Hidup di Jakarta Part 57

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 57

Start Hidup di Jakarta Part 57 | Hidup di Jakarta Part 57 Start

Part 57

Saat ini, gw dan Monique dalam perjalanan, menuju, restoran tempat ketemuan dengan Cathy dan tante SuS.

Dan ketika nyampe, so pasti, beta yakin, ini rumah makan punya harga, so mahal, sekali. Beta yakin, itu.

Ketika kita masuk. Cathy dan tante SuS, udah nunggu.

“Hai, tan. Udah lama, ya?” Tanya Monique.
“Nggak. Paling sepuluh menit. Baru pesen makanan” kata tante SuS.

Yah, udah mesen makan, lagi. Gw ketinggalan, dong.

“Kamu kalau kurang pesen lagi, aja, Vin” lanjut tante SuS.
Nah, ide bagus.
“Tenang aja, tan”

Ketika gw lihat. Diluar dugaan, harganya murah.
Beta salah kali, ini. Tapi beta senang, walau beta salah. Gimana gitu.
Tapi beta pesan apa lagi?

“Ntar, aja deh, tan pesenya. Kalau kira-kira pengen, baru pesen lagi” kata gw.
“Oke, deh”
“Terus yang mau diomongin apa, tan?” Tanya gw.
“Bentar, tunggu papa kamu, dulu” jawab tante.

Hee???? Mau ngapain, bapak, gw??

Lalu, makanan datang lebih, dulu, ketimbang, bokap gw.

“Kita makan, dulu, deh. Udah pada laper, kan” ajak tante SuS.
“Ide bagus, tan” jawab gw.
Monique, langsung nyubit gw.

Lalu kita makan.
Begitu, setengah jalan, bapak gw akhirnya dateng.

“Halo-halo” kata bokap, gw. Dia langsung ngambil posisi duduk samping, tante SuS.
Si Rudy, pinter juga positioningnya.

“Halo, om” kata Cathy dan Monique.
“Nah, akhirnya si bos datang juga. Kemana aja, bos??” Kata gw.
Dan gw, di cubit Monique, lagi.

“Ah, kamu, Vin. Aku Makan juga, deh” kata bokap gw.
“Pesen nasi aja, mas. Lauknya masih banyak” kata tante SuS.

Lah, udah ikan mas, aja. Sejak kapan, main manggil mas?

Makan, pun selesai. Kita siap menuju pokok pembicaraan.

“Jadi yang mau diomongin, apa?” Tanya gw.

“Jadi begini, Cathy dan Gavin,
kan sudah tahu, bahwa om atau papa, sudah dekat dengan mamanya Cathy” kata dia.

Ah, gw tahu, nih, ujungnya.
“Terus” kata gw.

“Papa minta ijin, untuk menikahi tante Susi atau om, ijin menikahi mama kamu, Cat” kata dia.

Kan, bener. Ah, Rudy-Rudy.

“Hah, elah, Pak. Anaknya dulu, napa. Situ kan, udah dua kali” kata gw.
“Hush. Gavin” kata Monique.

“Kalo Cathy, sih, terserah mama. Cathy ngikut, aja. Yang penting jangan menyesal nantinya” kata Cathy.
Tuh, dengerin.

“Kalau kamu, Vin?” Tanya tante SuS.
“Terserah, sih. Yang penting, sesuai kata Cathy, jangan nanti nyesel terus pisah. Capek Gavin ngurusin kayak gitu” kata gw.

“Iya, mama janji, nggak akan, pisah. Apapun yang terjadi, mama bakal setia” kata tante SuS.

Janji, sih gampang, tapi nepatinnya, bisa nggak?

“Pak, situ juga, bisa janji, nggak?” Tanya gw.
“Iya, papa janji” jawab dia.

“Ya sudah. Gavin setuju.
Terus urusan Monique disini, apa?” Tanya gw. Bisa dibilang Monique, nggak ada urusannya disini.
Gw pengen tahu, aja.

“Nah, itu dia. Tante mau kalian berdua, menikah duluan” kata dia.

Hah????

“Eh, buset. Kagak salah?” Kata gw.
“Sorry-Sorry, tan. Aku nggak salah dengar?” Tanya Monique.

“Nggak. Kalian nggak salah denger. Tante mau kalian menikah duluan” kata tante SuS.

“Mon, gimana? Apa kita bilang, aja” kata gw.
“Maaf, sebelumnya, tante dan om. Tapi saya boleh tahu, nggak rencananya, kapan om, dan tante mau nikah?” Tanya Monique.

“Kalo om, sih maunya cepat” jawab bapak.
Heh, Rudy. Mau lo.

“Memang kenapa Mon?” Tanya tante.

“Sebenernya, Gavin sudah ngelamar saya. Dan kita ambil keputusan kita bakal menikah. Beberapa bulan, setelah, sepupu, saya menikah, tan”
Kata Monique, sambil memperlihatkan, cincin, di jarinya.

“Hah??? Ya, ampun bang, berani juga, lo” kata Cathy.
“Wah, tante ketinggalan berita, nih”
Kata tante.

“Sepupu, yang kemarin undangannya dikirim?” Tanya bokap.
“Iya” jawab gw.
“Lah, tahun, depan, dong?” Tanya bokap gw.
“Ya, kurang lebih, iya, pak” jawab gw.

“Lama juga, ya” kata bokap gw.

“Ya, udah, om tante, nggak, papah duluan. Inikan hanya masalah waktu. Toh, ujung-ujungnya, menikah” kata Monique.

“Gitu, ya. Gimana mas?” Tanya tante Monique.
“Ya, udah. Kalau kalian bilang begitu” jawab bokap gw.

Emang dasar mau lo, cepet-cepet, Rud.

“Terus kapan, Emangnya?” Kata gw.
“Kalau bisa, sih, sebentar lagi” kata bokap gw.
“Paling setelah, tante Berlian, melahirkan” kata tante.
“Lah, satu bulan lagi, dong” kata gw.

“Deketan sama sepupunya Monique. Biar bisa undang mama papanya Monique. Buat kenalan. Bikin kecil-kecilan, aja” kata bapak gw.
“Boleh, om. Ide bagus, tuh. Ntar biar Monique bilangin, ke orang tua Monique. Supaya dateng lebih cepat” kata Monique.

“Eh, kita ngomongin nikahan gini, kasian si Cathy. Nggak punya pacar. Ya, nggak, dek” kata gw.
“Tahu. Pada sibuk ngomong kawinan semua. Nggak dikantor, dikost, dikeluarga. Semuanya ngomongin nikahan” kata Cathy.

“Oh kasiaan, anak mama” lalu tante SuS meluk Cathy.
“Sini, Mon, kamu, kan, anak tante juga, sekarang” kata tante.
Dan Monique, ikut meluk mereka.

Nope.
Gw nggak mau meluk bapak gw. Gengsi, dong.
Ada, orang lain, yang masih bisa gw peluk.

Tapi setelah, dipikir-pikir, gw dikasih kesempatan buat punya keluarga komplit lagi.
Gw punya bapak, mama, adek, plus bonus calon istri.

Gw udah cukup pantes untuk menikah. Penghasilan ada. Kendaraan ada.
Rumah? Bisa diusahakan.

Bagi, gw, hubungan darah nggak terlalu penting. Yang penting, bagaimana, kita ngejalaninnya. Apakah, baik sekali atau buruk sekali.

Yah, contoh aja gw. Bokap kandung jadi musuh. Mantan nyokap tiri, kayak ibu peri.

Dan bagaimana, gw melamar Monique?
Akan gw ceritakan, di part, selanjutnya.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 57 | Hidup di Jakarta Part 57 – END

(Hidup di Jakarta Part 56)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 58)