Hidup di Jakarta Part 52

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 52

Start Hidup di Jakarta Part 52 | Hidup di Jakarta Part 52 Start

Part 52

‘Tuk-tuk’
“Vin, bukain dong” kata tante SuS, ngetuk kaca mobil.
“Eh, tante. Udah selesai, tan?” Gw membuka kaca. Baru bangun tidur.
“Udah, buka, pintunya, dong” pinta tante.

Lalu gw membuka kunci, pintu.
Tante pun, masuk, ke bangku tengah.

“Papa saya mana, tan?” Tanya gw.
“Lagi, ke toilet” jawab dia.
“Terus gimana?” Tanya gw.
“Apanya?”
“Hasil konsultasinya”
“Bisa diurus. Katanya mudah. Tinggal siapin berkas-berkas waktu perceraian…..”
“Stop-stop, tan. Baru segitu saya udah pusing. Mending nggak usah dilanjut” gw menyetop, perkataan tante. Otak, gw, nggak bakal nyampe, obrolan kayak gitu.

“Kamu, nih. Kamu yang nanya, kamu juga yang nyetop” kata tante.
“Hehehe”

Lalu bapak, gw dateng.

“Vin, kita anterin tante Susi dulu, ya”
Kata dia sambil, masuk mobil.
“Iyee”

Lalu kita berangkat, menuju rumah tante SuS. Kita ngobrol. Kali ini, gw juga ikut ngobrol.

“Pak, ngomong-ngomong, bapak, tidur dimana?” Tanya gw.
“Papa tidur, di rumah, yang di sini” jawab dia.

He????
Emang kita punya rumah disini????

“Emang kita, ada rumah disini, Pak?” Tanya gw.
“Lah. Rumah kita dulu” jawab dia.
“Bukanya dijual?”
“Nggak. Papa nggak akan jual rumah itu. Kecuali udah 4 generasi, baru boleh di jual” kata bapak.

Baru tahu, gw. Gw pikir, itu rumah, udah dijual. Tahu, gitu, gw tinggal disitu, deh. Nggak bayar kost.
Tapi, bayar listrik sama air.
Bener, deh. Ngekost aja.

“Berapa lama, Pak?” Tanya gw.
“Kurang tahu. Kalau harus, cepet ya, cepet. Kalau lama, ya lama” jawab dia.

Hingga sampailah, kita dirumah tante SuS.

“Bener nih, nggak mau, mampir?”
“Mau..’aduh-duh'” gw teriak kecil, akibat di cubit bapak gw.
“Nggak, kita pulang aja. Besok-besok, saya main, kesini” jawab bapak gw.
“Oke, deh. Hati-hati, ya” kata tante SuS.
“Iya” jawab kita berdua.

Yah, padahal, gw mau numpang makan, dirumah tante SuS.
Laper, nih.

“Kenapa, sih, Pa. Orang cuma mampir, doang” kata gw mempermasalahkan tingkahnya.
“Nggak enak, tau. Jangan bikin papa malu” jawab dia.
“Ya elah, Pak. Ini kan, malah kesempatan” kata gw.
“Udah, ah. Pokoknya, papa belum siap. Papa harus rapih, kalau bertamu ke rumah wanita” Kata bokap
“Terserah lo, dah, bos” jawab gw.

“Emang kamu, kenal tante itu dari mana?” Tanya bapak gw, ketika diperjalanan.
“Nggak sengaja, Pak. Waktu Gavin lagi ngumpet dari gorila” jawab gw.
“Kamu sadar, nggak, mukanya mirip mama, kamu?” Kata dia.
“Hah, mama yang mana?”
“Mama kandung kamu” jawab dia.

Hmmm, Coba gw gali memori, gw.
Gw masih, nggak mengingat wajah ibu gw??

“Masa, sih, Pak?” Kata gw.
“Iya, bener. Coba kamu lihat di album nanti. Fotonya kan banyak dirumah, yang disini. Muka mereka 11-12lah”

Pantesan, bapak gw sampe melongo. Ternyata, dia ingat masa lalu.

Emang mirip, ya?
Gw jadi penasaran.

Hingga, sampailah kita, di rumah yang sudah bertahun-tahun, nggak gw lihat. Rumah, yang kata bapak gw, penuh dengan memorabilia ibu kandung, gw.

(Aduh, thor. Lo mulai, menggali masa lalu, gw. Udah tahu gw lelaki jantan, yang melow)
(‘Biar seru, Ge’)
(Lo balas dendam, ya?)
(‘Nggak. Cuma mendramatisir suasana’)

Kita nyampe, masih sekitar setengah tujuh malam. Jadi gw masih bisa santai.

“Lah. Masih rapih, semua, Pak. Pikir udah nggak Karuan” kata gw.
Masih ada furniturnya, lagi.
Masih pada bagus.

“Iyalah. Harus selalu diurus. Mama kamu, kan, nggak suka yang berantakan” jawab dia.

Tapi gw nggak melihat, ada foto-foto, di dinding.

“Pa, mana fotonya?” Tanya gw.
“Iya. Sebentar. Baru sampe. Kamu dari dulu nggak pernah sabar” kata dia, dengan nada sedikit naik.

Hmmmmmmm………..fuuuhhhhhhhh
Hmmmmmmm………..fuuuhhhhhhhh
Rilex, Ge. Kosongkan pikiran.
Pikir yang baik-baik, aja.

“Tumben, kamu. Biasa kalau nada udah naik, kamu juga ikut naikin suara kamu” kata dia.
“Lagi ikut terapi, Pak”
“Ya, sudah. Papa, ambil dulu foto-fotonya”

Padahal di otak gw, gw udah bergulat, dengan segala hal.
Anjritttt. Gw pengen EE!

“Lah, kok, berak?” Tanya suara Sakti.
“Kalo marah, gw sakit perut, men”
“Marah yang aneh”

“Nih, Vin. Kamu liat sendiri” kata bokap, sambil menjulurkan album foto besar dan tebal.

Gw ambil, albumnya.
Ketika gw buka,

Buseettt, emak gw mirip banget sama tante SuS.

“Pa, ini benaran emak, ane?” Tanya gw.
“Ya, iya, bener” jawab dia.
“Emak, kita beneran udah, meninggal? Apa jangan-jangan, dia berubah jadi tante SuS”
“Ah, kamu, tuh. Kalo ngomong dipikir dulu”

“Ya, habisnya, mirip banget” kata gw.

Lalu gw lihat-lihat lagi, fotonya.

Ada satu hal, yang gw sesali.
Kenapa, gw lebih mirip bokap gw, ketimbang nyokap.

Nyokap, gw ada chinesenya, malah bisa dibilang orang chinese.
Sementara gw, beberapa orang mengira gw orang Batak.
Ada juga yang bilang indo.
Ada yang bilang, orang Arab.
Gw juga, sempat dikira orang India.
Ada juga, yang bilang, beta dari NTT.

Tuhkan, siwer semua.
Berartikan perawakan gw nggak jelas.
Tapi nggak ada, yang ngomong gw orang chinese.

Jangan-jangan, gw anak bawaan bapak gw, terus bapak gw nikah sama mama. Ihhh

“Pak, seriusan nih, pak. Ini ibu kandung Gavin, beneran?” Tanya gw.
“Ya iyalah. Ada kok, foto pas hamil kamu”

Gw cari fotonya, dan ketemu.

Terus, kenapa gw nggak mirip sama emak gw??????????
Wah, sayang banget.
Bisa dibilang, gw nggak ada mirip-miripnya, sama mama Sandra.
Kok, bisa, ya?

Apa, sperma bapak terlalu kuat?
Lah, Kalo sperma gw juga kuat, anak gw lebih mirip gw, dong, ketimbang ibunya.
Kasian si Monique. Ntar dikira nikah, sama duda keren.

“PeDe amet lo, bro. Belum tentu sama Monique” kata suara Sakti.
“Alah, berisik lo. Semua harus berawal dari kepercayaan diri”

“Terus, kan mirip, nih, kira-kira, kamu setuju nggak?” Tanya bokap.

Et, dah, si Rudy, pengen lagi, lo. Anaknya dulu, napa.

“Ya, terserah bapak. Asal jangan pisah lagi, Pak. Bapak udah tua. Jangan Nyusahin diri sendiri” jawab gw.

Sejujurnya, gw setuju-setuju, aja. Bukan karena bapak gw.
Tapi karena calonya, tante SuS.
Siapa juga yang nggak mau punya ibu seOKE tante SuS dan adik seTOP Cathy. Biar kata bapak gw menang, tapi biarlah. Gw bantu, aja, sedikit.

“Kalo seandainya nggak cocok, jangan dipaksa” kata gw.
“Gitu, ya?”
“Iyalah, Pak. Dari pada bapak nikah lagi. Terus nggak tahunya, nggak cocok. Entar malah pisah. Mending pisahnya baik-baik. Kalau nggak. Sayang, Pak” kata gw.

Sangat sayang kalau tante SuS punya hubungan buruk dengan gw atau bapak gw.
Bisa hilang, uang jajan.
Gini-gini, gw masih sering dikasih uang jajan sama tante SuS.

“betul, juga, sih. Iya, deh, papa coba pendekatan dulu” kata dia.

Mendengar dia setuju saran gw, rasanya aneh. Bukan rasa bahagia yang gw rasakan. Bukan juga rasa kemenangan. Rasanya hambar.
Melihat wajah dia, dan nggak bertengkar, rasanya nggak komplit.

Tapi, harus…..SABAR!

“Ya, udah, Pak. Gavin balik dulu. Albumnya Gavin bawa, ya” kata gw.
“Iya. Hati-hati”

Lalu, gw pulang.
Gw pengen makan.
Laper.

Hingga sampailah, di kost.
“Eh, ada eneng Monique, mbak Tere, sama, dek Cathy” kata gw, ketika masuk ke arah ruang makan.”
“Gw, nggak?” kata Dewi.
“Eh, iya, ada, non Dewi, juga. Lagi pada ngapain?” Tanya gw.

“Abis, pada makan” jawab Tere.

Yah, gw terlambat.

“Yah. Kok, jahat, sih. Gw ditinggal” kata gw.
“Sorry, Ge. Gw nggak, tahu. Jangan sedih, dong, Ge. Maafin, ya”
Aduh Ter-Ter. Sayang kepolosan lo, nggak membuat gw kenyang.
“He,eh”

“Mau makan, Vin?” Tanya Monique.
“Emang masih ada?” Kata gw.
“Masih. Tapi, nasinya tinggal dikit”
“Nggak, papah. Udah laper”
“Ya, udah. Di ambilin, ya” kata dia.
Gw bales dengan jempol.

“Emang ada, apa, antara elo berdua?” Tanya Dewi, diem-diem ke gw.
“Hah, siapa?” Tanya gw.
“Elo sama Monique. Gelagat, lo berdua tuh, mencerminkan sesuatu” kata dia.
Dan si Cathy, Cengar-cengir.

Lalu Monique balik, lagi.
“Nih, Vin. Makan dulu. Kalau, kurang, gw punya roti. Jangan sampai laper” kata Monique.
“Iyah. Makasih” jawab gw.

“Tuhkan. Gw bilang juga apa!” Kata Dewi.
“Emang kenapa, Dew?” Tanya Tere.
“Bilang apa emang, Dew?” Tanya Monique juga.
“Bukan apa-apa, kok” Cathy yang jawab.

“Eh, tadi gimana, Vin?” Tanya Monique.
“Tanya mamanya Cathy, deh. Gw pusing dengernya. Otak gw, nggak nyampe” jawab gw.

“Iya, deh. Nanti gw tanya nyokap gw” kata Cathy.
“Sebenarnya gw nggak nanya itu. Gw nanya bokap, lo” kata Monique.

Oh, salah, dong.

“Oh, aman, kok. Sesuai perintah. Tuh, gw bawa album foto, keluarga gw. Pasti entar lo, kaget lihat, emak gw” kata gw.

Gw memberikan album fotonya ke mereka.

“Ih, kok, mirip nyokap gw?” Kata Cathy.
“Iya, mirip mamanya Cathy. Siapa tuh, Vin?” Tanya Monique.
“Nyokap kandung, gw” jawab gw.

“Hah, nyokap, lo? Serius?” Tanya Cathy.
“Iya. Tapi sudah wafat, dari gw kecil. Monique, tau ceritanya” kata gw.
“Tapi kok, nggak ada mirip-miripnya sama elo, Vin?” Kata Monique.

Yah, dia ngingetin lagi.

“Tau. Waktu lahir, gw langsung operasi plastik kali” kata gw.
“Lo anak, terkutuk, kali” kata Dewi.
“Bisa jadi” kata gw.

“Haah! Lo dikutuk, Ge?” Tanya Tere.
Pastilah dipikir serius, sama dia.

“Kemungkinan, ter” kata gw.
“Sabar, ya” kata dia.

“Gavin! Lo jangan iseng, ah. Ter, jangan didengerin” kata Monique.

Lalu gw selesai makan.

Cewek-cewek, pada balik ke kamar, masing-masing.

Gw balik juga, ah.
Mandi, terus tidurrrrrr.

Ketika selesai mandi, di hape gw ada WA, dari tante BeR.
Ada apa gerangan???

Tante: “Ge, besok lusa kamu, ada waktu, nggak? Tante mau, ketemu. Ada yang mau di omongin”

Hmm, lusa, ya.
Bisa, sih, tapi, mau apa?
Kalau yang aneh-aneh gimana?
Bisa mati, gw

Bisalah. Ntar, kalau terjadi hal, yang tidak diinginkan, harus gw hentikan.

Gw: “bisa aja, tan. Ketemuan dimana?”
Tante: “kamu ke rumah, tante, aja”
Gw: “oke, deh, tan”
Tante: “sampai ketemu, ya”

Aduh, ada apa lagi, si tante ini.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 52 | Hidup di Jakarta Part 52 – END

(Hidup di Jakarta Part 51)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 53)