Hidup di Jakarta Part 56

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 56

Start Hidup di Jakarta Part 56 | Hidup di Jakarta Part 56 Start

Part 56

Sudah berbulan-bulan,
Sejak setiap masalah datang.

Keadaan tante BeR dan mama Wulan sudah mulai oke. Dan bisa dibalang, overOKE.
Gw juga bingun, akhirnya bisa seperti itu.

Urusan Cathy, tante SuS dan suaminya, Juga sudah mulai membaik. Permasalahan bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
Tanpa berlanjut kemeja hijau. Mungkin kerena, pengacara tante SuS orang sakti.

Dan yang pasti, bapak gw lagi gencer-gencernya, deketin tante SuS.
Dia sampe pindah sementara ke Jakarta.

Tapi gw tetep ngekost. Alasannya,
Pertama, udah enak ngekost.
Kedua, gw belum siap, tinggal barang bokap, lagi.
Ketiga, di kost ada Monique.

Dan gw, sudah bekerja, di perusahaan mama Wulan.
Yah, gw berharap, karier gw bisa lebih bagus lagi.

Mungkin banyak yang berpikir gw selalu beruntung. Tapi bagi gw, gw nggak selalu beruntung. Buktinya, semua masalah orang dilimpahkan ke gw.
Mungkin itu hukum karma.

“Vin, makan dulu, yuk!” Teriak Monique, dari bawah.
“Iya”

Lalu gw turun.

“Vin, ayo sarapan” ajak Monique.
Sekarang, lagi hari libur.
Jadi mama Monique, masak.
Asik-asik.

“Bang Gege. Mama pengen ketemu katanya” kata Cathy.
Si Cathy, udah manggil gw abang. Dia udah asik, manggil gw gitu.
Lagian dia tahu, bapak gw ngejar mamanya dia.

“Kapan?” Tanya gw.
“Ntar sore”

Waduh???

“Yah, Gavinnya, mau gw pinjam, Cat” kata Monique.
“Mau ngapain?” Tanya Cathy.
“Mau ngambil, gaun” jawab Monique.

Karena nikahan sepupu Monique, diundur jauh, dari jadwal. jadi Monique memutuskan, membuat gaun baru.
Dan hari ini, gw janji mau ambil gaun, sama Monique.

“Lama, nggak?” Tanya Cathy.
“Iya, lama, nggak, lama” kata gw.
“Yah, kata mama gw, ini penting”

Yah, kalau begini, mah, bagaimana kata adinda, deh.

“Ya, udah. Gavin, ikut Cathy, aja” kata Monique.
“Eh, jangan. Yang diminta kalian berdua” kata Cathy.
“Hah, gw juga?” Kata Monique.

“Gimana, Mon?” Tanya gw.
“Ya, udah. Habis ambil baju, kita kesana” kata dia
“Nggak papah?” Tanya gw.
“Iya. Nggak papah. Lo mau bareng Cat?” Tanya Monique.
“Nggak. Gw mau ke mama gw sekarang. Udah janji”

“Emang ketemuan dimana?” Tanya gw.
“Nggak tahu, deh. Nanti gw kabarin” kata Cathy.

“Udah, ya gw, jalan” kata Cathy, pamitan.
“Iya, hati-hati, ya. Jangan lupa kabarin” kata gw.
“Iya, bang” Jawa dia.

Berarti adek gw nambah satu lagi.
Cewek dua-duanya lagi.
Okelah.

“Vin, abis ini mandi, ya. Biar cepet, jalan. Jadi bisa cepet, dan ketemu mamanya Cathy” kata Monique.
“Iya”
“Aku siap-siap, ya” kata dia.
“He, eh”

Lalu gw selesai makan, dan bersiap mau mandi.

Tapi dari semua ini, gw masih nggak nyangka, gw jadian sama Monique.
Kayaknya, gimana gitu.
Bunga di hati gw, rasanya disiram terus. Agar selalu bermekaran.
Untung, Monique nggak rewel.
Beruntungnya gw.

Gw siap-siap mau, jalan.
Gw tunggu Monique di ruang makan.

“Yuk! udah, siap?” Kata Monique.
“Let’s go!” Kata gw.

Berangkatlah kita, ke butik.

“Si Tere, nggak bikin gaun, buat nikahan sepupu, kamu?” Tanya gw.
“Dia, bikin, sama tantenya. Pengen kembar katanya” jawab dia.

Hehehe. Kok gw lucu sendiri, bayanginnya.

“Terus ortu kamu, gimana?” Tanya gw.
“Seminggu sebelum, hari-H dateng ke sini” jawab dia.
“Lah, lumayan deket, tapi lumayan lama juga”
“Iya. Siap-siap, kamu. Ketemu camer” kata dia.
“Ohohoho. Don’t worry, be Happy. Kakanda udah siap, dari sebelum kakanda lahir” kata gw.

Lalu sampailah, kita di butiknya orang kaya.
Orang kaya pada kesini semua.
Untung, gw bawa mobil, gw.
Kalo nggak, diusir kali.

“Tunggu bentar, ya, Vin” kata Monique, pas mau cobain gaun.
Gw lalu, mengangguk.

“Buset, itu eneng cakep, banget” kata suara Sakti.
“Mana, men?” Kata gw.
“Beuh, banyak bro, ada macan, mamud, neng geulis, mace” kata suara Sakti.
“Mace, apaan, men?” Tanya gw.
“Mama kece, bro” kata dia.
“Nikmatilah, men. Gw nunggu adinda Monique, aja” kata gw.
“Wah, pertahanan lo, oke, juga, bro” kaya dia.

Yoyoi lah, kan benteng gw udah pake semen merah putih. Jadi pertahanan gw, kuat!
Apalagi, penjaga bentengnya, Monique.

“Vin, bagus, nggak???” Tiba-tiba, suara adinda terdengar.

Dan,
OMG, I’m falling in love!
Iler gw udah meler.
Gw lehoan.
Congek gw pada keluar.

Dia keluar dengan gaun warna merah. Gw rasa merah cocok banget sama dia.

“Halo, pretty girl. Are you alone?. Where’s your boyfriend?” Gw menggoda dia, mengeluarkan nada yang, berat, seberat suara Elvis.
“Ih. Bagus, nggak, Vin?”
“More than just, better, ho..ney” kata gw, masih suara Elvis.

Nama gw sekarang adalah,
Gege Obviouso Presley.

“Terus, kamu pakai baju apa?”
“Don’t worry, beib. It’s already” gw, memberatkan suara gw, lagi.

“Ceritanya mau jadi Elvis?” Kata.
“You got, the point. Let me sing for you” kata gw.

“Nope. Jangan nyanyi” kata dia.
“Com’on. Just one song” kata gw, masih suara berat.

“Nope”
“Ayolah, neng. Akang teh, mau nyanyi buat eneng” kata gw.
“Nggak. Malu, didengerin orang, suaranya jelek” kata dia, sambil Ninggalin gw, ke fitting room.
“Ah, mama, mah, gitu. aku, kan, pengen nyanyi”

Semua sudah siap.
Lalu kita mau bayar, untuk melunasi, gaunnya.
Pas, gw intip tagihannya.
Busettt, nol nya, banyak banget.

“Mbak, nol ya nggak bisa dikurangin?” Tanya gw.
“Nggak bisa, mas” jawab mbaknya.

“Ih, Vin. Apaan, sih” kata Monique.
“Ya elah. Namanya usaha. Siapa tahu dapet diskon. Iya nggak mbak” kata gw.

“Ya ampyun! Deseu bikin baju di butik akika?”
Hmmm. Gw mendengar sura panggilan setan. Menyeramkan sekali.

“Sombong, ya, ne. Sama eike” kata suara itu lagi.
“Maaf abang, bicara sama saya?” Kata gw.
“Abang-abang. Gw gibeng lo!”
Ganas amet, lo!

“Eh, ada tante Debora. Kirain siapa. Ini butik tante?” Kata gw. Iya gw bertemu monster, dari gua kampret.

“Yey, jahara ya, sama eike. Eike, dilupakan. Dipanggil abang, lagi” kata dia.
“Ya elah.. maap, tan. Gege, khilaf” eh buset, gw khilaf, sama yang begini.

“Ngapain deseu, dimari?” Tanya dia.
“Pacar ane, lagi bikin gaun om… Eh tante” kata gw.
“Yeee. Gw sundut lo. Jadi ini pacar, yey. Ih, badanya, bagaskara, deh, cyn. Eike, iritasi jadinya” kata si Debora.

Ngomong apa, mahluk ini.

“Makasih, tan” kata Monique.
“Ih, manisnya. Eh, btw, eike lagi Puspita banget, mikirin si Berlian lagi Hamidah. Bawaannya Betaria terus, eike” kata dia.

Aduh, opung, ngomong apa, kau?
Nggak jelas, lah, aku.

“Oh, tapi, tente Berlian sama kandungannya sehat?” Tanya Monique. Hebat juga dia bisa ngerti. Gw aja kagak.

“Beuh, berkat eike, diana sehat paripurna” jawab dia.

Et, dah. Tante BeR, anggota DPR, sekarang?

“Salam, ya, tan, buat tante Berlian” kata Monique.
“Oh, okidoki, ne.
Tuh, jadi orang tuh, kayak cewek yey, soprano. Bukanya, kayak deseu, sama kaum lemah, membully, eike terus”

Ya elah, kapan gw membully dia.
Gw kan, cuma iseng aja.

“Ya elah, tante. Kan, bercanda” kata gw.
“Ah, udah, ah. Tutup bacot, deseu.
Eike capcus dulu, ya, ne. Eike ada urusan. Mau nyetak uang, Sama ngangon kebo, di sawah.
Untuk, kostum, deseu, eike kasih gretong.
Tapi, kalau deseu nikah, yey, harus pesen baju pengantin, sama eike. Kalo nggak, eike kejar-kejar deseu, sama temen-temen, debt collector eike. Faham” kata tante Debora ke Monique.

Buset, mainnya sama debt collector.
Biasanya, kan, serem-serem.
Bulu, ketek gw, ampe berdiri.

“Wah, makasih, ya, tan. Pasti bikin disini, kok, tan. Iya kan, Vin?” Kata Monique.
“Oh, iya, dong” barang gratis harus diterima. Apapun syaratnya.
“Awas ya, kalau sampai, bohong. Udah ya. Daaaa Cyn…” Kata mahluk Extraterrestrial itu.

“Hehehe. Nggak sia-sia, aku, kenal, sama bencong” kata gw.
“Itu, siapa Emangnya?” Tanya Monique.
“Mantan suaminya tante Berlian. Bapaknya Bebi” jawab gw.
“Hah!”

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 56 | Hidup di Jakarta Part 56 – END

(Hidup di Jakarta Part 55)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 57)