kata Radit.
“Tuhkan, Dit. Mereka bertiga, kagak punya perasaan. Pada jahat-jahat”

Hah, kangen juga, sama perkumpulan batalion, ini.

Dan, istriku, cintaku, sayangku, separuh hidupku, belahanjiwaku, pengisi hatiku, tulang rusukku, teman hidupku, mimpi indahku, Presidenku, menelfon.

Monique: “halo, Yang”
Gw: “iya, halo”
Monique: “Si Cathy ngajakin ngumpul, sama anak kost. Kamu mau ikut, nggak?”

Wah, tepat sekali waktunya.

Gw: “iya, boleh, yang. Anak-anak laki, lagi pada disini juga, kok”
Monique: “oh, sip, deh. Ditunggu, ya”
Gw: “iya, bye. Luv you”
Monique: “Luv you, too”

Hii, senangnya, mendengar suara malaikat.

“Oy, om-om. Kita diajak ngumpul, nih, sama anak, kostsan lo, pada”
Kata gw.
“Ya, udah, ayo” kata mereka.

Kita semua, berangkat ke tempat, janjian. Gw nggak bawa mobil, karena si Monique, sudah bawa.
Biar pulangnya bareng.
Maklum pengantin baru. Pengennya berduaan.

Setelah, sekian lama, kita ngumpul, lagi. Ntah, sudah, berapa lama kita semua, tak berjumpa.
(Emang, selama itu, ya?)

Banyak hal, yang kita bahas. Dari kerjaan, suasana kost, sampe kehidupan pengantin baru.
Dan, gw di jelessin luar biasa, sama si Putri. Mungkin karena gw sekarang lebih kaya, dari dia.
Wahahahahahahahaha.

“Eh, gw cabut, duluan, ya. Ada, kerjaan numpuk, dikamar” kata Stefi, ketika, kita asik, ngobrol.

“Nah, kebetulan, si Radit, mau balik, juga, iya, kan, Dit” kata gw.
“Nggak” kata Radit.
“Lah, tadi lo ngomong sama, gw, katanya mau balik, duluan” kata Kevin.

“Lo, mau balik, Dit? Ya udah, bareng aja. Gw bawa mobil, kok” kata Stefi.
“Eh, oke, deh. Gw balik, duluan, ya” kata Radit, pamitan.

Hilanglah, Radit dan Stefi dari pandangan.

“Vin, maksud kamu, apa?” Tanya Monique.
“Abisnya, itu anak, kalau nggak digituin, kagak bersaksi. Diem, aja. Ujung-ujungnya, kita lagi, yang kerja” kata gw.
“Tau, Mon, itu anak, kagak mau usaha. Boro-Boro, mau diterima, nembak aja, kagak” kata Boni.

“Tapi, kan, kasian, kalau nanti ditolak” kata si Nia.
“Yah, namanya laki, harus siap ditolak. Mendingan usaha, dari pada diem, dong” kata Alex.
“Udahlah, biarin, aja. Mereka berdua udah dewasa, ini” kata Cathy.

Nah, itu baru adek gw.

(‘Oi, Ge. Inget, janji, lo. Ini cerita Radit’)
(Oh, iya, hampir kelupaan)

Kalau begitu, menuju, ke Radit.

“Lo, selama kerja, pernah punya klien yang aneh, nggak?” Tanya Stefi ke Radit, ketika sedang di mobil.

“Kalau yang aneh, doang, sih, banyak” jawab Radit.

Hmmm, sepertinya gw ketinggalan, cerita, nih. Lanjutkan perjuanganmu, anak muda. Ayahmu, akan bangga denganmu.

Didalam perjalanan, mereka banyak ngobrol. Suasananya, oke. Harusnya bisa diberdayakan.

Sampailah, mereka dikost.

“Yah, Dit, galonnya kosong. Pak, Yono, nggak ada lagi” kata Stefi, ketika dia mau minum.
“Ya, udah, biar gw yang angkat galonnya” kata Radit.

Nah, gitu, Dit, tujukan keperkasaan lo, sebagai laki-laki, yang sudah dewasa.

“Aduh-aduh……….. Shhhh, ahhh” teriak Radit.

Yah, ampun Dit, baru bungkuk doang, udah begitu. Lemah, lo, men.

“Kenapa, Dit?” Tanya Stefi.
“Pinggang gw, sakit banget” jawab Radit.
“Ya, udah. Nggak usah diangkat, deh. Sini, gw pijitin” kata Stefi.

Wah-wah, ternyata akal-akalan, lo hebat juga, Dit.

“Nggak usah, Stef” kata Radit, pake jual mahal.
“Udah, nggak papah. Ayo kekamar elo aja. Biar elo, sambil tiduran” kata Stefi.

Udah, embat aja, Dit.

“Ya, udah, deh” kata Radit.
Nah, gitu loh, bro.

Akhirnya si Stefi mijitin si Radit.
Jantungnya Radit sampe berdetak kencang.

“Ahhh, iya yang sebelah situ” kata Radit.
“Iya, berasa kok. Ototnya, rada keras” jawab Stefi.

Sampai akhirnya mereka selesai.

“Stef, makasih, ya” kata Radit.
“Iya, sama-sama”

Ayo, Dit. Sekarang kesempatan.
Mereka duduk, bersebelahan di kasur.

Dan suasana yang mendukung membuat mereka berpandangan. Hingga akhirnya terjadilah, hal yang sudah, ditunggu-tunggu Radit.

Yap, kiss-kiss in the lips.
Muach-muach.

Dan diluar dugaan gw, Stefi, ganas banget.
Gw jadi horny, lagi.
Bahaya, ini.

Tangan Radit mengarah, ke toketnya Stefi.

Wah, parah. Gw harus cabut. Monique, akang teh, butuh pertolongan.

(“Hehe, thor. Rencana kita mulai berjalan”)
(‘Wuahahahaha. Rasakan kau, Ge. Permainan lo, mengalahkan lo, sendiri’)

Gw sudah kembali, ke diri gw.

“Yang, pulang yuk!” Ajak gw ke Monique.
“Iyah, udah malem, nih” kata dia.
“Guys. Kita balik duluan, ya” kata gw.
“Cie. Pengantin baru, mau pulang duluan” kata Nia.
“Udah, ah. Balik, ya” kata Monique.

Lalu gw dan Monique langsung pulang. Hehe, gw nggak sabar.

Ketika masuk rumah, gw langsung peluk Monique dari belakang.

“Ih, Gavin. Pantesan minta pulang sekarang. Nggak tahunya, kepingin” kata Monique.
“Iyah. Kakanda lagi, naik” jawab gw.

“Ya, udah, kekamar, aja” jawab dia.
Hehehehehehehehehe, muach.

Gw gendong Monique menuju kamar.

“Ih, udah nggak tahan” kata dia.
“Siapa juga, yang bisa nahan kalau sama adinda” kata gw.
“Lah, gombal”

Lalu, gw taruh Monique, di kasur.
Dan gw cium bibirnya.

“Mon, kok, kamu cantik, terus, sih?” Kata gw menggoda dia.
“Kan, aku istri kamu. Harus cantik, dong” jawab dia.

“Hehehe” gw, cekikikan.
Lalu gw cium lagi dia.
Terus turun ke lehernya.

“Shhhh” desah Monique.

Lalu gw menanggalkan bajunya.
Hah, memang nggak ada, yang seindah Monique.

“Yang, langsung aja. Aku capek” pinta Monique.
Hah, kalau intu permintaan dia, ya sudahlah.

Lalu gw membuka celana, gw
dan menurunkan roknya, Monique.

“Aku, masukin, ya” kata gw.
“Iya. Pelan-pelan” jawab dia.

Aduh, istri gw ini, makin cinta gw sama dia.

Lalu gw mengarahkan, penis gw, ke vaginanya.

“Ahhhh……!” Teriak Monique.

Lalu masuklah, penis gw.
Supaya suasana romantis, gw cium bibirnya.

Lalu, gw mulai bergerak, dengan irama yang pelan. Gw ingin menikmati setiap gerakan gw.

Kita nggak ganti posisi, sama sekali.
Karena gw berasa romantis.
Gw diatas, dan dia dibawah.

Mata gw tidak berhenti memandang wajahnya. Gila, gw tidak pernah bisa menghentikan cintaku pada yayang
Monique.

“Haaahh” teriak Monique.
Kali, ini gw naikan tempo gw, tapi tetap stabil.

Beberapa lama, gw merasakan gw mau sampai.

“Yang, aku mau keluar” kata gw.
“Iya, aku juga” jawab dia.

“Akhhhhhhh” teriak, gw.

‘Fyurrrrrrr’
Gw mengeluarkan, setiap calon anak gw, di dalam Monique.

Lalu gw berbaring disebelah, dia.

“Yang, I love you” kata gw.
“I love you too. Udah, aku capek. Tadi pergi bareng mama sama adek kamu” kata dia.

Nggak lama, di tertidur dipelukan gw.

Ah, indahnya hidup ini.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 61 | Hidup di Jakarta Part 61 – END

(Hidup di Jakarta Part 60)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 62)