Hidup di Jakarta Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 33

Start Hidup di Jakarta Part 33 | Hidup di Jakarta Part 33 Start

Part 33

Hmm, sebaiknya gw kasih tahu, nggak, ya?
Kalo, gw nggak kasih tahu, gw nggak tega.
Kalo, gw kasih tahu, ntar gw salah lagi.

“Mending lo cari tau dulu, bro. Ada apa dengan mereka”
Saran Suara Sakti.
Bener juga, sih.

“Emang, ada berita penting, tan?”
Tanya gw.
“Nggak, tante kangen sama dia. Udah lama, nggak ketemu” jawab tante SuS, dengan wajah sendu.

Tante BeR, lalu me WA gw.
Mungkin supaya, nggak ketahuan tante SuS.
Tante BeR: “dia lama nggak ketemu putrinya. Soalnya dia berantem terus sama mantan suaminya. Jadi putrinya rada marah.
Kamu kenalkan, sama anaknya. Saran tante, sih kamu kasih tahu, aja. Tante rasa anaknya juga kangen sama mamanya. Tapi kamu ngomong ke anaknya, abis itu. Jangan pura-pura, nggak tahu.”

Gila, tante BeR makin lama makin ajaib. Bisa tahu gw kenal sama si Cathy.

“Kenal, kok, tan” jawab gw.
“Seriusan? Tante pengen ketemu, dong. Tolong bilangin. Tante udah nggak bisa komunikasi lagi. Tante kangen banget!” kata tante SuS.
“Ya, udah, ntar saya bantu, tan” jawab gw.
“Makasih, ya, Ge” kata tante SuS.

Jadi ternyata tante SuS ini janda.
Pantesan rapet banget.
Berarti sekarang gw lagi bersama dua orang janda.

“Dari pada suntuk, mending kita jalan lagi, aja yuk! Lo ikut ya Sus.
Lo nggak bawa mobil, kan?” Ajak tante BeR.
“Ayo! Nggak kok, gw ama supir tadi”
Jawab tante SuS.
“Ya udah, saya ngikut aja, tan” jawab gw.

Akhirnya kita jalan-jalan, keliling Jakarta. Tumben Jakarta sepi. Biasanya ada nafas dimana-mana.

Setelah keliling Jakarta, si tante BeR, bertanya.
“Abis ini, kemana, nih?”
“Ke rumah lo aja, Say. Udah lama gw nggak main kerumah lo” ajak tante SuS. Boleh juga. Gw penasaran sama rumahnya tante BeR.
“Ya, udah ayo” jawab tante BeR.

Kita meluncur ke rumah tante BeR.
Dan………..

‘Jeng-jeng’
Ini bukan rumah, men. Ini mansion!
Sumpah gede banget. Gw pikir rumah begini cuma ada di luar negeri.

Mobilnya mewah semua lagi.
Ternyata mobil yang gw pake sekarang, adalah mobil paling murah diantara semua mobilnya.
Dan kalo tante bilang, mobil tante masih ada empat, itu semua bohong. Ntah ada berapa koleksinya.
Mungkin ada empat, yang bisa dikasih orang secara cuma-cuma. Sisanya bayar. Sadiss!

Lalu gw parkirkan mobil gw.
Masih atas nama tente BeR, sih.
Tapi gw percaya, ini bakal jadi mobil gw. Kalau perlu rumahnya sekalian buat gw.

“Ayo masuk. Anggap aja rumah sendiri” ajak tante BeR.

Bujukkk, ini barang mahal semua.
Gw jual diri, juga masih kalah mahal.
Dan gw lihat, ada foto tante dengan seorang cewek muda, yang kira-kira, masih SMA.

“Itu, anaknya, tan?” Tanya gw.
“Iya. Itu anak, tante. Dia lagi sekolah di luar negeri” jawab tante BeR.
Ibu ama anak, sama-sama cantik.
Bapaknya pengen cantik, pula.
Keluarga yang aneh.

Lalu, kita lanjut ngobrol-ngobrol.
Beberapa lama ngobrol ngarol-ngidul, tante BeR nyeletuk.
“Say, mau, nggak?” Tanya tante BeR ke tante SuS.
“Apa, yang kita pernah omongin?” Kata tante SuS.
Ada apa ini? Gw mencium sesuatu yang harum.

Tante BeR, menjawab dengan alisnya.
“Jadi mau nggak, nih?” Tanya tante BeR.
“Ya udah. Tapi gw ke toilet dulu, ya” jawab tante SuS.
Terus tante SuS pergi.

Lalu tante BeR, ngomong.
“Kamu udah ngapain sama aja, sama Susi?” Tanya tante BeR.
Waduh, gw di interogasi.
“Jawab Jujur, apa menenangkan hati tante aja?” Kata gw.
“Jujurlah. Ngapain yang manis-manis, doang”
“Kalo gitu, samalah, tan, sama apa
Yang kita lakukan” jawab gw.
“Maksudnya sex?” Tanya tante.
“Hehe, iya, tan”
“Kalo gitu, kamu tunggu sini” perintah tante BeR.

Lah, gw ditinggal sendirian.
Rumah segede begini, sepi lagi.
Horor, nggak, ya? Ihh.

Terus nggak lama, seorang perempuan dateng.
“Mas, ikut saya, mas. Dipanggil ibu”
Kakinya napak, kan? Aman.
Lalu gw ikuti mbaknya.
Mau diapain gw? Di eksekusi lagi.

Dan gw diajak ke depan sebuah pintu. Lumayan jauh dari ruang tamu. Gede banget ini rumah.
“Silahkan masuk mas” kata si mbak.
Hee??
Lalu si mbaknya pergi.

Permisi.
Lalu gw membuka pintu.

‘Bang-bang’
Tante SuS dan tante BeR, lagi tiduran di kasur, menggunakan linggerie.
“Sini, Ge. Waktu si Clara cerita 3somenya, tante jadi pengen nyoba. Jadi sekarang pengen tante realisasikan”
Kata tante BeR.

‘Selamat kepada……. bapak Gege!
Berhasil memenangkan Jackpot, dari undian kondom!’

‘Pai pai pai pai pai pai pai pai’
Gila, bro! Gw diajak 3some lagi.
Gw nggak di eksekusi, tapi di eksekusex.
Apalagi sama tante-tante cantik, idaman gw.

“Kok, kamu bengon? Ayo, dong!” Perintah tante SuS.

Tanpa aba-aba lagi, Gw menanggalkan semua baju gw, sampai menyisakan CD, doang.
Dan gw langsung loncat ke kasur.
Tanpa buang waktu, tante BeR langsung menyambar bibir gw. Seperti biasa, ciuman tante BeR lembut.

Tante SuS juga nggak tinggal diam.
Dia menciumi bagian dada serta perut gw.
Baru mulai aja, udah hot, men!

Nggak lama, tante SuS bertukar posisi dengan tante BeR. Tante SuS menciumi gw, tapi bedanya tante BeR tidak menciumi tubuh gw, melainkan tubuhnya tante SuS.

Gw merasakan, ada desahan dibalik ciuman tante SuS. Gw rasa tante BeR sedang mengeluarkan senjatanya. Gw yang nggak mau kalah dengan tante BeR, mengarahkan tangan gw keselangkangan tante SuS, yang ternyata udah banjir.

“Hauueemm”
Desahan kecil keluar, dari mulut tante SuS.
Terus, kita berubah posisi. Tante BeR dan tante SuS saling berhadapan. Sementara gw dibelakang tante SuS.
Mereka berdua berciuman. Sementara gw menciumi, punggung halus tante SuS. Tangan gw, juga masih bermain di vaginanya.

“Hahhh”
Lagi-lagi tante SuS, mendesah.
Gw menikmati inci demi inci punggung dan tengkuknya.
Sambil mereka berciuman, tangan mereka nggak mau ketinggalan, memainkan toket, lawannya.

“Ge, tangan kamu enak banget!”
Kata tante SuS.
Gw merasakan vaginanya lebih basah sekarang.
“Sini Ge, gantian”

Lalu mereka bangun dari tempat tidur, dan mencopot linggerie mereka.
Kemudian, Tante SuS mencopot CD gw.
Dia mengelus-elus dan memainkan penis gw.

Tiba-tiba, Tante BeR, membuat gw kaget, dengan duduk di wajah gw.
Vaginanya terpampang di muka gw.
“Ayo Ge, tante pengen di oral kamu”

Nggak perlu disuruh lagi, gw langsung memainkan lidah gw di vagina tante BeR.
Sementara tante SuS, sibuk dengan penis gw.

“Yahhhh……. Hahhhh…….. Terus Ge! Fuck” Teriak tante BeR.
Gw, menambahkan jari-jari gw dala service oral yang gw berikan. Apalagi klitorisnya nggak luput dari lidah dan jari gw.

Dan dibagikan bawah gw, Gege kecil nggak luput dari kenikmatan. Karena tante SuS sudah memainkan mulutnya di penis gw.
Pokoknya sex gw, PERFECT!

“Ge, tante mau pipis Ge!”
Kata tante BeR.
“Haaaahhhhhh!”
Air mancur derasa mengalir, dari cagina tante BeR.
“Ahh, Ge, enak banget” tante BeR, langsung tepar di samping gw.

Sementara tante SuS, masih menungging di penis gw.
Ternyata, kulumannya tante SuS enak juga.

“Ge, punya tante, udah gatel”
Kata tante SuS, dengan lembut.
“Ya udah, tante ubah posisi, aja”
Jawab gw.
Lalu kita berubah posisi, dalam posisi 69.
Kita berdua sama-sama menikmati permainan masing-masing.
Walaupun tante SuS, lebih nggak konsen dibanding gw.
Sementara tante BeR, memainkan vaginanya sendiri.
Cukup lama dalam permainan, tante BeR bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi.
Sementara tante SuS sudah banjir bandang.

“Ahh, Gee, tante keluar!”
‘Fyurrr’
Kata tante SuS.

“Tan, istirahat bentar, tan” ajak gw.
“Iya, tante juga capek” kata tante SuS.
“Jangan pada tewas dulu, ya” kata tante BeR, yang baru keluar dari kamar mandi, sambil menuju ke lemari yang aa di pojok ruangan.

Tante BeR lalu mengambil sesuatu di lemari tersebut.

‘Jeng-Jeng!’
Tante BeR, ngambil strap-on dildo! Yang dua sisi lagi.
Jangan-jangan, bokong gw mau dihantam.

“Say, elo, yang makein, dong. Udah lama, lo nggak makein gw ginian” kata tante BeR ke tante SuS.
“Ya udah, sini” jawab tante SuS.

Wait…….. Apa itu udah lama?
Berarti pernah!
Apa jangan-jangan kedua janda ini ehem-ehem.

Lalu tante SuS memakaikan strap-on ke tante BeR, dengan mesra.
Gw jadi horny sendiri.
Apalagi, waktu tante SuS memasukan dildo bagian dalamnya ke vagina tante BeR plus ketika mengikatkan strapnya. Ada efek dramatisnya.

“Ayo main lagi!” Ajak tante BeR, yang sekarang punya penis palsu.
“Tan, itu masuk kemana nanti?” Tanya gw.
Kakek gw berpesan, untuk menjaga keperawanan bokong gw.

“Udah tenang, Ge” jawab tante BeR.
“Sorry ya Ge, Kalo yang ini punya tante” kata tante SuS.
Hee??? Maksudnya???
Terus, gw gimana?

Lalu tante SuS merangkak di atas badan gw.
“Tan, maaf nih, sebelum lanjut, pake kondom dulu nggak?” Tanya gw.
“Udah nggak usah. Kalo sama si Susi, tante mah rela” jawab tante BeR.
Huuuuu, sentuhan langsung.

Lalu tante SuS yang nggak sabar, memasukan penis gw ke vaginanya.
Masih rapet, aja.
“Shhhhh…ahhhh. Ayo Say, lo juga” kata tante SuS.
Juga??
“Nikmatin, ya, Say” kata tante BeR.

‘Jlebb’
Buset, Double penetretion.
Tambah sempit lagi. Menang banyak gw. Enyak-enyak-enyak-enyak.

“Haaaaahhhhhhh!”
Tante SuS berteriak.

Lalu gw mulai memaju mundurkan badan gw, secara bergantian dengan tante BeR. Jadi tante SuS cuma bisa terima hentakan, di pantat sama vaginanya.

Enak, men. Ada sensasi baru.
Gw merasakan dildo tante BeR, di Bokongnya tante SuS. Kayak ada pijatananya.
Gw rasa, gw udah diawang-awang.

“Ahhhh… Fuck me, more!”
Gw rasa tante SuS udah, hampir kalah.

Dan gw cium, bibir tante SuS.

“Hahhhh, tante mau keluar!” Kata tante SuS.
“Bareng, Say! Aku bentar lagi” jawab tante BeR.
Ah, gw barengin aja sama mereka.

“Aku keluar dimana, tan?” Tanya gw.
“Di dalam aja!” Jawab kedua tante.
Buset kompak banget.

Nggak lama, mereka mau sampai puncaknya.
“Ah, aku keluar, Say!”
“Iyahh, aku juga, Say!”
Kedua tante berteriak.
“Tann!”

‘Cuurrrrrrr’
Gw ikut keluar, akibat teriakan para tante.

Lalu kita semua tepar di kasur.
“Hah, enak ya, Sus” kata tante BeR.
“Iya, gw nggak nyangka akan seenak ini” kata SuS.
“Enak, nggak, Ge?” Tanya kedua tante.
“Enak, tan. Ada tekanan tambahan”
Jawab gw.

“Hehe. Sebenarnya tante udah sering begitu sama, si Susi. Kamu kaget, ya?” Kata tante BeR.
Buset! Sering? Ini berdua, janda kesepian kali, ya.
“Iya, Ge. Tapi, tante Kalo sama dia pasti maunya di anal. Nggak tau, kenapa” tambah tante SuS.

“Abis kita sama-sama janda. Tapi Cuma sama kamu, loh, Kita berhubungan badan, sama laki-laki” kata tante BeR.
Gw jadi malu.
“Hehehe. Jadi malu, tan” jawab gw.

“Btw, Ge. Tante nggak bisa, main Sama kamu lagi, Ge. Ini kayaknya terakhir, deh” kata tante SuS.
Hii, apa tante hamil??
Waduh.

“Tante nggak enak, sama anak tante. Dari pertama kita berhubungan, tante jadi kepikiran anak tante terus.
Jadi ini terakhir ya, Ge. Tapi Kalo kamu butuh apa-apa, kamu bilang aja” kata tante.
Kirain tante hamil. Kalo tante SuS hamil, Monique gimana?

“Itukan, hak tante. Jangan pikirin saya, tan. Anak tante lebih penting” jawab gw. Sekali-kali bijak dikit.
“Makasih, ya. Ge” kata tante SuS.

“Terus kamu mau nginep apa pulang, Ge?” Tanya tante BeR.

Udah malam, sih. Tapi gw pulang aja, deh. Biar aman.
“Pulang aja, tan. Nggak enak sama anak kost” jawab gw.
“Ya udah. Say, lo balik apa nginep?”
“Gw nginep, aja. Udah capek gw” jawab tante SuS.
Waduh, pada mau lanjut lagi.

“Oke, deh. Kamu mau balik sekarang apa entar, Ge?”
“Sekarang aja, tan. Takut tambah malam”
“Oke, deh”

Lalu gw bersiap-siap pulang.
Sementara kedua tante, masih begitu aja.

“Udah, ya, tan. Saya balik dulu”
“Eh, ini, Ge! Jangan sampe kelupaan” kata tante BeR.

‘Ting-ting’
Radar uang gw, langsung menyala.

“Nih, Ge. Sekalian dari si Susi” kata tante BeR, sambil memberikan 2 amplop cokelat yang lebih tebal dari biasanya.

“Makasih, ya, Tan. Sama mama baru juga” kata gw.
“Mama baru?” Tanya tante BeR, bingun.
“Masih inget aja kamu, Ge. Udah ah, Sana balik” jawab tante SuS.

“Balik, ya, tan” kata gw.
“Iya, hati-hati. Jangan nyasar!” Kata para tante.
“Iya, tan, tenang, saya kan hebat” lalu gw diam sejenak.
“Kenapa, Ge?”
“By the way, pintu keluarnya sebelah mana, tan?” Tanya gw.
“Ya elah, Ge! Banyak gaya, sih”
Ya begitulah gw. Gaya lebih penting.

Gw berhasil keluar dari rumah tante BeR. Dan sekarang gw udah nyampe kostsan.

Si Cathy, udah tidur belum, ya?
Coba gw cek dulu, deh.

‘Tok-tok’
“Cathy! Masih bangun nggak?”
“Sebentar, lagi dikamar mandi. Tunggu di ruang makan aja!” Oh, masih sadar.
“Iya. Ditunggu ya” jawab gw.

Lalu, gw menunggu di ruang makan.

Dan tiba-tiba, sosok tak asing, ada di depan gw.
“Dewi!”
“Gege!”

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 33 | Hidup di Jakarta Part 33 – END

(Hidup di Jakarta Part 32)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 34)