Hidup di Jakarta Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 26

Start Hidup di Jakarta Part 26 | Hidup di Jakarta Part 26 Start

Part 26

Setelah semalaman hati gw berbunga-bunga, hari ini gw fokus, untuk mempersiapkan, operasi perlindungan Tere.

Karena itu gw akan rapat, dengan para tetua Gege. Untuk membantu gw.

Sebelum rapat, gw mau sarapan dulu, pakai Mie instan.
Supaya, gw bisa berpikir dengan tenang.
(MSG itu penting. Untuk berpikir kearah yang salah)

Ketika di ruang makan, ternyata ada Tere, lagi di taman.
Ruang makan dan dapur memang terbuka. Jadi udara pagi masuk.
Si Tere, lagi bermain dengan Barton.
Heee??? Barton. Bahaya ini!

“Hai, kucing. Kamu lagi apa? Geli, nggak” kata Tere
“Meongg”

Jih, geli lagi, lo. Enak banget.

“Enak, ya?” Tanya Tere.
“Meong”

“Lucu, ya, men” kata Alex.
“Iya bro, adorable” sambut Kevin.
“Aduh, indahnya” tambah Boni.
“Sempurna, bro” si Radit, ikutan.
“Lah, lo pada ngapain, disini? Gw pikir udah pada berangkat” Tanya gw.

“Mengamati target operasi, bos”
Jawab Mereka semua.
“Oh. Ayo, lanjut mengamatinya” ajak gw.

“Hihihi, kamu lucu ya, kucing”
“Meonggg”

“Lucuan juga, kamu Re” kata kita semua.
Kayaknya, si Barton, demen sama Tere. Bisa bahaya, nih.

“Aku pergi dulu, ya kucing. Bye-bye”
Tere pamitan.
“Meong”

“Uwahhhhhhhh”
Semua laki-laki kehilangan kesadaran.

••••••••••••••••••••••••••••••••••••

“Oke, rapat dimulai. Gege kecil, kamu jadi notulen” Gege 1, memulai rapat.
“Siap!” Jawab Gege kecil.

“Pertama-tama, saya harus sampaikan, bahwa kalian berlima kurang kuat.
Kalian butuh seseorang, yang bisa punya alasan, mengatur kehidupan Tere” kata Gege 3.

“Saya setuju, dengan Anda. Tapi siapa?” Tanya Gege 2.

“Komisaris Sakti, saya rasa itu tugas Anda” kata Gege 4.

“Baik, yang mulia” jawab komisaris Sakti.

“Untuk rencana berikutnya?” Tanya Gege 1.

“Kami sudah punya, skema pertama. Semuanya sudah siap” jawab gw.

“Bagus. Saran saya, gunakan Pak Yanto, untuk mengamati semua orang yang datang ke kostsan.
Perhatikan baik-baik, dari ujung kaki ke ujung kepala” Kata Gege 1.

“Siap, yang mulia!”

“Wahahahaha, ada rapat penting rupanya!” Supreme Gege, datang secara tiba-tiba.

“Semua tunduk!” Perintah Gege 1.

“Saya tahu apa yang terjadi.
Saran saya gunakan Barton.
Di akan berguna pada waktunya. HaHaHaHaHa!” Perintah Supreme Gege.

Hmmm, seperti itu ya.
Baiklah, kalau begitu.

“Baiklah, yang mulia supreme Gege”
Jawab gw.

“Baiklah rapat selesai! Gege kecil, hasil rapat kamu e-mail ke saya”
Perintah Gege.

Wah, ternyata kepala gw, canggih juga.

“Bubar!”

••••••••••••••••••••••••••••••••••

Rapat selesai.
Gw akan temui Pak Yanto, untuk memberi dia tugas.

Pokoknya, operasi ini harus sempurna dan berjalan sukses.
Demi menjaga tuan putri, dari dunia kegelapan dan nenek sihir.

“Gimana, Pak, bisa?”
Tanya gw, ke Pak Yono.

“Siap, itu mah, mas. Beres pokoknya” jawab Pak Yono.

Gw menyampaikan rencana kita semua ke Pak Yono.
Dan memberitahu tugasnya.

Lalu Pak Yono berlalu.
Dan gw, kembali ke kamar.

Hmmm, gw melupakan sesuatu.
Ah, iya gw belum hitung penghasilan.
Gw, belum lapor tante BeR, lagi.

Gw laporan dulu, dah.
Gw: “tan, kerajaan udah beres, ya”
Nggak berapa lama WA gw langsung dibalas.
Tante: “oke, sip. Nextnya sabar, ya”
Gw: “siap!”
Tante: “tante, kirimin uang jajan, tuh buat kamu”
Wiiiiiiii, duit lagi. Hantam!
Gw: “makasih, tan.
Ngomong-ngomong, bayaran mobil, gimana, tan?”
Tante: “udah, kamu transfer aja, sebisa kamu dulu. Santai aja. Yang penting kamu jadi ada usaha”
Gw: “oke, tan”
Tante: “gimana si Clara? Asik, nggak?”
Gw: “tante Claranya sih asik. Tapi suaminya nggak asik”
Tante: “hahaha, iya si Clara cerita, Kalo dia nggak berasa 4some. lebih ke 3some”
Heeee? Buset, Client kasih FR ke mami. Baru sekali.
Gw lagi ditest, kali.
Gw: “iya, tan, tapi tante Claranya suka, kan?”
Tante: “dia Happy banget, kok, Ge”
Gw: “emang, tante, kenal tante Clara, dari mana?”
Tante: “dia itu, kakak tiri tante. Emang dia nggak cerita?”

Busettttt, gw di tipu lagi.
Bilangnya temennya, tante BeR.
Lagi-lagi gw ditipu berujung sex.

Gw: “pantesan, nama anaknya Gavin juga. Ternyata dia orang yang sama”
Tante: “nah, tuh, tau. Udah ya, Ge, tante mau kerja dulu”
Yap, keponakan tante BeR dan anak tante ClaR, adalah orang yang sama. Entah mengapa perasaan gw tenang, mengetahui berkurangnya orang yang namanya sama.
Gw: “yoi, tan”

Setelah laporan, saatnya gw menghitung penghasilan.
Mari kita chek.

‘Cha-ching’
Tante-tante loyal ada dalam genggaman gw.
Wahahahahahahaha.

Gila, men. Cashnya 5 juta.
Tapi, gw dapet cek bertuliskan
Rp 18.000.000.
Ngimpi apa gw.
Makin lama harga gw semakin naik.
Untung gw merki,
jadi duit kemarin-kemarin masih sisa banyak. Bisa nyicil mobil ini.
Makasih, Jakarta.
(/kemarin, aja, ngelawan gw. Sekarang terima kasih\)

Kok, gw bisa dapat client, tajir parah semua.
Ngeluarin duit, udah kayak pipis.
Minum nggak minum pasti kita pipis.
Apa jangan-jangan, pipisnya duit?
Makin ngaco, aja. Udah ah, yang penting duit.

Oke. Gw akan transfer duit mobil ke tante BeR. Karena lebih cepat, lebih baik.
Habis itu gw mau neraktir, anak-anak.
Sekali-kali, nggak papa, deh.
Biar, gw dapat cap, anak baik.
OUH, YEAAHH!

“Ngimpi lo, bro. Nggak ada anak baik kaya, lo”

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 26 | Hidup di Jakarta Part 26 – END

(Hidup di Jakarta Part 25)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 27)