Hidup di Jakarta Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 45

Start Hidup di Jakarta Part 45 | Hidup di Jakarta Part 45 Start

Part 45

“Anjrit! Pengen gw tabok, tuh, si botak!” Kata gw.
“Sabar jendral. Tunggu tanggal mainnya” Kata Radit.
“Tai, men. Emosi gw naik” Kata Kevin.

Udah enam hari, setelah rapat, kita selalu mengawasi si tuyul satu ini. Keliahatannya, dia kuat sekali.

Dan gara-gara itu, gw melupakan urusan gw dangan Cathy dan tante SuS, untuk sementara.
Mana, palanya silau banget.

Gebetannya, beuhhhhh. Eprywhere, etah. Dari Sabang sampe Marauke, ada.

Kita lagi mengawasi dia, yang hari ini aja, udah ganti tiga perempuan. Kebetulan kita sedang berada disebuah mall.

“Jendral, kepala Sukro bergerak” kata Radit.
“Oke. Kita ikut bergerak” kata gw

Kemana, lagi itu orang? Bisa-bisanya. Dia menuju parkiran.

“Sersan, catat nomor polisinya. Terus kamu foto mobilnya. Pokoknya semua tentang mobil itu! Kirim ke kopral Boni dan Kolonel Alex” Kata gw.
“Siap jendral!” Jawab sersan Radit.

“Kijang satu kepada kijang Inova. Ganti” kata jendral.
“Kijang Inova. Ganti” jawab mereka.

“Kalian bakal dapat gambar mobil, yang dikirim oleh kijang kapsul.
Saya minta kalian ikuti mobil itu. Ingat, hati-hati! Ganti”
“SIAP 86!”

“Kalau kalian, sudah sampai tujuan. Hubungi kami. Saya, kijang kapsul, dan kijang-kejang, akan menyusul”
“LAKSANAKAN!”

“Kijang-kejang, sapa, bro?” Tanya Kevin.
“Elo, men”
“Wah, tai, lo. Emang gw ayan”

Kalau diperhatikan, si kepala Sukro, mainnya bersih juga. Mungkin sebelum dia pergi, supaya tidak meninggalkan jejak, dia menggunakan porstex, untuk menghilangkannya.
Cerdik sekali.

“Ayo, sekarang kita ke mobil!”
Perintah gw.

Kali, ini, kita menyewa sebuah mobil.
Demi mengurangi kecurigaan.
Masa, gw bawa, mobil gw.
Baru lunas, tuh. Siapa tahu misi gagal, mobil gw digebukin lagi.

“Ini, orang backingannya, kuat, bro. Dari setiap informasi yang gw terima, yang jelek-jeleknya sedikit. Dalam artian yang ketahuan, sedikit. Dan sepertinya bapaknya punya bisnis dengan salah satu, keluarganya Tere. Makanya, om Tony, tidak bisa berbuat banyak” Kata sersan Radit.

Hmm, gw jadi punya ide.

“Bro, cari keburukan perusahaannya. Pasti ada. Atau mungkin tentang keluarganya” kata gw.
“Oke, Jendral”

Kita berjalan dengan kecepatan sedang, sambil melewati setiap jalan, yang dilewati kopral dan Kolonel.

“Kijang Inova ke kijang satu. Ganti”
“Disini, kijang satu. Ganti”
“Lapor jendral, kita ada di tempat ajojing. Ganti”
“Kalian, bukanya awasi tersangka, malah ajojing. Mau dipecat kalian!” Kata sang jendral.

“Aduh, jendral. Tersangka, ada di tempat, ajojing”
“Oh. Ngomong, dong. Tahu gitu, saya ikut. Ya, udah, kami kesana. Kirim titik koordinatnya. Ganti”
“Siap. Ganti”

Dan, sampailah kita di tempat A.J.O.J.I.N.G

Lalu kita masuk, ke dalam club tersebut.

‘Ala lala lala e
Ala lala lala e’
Heh, author, gw kan, masuk club. Kenapa, lagunya Warkop? Ganti dong.

‘Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka
(Ya-ya-ya)
Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila
(Ya-ya-ya)’
Nah, ini baru mantep. Lanjut, thor.

(“Ada, Rhoma Irama ajojing. Inget thor, jangan bergadang. Apalagi berjudi”)
(‘Terus, apa dong?’)
(Uwah, author nanya suara Sakti. Cerita macam apa ini)
(“Yang ini, aja. Sini, biar gw yang play”)

‘Destak-destuk-destak-destuk-botak-botak-botak’
Iya, deh. Ini aja.

“Lapor, jendral, kepala Sukro, lagi genit-genittan” kata kopral Boni, ketika kita samperin meraka.
“Oke, Bro. Kita harus sergap hari ini juga. Radit, elo pulang duluan. Selesaikan tugas yang gw berikan. Cari setiap kelemahan yang dia punya” kata gw.
“Siap, jendral!”

Lalu, dia pulang.

“Terus, sekarang kita ngapain, bro?”
Tanya Kevin.
“Ya, nunggu, bro”

2 jam kemudian

“Nggak, mau pulang. Nggak mau pulang” kata Alex.
“Kapal oleng, kapten” Kata Kevin.
“Ayo, pegangan semuanya” tambah gw.
“Pecah!” Teriak Boni.

“Bukanya, Ngawasin target, malah ajojing juga. Sadar oi!” Kata suara Sakti.
Oh, iya. Maklum, bro asik, nih. Baru naik, tuh, tadi.

Kepala Sukro menuju pintu keluar.

Wah, gawat.
“men, men, berangkat, men! Target bergerak! Ayo sadar!” Kata gw.
“Hah, oh iya. C’mon, c’mon!” Kata Kevin.
“Iya. Let’s go!” Tambah Boni.

Lalu, kita menuju pintu keluar.

“Eh, lupa. Bentar, bro” kata gw.

Lalu, gw balik ketempat, sebelumnya.

“Lah, masih disini. Ayo berangkat Lex!” Kata gw.
“Nggak mau pulang. Nggak mau pulang” jawab dia.
“Ya, elah. Ayo” gw tarik dia.

Lalu kita menuju pintu keluar.
Pas, diluar. Ternyata hari sudah malam.

“Mana, bro?” Tanya gw.
“Itu, tuh. Kita sergap sekarang. Takutnya kita nggak punya waktu lagi” kata Kevin.

“Oke. Tunggu aba-aba, gw”

“1”
Ready?
“2”
Set,
“3”
Go!

‘Brukkkkkkk’
“Shut up, you fucking skinhead, motherfucker! Kalo teriak, gw setrum lo!” Kata gw.
“Bius aja, men” saran Kevin.

Hah, ide cemerlang.

“Oke. Selamat tidur, botak”

Lalu, di yang sudah tidur kita bawa ke kostsan untuk di interogasi.

“Lah, si Alex lo bius juga? Kok, ikutan tidur, dia?” Tanah Kevin.
“Jiwanya masih ajojing, men”
Kata gw.

Lalu sampailah kita di kostsan.
Dengan kedua orang itu masih tidur.

“Bro, aman?” Tanya gw.
“Ntar, tunggu Radit” jawab Boni.

“Nah, tuh dia. Aman, Dit?” Tanya Boni.
“Sip”

Lalu, kita turunkan tersangka.
Kita bawa kedalam.

“Langsung ke UGD, bro!” Kata gw.

Lalu, dia kita bawa ke ruang UGD.
Dia, kita ikat disebuah korsi.

“Nah. Gimana, Dit? Dapet?” Tanya gw.
“Dapet, dong” jawab dia.
“Oke. ayo kita ambil peralatan menggertak!”

Lalu, kitamengambil peralatan menggertak.

“Eh, iya Alex. Masih, di mobil” kata Kevin.
“Ya udah, bawa sini aja” jawab gw.

Lalu Kevin keluar dan mau ke si Alex. Sampai meraka balik dalam keadaan Alex masih nyenyak.

“Terus sekarang ngapain?” Tanya Radit.
“Tunggu dia bangun” jawab gw.

‘Kukuruyuk’
Ayam udah Berkokok, dan si botak ini belum bangun-bangun.
Wah, parah. Tega-tega.
Matahari udah terbit, oi!

“Woi, apa-apaan, nih” kata si botak.

Akhirnya bangun juga, lo, nyet.

“Sob, bangun, Sob. Akhirnya bangun juga tuh orang” kata gw.
“Nah, elo ditungguin nggak bangun-bangun. Gw pikir meninggal” kata Kevin.

“Ya udah. Mari kita mulai aja. Ada urusan apa lo sama Tere?” Tanya gw.
“Oh, elo, yang kemarin ada didepan kostsan ya si Tere, ya. Kenapa, lo? Cemburu?” Kata dia.

“Bukan urusan, elo! Yang gw tanya, ada urusan apa lo sama, Tere?” Kata gw lagi.
“Bukan urusan, lo, JING! Sini gw bayarin hidup, lo, satu-satu” jawab dia.

Wah, sombong ini, orang. Elo sama emak gw, emang kayaan, siapa? Emak gw kemana-mana, lah.
Cuma tante-tante, Yang boleh membayar hidup gw.

“Wah, kupret, lo!” Kata Kevin, yang emosinya naik.
“Ayo, sini!” Tantang si botak.

“Sabar, Vin”
“Ayo, tahan gw! Cepet, tahan gw. Emangnya gw berani sama elo!” Jawab Kevin dangan emosinya.
Emosi yang bodoh.

Terpaksa, keluarkan gertakan maut.

‘Cling-jlebbbbbb!’
Gw mengeluarkan pisau daging, gw.

“Hahaha, mau ngapain lo, nyet? Motong tangan, gw? Potong aja, nih” kata si botak.

Ternyata jurus gertakan, tidak mempan.

“Nggak berani lo? Pengecut!” Kata dia.

Wah, berat-berat.
Saksikan kelanjutannya, di episode selanjutnya.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 45 | Hidup di Jakarta Part 45 – END

(Hidup di Jakarta Part 44)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 46)