Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 3

Failed Mission

Ponsel Gerard berdering di dalam saku celananya. Ia segera merogoh saku dan mengambil ponsel. Di layar tertulis My Bos yang tak lain adalah Dave.

“Halo, Dave. Aku sedang menuju kamarmu,” jawab Gerard.

“Temukan perempuan itu sekarang!” perintah Dave.

Gerard bingung, perempuan yang mana yang dimaksudkan Dave. Ibunya, Sarah atau Clara. Ia langsung ingat pertemuannya dengan Audy beberapa menit yang lalu, Audy terlihat seperti ingin kabur secepat mungkin.

“Siapa Dave, Clara?”

“Bukan, My mom. Tentu saja! Bentak Dave.

‘Ada apa dengan pria ini? Beberapa hari yang lalu, ia masih mengatakan bahwa tidak bisa membuka hatinya. Hari ini, ia bersemangat sekali ingin memiliki wanita itu.’ Gerard menggeleng-gelengkan kepalanya, bingung dengan tingkah Dave yang berubah seratus delapan puluh derajat.

Gerard kembali turun menggunakan lift, ia keluar mencari sosok Audy. Namun, ia terlambat. Gerard menanyakan pada petugas hotel yang ada di luar, menyebutkan ciri-ciri Audy. Pria itu mengatakan bahwa ia melihat Audy menaiki taxi beberapa menit lalu.

Di dalam taxi, Audy kembali menelepon Jacob.

“Kau dimana, Jacob?”

“Aku sudah di bandara, Nyonya,” jawab Jacob.

“Bagus, Kau tidak perlu menungguku, Jacob. Beli saja tiket untukmu segera, penerbangan mana saja yang bisa Kau dapatkan dengan cepat. Aku akan melakukan hal yang sama!” perintah Audy. Saat ini taxi yang ia tumpangi terjebak macet.

“Tapi, Nyonya. Aku tidak bisa meninggalkan Anda begitu saja,” jawab Jacob.

“Dengar Jacob, salah satu dari kita harus segera berada di San Fransisco secepat mungkin. Aku mulai khawatir dengan Jillian, ia pasti gelisah sekarang karena kita sudah seminggu di sini. Aku bisa menjaga diriku,” jelas Audy.

“Baik, Nyonya,” jawab Jacob. Dengan berat hati ia menuruti perintah Audy.

Setidaknya Audy bisa tenang sedikit, jika ada yang akan menjelaskan pada Jillian tentang lama perjalanan bisnisnya kali ini.

Dave sudah menebak kemana Audy akan pergi. Ia menyetir sendiri mobil sport miliknya menuju bandara.

‘Kau pasti akan kembali ke San Fransisco, aku akan menemukanmu kemanapun Kau pergi,’ ucap Dave dalam hati.

Audy tiba di Aiport, dengan sedikit lega di hatinya. Ia berharap bisa lepas dari kekacauan yang terjadi. Ia memutar-mutar kepalanya, mencari sosok Jacob, tapi tidak bisa menemukannya. Sepertinya Jacob sudah lebih dulu take off ke San Fransisco.

Ia segera pergi ke konter tiket, untuk membeli tiket penerbangan selanjutnya ke San Fransisco. Namun naas, jadwal penerbangan selanjutnya masih tiga jam lagi. Hal itu membuatnya kembali pada rasa khawatir, jika Dave menyusulnya.

‘Tidak, tidak mungkin bangsat itu menyusulku.’

Audy mencoba menghibur dirinya sendiri, ia berkeyakinan bahwa Dave pasti dengan terpaksa melepaskannya. Karena ia bukanlah wanita yang diinginkan Dave.

‘Wanita tua itu menyulitkan ku saja, bagaimana mungkin aku yang harus menjadi istri dari putranya?’ batin Audy.

Setengah jam berlalu, Audy menunggu dengan sangat gelisah. Ia berjalan kesana kemari sambil sesekali bersembunyi, seperti orang yang sedang mencuri. Di tengah keramaian itu, Audy merasakan tangan seseorang berada di pundaknya, ia pun menoleh ke belakang dan terkejut.

“Kau!” Audy membulatkan biji mata hitamnya melihat Dave.

Dave tersenyum, jari telunjuknya terulur pada mulut Audy. “Ssstt, jangan berteriak di sini. Semua orang akan melihatmu.”

Audy melihat setiap orang yang melewatinya, Dave benar tentang itu. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar, ditambah dengan penampilan Audy yang benar-benar berantakan. Semua orang pasti mengira, ia sedang berusaha melarikan diri dari suaminya, mungkin karena ia memilih pria lain.

Tergambar seperti itu karena Audy masih mengenakan gaunnya tadi malam, tanpa mengenakan alas kaki. Dave berusaha tersenyum, lebih tepatnya nyengir memperlihatkan semua baris giginya pada setiap orang yang melihat mereka, ia berusaha memberikan pesan bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja.

“Jangan membuatku malu, apa Kau ingin pergi dengan penampilanmu seperti ini?” ejek Dave, ia mengarahkan tangannya pada kaki Audy.

“Apa pedulimu, aku bukan siapa-siapamu, ingat itu!” bentak Audy, ia masih kukuh dengan pendiriannya.

Berharap jam cepat berputar, hingga ia bisa berlari masuk ke dalam pesawat saat ini juga. Meninggalkan lelaki memuakkan di hadapannya.

“Kau ikut denganku sekarang, atau aku akan berteriak di sini, Clara,” ancam Dave.

“Silahkan saja, aku tidak takut ancamanmu,” tantang Audy.

‘Tidak mungkin Dave melakukan hal konyol itu,’ batin Audy.

“Baiklah,” jawab Dave.

“Hei, everybody. Aku ingin wanita ini kembali padaku,” teriak Dave dengan sangat lantang. Membuat semua orang menoleh pada mereka.

Perilaku Dave membuat Audy shock, ia membekap mulut Dave dengan kedua tangannya sambil berjinjit di belakang tubuh Dave. Karena tubuh Dave yang lebih tinggi dari pada tubuhnya.

“Kau sudah gila!” ucap Audy pada telinga Dave, sambil melihat ke semua orang yang memasang wajah marah pada Audy.

Seorang wanita tua yang berjalan melewatinya, berkata. “Kau beruntung memiliki pria sepertinya, Nak,”

Audy hanya membalas dengan senyum yang dipaksakan. Ia kemudian melepaskan tangannya, berjalan cepat keluar dari Airport. Dave berlari kecil menyusul Audy, mereka berjalan sejajar sekarang. Dave menggenggam tangan Audy sekuat tenaga, agar Audy tidak mencoba lari lagi. Sementara Audy hanya bisa memandangnya dengan wajah marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dave mengajak Audy berjalan menuju mobilnya yang ada di tempat parkir. Ia membukakan pintu mobil untuk Audy. Dengan pasrah Audy duduk di samping Dave. Mobil itu melaju dengan mulus di jalan aspal Florida.

“Kemana Kau membawaku?” tanya Audy.

Dave diam saja, ia tetap menyetir mobil merk Aston Martin One-77 berwarna hitam dengan kencang melewati jalan tol. Audy tidak bisa melihat sorot mata Dave karena ia mengenakan kaca mata hitam. Hingga mobil itu tiba pada sebuah komplek townhouse, Dave memarkirkan mobil di garasi yang otomatis terbuka dan tertutup kembali saat mobilnya berada di dalam.

Townhouse yang dibeli Dave ini secara tidak langsung menggambarkan kepribadian pemiliknya. Dave memiliki sisi mandiri yang sangat tinggi, di rumah ini tidak ada pembantu yang melayaninya.

Semuanya ia lakukan sendiri, mulai dari bersih-bersih, memasak dan merapikan pakaiannya. Sangat berbeda dengan dirinya saat berada di hotel tempat ia bekerja, menghabiskan waktunya sehari-hari. Dave bukan tidak mampu membeli sebuah mansion ataupun penthouse seperti para eksekutif muda lainnya, ia sangat berbeda.

Dan alasan yang sangat penting ia menjauhi kemewahan yang sudah ia miliki adalah, agar musuhnya tidak menyadari keberadaannya selain di Kingston International Resort.

“Apa ini rumahmu?” tanya Audy.

“Ya,” jawab Dave,

“Kau tidak suka?”

Sekali lagi Audy dibuat shock, ia tidak percaya dengan apa yang lihat sekarang. Sosok Dave dengan segala kemewahannya mau tinggal di rumah yang sederhana seperti itu.

“Aku tidak berhak untuk berpendapat seperti itu,” balas Audy.

Ponsel Audy di dalam clutch nya berdering, ia segera mengangkat telepon itu.

“Bagaimana, Jacob? Kau sudah tiba di rumah?” tanya Audy.

“Ya, Nyonya. Aku juga sudah bertemu Jillian, mengatakan bahwa Kau masih butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaanmu,” jawab Jacob di ujung telepon.

“Bagaimana keadaan Jillian?” Audy sangat merindukan putrinya.

“Baik, Nyonya. Saat ini ia bersama Dayna pergi ke toko buku membeli peralatan sekolahnya,” balas Jacob.

“Terima kasih, Jacob. Hubungi aku jika ada masalah, aku akan kembali secepatnya.” Audy menutup teleponnya.

Di pojok ruang, Dave melipatkan tangan ke dadanya. Ia mendengar semua percakapan Audy dengan Jacob.

“Kau bersihkanlah dirimu di kamar mandi, Kau harus jelaskan semuanya padaku,” ujar Dave.

“Aku tidak mau! Seharusnya aku sudah berangkat ke San Fransisco dan bertemu dengan putriku!” bentak Audy.

Audy sudah tidak akan menutup-nutupi lagi pembicaraannya dengan Jacob. Karena ia berencana akan memberi tahukan Dave semuanya dengan jujur. Berharap Dave akan melepaskannya setelah itu.

“Ternyata Kau adalah kotak Pandora, penuh misteri yang harus aku pecahkan.” Dave mengelus pipi Audy dengan dua jarinya.

Audy menepis tangan Dave dengan kasar, ia sangat benci diperlakukan seperti bayi. Audy masih berdiri sambil melihat-lihat keadaan rumah Dave. Sementara Dave mengambil ponsel dan menghubungi Gerard.

“Hallo,” sapa Gerard.

“Bisa Kau belikan pakaian wanita yang biasa mereka kenakan di rumah? Dan bawa kemari segera!” perintah Dave.

“Untuk siapa? Dan Kau dimana?” tanya Gerard.

“Calon istriku, aku sekarang di townhouse,” jawab Dave.

“Kau serius?” tanya Gerard untuk meyakinkan dirinya.

“Segeralah! Terima kasih, Gerard.” Dave langsung menutup teleponnya.

Dave menarik tangan Audy mengajaknya ke kamar mandi.

“Kau sepertinya suka aku sentuh seperti ini.” Dave memberikan kode agar Audy masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.

“Damn!” dengan sangat terpaksa Audy masuk ke kamar mandi.

Audy keluar dari kamar mandi mengenakan handuk membalut sebagian tubuhnya. Ia cepat-cepat masuk ke dalam kamar Dave, mencari pakaian untuknya. Tentu saja ia tidak akan menemukan pakaian wanita di sana. Audy memilih baju kaos panjang berwarna ungu milik Dave.

‘Nasibku benar-benar sial bertemu dengannya,

Aku harus bisa pergi dari sini.

Aku tidak bisa menikah dengan siapapun, termasuk Dave,’

Audy

‘Siapapun dirimu, aku sudah tidak peduli lagi.

Kau harus menjadi milikku, selamanya,’

Dave

_xoxo_

***

Honest is Better

Dave tengah menyiapkan makan malam untuk mereka di dapur. Kesekian kalinya Audy dibuat kaget dengan perilaku Dave. Ia berusaha meyakinkan hatinya atas apa yang ia lihat saat ini. Perlahan Audy berjalan mendekati Dave.

“Tunggulah sebentar, aku akan memasak makan malam,” ujar Dave. Ia tahu bahwa Audy berada di belakangnya.

“Dave, aku ingin memberi tahumu sesuatu,” ungkap Audy.

“Tentu saja, setelah makan Kau bisa menjelaskan semuanya padaku,” jawab Dave.

Audy membantu Dave membereskan peralatan makan, ia berharap Dave akan melunak setelah ia menjelaskan semuanya nanti. Mereka menuju sofa berwarna abu-abu tua dan duduk berhadapan.

Audy menarik nafas sejenak, sebelum bercerita.

“Dengarkan aku dengan baik Dave, aku berharap Kau akan melepaskanku setelah ini.”

Dave hanya berdehem, Ia sudah bertekad untuk memiliki Audy seutuhnya. Jadi harapan Audy itu hanyalah sia-sia.

“Namaku bukan Clara, tapi Audy. Aku sudah memiliki seorang putri berusia empat belas tahun. Aku datang kesini dalam misi membantu seseorang untuk memastikan apakah Kau ….” Audy tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia takut Dave akan marah. Dave justru melengkapi kalimat itu.

“Maksudmu gay?” Dave tersenyum, “Seperti yang Kau tanyakan pada saat Kau mabuk dan berakhir di ranjangku.”

Pipi Audy tampak memerah, ia mencoba melanjutkan penjelasannya, “Aku tidak bermaksud untuk menganggumu.”

“Lalu, siapa Jacob?” tanya Dave.

“Dia orang kepercayaanku,” jawab Audy.

“Apa Kau ingin tahu siapa yang mengutusku?”

“Tidak,” jawab Dave.

Audy bingung kenapa Dave tidak penasaran dengan hal itu.

“Kenapa?” Audy mendekatkan wajahya pada Dave, sembari memperhatikan ekspresi yang keluar dari mata Dave.

“Siapapun yang mengutusmu, aku akan berterima kasih padanya,” kata Dave.

“Pria yang aneh!” umpat Audy.

“Aku mendapatkan istri sekaligus agen rahasia, yang akan membantuku,” ucap Dave.

“Aku akan membantumu, jika Kau berikan tugas rahasia untukku dengan imbalan Kau akan membatalkan pernikahan lelucon ini,” tawar Audy.

“Kenapa harus membatalkannya? Aku mendapatkan keuntungan dalam hal itu. Pertama, akan membuat my mom bahagia karena ia ingin segera aku menikah dan memiliki anak, kedua Kau bisa bermanfaat dalam pekerjaanku, ini sangat menarik bukan?” jelas Dave, “Dan jangan berharap aku akan melepaskanmu,”

“Sialan Kau!” bentak Audy. Ia sangat kesal dan menyesal memberitahukan Dave kebenarannya.

Mata Audy mulai berkaca-kaca, ia jadi teringat kembali pada putrinya saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan pada Jillian, hal penting yang diputuskan sepihak. Audy berdiri, kemudian berlari masuk ke kamar Dave, menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk milik Dave. Sekarang pertahanan di hatinya sudah hancur, ia terisak menyesali yang sudah ia lakukan.

Dave baru saja akan menyusulnya, tapi bel rumah berbunyi. Ia tahu siapa yang datang. Dave membukakan pintu. “Masuklah.”

Gerard dan dua teman lainnya datang membawa banyak kantong belanja. Mereka dengan semangat memberikan itu semua pada Dave.

“Aku hanya menyuruhmu membeli pakaian, kenapa ini banyak sekali?” tanya Dave.

“Anggap itu hadiah dari kami, buat calon istrimu,” kata Jim.

“Dimana dia?” tanya Gerard.

Dave menunjuk satu jarinya ke atas, memberi tahu bahwa Audy sedang ada di kamar.

“Kau yakin dengan pilihanmu Dave?” tanya Daniel.

“Tentu saja, ia sangat bermanfaat untukku,” jawab Dave cepat.

Ketiga temannya saling melemparkan pandangan, mereka tidak mengerti dengan maksud perkataan Dave, itu karena mereka tidak tahu apa pekerjaan Audy sebenarnya.

“Aku tidak setuju wanita itu menjadi istrimu, ya aku akui ini adalah kesalahanku,” bantah Daniel.

Daniel mulai terobsesi untuk memiliki Audy, apalagi setelah kesalapahaman yang terjadi kemarin. Ia berharap agar Dave mau melepaskan Audy.

“Aku sudah menentukan pilihanku Daniel, jangan coba-coba terobsesi dengannya!” Dave bisa membaca apa yang ada dipikirkan Daniel melalui sorot matanya.

“Terserah Kau sajalah,” balas Daniel.

“Sudah, jangan bertengkar. Dave kau bawa ini untuk Clara,” pinta Jim.

Dave melakukan apa yang dikatakan Jim, ia pergi ke kamarnya dan mendapati Audy tertidur dengan mata sembab. Tidak sengaja, Dave menghapuskan sisa air mata yang masih menggenang di ujung mata Audy.

“Kau sangat cantik Audy.” Dave mengecup kening Audy dan membiarkannya tidur.

Hingga pukul sebelas malam, tiga orang pria tersebut berpamitan pada Dave.

“Baiklah, see you,” ucap Gerard.

“Terima kasih, Kau juga Daniel,” ucap Dave.

“Ya, jika hanya Kau berikan dia padaku,” ejek Daniel.

Dave mengambil sebuah buku dan melemparkannya pada Daniel. Mereka berempat tertawa. Inti rencana ketiga temannya memang berhasil, yaitu memberikan Dave wanita untuk ia nikahi. Walaupun dengan wanita yang keliru.

‘Jujur ternyata hanya mempersulit keadaanku,

Semakin sakit mengingat perkataannya,

tapi aku harus bertahan,’

Audy

 

‘Lebih baik Kau membenciku dari awal,

Agar Kau mampu mencintaiku hingga akhir,’

Dave

***

Getting Crazy

“Selamat pagi, Cantik. Aku berangkat ke kantor lebih awal karena ada meeting direksi dari luar negeri. Nanti malam Kau akan aku ajak ke pesta pertunangan kolegaku. Jadi persiapkan dirimu. Oh ya, aku hanya bisa membuat roti dan hot green tea untuk sarapanmu. Jika Kau membutuhkan sesuatu, Kau bisa menyuruh bibi Rosa membantumu.”

Begitulah isi memo kecil di samping sarapan Audy, yang diletakkan oleh Dave. Ia sengaja mendatangkan pembantu dari rumah ibunya, untuk membantu Audy.

Audy melahap sarapannya segigit demi segigit, sambil melamun.

‘Apa benar Dave menginginkanku menjadi istrinya? Apa aku pantas berada di sisi Dave? Aku tidak pernah berpikir untuk membina sebuah rumah tangga lagi. Karena kehidupanku saat ini sudah lebih dari cukup,’

Pukul empat sore, suara sebuah mobil masuk dalam garasi. Seseorang keluar dari mobil itu, masih dengan setelan jas yang lengkap. Dave bersemangat melangkahkan kakinya masuk ke rumah.

“Dave, bukannya acara itu nanti malam, Kenapa Kau sudah datang menjemputku?” tanya Audy.

“Ya, acaranya memang nanti malam. Tapi aku tidak mengatakan aku akan pulang malam bukan?” Dave mengdipkan sebelah matanya pada Audy yang tengah duduk di sofa.

Wajah Audy memerah, Dave mengatakan hal yang benar. Ia hanya mengatakan acaranya nanti malam. Dave menarik tangan Audy dengan cepat, membawanya ke kamar.

“Dave, apa yang Kau lakukan?” tanya Audy,

“Bibi Rosa melihatnya,”

“Biarkan saja.” Dave menutup pintu kamar dan menguncinya.

“Aku merindukanmu Audy.”

“Apa-apaan Kau Dave? Kita belum menikah? Aku tidak mau,” bantah Audy.

“Panas sekali di sini,” ucap Dave sambil membuka jas dan dasi yang ia kenakan.

Perlahan Dave berjalan mendekati Audy, matanya fokus menatap mata Audy yang terlihat nervous.

“Dave, jangan!” teriak Audy.

“Kau hobi sekali berteriak Audy, apa Kau mau bibi Rosa mendengarmu?” goda Dave.

Audy terhalang oleh dinding di belakangnya, saat ini Dave menindih tubuhnya dalam posisi berdiri.

“Aku menginginkanmu Sayang,” pinta Dave.

Dave menghirup aroma wangi tubuh Audy melalui lehernya yang jenjang, kemudian sebelah tangannya menekan tengkuk Audy agar melihat ke arahnya. Audy hanya bisa memejamkan mata, pipi dan bibirnya terlihat memerah membuat Dave segera menempelkan bibirnya di sana.

Tidak ada yang bisa di lakukan Audy, kecuali hanya mendesah menahan serangan kenikmatan yang diberikan pria di depannya.

“Dave, please ….” Ucap Audy memelas,

Dave kemudian menggendong Audy naik ke atas ranjang, mereka melakukan hubungan panas itu selama hampir satu jam. Dave merebahkan tubuhnya di samping Audy, mereka masih mengatur alur napasnya masing-masing.

“Dave, sampai kapan Kau mengurungku disini? Aku sangat merindukan putriku,” ucap Audy.

“Kalau Kau mau aku akan menyuruh seseorang menjemputnya, bagaimana?” tawar Dave.

“Tidak, Dave. Apa Kau gila?” Audy duduk menghadap Dave yang masih terbaring, dengan dua tangan di belakang kepalanya.

“Kenapa tidak? Aku akan menjadi Daddy nya bukan?” jelas Dave.

“Bagaimana Kau tahu jika ia tidak memiliki Daddy?” tanya Audy.

“Jika Kau memiliki suami, Kau tidak akan pernah sampai di tempat ini bertemu denganku,” jawab Dave cerdas.

“Pernikahan itu tidak hanya sekedar berhubungan intim, Dave. Tapi harus ada cinta dan kehangatan di dalamnya,” jelas Audy.

“Jadi Kau masih belum percaya dengan cintaku, Audy?” tanya Dave.

“Aku tidak bisa mencintaimu Dave, aku mohon jangan memaksaku lagi,” jawab Audy.

Dave kemudian duduk, menghadapkan tubuh polosnya pada Audy. Audy segera melilitkan selimut hingga ke dadanya. Membuat Dave tertawa dengan tingkah Audy tersebut. Ia mengulurkan kedua tangannya, menggenggam jari-jari lentik milik Audy.

“Tidak apa-apa Kau tidak perlu mencintaiku, aku hanya akan memberikanmu apapun yang Kau mau. Selama Kau setia di sisiku, just it,” rayu Dave.

“Kalau begitu izinkan aku pulang untuk bertemu dengan putriku,” pinta Audy.

“Jika itu yang Kau inginkan, baiklah. Lusa aku akan mengantarkanmu ke San Fransisco,” ucap Dave.

“Tidak! Itu tidak perlu, aku tidak bisa menjelaskan apapun pada Jillian jika Kau ikut denganku,” bantah Audy.

Ia menarik tangannya, kemudian berbalik memunggungi Dave.

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun, aku yang akan bicara padanya, Sayang.” Dave memeluk Audy dari belakang, dengan kedua tangannya yang kekar dan keras.

Audy melepaskan tangan Dave dan turun dari ranjang, ia sudah tidak peduli lagi Dave melihat tubuhya yang polos tanpa sehelai kainpun.

“Aku mau mandi saja, berdebat denganmu hanya menguras emosiku,” ujar Audy.

“Itu lebih baik.” Jawab Dave, ia kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur saat Audy berada di kamar mandi.

‘Sekeras apapun aku membantahnya, ia hanya akan melakukan apapun yang ia inginkan. Sangat menyebalkan!’ batin Audy.

***

Bersambung