Hidup di Jakarta Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 30

Start Hidup di Jakarta Part 30 | Hidup di Jakarta Part 30 Start

Part 30

“Ada lagi yang mau disampaikan?”
Tanya baginda raja.
“Tidak!” Jawab kita berdua.
“Kalau begitu, sudah saatnya kita bicara. Ayo kita ke cafe dulu” perintah baginda raja.
“Baik! Yang mulia!” Jawab kita.

Kita berdua abis dijemur di parkiran mall, oleh si om, akibat salah sasaran. Dan gara-gara, kita salah sasaran, Tere lolos dengan teman-temannya, beserta seorang laki-laki.
Sebuah keteledoran luar biasa.
Mudah-mudahn, gw nggak turun pangkat.

“Jadi, kalian ini, siapa?” Tanya om, menginvestigasi kita.
“Saya Gege, om. Ini, Boni.
Kita temen kostsannya Tere” jawab gw.
“Ada urusan apa kalian, mengikuti Tere?” Tanya om.
“Untuk melindunginya, dari kegelapan” jawab gw, lebih tegas.
“Kalian, bukan mau, mempermainkan dia, kan?”
“Siapapun, yang mempermainkan Tere, akan kami hantam!” Jawab Boni.
Betul sekali kopral.

“Kalian, mau buat Tere terpesona, terus dia jadi pacar kalian?” Tanya om.
Wah, sadis. Seorang investigator sejati.
“Tidak! Seandainya Tere jadi pacar, salah satu dari kami, maka misi kami sudah gagal” jawab gw.
“Maksudnya?” Tanya om.
“Kalau Tere jadi pacar kami, sama saja membawa Tere, ke kegelapan. Mungkin bisa jauh terpuruk sampai ke neraka!” Jawab gw, Ke baginda raja.
“Betul sekali!” Timpal Boni.

Gw bukan merendahkan diri, tapi itu kenyataan.
Bisa hancur hidup Tere, gara-gara kita, semua.

“Dasar kalian, apa? Sampai mau melindungi Tere?” Tanya om.
Tangguh sekali.
Sangat pantas jadi raja.
Gw kehabisan jawaban.

“Karena sebuah cahaya, membutuhkan kegelapan untuk menjadi terang. Biar kami yang jadi kegelapan dan Tere menjadi cahayanya” jawab Boni.

Bon, jawaban lo sangat indah.
Lebih indah dari wajah lo.
Gw beli lima dus, deh, dodol, lo.

“Jawaban yang tepat! Sangat tepat!” Kata si om, sambil terharu.
“Iya, bon jawaban, lo, tepat!” Gw ikut terharu, ngedengernya.
“Makasih semuanya. Cuma itu yang ada di hati, saya!” Kata Boni, ikut meneteskan air mata.

“Ya, elah. Ada tiga laki-laki dewasa nangis bersamaan, ditempat umum. Geli gw, ngeliatnya” suara Sakti mencela suasana nan syahdu, ini.
“Ah, berisik lo. Lo, yang nggak punya passion, nggak akan ngerti!
Ini adalah tangisan penuh passion, untuk melindungi Tere! Camkan itu baik-baik!” Ya, ini adalah tangisan, yang punya arti sangat spesial.
“Terserah lo, pada, deh. Gw pergi aja”
“Iyah, sana pergi!”

“Oke, saya percaya kalian.
Saya akan memperkenalkan diri. Saya ini, Tony.
Omnya Tere.
Tere itu, adalah keponakan, kesayangan saya. Dari dia kecil, dia sudah dititipkan ke saya dan istri saya. Tapi kami tidak bisa memberikan waktu buat dia”
Jelas si om.

Jadi, om ini, adalah suami tantenya Tere, yang katanya sering keluar negeri.

“Terus, om kenapa ngikutin dia?” Tanya gw.
“Om dapat laporan, kalau belakangang ini, banyak cowok yang mengincar dia. Jadi, om harus siaga”
Jawab si om.

“Bro, si om punya kendali untuk mengatur kehidupan Tere. Dia orang yang tepat. Lo harus bikin aliansi dengan dia!” Perintah suara Sakti.
Betul juga.
Cuma si om yang bisa, melarang Tere, kalau seandainya kita kalah.

“Laporan itu betul, om. Makanya kita, dari kemarin, memantau Tere, terus” jawab Boni.
“Kalian ini, ada berapa orang? Kok kelihatannya bukan cuma kalian berdua?” Tanya om.

“Kita berlima om. Tapi kita diperintah oleh satu perempuan. Mungkin om kenal” jawab gw.
“Siapa?” Tanya om
“Monique” jawab gw.
“Oh, pantesan. Kalau begitu, saya bakal percaya sama kalian. Apalagi kalau Monique sampai percaya kalian. Saya akan serahkan ini pada kalian” kata om.

“Kalau begitu, setiap informasi yang kami terima, akan kami sampaikan ke om. Om nggak perlu kuatir.
Cuma perlu duduk tenang” kata gw.
“Tapi, jangan salah sasaran lagi” perintah om Tony.
“Siap yang mulia!” Jawab kita berdua.

Akhirnya pertemuan selesai.
Gw dan Boni pulang, untuk mengadakan rapat darurat, tentang kejadian barusan.

Malam hari, kita ngumpul lagi di kostsan, Untuk berdiskusi.

“Jadi gitu, men. Kita sudah diberikan mandat. Jadi kita lebih, aman” terang Boni.
“Siplah, kalau gitu” jawab mereka, bertiga.
“Terus gimana, dengan para tersangka?” Tanya gw.
“Hehe, mereka bisa kita interogasi. Tinggal tunggu waktu”
Jawab Radit.
“Bagus Kalo gitu. Gw rasa cukup. Rapat selesai”
Kata gw.
“BAIK!” Jawab mereka.

Terus gw kembali ke kamar.
Dan gw lihat di hape gw ada WA, dari tante BeR.
Tante: “Ge, besok kita ketemu. Kamu yang tentuin tempat. Ada kerjaan”
Gw: “tante aja yang nentuin tempat. Besok kabarin saya”
Tante: “Ya udah, di mall bisa aja. Biar kamu nggak nyasar”
Gw: “oke. Sip, tan”

Hmm, targetnya, kayak apa, ya?
Mudah-mudahan, gw siap.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 30 | Hidup di Jakarta Part 30 – END

(Hidup di Jakarta Part 29)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 31)