Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 5

Very Forced

Di kediaman Alfred, Audy sangat stress memikirkan permintaan Alfred. Ia berusaha mencari cara agar bisa lepas dari ancaman Alfred. Tak lama kemudian, terdengar suara kaki pria yang dulu pernah ia sayangi itu, mendekati kamarnya.

‘Ah itu dia,’ batin Audy.

“Audy, kapan Kau bisa melakukan tugasmu?” desak Alfred.

“Bagaimana kalau tugas itu diberikan pada orang lain saja, Alfred?” tawar Audy.

“Kenapa? Kau tidak tega?” tanya Alfred.

“Aku tidak pernah membunuh siapapun, Alfred. Aku takut jika misi itu gagal, bagaimana denganku dan Jillian nantinya?”jelas Audy.

Alfred diam, ia berpikir sejenak. “Begini saja, Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku. Kau hanya perlu membawanya pergi ke tempat yang aku tentukan. Bagaimana?”

“Deal,” jawab Audy.

Audy masih penasaran mengapa Alfred ingin Dave mati. Ia akan mencari tahu penyebabnya. Di sudut hatinya yang lain, ia tidak menginginkan kematian Dave. Walaupun ia ingin lepas dari Dave, tapi ia tidak pernah membenci Dave.

Di tempat lain, Geng Bugsy sudah mengendus siapa pelaku penculikan Audy. Ternyata Alfred termasuk salah satu nama, dalam list Geng Bugsy yang berniat membunuh Dave. Dan diketahui bahwa Alfred pernah menikah dengan wanita San Fransisko bernama Audy Ghena Larry.

Sebelumnya mereka pernah akan menjalin kerjasama untuk melakukan pembunuhan terhadap Dave. Hanya saat itu Geng Bugsy tidak tertarik dengan tawaran yang diberikan Alfred. Sekarang Geng Bugsy mulai bergerak, mencari tahu dimana keberadaan Alfred.

Sementara Alfred dan Audy masih menyusun rencana hingga matang dan mencari waktu yang tepat untuk melepaskan Audy melakukan tugasnya. Dave dan teman-temannya hanya bisa memantau setiap CCTV yang terpasang di sudut kota Florida, mereka masih belum menemukan ada tanda-tanda keberadaan Audy maupun penculik itu.

Dua minggu kemudian…

“Ayolah, Alfred, kita mulai saja sekarang. Aku sudah bosan berada di sini.” Ujar Audy.

“Baiklah, kalau begitu segera persiapkan dirimu sesuai yang sudah rencana kita!” perintah Alfred.

Jam menunjukkan pukul Sembilan lewat tiga puluh malam, telepon genggam Dave berdering di atas nakas ruang kamarnya, lalu ia segera mengambil dan mengangkat telepon itu.

“Ada apa, Stacey?” Tanya Dave, pada resepsionis yang bekerja di Hotel miliknya.

“APA?!!!, benarkah??, suruh dia menungguku, Stacey. Aku akan segera kesana sekarang!” jawab Dave kaget, tidak percaya dengan yang barusan pegawainya sampaikan. Dave terburu-buru menuruni tangga demi tangga hingga ibunya berteriak.

“Hei, My Prince, what happen?” tanya ibunya merasa bingung, begitu juga dengan Jillian yang sedang duduk bersamanya di sofa bawah tangga, mereka saling bertatapan karena tingkah Dave.

Dengan nafas yang sesak, Dave berkata “Dengarkan aku…, Mom, and My Darling, aku akan menjemput Audy sekarang” Dave kemudian memeluk kedua wanita di depannya, dengan penuh keceriaan di wajahnya.

Begitu juga dengan Nyonya Megan Lowri Howard dan Jillian, mereka tertawa haru hingga tak sadar mata mereka meneteskan sedikit air mata.

Karena Dave terburu-buru, dia bahkan salah mengambil kunci kendaraan. Saat dia memasukkan kunci mobil ternyata yang dia pegang bukanlah kunci mobil, melainkan kunci sepeda motor sporty koleksi miliknya.

“Oh God, please give me some miracle.” Sambil tersenyum, dia kemudian berpikir untuk pergi saja dengan motor sporty Ducati Multistrada 1200 Enduro. Dave melaju dengan kecepatan penuh menuju Kingston International Resort.

Pintu ruang kantor pemilik Kingston International Resort itu terbuka dengan suara sangat kencang, hinga membuat seorang wanita yang ada di dalamnya terkejut. Dave kemudian bersigap mendekati wanita itu dan memeluknya.

“Darimana saja Kau, Audy? Aku hampir kehilangan akal sehatku karena Kau. Apa Kau baik-baik saja?” Dave memeriksa semua bagian tubuh Audy, dia sangat khawatir dan mencecar berbagai pertanyaan, bahkan dia tidak memberikan kesempatan Audy untuk berbicara.

“Tenanglah, Dave. Aku sudah di sini sekarang, mari kita menemui Jillian. Aku sangat merindukannya.” Ucap Audy dengan wajah yang terlihat lemas.

Dave menyibakkan rambut Audy yang sedikit berantakan, dan mencium keningnya dengan penuh kelembutan.

“Baiklah, Sayang. Ayo kita pulang.” Ajak Dave.

Sepanjang perjalanan, Dave memeluk dan mencium kening serta tangan Audy tak hentinya, ia tidak peduli jika supir taxi yang mereka tumpangi mengintip mereka dari kaca spion. Dave hanya ingin menunjukkan perasaan rindu pada Audy, sementara Audy hanya bisa memberikan senyum seulas di wajahnya.

***

How to get started?

“Mom, wake up please.” Ucap Jillian yang masih berada dalam pelukan Audy.

“No, Honey. Mommy masih merindukanmu.” Ucap Audy sambil memeluk dan mencium kening Jillian.

Jillian kemudian bangun dari posisinya, dia memaksa Audy untuk segera bangun. Jillian merasa tidak enak, jika dia tidak segera keluar untuk sarapan. Karena Nyonya Megan yang dia panggil Grandma itu, selalu menyiapkan sarapan untuk Jillian pada pukul 6 pagi.

“Ayolah, Mom. Kita tamu di sini.” Ajak Jillian.

Dengan berat hati Audy menuruti ucapan putrinya. Dia segera membersihkan diri dan bergabung di meja makan untuk sarapan.

Dave dan Ibunya menyambut Audy dengan senyuman. Dan obrolan pagi ini sedikit membuat Audy merasa nervous.
Dengan percaya diri, Nyonya Megan bertanya pada Audy.

“Jadi, Nak. Bagaimana dengan acara pernikahan kalian nanti?”

Audy tersedak sambil menoleh pada Jillian.

“Aku sudah menjelaskan semuanya pada Jillian,” ujar Nyonya Megan dengan mantap.

Dave menatap sangat dalam pada Audy, sementara Jillian hanya tersenyum pada Ibunya. Audy kini dihadapkan pada tiga orang yang sedang menantikan jawabannya. Sedangkan pikirannya berputar pada rencana yang diberikan Alfred. Bagaimana bisa Audy menjawab pertanyaan seperti itu, jika ia sudah tahu akan seperti apa akhir hidup Dave.

Ia hanya memberikan senyuman kecil dibibirnya dan menjawab.

“Aku belum mempersiapkan apapun, Nyonya. Berikan aku waktu untuk mengurus semua urusan pribadiku.” Elak Audy.

“Kau tidak perlu melakukan apapun untuk mempersiapkan acara pernikahan itu, Sayang.” Balas Dave,

“Serahkan semuanya pada Nyonya Megan Lowri Howard, dia pasti akan senang hati mengurus semuanya. Bukan begitu, Mom?” tambah Dave, mendukung ibunya.

Audy melirikkan matanya pada Jillian, berharap putrinya akan membantunya mengulur acara pernikahan yang sedang mereka sebut.

“Yes, Mom. Aku turut senang jika bisa membantu dalam acara pernikahan itu.” Ujar Jillian.

Membuat Audy bertambah kesal dengan jawaban putrinya, itu bukanlah jawaban yang ia inginkan.

‘Kenapa tidak seorangpun berpihak padaku?, ini benar-benar menyebalkan.’ batin Audy sambil menyuap sarapannya dengan cepat.

Saat Audy berjalan menuju halaman belakang, tangannya ditarik dengan kencang oleh seseorang. Sontak membuat Audy terkejut dan histeris, pria itu segera menutup mulut Audy dan membawanya masuk pada sebuah ruang musik.

“Tenanglah, Audy Sayang. Ini aku.” Dave membalikkan tubuh Audy dengan kedua tangannya yang berada pada pundak Audy, sekarang mereka bertatapan.

“Kau, Dave. Aku masih trauma Dave dengan penculikan itu. Tolong jangan ulangi lagi.” Minta Audy.

“Maafkan aku, Sayang. Aku sangat merindukkanmu, aku bahagia Kau sekarang ada di sini.”

Dave menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya pada Audy. Ia menatap Audy dengan senyuman hangat. Dave tidak menanggapi penculikan yang dikatakan Audy, ia tidak ingin merusak suasana saat ini. Tapi Dave bertekad akan tetap menangkap pelaku penculikan Audy tanpa memberi tahunya.

Audy menepis kedua tangan Dave, “Bukankah Kau harus berangkat ke kantor sekarang, Dave?” tanya Audy, ia membenarkan jas abu-abu dan kemeja biru muda yang dikenakan oleh Dave.

“Aku merasa malas untuk bekerja hari ini, bukankah aku adalah bosnya. Aku bisa bekerja kapanpun aku mau. Hari ini aku ingin berada disampingmu sepanjang hari.” Dave kembali menarik tubuh mungil Audy, memeluknya dengan sangat kuat.

Audy menatap kedua mata Dave, berusaha mencari-cari permasalahan apa yang dilakukan pria tampan ini terhadap Alfred, hingga Alfred berusaha untuk membunuhnya. Audy kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, agar segera tersadar dari lamunannya.

“Dave, jangan bertingkah seperti remaja. Di luar ada Jillian dan Nyona Megan, aku tidak mau mereka melihat kita seperti ini.” Audy berusaha melepaskan pautan kedua tangan Dave pada pinggangnya, tapi itu terlalu kuat.

“Kau terlalu banyak bicara, Sayang.”

Dave langsung mengecup bibir Audy, ciuman itu bertahan hingga sekian detik dan kembali Dave dengan gencar melakukannya berulang-ulang. Audy tidak bisa menolak ciuman demi ciuman itu, karena tubuh dan pikirannya mulai bekerja sama menikmati setiap kecupan yang diberikan oleh Dave.

Suasana di dalam ruang musik itu bertambah panas, ketika Dave mulai membuka atasan yang dikenakan Audy.

“Jangan, Dave! Aku tidak mau melakukannya.” Cegah Audy, ia segera menutupi tubuhnya.

“Kau tidak mau di tempat ini? Baiklah, ayo!” Dave menarik pergelangan tangan Audy keluar dari ruangan itu menuju ke ruang lainnya.

Pipi Audy memerah, ia khawatir jika anggota keluarga lain melihat perbuatan mereka.

“Tenang, Audy. Tidak ada siapapun, Mom dan Jillian sudah pergi dari tadi.” Jelas Dave karena melihat wajah Audy begitu memerah.

“Aku tidak mungkin melakukan ini di depan mereka.”

Audy melihat sepanjang lorong dan ruang-ruang yang ia lewati, benar saja apa yang dikatakan oleh Dave, tidak ada siapapun di rumah itu.

‘Kemana Jillian?’ batin Audy

Dave segera menutup dan mengunci pintu kamarnya. Audy terlihat sangat gugup, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Seperti harimau yang lapar, Dave segera mengeksekusi mangsanya.

“Dave, aku harus kembali ke kamarku. Aku tidak mau Jillian mencari dan mendapatiku di sini.” Ujar Audy yang masih dengan berada dalam pelukan Dave, tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh mulusnya.

“Aku ingin mempercepat pernikahan kita! agar tidak ada alasan lagi untuk Kau menghindar dariku.”

Dave mencium kening Audy dan melepaskan dekapannya.

Mereka beranjak dari ranjang dan mengenakan kembali pakaian mereka yang bertebaran dimana-mana.

“Aku berangkat ke kantor, Sayang. Nikmati harimu, see you.” Dave mengecup tangan Audy, dan meninggalkannya.

Dave merasa ada yang berbeda dengan Audy, itu mengapa ia terburu-buru untuk segera tiba di kantor dan bertemu dengan ketiga temannya.

***

Wedding Prepare

Sudah sepuluh hari berlalu, Audy melewati semua hari tersebut dengan penuh kesenangan, kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Dari orang-orang yang saat ini ada di sekelilingnya. Ia merasa hari yang ia lewati ini adalah hasil dari semua kesedihan yang ia terima dan kesabaran yang sudah ia lakukan saat membesarkan Jillian seorang diri.

Audy menghela nafas sangat dalam, dan menghembuskannya kembali. Ia tertegun melihat keluar jendela, yang ada di kamarnya saaat ini. Batinnya berkata ‘akankah semua kebahagiaan ini berakhir? Karena sebentar lagi Alfred akan membunuh Dave.

Bagaimana aku harus menggagalkan rencana Alfred? Jika ia tahu aku menghalanginya, Jillian akan dijadikan sasaran oleh Alfred untuk melukaiku. Tidak! Aku tidak tahu harus bagaimana’

“Mom, kenapa belum bersiap?” teriakan Jillian membuyarkan lamunan Audy.

“Pukul berapa ini, Jill? Maaf, Mommy sedikit gugup.” Ujar Audy.

“Ini sudah jam 11, Mom. Kita harus pergi ke salon sekarang. Oh ya, Mom. Boleh aku juga menghias kuku jariku ini?” tanya Jillian. Ia tertarik untuk menghias kukunya agar tak kalah cantik dengan ibunya.

“Berapa usiamu, Sayang?” ledek Audy, sementara wajah Jillian mulai cemberut.

“Baiklah, Sayang. Whatever you want today, do it baby.” Sambung Audy.

Jillian bersorak kegirangan, ia segera memeluk Audy dan memberikan kecupan pada pipi ibunya.

“I love you so much, Mom.”

Diperjalanannya bersama sang putri, Audy tampak lesu, tidak seperti wanita pada umumnya, yang bahagia dalam persiapan acara pernikahan yang akan digelar besok pagi. Berbagai ritual persiapan itu selesai dalam satu hari, perawatan tubuh hingga membeli aksesoris.

Jillian memperlihatkan wajah yang begitu bahagia, tanpa ia tahu apa yang dipikirkan oleh ibunya. Sementara Dave pulang lebih awal, agar ia bisa cepat beristirahat, ia tidak mau jika pada hari pernikahannya besok ia terlihat tidak fit.

Di dalam kamarnya Audy sangat gelisah, semua barang-barang yang ia beli tadi siang bersama Jillian tak satupun ia sentuh. Kepalanya hanya memikirkan cara bagaimana untuk lepas dari semua ini.

Ia bahkan berpikir untuk kabur tengah malam bersama Jillian, ‘yah, ini jalan satu-satunya untuk tidak terlibat dalam konflik ini’ batin Audy. Ia kemudian menyiapkan jaket dan sepatu untuk melakukan aksinya nanti malam.

Suara pintu diketuk oleh seseorang, Audy kemudian berpura-pura tidur di dalam selimutnya. Pintu kemudian terbuka, Dave mendekati Audy dengan langkah perlahan.

“Apa Kau sudah tidur, Sayang?” tanya Dave, tidak ada jawaban dari Audy.

“Apa Kau tahu, Audy. Aku sangat mencintaimu. Hanya denganmu akan kuhabiskan sisa hidup ini. Dan betapa beruntungnya aku, akan memilikimu.” Dave mengecup kepala Audy.

Mendengar ucapan yang tulus itu, tiba-tiba Audy bangun dan langsung menggenggam tangan Dave.

“Please, Dave. Hentikan ini!” dengan wajah sangat memohon.

“Aku tidak ingin, Kau mati!” Audy tanpa sadar mengucapkan itu.

Dave mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Apa yang Kau katakan, Audy? Aku akan mati?”

Audy bertingkah gelagapan, ia tak dapat menguasai dirinya. Emosi dan perasaan sangat takut sedang ia rasakan.

“Maafkan aku, Dave. Alfred akan membunuhmu besok pada saat acara pernikahan kita. Karena itu batalkan acara ini!” teriak Audy.

Dave kemudian menarik tubuh Audy ke dalam pelukannya, “Tenanglah, Sayang. Aku sudah mengetahui semuanya. Jangan panik, lakukan sesuai dengan arahanku. Maka semuanya akan baik-baik saja.”

Audy kemudian menangis dan memeluk tubuh Dave dengan kencang, sambil sesegukan ia bertanya, “Bagaimana Kau bisa mengetahui itu Dave?”

“Aku akan memberi tahumu besok, setelah acara pernikahan kita selesai. Sekarang tidurlah, Sayang. Aku akan menjagamu.” Ucap Dave mesrah sambil mengelus-ngelus kepala Audy.

Benar saja, Audy akhirnya tertidur dalam pelukan Dave. Saat Jillian masuk ke kamar, Dave memerikan kode kepada Jillian, agar Audy tidak terjaga. Dave kemudian meninggalkan Audy bersama Jillian.

Di dalam kamarnya, Dave menghubungi ketiga temannya lewat video call. Mereka memastikan rencana untuk kelancaran acara pernikahan besok, sudah benar-benar siap.

***

Wedding Day

Hari ini tanggal Sembilan belas September tahun dua ribu Sembilan belas, pernikahan Dave dan Audy. Acara pernikahan di gelar di Resort Hotel milik Dave, semua petugas berseragam putih terlihat sibuk dengan tugas mereka.

Tentu saja sudah ada Gerrard, Daniel dan Jim di tempat itu lebih dulu. Gerrard sangat tampan dengan tuxedo hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu, standar pria berkelas yang biasa ia kenakan. Berbeda dengan Gerrard, Daniel tampak lebih santai dengan jas putih dan kemeja abu-abu di dalamnya.

Sementara Jim, selalu dengan style teknologi yang melekat padanya. Ia mengenakan jas dan dasi berwarna hitam, serta alat komunikasi yang selalu menempel pada salah satu telinganya.

Audy yang sedang berada di salah satu kamar hotel tersebut, terkejut saat pintu terbuka.

“Apakah Kau disini, Nyonya?” tanya orang itu.

Audy sangat terkejut dengan kedatangan Dayna dan Jacob jauh dari San Fransisco, ini merupakan kejutan yang membuatnya sangat senang.

“Aku sudah mengetuk pintu dari tadi, Nyonya. Tapi tidak ada jawaban. Maaf jika kami lancang, masuk tanpa izin Anda.” Ucap Jacob.

“Sudahlah, Jacob. Tidak usah terlalu formal, ini acara pernikahanku. Aku sangat senang, Kalian bisa hadir disini.” Audy memeluk Dayna, ia tampak merindukan kedua orang itu.

“Bagaimana keadaan, Kalian? Bagaimana dengan Catering?” tanya Audy mencecar keduanya.

Ia sudah lama tidak berbincang dengan mereka, bahkan sudah jarang berkomunikasi lewat telepon, sejak ia dan Jillian berada di kediaman nyonya Megan.

“Semuanya baik-baik saja, Nyonya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Berbahagialah untuk hari ini. Kami ucapkan selamat, Nyonya.” ucap Dayna, sambil mengelap ujung matanya yang berair.

Bagaimana tidak, Jacob dan Dayna begitu menyayangi Audy. Audy bukan sekedar majikannya, tapi lebih dari itu. Bahkan rencana pertemuan antara Dave dan Audy, adalah salah satu rancangan Dayna dan Jacob, yang tidak pernah diketahui oleh Audy. Karena mereka berharap agar Audy tidak hidup sendiri, harapan itu sekarang dikabulkan.

Di kamar pengantin Pria, Dave sudah mengenakan tuxedo berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu dan setangkai bunga mawar putih di saku sebelah kanan. Ia merogoh ponsel dari saku celananya.

“Jim, apa semua tim sudah berada pada posisinya?” tanya Dave.

“Semua sudah siap, Dave. Kita pasti akan menangkap bajingan itu.” Jawab Jim.

“Baiklah, lakukan dengan baik. Jangan sampai membahayakan para tamu undangan, aku percayakan semuanya pada Kalian. Terima kasih, Jim.” Ujar Dave.

Ponsel Audy berdering, ia kaget dengan nomor yang tertulis di ponsel itu. Alfred sepertinya ingin Audy membantunya lebih untuk bisa melakukan aksinya. Audy kemudian panik, dan melemparkan ponsel itu hingga ponsel tersebut pecah dan rusak.

‘Aku tidak akan mengikuti perintahmu, Alfred. Aku percaya pada Dave, hari ini akan baik-baik saja.’ Batin Audy.

Tamu undangan mulai memenuhi tempat duduk yang di sediakan. Semua kursi, meja dan dekorasi berwarna putih itu, semakin tampak berkilau di bawah langit yang cerah. Nyonya Megan, Dayna dan bibi Rosa duduk pada barisan kursi satu dan dua. Beberapa orang dari tamu undangan sedikit heran dengan petugas dan pelayan berseragam, namun terdapat tato di bagian tubuh mereka yang terbuka.

Dave dan teman-teman memang memilih menggunakan jasa dari geng Bugsy, daripada jasa keamanan dari kepolisian, untuk menangkap Alfred. Agar Alfred tidak curiga, maka anak buah geng Bugsy diberikan tugas dan seragam sebagai pelayan di acara pernikahan tersebut.

Alunan musik instrumental A whole new world mulai dimainkan oleh grup musik. Semua tamu undangan berdiri, pertanda sang pengantin wanita tiba. Audy berjalan dengan sangat anggun dengan digandeng oleh Jacob, menggantikan keberadaan ayah Audy yang telah tiada.

Dan disertai Jillian yang berjalan dibelakangnya, ia pun tidak kalah cantik dengan ibunya. Mengenakan gaun berwarna silver, rambutnya juga ditata artistik oleh perias profesional.

Semua mata tertuju pada Audy, begitu juga dengan pengantin prianya, Dave. Dave terpanah dengan kilau kecantikan yang dipancarkan oleh Audy. Ia tidak berkedip sedikitpun.

“Kau beruntung boss.” Ucap Gerrard yang berada dibelakang Dave.

“Yes You are right, Gerrard. She will only be mine.” Jawab Dave.

Disaat semua orang tertuju pada sosok Audy, Alfred yang berada diantara para tamu mengambil pistol kedap suara dari saku jasnya. Kemudian mengarahkan pistol itu dengan cepat ke arah Dave. Melihat pergerakan Alfred, Gerrard memeluk dan mendorong Dave ke samping hingga terjatuh.

Dengan sigap Jacob juga memeluk Audy dan Jillian, menunduk. Semua orang panik dan berhamburan. Jim dan Daniel berteriak menyuruh semuanya menunduk dan berjongkok. Sementara anggota geng Bugsy, mengejar Alfred.

“Shitt! mengapa tidak ada yang mengenali bajingan itu?!” Jim sangat marah, ia merasa dikhianati.

Dugaan Jim ternyata benar adanya, lima orang anggota geng Bugsy ternyata mengkhianati Dave. Beruntung jumlah anggota keamanan hotel jauh lebih banyak. Mereka mengejar anggota geng Bugsy yang mencoba membunuh Dave. Sementara Daniel berhasil menangkap Alfred, tepat di depan Audy yang sedang berjongkok dalam pelukan Jacob.

“Kau lihat, Audy. Aku sudah membunuh Dave, sekarang Kau bisa pergi. Dendamku sudah terbalaskan.” Teriak Alfred ditengah keramaian itu.

Audy berdiri menghampiri Alfred, kemudian ia menampar Alfred dengan sangat keras.

“Tutup mulutmu! Kau bajingan, sudah merusak kebahagiaanku untuk kedua kalinya!”

Audy berteriak sambil menangis kencang, ia sudah tidak peduli lagi dengan semua orang. Ia memukul-mukul dada Alfred yang tengah dipegang oleh Daniel.

“Pria bodoh! Kau pikir saat aku tidak menyetujui hubungan Dave dengan Elska adikmu, berarti kematiannya disebabkan olehku?! Hingga Kau membalaskan dendammu pada putraku!” teriak Nyonya Megan, ia mengikuti Audy yang berada di depan Alfred kemudian menamparnya.

“Kami memiliki saksi yang banyak saat kejadian tersebut, tapi Kau sudah dibutakan oleh dendammu padaku. Dan Kau harus membayar semua ini!” sambung Nyonya Megan.

Gerrard masih memeluk Dave yang terbaring di altar. Bahu kanannya mengeluarkan banyak darah dan Dave pingsan.

Audy berlari mendekati Dave “Cepat, cepat bawa dia ke rumah sakit!” perintah Audy pada Gerrard.

***

HAPPY ENDING

Seminggu setelah pemulihan Dave di rumah, mereka kemudian melakukan perjalanan honeymoon yang sempat tertunda. Venice, Italia negara yang mereka pilih untuk bersenang-senang. Kali ini mereka hanya pergi berdua tanpa teman-teman, keluarga bahkan bodyguards. Dave dan Audy yakin tidak akan ada gangguan lagi.

“Audy, terima kasih telah menerimaku. Aku sangat bahagia Kau berada disisiku.” Ucap Dave saat mereka menikmati dinner di Terazza Danieli.

Suasana disana mendukung perasaan cinta sepasang suami istri itu. Walau tempat itu tidak sepi, hangatnya genggaman tangan Dave mampu memberikan kenyamanan pada Audy.

Audy menatap sekilas mata Dave, untuk mendapati sinar kejujuran di mata pria yang sekarang menjadi suaminya.

“Aku yang harusnya berterima kasih padamu Mr. Dave Grant Sherman. Tak banyak pria yang bisa menerimaku beserta Jillian diusiaku yang seperti ini.” Balas Audy sambil menundukkan wajahnya, Audy merasa kurang pantas menjadi istri miliyuner muda seperti Dave.

“Ayo Sayang, kita akhiri makan ini segera. Aku sudah tidak tahan lagi melihat wajahmu itu, membuat sekujur tubuhku memanas.”

Dave memanggil pelayan dan memberikan kartu kreditnya untuk membayar tagihan makan malam mereka. Disela-sela itu ponsel Audy berdering dari dalam cluth kecil berwarna hitam glowing miliknya. Audy segera menerima panggilan video itu.

“Hai, Sayang. Apa kabarmu?” sapa Audy pada Jillian,

“Mom, aku baik saja. Bagaimana denganmu mom? Aku merindukanmu.” Ucap Jillian, Dave sebenarnya sedikit terganggu dengan panggilan telepon tersebut.

Tapi tidak lama setelah Audy dan Jillian berbincang, ibu Dave yang berada disamping Jillian tidak mau ketinggalan. Audy kemudian memberikan ponselnya pada Dave karena Nyonya Megan ingin berbicara dengannya.

“Halo Mom, hai Jillian. Apa yang Kalian inginkan untuk Kami bawa saat pulang besok?” basa basi Dave pada kedua orang tersebut.

“Dave, Kau tidak perlu membawa apapun untuk Kami. Kami bisa mendapatkan apapun yang Kami inginkan.” Jawab Nyonya Megan dengan sombongnya,

“Tapi Dave, sepertinya aku dan Jillian menginginkan anggota baru untuk rumah yang besar ini.” Pinta Nyonya Megan, Jillian jadi tertawa disampingnya.

Dave melirik Audy, ia terlihat malu hingga pipinya merona merah.

“Baiklah, Sayang-sayangku. Kalau begitu biarkan Kami beberapa hari tanpa telepon, okay.”

Dave tertawa dan menutup panggilan ponsel tersebut. Segera ia berdiri dari tempat duduknya, dan menarik tangan Audy. Audy terkejut, kenapa Dave bersikap posesif sekarang.

Mereka berjalan meninggalkan restoran menuju hotel tempat mereka menginap. Memang tidak begitu jauh, berjarak sekitar delapan ratus meter saja. Tapi Dave ingin mengajak Audy berjalan-jalan sebelum tiba di hotel.

Dalam perjalanan itu, Audy menanyakan beberapa pertanyaan yang selama ini mengganggunya. “Dave, apa yang terjadi padanya hingga Alfred membalaskan dendamnya padamu?”

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bisakah Kau ganti panggilan Dave dengan Honey or darling maybe?” goda Dave menyunggingkan senyuman khasnya pada Audy.

“Ya ya, seperti yang Anda inginkan Bos.” Jawab Audy, mereka tertawa lepas bersama.

“Namanya Elska Colin Leonard, dia menjadi asistenku saat itu. Enam bulan berlalu, Kami menjalin hubungan lebih serius. Walaupun Mom tidak begitu menyukainya, suatu hari Kami diminta untuk investigasi lapangan pembangunan apartemen di kawasan sengketa. Kemudian terjadi kecelakaan, salah satu tiang penyanggah bangunan tersebut roboh dan menimpanya. Itu membuatku sangat bersalah dan ada perasaan trauma.” Jelas Dave,menundukkan kepalanya.

Mereka berhenti di sisi jalan, kemudian duduk di kursi jalanan. Audy mengelus punggung suaminya tersebut.

“Dan dia adalah adik kandung Alfred. Kenapa Nyonya Megan tidak menyukainya?” tanya Audy lagi.

“Mom pernah mengutus seseorang untuk memata-matai Elska dan mendapati bukti bahwa dia hanya menginginkan uangku saja.” Jelas Dave.

“Ah.. seperti itu. Baiklah, ayo kita kembali ke hotel Sayang.” Ajak Audy.

“Ayo, sekarang aku benar-benar sudah lega. By the way, aku masih penasaran dengan kematian Afred di dalam sel tahanan. Apa benar itu aksi bunuh diri? Hmm..” ucap Dave, ia berdiri dan menggenggam kuat tangan Audy, mengajaknya kembali berjalan menuju hotel.

“Sudahlah, Sayang. Semua sudah berakhir, tidak perlu diungkit lagi.” Audy tersenyum sinis, tanpa Dave tahu. Bahwa Audy yang membunuh Alfred, saat Dave berada di Rumah Sakit.

Pertama kalinya Audy menghabisi nyawa seseorang di dalam hidupnya, itu semua dilakukan Audy demi kebahagiaan Dave dan Jillian, ia tidak ingin jika Alfred kembali mengganggu hidupnya, jika saja Alfred masih hidup dan keluar dari tahanan.

“Yah, Kau benar Sayangku. Aku ingin menghabiskan banyak waktu di sini bersamamu, karena setelahnya pasti akan betemu ketiga bandit kecil itu. Aku tidak akan memberikan mereka hadiah.” Canda Dave, ketiga bandit kecil merupakan ketiga teman-temannya yaitu Gerard, Jim dan Daniel. Ketiga sahabat itu tidak tahu kemana Dave berbulan madu.

Sementara di kediaman Nyonya Megan di Florida, Bibi Rosa, Nyonya Megan, Jacob dan Bibi Dayna yang merupakan sepupu Bibi Rosa bersulang merayakan keberhasilan mereka dalam merancang semua rencana perjodohan Dave dan Audy.

“Aku sangat berterima kasih kepada Kalian semua, selanjutnya aku akan mati dengan tenang. Terutama padamu Jacob, peranmu sangat banyak.” Puji Nyonya Megan kepada semua yang dihadapannya, ia berdiri kemudian menundukkan badannya sebagai apresiasi dan rasa terima kasihnya.

“Jangan begitu Nyonya, aku dan Dayna juga mengingikan Nyonya Audy kembali membina rumah tangga yang bahagia. Jika saja kami tidak bertemu dengan Rosa saat itu, maka kita tidak akan bisa membuat rencana yang sempurna ini.” Jawab Jacob, Bibi Dayna dan Bibi Rosa mengangguk setuju dengan pernyataan Jacob.

Mereka berempat kemudian tertawa, sembari meneguk minuman di tangan mereka.

“Ya, Kau benar Jacob. Sekarang semua sudah berbahagia, teruslah simpan rahasia ini hingga kita meninggalkan dunia.” Ajak Nyonya Megan. Mereka bertigapun setuju, dan kembali mengangkat gelas “Cheers …”

Tamat