Hidup di Jakarta Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 35

Start Hidup di Jakarta Part 35 | Hidup di Jakarta Part 35 Start

Part 35

“Jadi, kira-kira gitu ceritanya, tan”
Gw lagi ngobrol penting, dengan tante SuS.
Setelah gw laporan tentang anaknya ke tante SuS, tante langsung minta ketemuan, untuk bicara serius.

Ternyata mereka, udah nggak ketemu, dalam waktu yang cukup lama. Kasihan juga ngeliatnya.

“Gimana, ya, Ge?” Wajah tante sendu banget.
“Waduh, tan, saya juga bingun. Kalo saran saya, mending tante bawa ke ranah hukum, aja. Secara tantekan yang megang hak asuh” cuma itu cara yang ada dipikirkan gw. Walaupun kalau kalah di persidangan resikonya besar.

“Gitu, ya, Ge? Tante, sih, pernah kepikiran seperti itu. Cuman tante takut kalah. Habis, mantan suami tante, tuh licik banget. Tante, aja, udah ditipu berkali-kali, sama dia”
Ternyata, berat juga hidup tante.

“Ya udah, tante jangan takut.
Saya ada kenalan lawyer hebat, Yang bisa buat tante menang.
Nanti saya kenalin.
Dia sering, kok, nongol di TV.
Kasus-kasusnya, besar semua.
Apalagi, tante, kan pegang hak asuh, jadi pasti lebih gampang.
Nggak usah kuatir.
Terus untuk urusan ketemuan dengan Cathy, saya sama temen saya lagi nyari cela, supaya tante bisa ketemu, dulu sama si Cathy”

“Makasih ya, Ge. Tante, jadi ngerepotin kamu” kata tante SuS.
“Ya elah, apa, sih, yang nggak buat mama baru” kata gw.
“Kamu, ini. Ntar, tante, jadi mama kamu beneran, loh” kata tante SuS.

Weitss, enak banget bapak, gw.
Dapet janda kembang, dengan ketajiran tingkat dewa.
Bisa dapet durian runtuh, dia.

“Hehehehe” gw memberikan cengiran yang nggak ikhlas.

“Udah, ya, Ge. Nanti, kita obrolin lagi. Tante juga mau, cari-cari ide lagi” kata tante, berpamitan.
“Sip, tan. Hati-hati di jalan, ya.”
“Byeee”

Terpaksa, demi membantu Cathy dan tante SuS, gw harus menghubungi bokap gw. Secara, lawyer hebat, yang gw omongin, adalah sahabat bokap gw.
Mau nggak mau, harus melalui dia.
Nggak apalah.
Orang baik, harus banyak mengalah.

“Baik, Darimana lo, bro? Orang isi otak, lo, setan semua” hembusan Suara Sakti.
“Ya, elu setannya, men. Lagian namanya protagonis, pasti baik”
“Babi lo! Dibilang gw bukan setan. Udah kerjaain aja tugas, lo”

Berarti tugas gw lagi banyak, ya.

Ada yang mengamankan tuan putri.
Ada yang mempertemukan ibu dan anak
Terus, memuaskan tante-tante kaya, yang punya kebutuhan, yang kurang terpenuhi.
Jalani, aja, deh.

Kebetulan juga, hari gw juga janjian sama pasukan, untuk refresing.
Kita lagi pada bete, kerja nggak berhenti-henti.
Untungnya, si Tere, lagi di kost, dan nggak ngantor. Lagian Gw sudah menitipkan Tere, ke Pak Yono.
Lagipula, di kost ada Monique.
Jadi, Tere pasti aman.
Si Monique, lagi nemenin Cathy yang udah dua hari, nggak masuk kantor.

Setelah, kemarin Sabtu dia sesedihan, si Cathy sakit karena terlalu Down. Berarti, sakitnya udah empat hari. Otomatis, si Monique nggak tega, untuk Ninggalin dia.
Mon….. Mon, jadi istri gw, napa.

Tapi si Monique hebat juga, ya.
Udah berapa kali, dia nggak masuk kerja. Nggak dipecat, tuh. Sadis!

Si Radit kayaknya nggak ikutan, karena, ada kerjaan. Maklumlah kerjaannya nggak memngenal waktu. Jadi, kita cuma berempat.
Tapi ini, jam ngantor dan kuliah juga, sih. Lebih heran, kenapa ketiga mahluk itu, bisa lolos dari kewajiban mereka masing-masing.

Ah, sudahlah, kita tunggu saja kedatangan mereka.

Gw, menunggu di sebuah cafe, yang
biasa, didatangi oleh anak-anak gaul. Yooo, men!

Gw melihat menu cafenya.
Hmmm, dari gambarnya menggugah selera.
Tapi dari harganya, pengen gw sentil yang punya.
Masa, kentang goreng 44.793.
Kayanya banyak, deh, yang suka kentang. Kenapa harus mahal banget.
Liat aja, kalau sampe yang punya perempuan cantik, gw buat tepar, tuh, orang.

“Lo buat sumpah, hati-hati juga ya, bro” Kata suara Sakti.
“Iyalah bro, ntar Kalo gw bilang gw bikin tepar yang punya cafe, nggak tahunya yang punya laki-laki, di tusbol gw.
Kalo gw bilang yang punya cafe perempuan, doang, nggak tahunya perempuannya jelek banget, kan nyesek, bro.
Makanya, gw bilang, kalau yang punya cafe perempuan cantik”
“Sakareplo, dah. Bye the way, itu orang yang punya cafe” kata suara sakti.

Lalu gw melihat, seorang lelaki kemayu.

Untung, gw berhati-hati dalam bersumpah. Kali ini, keberuntungan ada dipihak gw. Fyuhh.

“Lah, ini anak rangers, udah dateng”
Kata Kevin, yang baru dateng.
“Diem lo, nyet. Bangke, lo”
Jawab gw.
“Yah, ngambek. Jangan ngambek, bro. Namanya juga kalah. Ya, Legowo, aja. Iya, nggak?”
“Kampret lo. Gw sumpahin, tim lo yang kayak Ijo lumut keputihan itu, bakal degradasi. Camkan itu anak muda!”
“Alah, nggak mungkin, bro”

“Ada apa, men?” Tanya Boni, yang baru dateng.
“Nah, ini Dundee dateng” kata gw.
“Lah, lo nggak jadi bareng si Alex?”
Tanya Kevin.
“Nggak. Tahu, tuh. Orang tajir yang satu, itu, nggak bisa dipegang janjinya” jawab Boni.
“Emang kita, mau ngapain aja, bro?”
Tanya gw.
“Nggak tahu. Si Alex yang bikin rencana” jawab Boni.

Lalu kita menunggu lama di cafe itu,
Sambil ngeliatin setiap cewek cantik yang lewat. Ditambah cemilan ke 2 porsi kentang goreng seharga 44.794.
Berarti total 89.586.
Buset nanggung banget.
90.000 aja sekalian.

Untung gw bawa minum sendiri.
Dari pada, beli disini.
Satu botol, harganya sama kaya beli air galon.

“Tuh, yang itu cakep, tuh” kata Kevin.
“Beuh, lumaya bro” jawab gw.
“Noh, yang entuh, bro yang pake tank top, kuning” kata Boni.
“Edeuh, itu kulit halus banget, bro. Kepeleset gw, Kalo salaman sama dia” kata Kevin.
“Wih, bro banyak amoy, ya.
Tuh, yang sebelah sana” kata gw.
“Wah, bro, clan gw, dong” kata Kevin.
“Yang lokalnya juga mantap-mantap” tambah gw.
“Yoyoi, bro. Selera lokal bisa, interlokal juga bisa” kata Boni.

“Bro, bro! Macan, bro. Buseettt”
Kata Kevin.
“Gila, men. Padahal udah ada anaknya. Tapi body masih kayak gitu. Edan!” Kata Boni.
“Bajunya, kurang bahan semua, lagi”
Tambah gw.

“Pada Ngeliatin apa, bro?”
Kata si Alex.
“Bah, lama kali, kau! Bosan kami nunggu kau. Mati sajalah kau!”
Kata gw.
“Bah, Batak kali kau, bang!” Kata Kevin.
“Horas!” Tambah Boni.
“Ya mangap, bro. Namanya orang sibuk, maklumlah” jawab Alex.

“Weits, sibuk. Orang kaya!” jawab kita bertiga.

“Ayo bro jalan. Jangan makan disini. Ada yang lebih enak. Lebih mahal, sih. Tapi lebih sedap” kata Alex.

“Wih, lebih mahal. Orang kaya!”
Kata kita bertiga lagi.

Lalu kita menuju restoran yang dimaksud Alex.

“Tuhkan, bro, harganya lebih mahal”
Kata Alex, sambil nunjuk harga di menu restorannya.

“Orang kaya!”

“Santai aja, pesen aja semaunya” kata Alex.

“Orang kaya!”

“Emangnya, Abis Darimana, sih?”
Tanya Boni.

“Ini, adek gw minta dibeliin motor. Maunya motor CC gede lagi. Padahal cewek. Giliran disuruh milih, Lama banget” jawab Alex.

“Orang kaya!”

“Abis itu, nyari tiket ke Eropa buat keluarga besar gw. Mana gw nggak ikut lagi” tambah si Alex.

“Orang kaya!”

“Sekalian ini, juga sih, bokap gw mau nyari mobil baru”

“Orang kaya!”

“Lo, pada, dari tadi jawabnya orang kaya, terus. Santai aja, kali. Biasa itu, mah” kara Alex

“Sombong!”

Akhirnya kita semua makan bersama yang di bayarin oleh si Alex.
Biar kata si Kevin dan Boni orang berduit juga, mereka tetap itung-itunggan. Namanya juga anak kost.

Abis itu, kita jalan-jalan keliling Jakarta. Ke tempat-tempat yang biasanya anak perempuan berkumpul. Lumayan buat cari-cari pencuci malam.
Hingga hari sudah malam, dan saatnya kita pulang.

Sebenenya, besok, selama 5 hai berturut-turut, tante BeR bilang Kalo gw punya lima client. Gila nggak, tuh.
Gw harus siapkan tenaga, hati, dan pikiran.

“5 target, bro?” Tanya sang suara Sakti.
“Iya, men. Dua orang, adalah tante ClaR dan tante BeL. Sisanya adalah orang baru. Jadi gw harus siap”
“Ya udah, sukses, bro”
“Terima kasih, men!”

Ini bakal jadi lumbung uang, kalau gw cermat.
HEIL GEGE!

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 35 | Hidup di Jakarta Part 35 – END

(Hidup di Jakarta Part 34)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 36)