Hidup di Jakarta Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 44

Start Hidup di Jakarta Part 44 | Hidup di Jakarta Part 44 Start

Part 44

Gw baru tidur sekitar jam satu. Karena gw di hukum Monique.
Ah, gara-gara tante CaN, jadi lupa gw sama Tere.

“Udah, minta maaf belum?” Tanya Monique, pas gw lagi di ruang makan.
“Mana anaknya?” Tanya gw.
“Tuh, anaknya baru keluar kamar” jawab dia.

Lalu gw samperin si Tere.
“Ter, Sorry, ya gw nggak ngejemput elo” kata gw.
“Justru gw yang Sorry Ge, gw nggak tahu lo lagi sama nyokap, lo” jawab dia. Ternyata si Monique sudah cerita.
“Ya, tapi, gw salah juga nggak ngabarin, elo. Jadinya gantung, deh”
“ya udah, nggak papah. Lupakan saja” kata dia.

Oke gw bisa melupakan masalah ini. Tapi gw tidak bisa melupakan wajah laki-laki botak mesum itu. Gw harus buat dia menderita. Lihat Saja kau mahluk astral, engkau akan mati ditanganku!

“SPADA!”
Hii? Sapa? Ada suara dari garasi.
“Masuk!” Kata Monique.

“Oh, elo, Ti. Gw pikir sapa. Nggak tahunya, makhluk terkutuk” kata gw ketika si Sakti dateng ke kost. Tumben.

“Iya, nih. Pengen lihat gymnya. Ada yang kurang, apa nggak” jawab dia.
“Oh, sip, dah, bro” jawab gw.
Lalu dia menuju ruang gym.

“Emang lo kenal, si Sakti, udah berapa lama?” Tanya Tere.
“Udah, berapa lama, ya?? Gw juga nggak tahu. Tiba-tiba temenan, aja”
Jawab gw.
“Pertemanan yang aneh” celetuk Monique.

“Eh, lagi pada ngumpul” si Boni baru turun dari kamarnya.
“Ngobrol aja, bro” jawab gw.
“Oh”

“Eh, ada mas Boni!” Kata Sakti.
“Eh, ada abang Sakti. Udah lama bang?”
“Nggak baru bentar. Eh lo berdua sini, deh” kata Sakti, sambil ngomong ke gw dan Boni.
Jangan-jangan sewa kost mau naik!

Lalu kita menuju ruang TV.
“Kenapa, bro?” Tanya gw
“Gw pengen curhat” jawab Sakti.
“Kenapa bang?” Tanya Boni.
“Pacar gw hamil. Terus minta tanggung jawab”

Uwahhhh, masalah besar. Parah ini.
“Terus” kata gw.
“Gw sih seneng-seneng, aja”
Lah, nggak salah??
“Terus, kenapa?” Tanya Boni.

“Jadi, gini. Gw sama pacar gw LDRan. Dan udah 7 bulan gw nggak ketemu dia. Nah, kandungannya dia udah 1,5 bulan. Dan seingat gw, gw baru ngesex dengan dia cuma sekali. Waktu pertama gw baru jadian sama gw” jelas dia.

Wah,wah. Nggak bisa didiamkan ini. Juragan kost harus ditolong.
“Ayo kita cari orangnya, bro!” Kata gw.
“Iya, bang. Kita hantam, tuh, orang”
Tambah Boni.

“Hah, apaan? Orang gw cuma mau tanya kok. Kok, bisa, ya dia hamil? Apa gw bisa sex nirkabel, ya?”

Uwahhhhhh. Bunuh, gw aja.

“Bon, gw punya pilihan ganda:
A. ******
B. Tolol
C. Oon
Atau
D. Bodoh”

“E, bro, semua jawaban benar”
“Ya, tepat sekali, lima ratus ribu rupiah!”

“Ah, lo pada, malah bercanda. Gw serius juga” kata Sakti.

“Lah, kita dari tadi serius, bro. Elo tuh, yang bercanda” kata gw.
“Tau, lo bang” tambah Boni.
“Gw butuh jawaban, nih” kata Sakti.
“Ya, pacar, lo, selingkuhlah. Apaan lagi” kata gw.
“Ah, nggak mungkin. Pacar gw mah setia”

Eh, buset orang udah bunting begitu, masih kagak yakin dia selingkuh.

“Et, dah, bang. Bujuk. Noh Betawi gw ampe keluar. Itu orang udah bunting. Lo masih bilang dia kagak selingkuh” kata Boni. Noh, kan ampe sama tuh, kata-katanya sama pikiran gw.

“Emang gitu, bro? Terus gimana, dong?” Tanya Sakti.
“Ya, elah, Tinggalin, aja udah. Jangan mau disuruh tanggun jawab”
Kata gw.
“Tau, lo, bang. Gitu aja, kok repot”
Kata Boni.

“Oke, deh. Tapi abis itu gw susah, bro. Belum tentu gw laku, lagi”

Hmm, ini adalah pertanyaan satu juta rupiah. Bener juga, sih.

“Ya, terserah elo, dah. Yang penting, elo jangan kecewa” kata gw.
“Tuh, kan beda lagi jawaban, lo” kata Sakti.
“Lo, maunya apa, bang?” Tanya Boni.
“Poligami”

Wahhhhh. Parah, parah!

“Ha, elah, bang. Sama pacar lo, maunya apa, nyet?” Kata Boni.
“Ya, maunya lanjut”
“Nah, yaudah. Kalo gitu, lanjutin aja”
Kata Boni.

“Oke, deh. Kalo gitu. Gw balik, ya” Kata Sakti, langsung cabut tanpa babibu lagi.

“Wah, parah, tuh, orang. Udah, gitu doang? Gila, buang-buang waktu gw, doang” kata gw.
“Anjrit. Mules gw, men. Nggak terima kasih, lagi” kata Boni.

Heh, suara Sakti, liat noh, induk, lo.
“Malu, gw bro. Gw cabut bentar, ya”
Kata suara Sakti.

Lalu kita menuju ruang makan.

“WOI, tadi, Sakti kesini?” Tanya Kevin.
“Iya”
“Ngapain?”
“Buang-buang waktu, gw!” Jawab gw dan Boni.

“Oh, iya, men. Kita harus rapat internal. Segera!” Kata gw.
“Sekarang?” tanya Kevin.
“Iya elo, panggil-panggilin, dah tu. Suruh kumpul di ruang UGD” kata gw.
“UGD, kan, unit gawat darurat, bro” kata Boni.
“Ya, justru itu, bro, ini darurat. Udah cepet. Ayo bergerak!” Kata gw.

Lalu, mereka berdua menuju kamar Alex dan Radit.

“Ge..Ge, sibuk banget lo dari tadi” kata Monique.
“Ini Abisnya penting, ibu Presiden”
Jawab gw.
“Ya, udah. Sini gw kasih info” kata Monique. Lalu dia memberikan secarik kertas.
“Dapet dari mana, lo Mon?”
“Kemarin, pas ngobrol sama Tere”
Luar biasa. Big applause.

“Thank you banget, Mon. Gw nggak akan mengecewakan, elo” kata gw.
“Udah, sana rapat”
“Siap, laksanakan!”

Lalu gw masuk ke ruang UGD.
“Ada apaan, sih, men” tanta Alex.
“Kita, punya seorang musuh. Namanya Robby. Menurut laporan di kertas ini, dia adalah anak seorang pengusaha kaya. Dan, menurut laporan ini juga, kelihatannya om Tony, tidak bisa banyak bertindak.
Jadi, kita hanya sendiri di Medan perang, ini. Jadi sebelum, itu, kalau ada yang mau mundur, sekarang lah saatnya” kata gw.

“Gw, maju, bro” jawab Kevin.
“Hantam!” Kata Alex.
“Pantang mundur!” jawab Boni.
“Ya, deh. Gw juga” kata Radit.

“Oke, bro. Pantang pulang sebelum gajian!”

“Lo tahu, tugas lokan, Dit. Ini gw kasih biodata nya. Nah, lo Bon, Ikuti tersangka. Elo, kan bisa bebas. Nah, elo, Lex, lindungi benteng ini. Buat elo, Vin…..”
“Suruh mijitin, lo, gw tabok, lo!”
“Ya, udah terserah elo, mau bantuin yang mana. Sementara gw, akan mengawasi Tere. Ada yang keberatan?”

“TIDAK JENDRAL!”
“LAKSANAKAN!”
——————————————

Nggak, terasa hari udah malam.
Gw pengen nyantai, melihat apa saja, yang terjadi dalam hidup gw.

Berbagai jenis tante-tante, gw cicipi.
Dari softcore, sampe yang hardcore.
Dari yang janda, sampe yang masih menyusui.
Dari yang ‘resmi’, sampe yang ngumpet dari suaminya.
Entah udah berapa penghasilan gw.

Dan demi emak gw, gw harus tinggalkan itu semua. Sebenarnya demi masa depan gw juga, sih.

“Udah yakin, bro?” Tanya suara Sakti.
“Yakin 1000% gw. Lebih baik gw mati, dari pada mengecewakan ibu gw”

“Keputusan, lo, udah bulat?” Tanya dia lagi.
“Udah. Akan gw paksa, diri gw. Lagian, nggak mungkin selamanya gw begini. Bagus, cuma emak gw. Kalo si Monique, begemana?” Kata gw. Bisa hancur semua hayalan gw, tentang keluarga bahagia.

“Betul juga, sih, bro. Emang lo sesayang itu, ya, sama ibu tiri, lo?”
“Anak laki, rata-rata deket sama ibunya. Nah, gw yang dari kecil udah kehilangan ibu, pasti butuh mother figure. Dan gw dapet, yang manjain gw, tapi nggak lupa memarahi gw kalau gw salah. Padahal, gw siapa coba. Anak bawaan dari suaminya, yang tidak terlalu mencintai dia. Pokoknya kita cuma kekurangan DNA yang sama. Sisanya gw udah kayak anak kandungnya”

“Gw pikir lo, anak keras kepala” kata suara Sakti.
“Ya, Kalo sama bokap, gw.
Gw aja nggak berani bohong sama emak. Kalau gw bohong, pasti gw merasa bersalah. Apalagi, ngelawan dia”

Ya, harus diakui, gw bakal merindukan job paling enak ini.
(Kecuali dengan tante Dominatrix. Nyebut namanya aja, bokong gw ngilu)
Tapi ini semua demi,
the one and only, Monique!
This is for you!

Ini, akan jadi pengalaman tak terlupakan, gw. Satu hal, yang tidak akan diceritakan ke anak dan cucu gw nanti. Bisa-bisa, mereka mengambil jalan yang sama dengan gw.

Lalu ada WA dari emak gw.
Wah, panjang umur.
Mama: “Vin, mobil kamu, udah mama lunasin. Jadi tinggal balik nama. Ntar kalau ada waktu luang, kamu urus surat-suratnya. Anggap aja hadiah ulang tahun”
Whatttttt! Ulang tahun Gw, kan, masih lama.
Buset, emak gw jadi tajir begini. Dulu, sih keluarganya udah tajir. Tapi kayaknya sekarang lebih tajir. Ada apa gerangan. Untung lo jadi ibu gw.
Gw, Ketiban untung juga.

Mungkin, biar pas, sama ceritanya, ya. Makanya si author, bikin emak gw jadi tajir gila.
Bagus thor, lanjutkan terus!

Khu Khu Khu, tinggal gw yang di buat tajir gila.
(‘Kalau mau kaya, kerja. Jangan menghayal!’)
(Lo, juga, thor. Kalo mau kaya, kerja. Jangan bikin cerita doang)

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 44 | Hidup di Jakarta Part 44 – END

(Hidup di Jakarta Part 43)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 45)