Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 4

Party Sucks

Audy dan Dave tengah dalam perjalanan ke sebuah mansion, tempat pesta itu diadakan. Mereka duduk di kursi belakang supir. Audy mengenakan gaun panjang berwarna gold, terdapat belahan panjang di sebelah kiri gaun, itu memperlihatkan sebelah kakinya yang jenjang. Sementara Dave mengenakan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam.

Terangnya lampu-lampu jalanan malam itu, membuat Audy senang melihat apapun yang dilewati mobil mereka. Tiba-tiba jari tangan kirinya terasa hangat, karena Dave menggenggamnya. Audy memutar kepalanya menoleh pada Dave.

“Ini untukmu, Sayang.” Dave menyematkan cincin berlian di jari manis Audy. Cincin itu memancarkan kilauannya di gelap malam, sangat indah.

Audy hanya bisa menatap manik hitam mata Dave, ia bisa melihat hangatnya ketulusan hati pria itu. Audy memberikan sedikit senyum di bibirnya. Ini pertama kalinya Dave melihat semburat tipis itu di wajah Audy. Ia tahu itu adalah ucapan terima kasih yang tak terucap dari Audy.

Tanpa di ketahui oleh Dave, Audy memperhatikan cincin berlian itu dengan seksama. Seperti biasanya, dengan feeling Detektifnya itu, Audy menafsirkan harga untuk cincin itu dan ia berkata di dalam hatinya,

‘Wow, ini benar-benar cincin berlian yang sangat berkelas. Bagus juga selera pria ini.’

“Sepertinya aku harus membeli berlian setiap hari, untuk bisa melihat senyum itu di wajahmu,” goda Dave.

Seperti sebelumnya, Audy hanya diam tak menjawab apapun perkataan Dave. Ia tidak mau Dave berprasangka, bahwa ia sudah menerima Dave menjadi calon suaminya.

Mereka tiba di tempat pesta, Dave disambut oleh Rolando Saul yang merupakan salah satu investor di perusahaan Dave.

“Selamat malam, Tuan Dave,” sapa Rolando.

“Selamat malam, Rolando,” jawab Dave.

“Terima kasih sudah datang ke acaraku,” ucap Ronaldo.

“Ah, jadi wanita ini yang akan menjadi istrimu?” Rolando mengulurkan tangannya pada Audy, dan Audy segera menyambutnya.

Dave tersenyum, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Audy dengan ketat.

“Sepertinya begitu, oh ya dimana tunanganmu?”

“Di sana.” Pria itu menunjukkan jarinya, pada seorang wanita dengan gaun berwarna merah muda.

“Kau beruntung, Roland. Dia sangat cocok untukmu,” puji Dave.

“Terima kasih, Tuan Dave. Silahkan menikmati pesta ini.” Rolando berpamitan meninggalkan mereka, karena ia harus menyapa tamu-tamu lainnya.

Audy dengan tenang berjalan di sisi Dave, hingga tanpa sengaja matanya bertemu dengan sepasang mata yang terpaku melihat melihat Audy. Audy membeku, tulang-tulangnya terasa kaku ketika ia sadar siapa pria berada tidak jauh di depannya itu.

“Kau kenapa, Audy?” Dave merasakan tubuh Audy sedikit bergetar.

“Dave, aku akan ke belakang sebentar. Kau tunggu aku di sini,” jawab Audy.

Audy bergegas mencari toilet di dalam mansion yang megah itu, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Alfred, mantan suaminya.

‘Apa yang ia lakukan di sini? Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?’ batin Audy.

Alfred segera mengejar Audy masuk ke dalam mansion. Ia berdiri di lorong sempit untuk menunggu Audy keluar dari toilet. Setelah beberapa menit Audy berada di dalam, ia keluar dan kaget mendapati Alfred berdiri bersandar di dinding lorong itu.

Ia menggerakkan kakinya dengan cepat, jika saja ia bisa terbang maka akan ia lakukan untuk bisa menghindari Alfred.

“Hai, Audy. Bagaimana kabarmu?” sapa Alfred.

Audy menahan emosinya, ia melemparkan pandangan sinis pada Alfred.

“Menjauhlah!”

“Kau masih sama, Audy,” ucap Alfred.

“Dasar bajingan!” teriak Audy. Akhirnya emosi itu meluap dari mulutnya.

“Apa Kau sudah menjadi Nyonya Dave?” tanya Alfred.

“Bukan urusanmu!” Audy segera berlari setelah melihat punggung Dave yang tidak jauh darinya. Ia melingkarkan tangannya di sela tangan Dave.

“Dave, aku ingin pulang,” minta Audy.

“Ada apa, Sayang?” tanya Dave.

“Kepalaku sedikit pusing,” alasan Audy.

“Baiklah, aku akan pamit dengan beberapa orang,” ujar Dave.

Mereka berjalan meninggalkan acara pesta, menuju ke depan mansion untuk masuk mobil. Namun, seorang pria dengan pasangannya yang baru tiba, menyapa Dave.

“Selamat malam, Tuan Dave, kenapa Anda terburu-buru?” sapa pria itu.

Audy kembali terkejut, saat ia menatap pria gendut dan botak di depannya.

‘Sial! Ini benar-benar hari yang sial, semua pria menjijikkan itu berkumpul di sini,’ batin Audy.

“Selamat malam, Tuan Simon.” Dave mengulurkan tangan pada Simon dan istrinya.

“Apa dia kekasih Anda? Sepertinya aku pernah melihatnya,” ujar Simon Marcos.

“Ya, kenalkan ini Audy. Calon istriku,” jawab Dave bangga. Audy mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

‘Semoga saja dia lupa padaku,’ batin Audy.

“Well, aku harus masuk dulu,” ucap Simon Marcos sambil menundukkan kepalanya.

“Sampai ketemu lagi, Tuan Simon,” pamit Dave.

Sambil berjalan masuk, Simon Marcos mengucapkan, “Sampai ketemu, Tuan Dave dan Nona Clara,”

Audy dan Dave sama-sama kaget mendengarkan itu, mereka saling menatap. Kemudian Dave ingin berbalik untuk memberi Simon Marcos sedikit pelajaran. Tapi, Audy menahan Dave dengan tangannya. Ia ingin segera tiba di rumah Dave.

***

Lost at the Airport

“Berhentilah dari pekerjaanmu!” perintah Dave pada Audy yang tengah melahap sarapannya.

“Kau mungkin akan mengikatku dengan pernikahan, Dave. Tapi Kau tidak bisa mengambil semua kebebasan, yang sudah aku ciptakan selama belasan tahun. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa aku tidak mencintaimu!” jelas Audy sambil mengakhiri makannya.

“Dengar, Audy. Aku akan menjamin semua kebutuhanmu dan putrimu. Kau tidak membutuhkan pekerjaan seperti itu lagi,” jelas Dave.

Dave masih menyimpan emosi tadi malam, saat mereka bertemu dengan Simon Marcos. Ia tidak ingin Audy di remehkan oleh pria manapun.

“Kau ingin pergi sekarang atau hanya berbicara omong kosong saja?” tanya Audy.

Ia mengambil handbag kemudian berjalan keluar rumah. Mereka bersiap akan pergi ke San Fransisco hari ini, seperti yang sudah dijanjikan Dave. Dave buru-buru menyelesaikan makannya untuk segera menyusul Audy.

‘Wanita itu membuatku semakin menggila,’ batin Dave.

Di Airport, pengawal yang dibawa Dave bertugas menyelesaikan administrasi tiket. Setelah itu, mereka berjalan menuju VIP Lounge, tanpa mereka sadari seseorang sedang menguntit mereka sejak tadi.

“Aku akan ke toilet sebentar,” pamit Audy.

“Mari aku antar,” ajak Dave.

“Tidak perlu, Dave.” Audy mengelus dahinya.

“Kalau begitu, Kau ikuti dia!” perintah Dave pada pengawalnya.

“Aku tidak akan kabur, Dave. Kau sudah gila!” caci Audy melototkan kedua matanya pada Dave.

Dave hanya mengabaikan jawaban yang keluar dari mulut Audy, ia tidak mau berdebat di depan umum.

Begitu juga dengan Audy, dengan sangat terpaksa kini ia berjalan dengan wajah cemberut, karena seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam selalu berada di belakangnya. Tentu saja itu membuat Audy sangat tidak nyaman. Audy masuk ke toilet bertanda wanita, sementara pengawalnya berdiri di luar.

‘Dia sangat menyebalkan, aku benci diperlakukan seperti bayi!’ umpat Audy dalam hatinya.

Seseorang mendatangi pengawal Audy yang sedang berjaga di depan toilet, ia mengatakan, “Apa Kau pengawal Tuan Dave? Saya petugas Airport ini, dia sedang membutuhkanmu di counter bawah, untuk mengurus fasilitas seat VIP untuk first class.”

“Baiklah, aku akan menunggu Nyonya dulu,” jawab pria itu.

“Biar aku yang mengatakannya pada Nyonya, agar ia bisa menunggunya,” jelas Alfred.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menyusul Tuan Dave.” Tanpa pikir panjang, pria itu pergi meninggalkan toilet.

Dua menit kemudian Audy keluar dari toilet, ia menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan mencari pengawal yang mendampinginya, tapi tidak ada. Dia justru melihat Alfred sedang menantinya.

“Kau! Mau apa Kau di sini?” tanya Audy.

“Hai, Audy. Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan,” jawab Alfred.

Belum sempat Audy berbicara kembali, Alfred dengan sigap menutup wajah Audy dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Ia menaruh Audy di kursi dorong yang sudah ia siapkan.

Setiap orang yang melihat Audy tertidur di kursi dorong, tidak menaruh curiga. Karena Alfred selalu mengatakan pada mereka bahwa, wanita itu adalah istrinya yang sedang sakit dan akan segera dibawa pulang.

Di tempat lain, Dave mulai gelisah karena Audy belum kembali. Setengah jam berlalu, pengawal itu mendatangi Dave dengan wajah penuh kekhawatiran, karena tanpa membawa Audy di sisinya.

“Dimana Audy?” tanya Dave. Dave berdiri dari posisi semula, memutar-mutar bola matanya ke berbagai penjuru arah.

“Tuan, sepertinya aku sudah dibohongi oleh seseorang. Aku kehilangan Nyonya Audy,” jawab pengawalnya.

“Bodoh!” Dave sangat marah mendengar penjelasan dari pengawalnya.

“Cepat cari dia hingga ketemu atau Kau akan aku bunuh!”

Sebelumnya, pengawal itu tidak menemukan Dave di tempat yang disebutkan Alfred, ia segera berlari kembali ke toilet tempat ia meninggalkan Audy. Mencarinya hingga masuk ke dalam toilet wanita, tanpa izin dari pengunjung di sana. Tapi, ia tidak menemukannya. Audy sudah hilang tanpa jejak. Ia hanya mendapat caci maki dari para wanita yang ada dalam toilet.

Dave bersama pengawalnya berusaha mencari Audy di Airport yang luas itu, bertanya pada setiap petugas bandara, hingga Dave memutuskan untuk kembali pulang karena tidak bisa menemukannya. Ia menghubungi Jim untuk bisa menemukan rekaman video CCTV.

Di tempat lain, sebuah rumah milik Alfred. Audy yang masih belum sadarkan diri, dibaringkan dalam salah satu kamar di rumah itu. Alfred sangat berhati-hati menaruh tubuh lunglai Audy. Jauh dalam hatinya, ia masih menginginkan Audy, dan memuji kecantikan mantan istrinya itu.

Tapi iblis lebih menguasai pikiran Alfred, untuk merampas semua yang dimiliki Dave.

“Bagaimana, Jim?” tanya Dave.

Dave tidak pulang ke rumah, tapi ia pergi ke kantor Jim. Itu karena Dave sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya pada penculik Audy.

Jim memperlihatkan video CCTV yang berhasil ia ambil. Di monitor itu, terlihat seorang pria mengenakan topi berwarna coklat, mendorong Audy keluar dari Airport. Jim dan Dave tidak bisa mengenali wajah pria tersebut.

“Shitt!” umpat Dave.

Jim hanya bisa diam, ia tidak bisa menemukan rekaman video mobil yang dikendarai oleh penculik itu. Membuat mereka sulit untuk melacak keberadaan Audy. Tiba-tiba Dave teringat akan putri Audy, Dave khawatir jika Jillian akan dilibatkan dalam hal ini oleh orang yang menculik Audy.

“Jim, Kau dan Daniel pergilah ke San Fransisco sekarang. Jemput putri Audy dan bawa kemari secepatnya. Aku khawatir dengan keselamatan anak itu!” perintah Dave.

“Baiklah,” jawab Jim tanpa banyak pertanyaan, informasi yang identitas dan sekolah putri Audy sudah ada di tangannya.

Ia menghubungi Daniel agar ikut bersamanya.

‘Siapa penculik Audy? Apa yang ia inginkan?’ batin Dave.

***

Revenge

Perlahan kelopak mata indah itu terbuka, Audy bangun dari tidurnya. Ia melihat ruangan asing dalam cahaya lampu yang redup. Tidak ada siapapun di sana, jendela juga sudah tertutup oleh tirai kain panjang berwarna merah tua. Sepertinya di luar memang sudah gelap.

‘Dimana aku?’ batin Audy.

Ia berusaha mengingat-ingat kejadian yang baru saja ia alami. Dan Audy sadar, bahwa ia dan Dave sebelumnya berada di bandara untuk terbang ke San Fransisco

Kepalanya masih pusing, Audy tetap memaksakan tubuhnya agar berdiri. Tapi ia segera kembali merebahkan tubuhya di atas ranjang, berpura-pura untuk tidur. Karena ia mendengar suara kaki menuju kamarnya.

Pintu kamar terbuka, Alfred masuk dengan makanan di dalam nampan yang ia bawa. Setelah ia menaruh nampan itu di atas nakas, ia duduk di pinggir ranjang Audy. Alfred mengelus pipi Audy hingga Audy pun merasa jijik, kemudian ia duduk dan melemparkan sebuah tamparan tepat di wajah Alfred.

“Bajingan! Lepaskan aku!” teriak Audy keras.

Alfred mengusap-usap pipinya yang panas karena tamparan Audy.

“Tidak! Kau masih aku butuhkan,”

“Kau sudah dapatkan semua yang Kau inginkan, aku sudah tidak ada urusan apapun denganmu!” bentak Audy.

“Sudahlah Audy, Kau tidak akan bisa melawanku!” sergah Alfred. Ia kemudian keluar dan meninggalkan Audy sendiri.

Dengan penuh emosi, Audy melemparkan semua yang di dekatnya. Tak ketinggalan makanan yang dibawa Alfred tadi. Ia lebih baik kelaparan daripada harus makan makanan dari Alfred. Setelah semua berantakan di ruangan itu, Audy kemudian melepaskan perasaan kesalnya dengan menangis sekeras-kerasnya.

Ia menyalahkan semua yang terjadi ini pada Dave, jika saja ia tidak menahannya lebih lama, maka sekarang ia sedang memeluk putri kesayangannya di rumah.

‘Aku benci, benci semua ini!’ jerit Audy dalam hatinya.

Di kediamannya, Dave gelisah tidak bisa melakukan apapun karena pikirannya penuh dengan Audy. Ia masih belum menemukan jejak penculik Audy. Dave tidak sabar menunggu pagi datang. Sebuah rencana tiba-tiba terpikir olehnya. Ponselnya berdering sudah dari lima menit lalu, tapi Dave baru sadar untuk mengangkatnya.

“Halo,” sapa Dave.

“Halo, Dave. Kenapa lama sekali mengangkatnya?” tanya Daniel.

Malam ini Daniel dan Jim tiba di San Fransisco, tapi mereka belum bisa menemui putri Audy. Jadi mereka akan melanjutkannya besok pagi.

“Baiklah, lakukan dengan baik. Segera bawa anak itu kemari!” perintah Dave.

****

Treatened

Sudah satu malam, Audy terkurung di dalam kamar rumah Alfred. Pemilik rumah itu kembali masuk, dengan membawa sarapan untuk Audy. Saat Alfred melihat keadaan kamar yang berantakan, ia mencoba menahan marahnya. Alfred berusaha meyakinkan Audy, bahwa dirinya yang sekarang lebih baik dari pada yang dulu.

Audy bangun dari tidurnya, walaupun tubuhya lemas tapi ia tidak ingin terlihat lemah di depan Alfred.

“Apa yang Kau mau bajingan?!” bentak Audy.

“Hei, Audy. Aku hanya ingin kita berbaikan, walaupun tidak kembali seperti dulu. Aku hanya ingin berteman denganmu, karena aku juga ayah dari Jillian, bukan?” rayu Alfred.

“Aku tidak percaya padamu, Kau iblis dengan bermacam topeng!” cecar Audy.

“Aku tahu, bahwa Kau tidak ingin menikah dengan pria itu. Aku melihat semuanya,” kata Alfred.

“Bukan urusanmu, aku mampu melakukan apapun, termasuk untuk melepaskan diri dari Dave!” jawab Audy.

“Yang benar saja, lihat sekarang ini. Apa Kau bisa lolos dari kamar ini?” Alfred mencibir Audy, meremehkannya.

“Cuiiih ….” Audy meludahi Alfred, ia sangat kesal pria itu telah merendahkannya.

“Aku akan bantu Kau lepas darinya, tapi Kau juga harus membantuku melakukan sesuatu,” minta Alfred.

“Aku tidak mau! Kau lakukan apapun urusanmu dan lepaskan aku sekarang!” bantah Audy.

“Well, kalau begitu mungkin aku perlu sedikit memaksamu, dengan melibatkan putri kesayangan kita dalam hal ini,” ancam Alfred.

“Bangsat! Jangan pernah Kau menyentuh putriku, Kau tidak pantas menyebutnya putrimu, ingat itu!” Audy bertambah marah karena Alfred mengancamnya, seketika Audy memukul wajah Alfred sekuat sisa tenaga yang dimilikinya.

Alfred menjadi marah, kedua tangannya yang kekar ia lingkarkan pada tubuh Audy. Hingga Audy tidak bisa bergerak, bahkan nafasnya saat ini terasa sesak.

“Lepaskan aku!” teriak Audy.

“Jangan coba macam-macam denganku, atau Kau akan mendengar kabar yang tidak menyenangkan tentang Jillian!” sergah Alfred.

Alfred menghempaskan tubuh Audy, ke atas ranjang. “Kau pikirkan itu baik-baik Audy, nanti aku kembali lagi,”

Audy tidak kuasa menahan air mata, ia kembali menangis. Hatinya terasa perih mendengar nama Jillian, putrinya dilibatkan oleh Alfred. Tentu saja, Audy tidak mau jika sesuatu terjadi pada Jillian. Dengan terpaksa ia akan melakukan keinginan Alfred.

Dave tidak sabar bertemu dengan Gerard, pagi-pagi sekali Dave menyetir laju mobilnya menuju Kingston International Resort. Tentu saja ia tidak menemukan Gerard di sana, karena memang belum waktunya masuk kerja. Namun, Dave tidak mau membuang-buang waktunya, ia segera menelepon Gerard untuk segera datang.

“What?! Ini masih sangat pagi Dave, beri aku waktu satu jam lagi,” tawar Gerard.

“Ya, jika Kau mau aku patahkan lehermu!” ancam Dave.

“Baiklah Bos.” Gerard dengan sangat terpaksa, berdiri dari ranjangnya.

Ia masih mengenakan celana boxer tidur segera menuju kamar mandi. Ia memaklumi kegelisahan yang saat ini dialami oleh Dave.

Pikiran Dave tidak bisa bekerja dengan normal, karena hanya ada Audy di dalam kepalanya. Apapun caranya ia harus menemukan kekasih hatinya itu. Dave tidak mau kehilangan cintanya untuk kedua kali.

‘Bangsat! Apa yang di inginkannya dari Audy?’ batin Dave sambil mengepalkan kedua telapak tangannya, dengan sangat kuat.

Di sebuah rumah klasik, yang letaknya jauh dari kota. Alfred berjalan menuju kamar dimana Audy dikurung. Kali ini, ia yakin bahwa Audy akan menerima tawarannya.

“Audy, apa Kau terima tawaranku?” tanya Alfred.

“Apa aku bisa memegang janjimu, untuk tidak melibatkan Jillian dalam hal ini?” tanya Audy balik.

Audy sudah memakan makanan yang diberikan Alfred tadi pagi. Ia terpaksa menelan semua makanan itu, agar ia mendapatkan tenaganya kembali.

“Tentu saja, aku tidak akan menyakitinya. Ia adalah darah dagingku, hanya saja aku akan merebut hak asuh darimu jika terpaksa,” ancam Alfred.

“Katakan apa yang Kau inginkan?!” tanya Audy.

“Aku ingin Kau membunuh Dave!” perintah Alfred.

Tubuh Audy bergetar, telapak tangannya tiba-tiba dingin mendengar apa yang diinginkan oleh mantan suaminya itu.

“Kenapa? Apa yang Dave lakukan padamu?” tanya Audy.

“Kau lakukan saja yang aku perintahkan, jangan banyak bertanya!” sergah Alfred.

“Setidaknya aku punya alasan untuk melakukannya, Alfred!” teriak Audy.

“Aku akan memberitahumu setelah Kau selesaikan tugasmu,” jawab Alfred.

Dave mengajak Gerard untuk menemui Ketua Geng Bugsy. Mereka hanya pergi berdua tanpa ada pengawalan dari bodyguard.

“Apa Kau sudah gila, Dave. Kau ingin menyerahkan nyawa kita?!” Gerard sangat khawatir dengan rencana Dave kali ini. Ia sudah tidak memikirkan keselamatan nyawanya, bahkan temannya.

“Tenanglah, kawan. Aku punya tawaran menarik untuk mereka,” jelas Dave santai sambil menyetir laju mobilnya di jalan aspal.

“Aku tidak mau mati secepat ini, Dave. Aku belum menikah dengan sepupumu!” cecar Gerad mulai panik. “Bagaimana jika mereka tidak tertarik dengan tawaranmu?”

“Aku yakin mereka pasti tertarik,” ucap Dave penuh percaya diri.

Mereka tiba di sebuah gedung berlantai lima. Gedung itu tampak tidak begitu baik, lebih mirip seperti bangunan tua yang sudah di tinggalkan oleh pemiliknya. Di situlah tinggal, Ketua Geng Bugsy beserta anak buahnya. Dave berada di depan Gerard, mereka dihadang oleh penjaga pintu gedung itu.

“Katakan pada Bos kalian, Dave Grant Sherman ingin menemuinya!” perintah Dave.

“Apa urusan Anda kemari?” tanya salah satu penjaga itu. Sambil mereka memeriksa tubuh Dave dan Gerard, untuk memastikan bahwa mereka tidak membawa senjata.

“Aku ingin bekerja sama,” jawab Dave.

Para penjaga itu saling pandang, mereka heran dengan jawaban Dave. Tidak mungkin orang seperti Dave, akan bekerja sama dengan bos mereka. Karena mereka memiliki perselisihan yang masih belum selesai. Dengan cepat, salah satu dari mereka masuk untuk segera melaporkan pada bosnya.

Gerard menghisap rokoknya dengan gugup, ia merasa seperti menunggu kematian akan segera datang. Sepuluh menit kemudian, penjaga itu kembali. Ia memberikan kode pada Dave dan Gerard untuk masuk mengikutinya.

“Selamat datang, Tuan Dave Grant Sherman,” sapa seorang pria, dengan tubuh penuh dengan tato.

Ia hanya mengenakan celana panjang berwarna oren, sementara tubuhya terbuka tanpa pakaian sengaja ia pertontonkan.

“Aku punya tawaran menarik untukmu,” ucap Dave tanpa basa basi.

“Hanya satu hal yang menjadi penyebab keberanian lelaki melewati batas dirinya, pasti karena seorang wanita.” Lelaki itu tepat sekali menebak apa penyebab Dave bisa sampai menemuinya.

Dave melemparkan foto Audy, ke atas meja pria bertato itu. “Temukan wanita itu dan penculiknya!”

“Apa yang bisa aku dapatkan untuk itu?” tanya pria itu.

“Kau boleh menguasai keseluruhan daerah bagian Tampa, dengan syarat pengawasan tetap dari perusahaanku,” tawar Dave.

“Tentu saja usahaku tidak akan berkembang jika masih dalam pengawasanmu,” bantah Bos Bugsy.

“Kau tetap bisa melakukan usaha dunia hiburanmu dengan meminimalkan barang illegal, karena jika bisnis ilegalmu tercium oleh aparat, maka Kau akan habis. Aku bisa membantumu untuk itu,” jelas Dave.

“Hmm … baiklah. Apa aku bisa memegang ucapanmu?” tanya pria bertato itu.

“Perselisihan ini selesai, jika Kau mampu menemukannya.”

Dave berbalik menuju pintu, meninggalkan pria itu. Di ikuti oleh Gerard di belakangnya. Dave sudah bisa memastikan prediksinya tentang mafia itu, yang diinginkan olehnya hanyalah sedikit kekuasaan dan uang. Karena perselisihan mereka dimulai saat Dave membangun banyak property di daerah kekuasaan mereka, sehingga pendapatan dari bisnis kotor mereka menurun tajam.

Dave dan Gerard segera menuju Residence House milik ibunya, di kawasan Brickell City Centre di Miami. Mereka disambut hangat oleh pemilik rumah, dan beberapa orang yang memang ditunggu kedatangannya oleh Dave.

Bersambung