Hidup di Jakarta Part 58

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 58

Start Hidup di Jakarta Part 58 | Hidup di Jakarta Part 58 Start

Part 58

Kita mundur sedikit dari, timeline part sebelumnya.
Sebelum gw, melamar Monique.
——————————————

“Ge… Buru, cepetan” kata Kevin.
“Ya elah, bro. Sabar napa. Kolor gw nyangkut, nih” kata gw.
“Ha, ampun. Ayo bro, udah ditunggu. Cepet!” kata dia.
“Iyeee”

Lalu gw dan Kevin keluar kamar dan turun ke bawah.

“Aduh, men. Lo mandi lama banget, Ge” kata Alex.
“Maklum. Gw bertapa sebentar” jawab gw.
“Ya udah, hayo, jalan!” Kata Boni.

Kita berempat mau berangkat ke……
Kawinan babeh nya, Boni.
Boni akan melakukan, unjuk rasa besar-besaran. Tapi. Anggotanya cuma ada empat, termasuk dia.
Si Radit nggak ikut. Sibuk PDKT.

“Bro lo, pada yakin, nemenin gw?” Kata Boni pas, di mobil.
Kali ini kita pakai mobilnya Alex.
Tapi tetep gw yang nyetir. Jadi supir mulu gw.

“Yosss!” Jawab kita.
“Di sana banyak jawara Betawi, nanti” kata dia.
“Kalau gitu kita nemenin lo, sampai gerbang” kata Kevin. Gw setuju saran lo, Kev.

“Ah. Kagak niat lo, pada” kata Boni.
“Iyee. Bang. Tenang aje” kata Alex.

“Aduh, pake macet, lagi. Bangke, bangke” kata Boni.
“Sabar, bro. Namanya takdir. Santai” kata Kevin.

“Bro, cari jalan lain, aja. Gw udah nggak tahan” kata Alex.
“Bener, bro” Kata Boni.
“Emang, lo nggak tahan apa, men?” Tanya gw.
“Gw laper sama kebelet pipis” jawab Alex.
“Ah, monyet. Lo” teriak Boni.

Lalu gw mencari jalan pintas.

“Nah, itu, men” kata Boni, Ketika kita hampir nyampe, dirumah
Babehnya, Boni.

“Weleh, bro, ada panggungnya. Pasti banyak biduan” kata gw.
“Hehehe, siapin saweran, coy”
Kata Kevin.
“Pipis dulu tapi, men” kata Alex.

“Haelah, lo pada brengsek banget! Ini temen lo lagi susah, nyet!
Lagian lo pada punya rumah gedongan, tapi demenya dangdut. Norak, lo pada” kata Boni.

“Abis Kalo kita joget di EDM tiketnya mahal. Mendingan biduan jogetnya gratis. Tinggal nyawer sesuka hati. Iya kan, proh?” Kata Kevin.
“Yoyoi” kata gw dan Alex.
Itu adalah jawaban masuk akal. Apalagi kita orang Indonesia. Wahahahahahaha.

“Pokoknya, urusan gw dulu” kata Boni.
“Iyee. Bos” teriak kita.
“Ya udah, turun”

“Bro, udah, hampir mulai, gimana, nih?” Tanya Alex.

“Kita, langsung ke kamar mempelai perempuan, aja. Kita culik, dia” kata gw.
“Eh, buset. Mau dipenjara lo. Kita ambil bagian pertama aja. Kita langsung ke kamar mempelai perempuan” kata Boni.

Lalu, kita langsung menuju, kamar mempelai.
(As always, Obvious narration)

“Aduh, bro. Benteng pertama, adek-adek, gw lagi” kata Boni, ketika kita lagi, mengendap-endap.
“Emang adek lo ada berapa?” Tanya Alex.
“20 yang resmi. 14 dari simpenannya. Belum temasuk, beberapa kakak gw” kata Boni.

Buset. 20 tambah 14 berapa, ya?
2 tambah 1= 3. 0 tambah 4= 4. Berarti 38.
“34, oon” kata suara sakti.
Oh, iya. Terus, 34 tambah beberapa = banyak.

“Waduh, gimana, ya?” Kata Boni.
“Udah, gw yang urus” kata Kevin.

“Apaan tuh, bro?” Kata gw, Melihat si Kevin mengeluarkan sebuah kotak dan kantong kresek, dari ranselnya.

“Kodok. Sama petasan” jawab Kevin.

Lah, bujuk, sempet-sempetnya.
“Udah prepare, lo, bro” tanya gw.
“Weits, ada satu lagi” kata Kevin.

‘Pus-pus!’ Teriak Kevin.
“Meong”
Hee???? Barton! Bagaimana dia bisa disini?

“Bro, ini kucing ngapain?” Tanya gw.
“Ya, dimanfaatkan, aja. Dari tadi gw udah bawa dia” jawab Kevin.

Wah, parah-parah.

Dia melempar, petasan dan melepas kodok, serta mengirim Barton.

“UWAAAAHHHHHHH!” Teriak beberapa adiknya Boni.
Semuanya berpencar.

“Men, gw takut sama kodok” kata Alex.
“Sama, gw juga. Geli” kata gw.
“Ah, cupu, lo” kata Kevin.
“Udah, ah, yok!” Kata Boni.

Lalu kita menuju tempat, berikutnya.

“Yah, benteng kedua, ratu-ratunya, lagi” kata Boni.
“Nah, lo aja Lex. Elo kan, Don Juan” kata gw.
“Beuh. Masa ama ibu-ibu. Nggak, bro” jawab Alex.
“Udah, bro. Di pepet-pepet, doang” kata Kevin.
“Anjrit itu enyak gw, jing” kata Boni.

“Ya, udah yang satu, aja” kata gw.
“Wih, tapi istri keduanya yang mudaan itu, ya?” Tanya Alex.
“Iya” jawab Boni.

“Boleh, dah. Pepet-pepet doang, kan?” Kata Alex.

Sang Don Juan, masuk ke medan perang.

“Terus emak, lo, gimana?” Tanya Kevin.
“Gampanglah” jawab Boni.

Lalu kita menuju emaknya Boni.

“Masih mau usaha, Bon?” Tanya emaknya.
“Terakhir, Nyak” jawab Boni.
“Ya udah. Sana” jawab emaknya.
Pasti the power of emak-emak, bekerja.
May the emak-emak be with you.

Emaknya, pun lewat.

“Ge, temenin gw, masuk, Ge” kata Boni.
“Lah, terus yang jaga?” Tanya gw.
“Kan ada, gw” kata Kevin.
“Oke deh” kata gw.

Lalu kita, masuk.

“Boni! ngapain kamu?” Teriak Sang perempuan.
“Untuk terakhir kalinya, aku minta, ini dihentikan” jawab Boni.

Wih, drama nih. Ambil posisi paling pas, ah.
Gw memilih duduk di kasur.

“Nggak. Keputusanku udah bulat” jawab mantannya Boni.
“Kenapa, sih?” Kata Boni.

Eh, kenapa, noh? Kalah sinetron.
Posisi gw udah tiduran santai kayak di pantai, sekarang.

“Karena papa kamu, berani melamar aku. Nggak kayak kamu” kata mantanya.
“Tapi, kenapa kamu mau jadi istri dia???” Tanya Boni. Sambil emosi.

‘Kriuk-kriuk-kriuk’
“Beuh, dapat popcorn, Darimana lo, bro?” Tanya suara sakti.
“Ada abang-abang lewat tadi”
Yok, lanjut lagi, dramanya.

“Aku udah capek, dengan semua omongan manis kamu. Setidaknya,
Papa kamu, bisa membuktikan, omongan dia” kata ceweknya.

Nah lo, Bon. Bola panas dilempar.
Lo Jualan dodol, kemanissan, sih.
Jadinya, gula darahnya tinggi, terus gampang capek.

“Kamu tahu, nggak? Di Hari kita putus, aku mau ngelamar kamu. Tapi kamu emosi duluan, tanpa memberi, aku kesempatan” jawab Boni.

Iya, kamu tahu, nggak? Boni mau ngelamar, kamu! Dasar wanita murahan.

“Bohong kamu!”

Bohong lo, Bon! Dasar laki-laki. Semua laki-laki, sama aja. Pembohong.

“Ngapain aku, bohong!” Jawab Boni.

Nah, iya. Ngapain Boni boong.

“Kalau aku bohong. Aku nggak bakal, ngejar kamu malam itu. Ataupun nunggu di depan rumah kamu” lanjut Boni.

Iyah, ngapain Boni rela ngejar situ. Pikir, dong, pakai dengku!
“Otak, Ge” kata suara sakti.
“Sorry, otak gw ada didengkul”

“Udah, terlambat, Bon” kata perempuannya.

Sorry Bon. It’s over.

“Tapi kamu, yang bikin semuanya terlambat!” Teriak Boni.

Dasar wanita, nggak tahu diuntung.

“Oh, jadi aku yang salah?” Kata si perempuan.

Wuahahahaha. Drama-drama. Ternyata sinetron seru juga.
Gw bikin serinya, ah.

“Udah, cukup, Bon”

Nah, iya, cukup-cukup.

Seorang lelaki tua, dateng, bersama emaknya Boni dan kayaknya, beberapa kakaknya Boni.

“Babeh, ngapain? Ganggu Boni lagi?” Kata Boni.

Oh, ini Babehnya, Boni. Jawara euy.
Gw sikat, lo. Wuuhhuuu, udah mirip jawara belon.

“Kamu, keluar dulu bisa. Lagi ada masalah keluarga. Lagian bisa-bisanya kamu tiduran disitu” kata bokapnya.

Iya, bisa kamu keluar, dulu. Eh, siapa?

“Lah, malah, bengong. Kamu, yang saya tunjuk” kata Babehnya Boni.

Hee? Ngomong sama siapa ?? Ama ane?

“Lah, malah, celingak-celinguk. Kamu” kata emaknya Boni.
“Oh, saya. Saya pikir orang lain” kata gw.

Gw keasikan, nonton drama.
“Oh, iya, saya keluar dulu” kata gw.

Yah, padahal gw pengen lihat, masalahnya lagi. Terpaksa, deh.

“Sebentar dulu” Boni menahan tangan gw.

“Bon, cukup Bon. Mereka sudah tidak mau melihat wajah gw. Jadi lepaskan” kata gw.

“Gw nitip, hape gw. Takutnya gw emosi, terus kelepasan. Terus itu popcorn lo, ketinggalan” jawab Boni.

“Oh. Ngomong atuh”

Lalu gw samperin Alex dan Kevin di deket mobil. Serta ada Barton, disitu.

“Bro, taruhan, yuk!” Ajak Alex.
“Taruhan, apa?” Tanya gw.
“Kira-kira, si Boni bakal menang apa, kagak” jawab Alex.
“Hayo” kata kita berdua.

“Gw bilang, dia gagal” kata gw.
“Sama gw juga” kata Alex.
“Yah, gw juga sama. Masa sama semua. Kagak jadi deh, bro” kata Kevin.

“Terus kita ngapain, bro?” Tanya Alex.

Hmmm. Aha!

“Ta-da”
Gw mengeluarkan kartu gaple.
Bisa-bisanya, gw bawa gaple.

“Wah, Hayo, gw jabanin” kata Kevin.

“Nah, hayo, deh. Tapi jangan gede-gede. Gw lagi hemat, nih. Gara-gara Boni. kalau main sama dia pasti gw nombok” kata Alex.
Tumben nih, orang kaya satu ini, hemat.

Lalu kita menjauh, dari TKP. Biar lebih seru.

“Ahahahhahahhaha, gw menang. Mantep-mantep” kata gw.
“Anjrit. Bangke, lo” kata Alex.
“Tai, udah tiga kali, dia menang. Gw aja, baru sekali” kata Kevin.
“Lo mending, pernah menang. Gw belon” kata Alex.

“Oi, lo pada malah, judi. Sadar, oi!” Kata Boni.
“Eh, Boni. Mau ikut, Bon” kata gw.
“Nggak, ah. Udah kita balik, aja” kata Boni.

“Yah, bro. Bentar lagi mau palang pintu. Terus dangdutan” kata Alex.
“Udah, balik, aja. Panas gw disini” kata Boni.
“Okelah kalau begitu” kata kita bertiga.

Lalu kita, keluar dari daerah rumahnya, Babehnya, Boni.
Kali ini, Alex yang nyetir.

“Gimana, bro?” Tanya gw.
“Udah bebas gw, men” jawab Boni.
“Bebas?”
“Gw udah, nggak peduli, lagi. Susah gw. Apapun alasan gw nggak diterima, mereka. Cuma emak gw, yang belain. Yang lainya anjing” kata Boni.
“Wahahahahahaha. Coba kita lanjut, bro. Menang, men” kata gw.

“Malah, tawa, lagi” kata Boni.
“Terus usaha dodol lo, gimana?” Tanya Alex.
“Itu, kan, punya encang gw. Udah di warisin ke gw langsung. Kalau ada urusan aja, baru gw, ketemu keluarga, gw. Itu juga karena gw memandang emak gw” kata Boni.

Langkah yang berani. Salut, buat sinetron lo, mudah-mudahan, rantingnya bagus.

“Bro-bro, gw punya pantun,
Di Jakarta, ada si Jaka
Si Jaka, sama emaknya
Di Jakarta, ada perjaka
Ditinggal nikah, sama pacarnya” kata Kevin.

“Wahahahaha. Emang masih perjaka??” Teriak gw dan Alex.
“Ah, parah, lo pada. Terserah lo, dah.
Awas lo, Ge. Buruan lamar pacar, lo. Ntar kayak gw, lagi” kata Boni.

“Ya elah, bro. Nggak usah pusing. Dibikin hepi, aja. Dari pada bete, mending kita keliling ibu kota, mencari gadis perawan” kata Alex.
“Tau, bro. Lo udah pusing mikirin skripsi. Terus masalah keluarga. Nggak ada, rileksnya. Mending ajojing. Jalan-jalan. Sayang nih, kita pada usaha, ngambil cuti buat lo. Masa cuma nemenin lo bete doang. Tapi kalau cari perawan, gw nggak ikut. Ntar gw, di usir ibu kost lagi” kata gw.
“Wih, ada calon, suami takut istri. Tapi, gw juga takut pacar gw, sih. Kita senasib, Ge” kata Kevin.

Lalu gw dan Kevin melakukan brofist. Rasanya, ada kesamaan, di dalam, diri kita. Semangat dari lelaki, yang meninggikan wanita.
Siksa aku sayang.

“Ya, udah deh. Suntuk juga, jadinya Kalo bete. Mending cari kegiatan. Kita tour Jakarta, sekalian ajojing. Gw yang bayar” kata Boni.
“Berangkat kopral!” Jawab Alex.

‘Jreng’
Si Kevin mengeluarkan ukulele, dari tasnya.

“Sambil menemani kita keliling Jakarta, mari kita berdendang. Mari kita dendangkan lagu impian para lelaki” kata Kevin.
“Buset, ransel lo, komplit juga, Kev. Ada cemilan, kagak?” Kata gw.
“Kagak. Cemilannya diambil Kucing” kata Kevin.

Wah, sialan tuh, si Barton.
Bener-bener, anjing tuh kucing.

“Aii… senangnya dalam hati
kalau beristri dua
Oh seperti dunia
Ana yang punya

Kepada istri tua
Kanda sayang padamu
Oh kepada isteri muda
I say i love you

Istri tua merajuk
Balik ke rumah istri muda
Kalau dua-dua merajuk
Ana kawin tiga

Mesti pandai pembohong
Mesti pandai temberang
Oh tetapi jangan sampai
Hai pecah tembelang”

“Eh, tapi, lo lagi ngejek gw apa gimana, sih? Lagunya pake bawa-bawa istri tua sama istri muda” tanya Boni.
“Dibilang, lagu impian para lelaki. Ya Kalo nyerempet tentang kehidupan lo, ya, maap. Itu kan, sebuah kesengajaan” kata Kevin.
“Babi, lo”
“Wah, tahu aja, lo gw demen makan babi” balas Kevin.
“Iya, si kevin kan, turunannya cut pat kai” kata gw.

“Tapi suara kita, bagus juga, ya. Kita bikin group vokal, aja” kata Alex.
“Eh, buset. Suara gitu lo bilang, bagus” kata Boni.
“Iya, bro, kita bikin group vokal. Namanya A.K.G.B” kata gw.
“Keren, bro. Apaan artinya? Singkatan nama kita?” Tanya mereka.
“Anak Kampung Gang Beser”

“Ya, elah lo. Tapi kasian, Radit kagak diajak” kata Boni.
“Biarin. Dia jadi meneger, aja” kata Alex.

“Iya, bro, penari latarnya mbak Lastri” kata Kevin.
“Wahahahahahaha” gila gw ngebayanginnya geli.
“Kalah, Soneta” tambah Kevin.

Bon….Bon. Kasian amat hidup lo.

Kalau dipikir-pikir, bener, juga kata si Boni. Si Monique, harus, di kunci dulu, nih. Paling nggak, tunangan, kek.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 58 | Hidup di Jakarta Part 58 – END

(Hidup di Jakarta Part 57)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 59)