Hidup di Jakarta Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 42

Start Hidup di Jakarta Part 42 | Hidup di Jakarta Part 42 Start

Part 42

“Tan, Kalo aku sampe dikutuk atau dibenci, sama mama Wulan, tante harus tanggun jawab” kata gw ketika tante Candice lagi ngulum penis gw, di apartemennya tante Candice.

Saat gw nganterin tante Candice, gw dipaksa masuk ke apartemennya. Sampe-sampe tangan gw berdarah kena kukunya.

“Iya, Vin. Tenang aja. Kayak kita baru sekali, aja. Udah ah, fokus ke aku aja” jawab tante Candice.

Maafin Gavin, ya, mam, baru Gavin janji, udah kalah sama adiknya mama.

“Kamu, tuh tahu, nggak sih, aku kangen sama kamu. Sampai aku udah nikah kamu nggak dateng juga” kata tante Candice, sambil memainkan penis gw.
“Ya Abisnya, aku ditinggal tante nikah. Ngapain lagi”

Padahal nggak, sih. Gw serem Kalo sama tante ini, takut burung gw dipotong. Dia kayak terobsesi sama gw. Dan gw sama tante Candice ini umurnya nggak terlalu jauh, untuk ukuran tante dan keponakan.

Dan bisa dibilang, pernah ada romansa diantara kita.
Pas, gw kuliah, gw backstreet dengan tante Candice, ini.

Jadi gini ceritanya…………………………

Begitulah ceritanya.

“Mana, bro?” Tanya suara Sakti.
“Emang belum?”
“Ya elah, belon”
“Maap-maap”
“Hee. Sontoloyo!”

Oke begini ceritanya.

——————————————
Waktu gw masih SD, gw naksir berat sama tante Candice ini.
Cantik terus idola semua orang. Didalam maupun diluar kelurga.
Dan setiap hari valentine, gw selalu kasih hadiah ke tante Candice.
Dan itu udah jadi rahasia umum di keluarga gw.

Sampai gw punya pacar waktu SMP dan SMA, gw masih tetap memberikan tante Candice hadiah.
Pokoknya dia wanita idaman gw.

Sampai suatu saat, pas gw SMA, gw melihat tante Candice, nangis, dikamarnya. Saat itu, dia tinggal di rumah gw. Kira-kira, dia umur berapa, ya? Gw nggak inget, deh. Gw aja nggak tahu, gw umur berapa.

“Lah, tante, Can, kenapa nangis?” Tanya gw.
“Eh, Gavin. Nggak Vin. Tante cuma lagi sedih” jawab dia, sambil mengusap air matanya.
“Ya penyebab sedihnya apa, tan? Kan pasti ada sebabnya. Siapa tahu Gavin bisa bantu”
“Kamu, nih emang paling perhatian”

Lalu dia menceritakan kalau pacarnya selingkuh.
Emang dasar laki-laki. Makanya gw nggak mau pacaran sama laki-laki.
Najis.

“Sabar, ya, tan. Tinggalin aja laki-laki kayak gitu. Masih ada Gavin, kok, yang setia sama, tante” kata gw.
Walaupun, gw, nggak memberikan sebuah solusi yang berarti.
“Makasih ya, Vin. Tante sayang banget sama kamu. Dari kecil sampe sekarang selalu ada” kata tante Candice sambil ngecup gw.

Setelah gw di kecup, gw memandang wajahnya, yang berurai air mata. Lalu gw seka air matanya.
Dan suasana itu, membuat kita berciuman, untuk pertama kalinya.

Semua berjalan begitu natural.

Uwahhhh, saat itu, adalah paling berbunga dalam hidup gw. Saat itu!
Kalo saat ini adalah pas gw dansa dengan Monique.
Dari bunga tulip sampe bunga bangke hadir di hati gw.

Sebagai seorang laki-laki, yang sedang berciuman dengan orang yang di sukainya, gw udah nggak memikirkan apa-apa lagi.

Gw menikmati setiap ciuman, yang diberikan oleh tante Candice.
Dan tante Candice, sempat mendorong gw.

“Vin, sebelumnya, ini akan jadi pertama dan yang terakhir, ya. Kamu harus janji”
Pinta tante CaN.
“If you wish” jawab gw.

Dan dia melanjutkannya lagi.
Semuanya berjalan, seperti kita sepasang kekasih.
——————————————

“Menang banyak lo, bro”
“Beuh! Bukan menang banyak lagi. Udah jadi dewa gw, men”
“Terus gimana, lagi?”
“Terus begini……………….

——————————————

“Shh, pelan-pelan, Vin!” Kata tante CaN, ketika gw menciumi leher dan memainkan payudaranya.

Walaupun itu pengalaman pertama Gw dengan wanita, tapi gw sudah rajin nonton bokep. Jadi gw tahu, apa yang perlu dilakukan.

“Vinn, buka baju aku, Vin” perintah dia. Dan gw menuruti kemauannya.
Dan untuk pertama kalinya, gw melihat wanita bertelanjang dada secara langsung di usia ABG ini.

“Tan, tante cantik banget” kata gw.
Lalu gw mencium dadanya.
Gw menghisap putingnya.
Dan menikmati setiap inci payudaranya.

“Shh, Vin! Terus sayang!”
Gw hanya mengikuti perintahnya.

“Ahhh, Vin. Aku sayang kamu”
Hee?????
I love you too, tan.

Dan dia lalu gantian, menurunkan celana gw.

‘Tring’
Saat itu juga penis gw langsung setinggi tiang.

Dan tanpa babibu, tante CaN, mengulum penis gw. Enak rasanya.
Itu adalah kedua kalinya gw di sepong. Yang pertama dengan mantan gw.

“Ahhhh, Candice!” Gw meneriakkan namanya.

Dan nggak lama, tante CaN, ngomong,
“Vin, aku udah nggak tahan masukin, ya” pinta dia.
“Iya, tan”

Lalu, tante CaN bangun, dan mencopot celana beserta CDnya.
Hingga terpang-panglah vaginanya yang mulus.

“Vin kamu diatas, ya” pinta dia.
“Iya, tan”

Tante CaN gw tidur kan di kasur. Gw bersiap untuk melepas keperjakaan gw.

“Pelan-pelan, ya, Vin!”
“Aku masukin, ya”

Lalu gw masukan penis gw, perlahan-lahan.

“Auhh!”

‘Jreng-jreng’
Gw dapet anak perawan.
——————————————

“Wah, dapet anak perawan lo, bro?”
“Iya, men. Tante Perawan”
“Tapi, emang lo perjaka?”
“Kalo coli dan di sepong nggak di itung, ya, Gw perjaka”

——————————————

“Tan, nggak papah, tan?” Tanya gw.
“Nggak papah. Aku rela kalau buat kamu. kamu pelan-pelan aja” jawab dia.

Lalu gw menekan pinggul gw dengan pelan.
“Shhhh.. Ahhh”

Gw memulai sangat pelan. Bukan cuma karena gw hati-hati. Tapi karena gw juga baru pertama kali.

Hingga akhirnya kita bisa memberikan tempo yang sesuai.
Gw berkali-kali mencium bibir tante CaN.

Ada yang bilang, kalau cowok perjaka, bakal cepet keluar di sex pertamanya.
Hahaha, payah mereka semua.
Gw dong…… kayak begitu, juga.

“Tan, aku udah mau nyampe” kata gw.
“Aku juga, yang” jawab dia.

Dan ketika gw mau menarik badan gw, tante CaN, menahan badan gw. Sehingga gw nggak bisa mencabut penis gw.

“Tann!”

‘Jurrrrrrrrrrrrr’
Gw mengeluarkan, sperma gw di vaginanya tante CaN.
——————————————

“Didalam, bro?”
“Iya. Didalam, pojokan dikit”

——————————————

Setelah beristirahat sebentar.
Gw berbicara dengan tante CaN.

“Sorry, ya, tan. Jadi begini”
“Nggak papah, aku seneng kok. Tapi ini pertama dan terakhir, ya”
“Iya, tan”

Lalu dia memeluk dan mencium gw.
Dan itu untuk pertama kalinya gw dan tante CaN melakukan hubungan sex. Baik secara pribadi atau sebagai lawan tanding.

Sejak saat itu, gw makin menyukai tante CaN.

Hingga saat kuliah semester 2, tante CaN, lagi-lagi, nangis di depan gw.
Cuma dengan alasan yang berbeda.

“Vin, Maafin aku, ya. Aku nggak bisa menepati janji. Aku nggak bisa menghilangkan kamu dari pikiran aku. Aku jatuh cinta sama kamu, Vin”

Dan sebagai orang yang punya rasa yang sama, gw menerima cintanya.
Dan terjadilah romansa itu.

Padahal, bisa dibilang, jarak dari pertama kita berhubungan sampe gw kuliah semester 2 itu, cukup lama. Jadi saat itu, gw anggap sebagai rejeki.
——————————————

“Terus kenapa pisah?”
“Ya gitu, deh, men. Namanya pacaran sama cewek terobsesi, sama cewek protektif kan, beda”

——————————————

Awalnya sih, fine-fine aja. Tapi pas tengah-tengahnya. Beuhhhh!
Bisa dibilang kebebasan gw diambil.
Dan lama-lama gw jadi serem sama tante CaN. Walaupun cinta, tapi kayaknya nggak gini, juga.

Akhirnya gw bicara sejujurnya ke tante CaN. Walaupun dia sedih, dia menerima keputusan gw.

Gw pikir, gw mau dibunuh.

Sejak saat itu, gw menjaga jarak dengan tante CaN. Sampai akhirnya dia nikah.

Rencananya, gw mau datang ke pernikahannya. Tapi Dia pernah ngomong kalau, dia menikah hanya karena orang tuanya. Dan gw selalu di hatinya. Akibat omongan itu gw nggak berani dateng ke pernikahannya.

Takut.
Ntar dia lari dari pelaminan ke gw, terus gw digebukin, sama suaminya. Hiii.

Dan yang pasti dari semua orang di bumi ini, cuma mama Wulan yang tahu tentang hubungan gw dengan tante CaN, Tanpa kedua orang yang mabuk cinta itu, bercerita ke mama Wulan. Tapi, gw nggak pernah tahu alasannya, membiarkan kita, mempunyai hubungan.
Benar-benar seorang ibu.
——————————————

“Jadi begitu, bro. Terus sekarang mau lo, apa?” Tanya suara Sakti.
“Ya. Mau nggak mau, gw ladenin. Dari pada, dari pada. Mendingan dari pada”
“Ya udah, gw berdoa buat lo aja”

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 42 | Hidup di Jakarta Part 42 – END

(Hidup di Jakarta Part 41)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 43)