Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 2

No Progress

Matahari memberikan panas cahayanya pada sepasang anak manusia di bawah pohon. Dave yang merasakan sengatan itupun terbangun. Ia menatap Audy masih tertidur dalam pelukannya. Dave tidak ingat, bagaimana mereka bisa tidur dengan posisi berpelukan seperti yang ia lihat pagi ini. Tapi itu membuatnya hangat, dan cukup bahagia.

“Apa Kau ingin tidur terus di sini?” sergah Dave membangunkan Audy. Tanpa sadar Audy tidur bersandar di dada Dave semalaman. Pantas saja ia dapat tidur dengan pulas, walaupun kelaparan.

Audy kaget sekaligus malu, mendapati dirinya dalam tubuh Dave. Wajahnya memerah, ia segera berdiri sebelum Dave kembali memarahinya.

Mereka berjalan pelan-pelan, mengendap-endap mengawasi sekitarnya. Dave terlalu takut karena ia membawa seorang wanita bersamanya. Akan berbeda jika ia hanya sendiri saja. Karena terus berjalan tanpa arah, mereka berhasil keluar dari hutan. Sekarang mereka berada di sisi jalan besar. Banyak kendaraan yang melewati mereka.

Dave mengeluarkan ponselnya, begitu juga Audy. Mereka mencoba menghubungi siapa saja untuk menjemput mereka. Namun, ponsel mereka tidak cukup energi untuk menghubungi siapapun di kontak mereka. Keduanya hanya bisa melamun di tepi jalan.

Dave mencoba melambai-lambaikan tangan pada mobil-mobil yang melewatinya agar memberikan mereka tumpangan, tapi usahanya sia-sia.

“Sialan! Apa mereka tidak tahu siapa aku,” caci Dave.

“Tentu saja tidak ada yang mengenalimu, Kau pikir Kau setampan pemilik Kingston International Resort?” ejek Audy.

“Tentu saja,” balas Dave.

“Tidak dengan penampilanmu yang seperti pengamen ini, Dave,” jelas Audy.

Audy berinisiatif membantu. “Sudah, Kau mundurlah ke belakang! Biar aku yang mencobanya,” ucap Audy dengan gayanya yang mantap.

Audy melambai-lambaikan tangan pada mobil besar berwarna merah. Benar saja, mobil itu berhenti seketika, seorang pria paruh baya yang menyetir bersama istrinya membuka kaca jendela mobil.

“Hai, Nak apa yang Kau lakukan di sini?” tanya pria paruh baya.

“Hallo, Tuan, Nyonya, aku dan suamiku butuh tumpangan. Mobil kami mogok di dalam hutan sana,” pinta Audy sambil menunjuk pada Dave yang berdiri beberapa langkah di belakang Audy. Audy melihat keraguan pada dua pasang mata itu, segera ia meyakinkan kembali.

“Suamiku terkena asma, dia harus aku rawat di hotel kami, Tuan,”

“Baiklah, Nak. Mari kami antarkan kalian,” jawab pria itu.

Audy menoleh ke belakang dan tersenyum pada Dave. Ia melambaikan tangannya pada Dave tanda bahwa ia sudah mendapatkan tumpangan. Dave dengan wajah yang datar mendekati Audy, segera masuk dalam mobil.

“Usapkanlah ini pada dada suamimu, agar nafasnya menjadi ringan. Aku jadi ingat pada saudaraku,” kata wanita paruh baya yang duduk di samping suaminya.

Ia memberikan Audy sebuah vicks bulat kecil berwarna biru.

Audy menerimanya. “Terima kasih, Nyonya,” ucap Audy.

Dave melotot pada Audy, sepertinya ia tidak setuju dengan rencana Audy berbohong pada kedua orang tersebut. Audy menaikkan bahunya, mengatakan secara tersirat bahwa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mereka.

Dalam perjalanan itu, Dave dan Audy di sugukan beberapa lagu. Salah satunya adalah lagu yang berjudul Shape of You by Ed Sheeran. Kedua pasangan paruh baya itupun memutar-mutar kepala, menggoyangkan tubuh dan tangannya, menikmati alunan musik tape mobilnya.

Spontan Audy pun ikut melakukan hal yang sama. Ekspresi kedua pasangan di depannya saat ini, membuat Audy bersemangat dan melupakan rasa laparnya.

“What the hell! Kau mencari mobil yang salah!” Dave meraih tangan Audy dengan kasar, menyuruhnya untuk diam saja.

Dave sangat risih dengan lirik lagu yang didengarkannya. Apalagi tepat dibagian ini, Oh I oh I oh I oh I I’m in love with your body dan itu diulang-ulang.

“Kau mau selamanya berada di jalanan?” Audy melotot,

“Belajarlah menerima aturan di luar rumahmu!”

Dave terdiam, perkataan Audy baru saja menggeser sedikit sifat arogan di hati Dave.

“Maaf, Sayang. Apa kami membuat suamimu tidak nyaman?” tanya wanita di yang duduk di samping pengemudi.

“Ah, tidak Nyonya. Dia baik-baik saja. Iya kan, Sayang?” Audy kembali berakting meyakinkan pasangan tersebut. Tapi pandangan matanya sangat berbeda pada Dave.

“Cuihh!” ucap Dave pelan, memaki perbuatan Audy padanya.

Karena kejadian itu, pasangan paruh baya itu kemudian mengganti lagu mereka menjadi lagu romantis berjudul Imagination oleh Shawn Mendes. Sekali lagi pasangan itu berhasil membuat Dave benar-benar sesak nafas. Pria tua tersebut menggenggam tangan istrinya, kemudian membawa tangan yang mulai keriput itu tepat pada bibirnya.

“Oh so sweet couple,” ucap Audy dengan mata berbinar-binar.

‘Tuhan berikan aku nyawa lebih panjang lagi, please…’ batin Dave.

Akhirnya mereka tiba di Kingston International Resort.

“Jadi kalian sedang berbulan madu di sini? Pasangan yang luar biasa, semoga Kalian cepat mendapatkan junior, Nak,” ucap wanita tersebut pada Dave.

Mereka turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada pasangan usia senja itu. Audy menoleh ke arah Dave.

“Aku permisi dulu,”

Dave yang sudah muak dari tadi, hanya berdehem menjawab Audy, dengan wajahnya yang kembali datar tanpa ekspresi. Gerard yang menyaksikan sepasang manusia itu, langsung berlari-lari kecil mendekati Dave.

“Kau sudah kembali? Ponselmu sulit dihubungi,” tanya Gerard.

Gerard terlihat lebam dimana-mana, pelipisnya ditempeli perban luka.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Dave,

“Bagaimana dengan Jim dan Daniel?”

“Kami baik-baik saja, walaupun meninggalkan beberapa tanda seperti ini. Clara?” tanya Gerard.

“Dia sudah kembali ke kamarnya,” jawab Dave.

“Syukurlah,” ucap Gerard.

“Kau sudah atasi semuanya?” tanya Dave.

Mereka mengobrol sambil berjalan menuju salah satu kamar pribadi Dave yang berada di samping kantornya.

“Ya, tentu saja. Mereka sudah membuntuti kita sejak keluar dari hotel,” jelas Gerard.

“Aku akan membalasnya!” janji Dave.

“Jangan mengotori tanganmu, biar aku dan lainnya yang akan mengurusnya,” tawar Gerard. Dave hanya memasang wajah menahan amarah.

Di kamar Audy, Jacob tak henti-hentinya mengatakan.

“Thank you, God,” ucapnya.

“Jacob, apa Kau sudah mendapatkan informasi tentang pria itu?” tanya Audy.

“Ya, Nyonya. Dave pernah terakhir terlihat bersama seorang wanita sekitar tujuh tahun lalu. Sejak wanita itu meninggal, Dave tidak pernah lagi terlihat bersama wanita lain,” jelas Jacob.

“Menarik, cari tahu siapa wanita itu dan sebab ia meninggal!” perintah Audy.

“Sudah, Nyonya. Tapi hampir semua orang mencoba menutupinya,” jawab Jacob.

Itu semakin membuat Audy penasaran.

‘Apa sebenarnya yang terjadi?’ batin Audy bertanya.

Tok … Tok … Tok …

Pintu kamar Audy diketuk. Audy menyuruh Jacob bersembunyi. Ia kemudian membuka pintu kamarnya. Di situ berdiri Gerard dan Daniel.

“Clara, bagaimana keadaanmu?” tanya Daniel.

“Aku baik-baik saja, bagaimana dengan Kalian?” tanya Audy.

“Kami baik, Clara. Syukurlah, silahkan lanjutkan istirahatmu,” ucap Daniel.

“Jika Kau tidak lelah, Kami mengundangmu untuk jamuan peresmian cabang hotel baru di Ballroom hotel ini, pukul tujuh malam,” undang Gerard, sambil menyerahkan kartu undangan VIP pada Audy.

“Terima kasih, aku akan datang,” jawab Audy,

“oh ya bagaimana kalian tahu ini kamarku?”

“Aku mengikutimu tadi,” jawab Daniel.

“Baiklah, sampai ketemu nanti malam,” ucap Audy.

Jacob mendengarkan semua percakapan itu.

“Seperti biasanya ok!” perintah Audy.

Jacob mengerti, ia keluar dari kamar Audy dengan was-was. Dan Audy segera membersihkan diri kemudian tidur sebentar.

***

Pukul lima sore, Audy segera bersiap-siap. Ia mengeluarkan gaun andalannya, lengkap dengan sepatu dan sedikit aksesoris. Tidak lupa ia menghubungi Jacob agar mempersiapkan semua yang diperlukan dalam pekerjaanya nanti malam.

Di tempat lain, Daniel, Jim dan Gerard merencanakan sesuatu untuk menjebak Dave, agar Dave tidur bersama Audy. Mereka bertekad, malam ini harus berhasil tidak peduli seperti apa respon Dave nantinya, jika mereka ketahuan merencanakan ini.

Jacob sudah pergi lebih dulu menuju ballroom, ia harus mendapatkan undangan untuk bisa masuk dengan cara mencurinya dari salah satu tamu undangan. Audy tiba jam tujuh lebih lima belas menit.

Ia mengenakan gaun berwarna ungu, stiletto hitam berhiaskan batu permata ungu berkilau, dan sebuah clutch hitam ditangannya. Ia membiarkan rambut panjang coklatnya tergerai, membuat penampilan Audy terlihat sangat sexy.

“Hai, Clara. Kau cantik sekali,” goda Jim.

Jim bertugas menyambut kedatangan kolega, teman dan partner bisnis Kingston International Resort. Serta menjadi pemimpin keamanan dalam cara tersebut.

“Hai, Jim.” Sapa Audy.

“Mari aku antar Kau Clara,” ajak Jim.

Jim yang sudah berpenampilan layaknya petugas keamanan dengan alat kecil HT (Handie Talkie) di telinganya, membuatnya kelihatan sangat keren.

Audy mendapatkan tempat duduk di depan sebelah kanan. Ia duduk di antara meja bundar berukuran cukup besar, dengan delapan tempat duduk. Di situ sudah ada Nyonya Megan Lowri Howard yang merupakan ibu Dave dan beberapa tamu VIP lainnya.

Audy menyalami setiap tamu, tanpa ia tahu itu adalah klien yang mengirimkan e-mail padanya. Begitupun sebaliknya, Nyonya Megan Lowri Howard tidak tahu, jika itu adalah agen yang ia sewa mahal untuk mengetahui psikologi putranya.

Acara itu dimulai dengan sambutan pewaris sekaligus pemilik Kingston International Resort yaitu Dave Grant Sherman. Ia mengatakan bahwa, perusahaanya melebarkan sayap dengan membuka cabang hotel baru, yang berada di San Fransisco.

Setelah seremonial itu selesai, beberapa tamu masih tetap tinggal untuk mengikuti celebration party. Khususnya tamu-tamu yang berusia masih sangat muda.

Dave tidak menyukai hal seperti ini, hanya ketiga temannya membutuhkan sedikit hiburan. Apalagi setelah peristiwa kemarin.

“Dave, bergabunglah bersama kami,” ajak Gerard.

Dia sedang duduk di meja bundar bersama yang lain, termasuk Audy di antaranya. Jacob masih berada di dalam ruangan itu memperhatikan Audy dari kejauhan.

Jim mengajak mereka, untuk memainkan sebuah permainan. Peraturannya adalah siapa yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan padanya, maka orang itu harus meneguk segelas anggur merah yang sudah disediakan.

Tentu saja Dave dan Audy tidak tahu bahwa permainan ini sudah diatur sedemikian rupa, mereka tidak mungkin mencurigai ketiga temannya.

Jim mendapat giliran memutarkan botol pertama. Botol itu mengarah pada Dave.

Jim kemudian memberikan pertanyaan. “Siapa nama guru pelajaran sastra dan sejarah saat kita di sekolah dulu?” tanya Jim.

Mereka berempat berada di sekolah yang sama mulai Junior High School, hanya Daniel yang berada satu tingkat di bawah mereka. Walaupun Daniel adalah junior, tapi ia selalu bersama dengan ketiga seniornya. Karena itu mereka paling tahu bahwa Dave, tidak pernah mau mengikuti kelas sastra dan sejarah.

Disaat jadwal pelajaran itu, ia selalu pergi ke lapangan basket untuk bermain. Sekolahpun tidak berani menegurnya, karena yayasan sekolah itu adalah milik kakeknya.

“Kalian curang, tentu saja aku tidak tahu,” jawab Dave.

“Kalau begitu minumlah.” Jim tertawa, ia berdiri kemudian menuangkan botol anggur yang ada di samping Dave.

Giliran Dave memutar botol. Ia juga memberikan pertanyaan yang sulit pada temannya hingga mereka juga meneguk minuman di botol anggur milik mereka, yang isinya adalah sirup menyerupai anggur. Tibalah giliran Audy yang akan diberikan pertanyaan oleh Daniel.

“Apa Kau menyukai Dave?” tanya Daniel pada Audy.

Audy maupun Dave yang sudah setengah mabuk kaget mendengar pertanyaan nakal itu. Mereka saling melirik beberapa saat.

Wajah Audy menjadi merah, Dave diam-diam melihatnya.

“Ya, tentu saja. Aku menyukai kalian semua,” jawab Audy cerdas.

Tapi ia tetap dipaksa minum oleh Daniel dan akhirnya Audy mulai mabuk. Gerard memberikan kode pada kedua temannya, agar melanjutkan rencana mereka. Jim naik ke atas panggung, bersorak-sorak untuk menstimulan tiap orang yang ada di sana menari dengan semangat. Sementara Gerard dan Daniel mengantarkan Dave dan Audy ke kamar Dave.

Dengan kondisi yang hiruk pikuk tersebut, Jacob jadi tidak bisa melihat Audy, dan akhirnya ia kehilangan sosok Audy. Kemudian Jacob keluar dari ruangan mencoba mencari Audy.

‘Sebenarnya aku tidak tega membiarkan Clara menjadi umpan untuk pria seperti Dave, Clara terlalu cantik dan sexy,’ batin Daniel.

“Dave, tolong jaga Clara malam ini,” ucap Gerard.

“Baiklah,” jawab Dave pasrah.

Ia sudah setengah mabuk melihat Audy bersandar di tempat tidurnya.

“Dave, kemarilah. Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Audy cegukan disela-sela omongannya, karena ia terlalu banyak minum anggur.

Dave mendatangi Audy, ia membuka sepatu, jas, kemeja dan celana panjangnya. Seolah-olah ia sudah siap untuk tidur dengan celana dalam yang masih menempel di tubuhnya.

“Tanyakan saja, Clara.” Dave duduk bersandar di samping Audy, ia melihat Audy masih mengenakan sepatu.

Kemudian Dave bergerak maju, meraih kaki jenjang Audy, melepaskan satu per satu sepatu Audy.

“Terima kasih, Tuan Dave,” ucap Audy.

“Kau sangat cantik malam ini,” goda Dave.

Sepertinya pengaruh alkohol itu mulai bekerja pada tubuh dan pikiran Dave. Audy mengabaikan godaan itu, ia hanya memikirkan Dave adalah seorang gay.

“Dave, mengapa Kau tidak menyukai wanita? Apa Kau benar-benar gay?” tanya Audy tanpa memikirkan apapun respon Dave, yang ia butuhkan hanyalah jawaban iya atau tidak. Ditambah lagi ia sudah mabuk saat ini.

Walaupun Dave setengah mabuk, ia masih cukup normal untuk bisa mendengar pertanyaan Audy yang aneh menurutnya.

“Apa aku terlihat seperti itu Clara?” tanya Dave tanpa menjawab pertanyaan Audy.

“Seseorang memberi tahuku, bahwa Kau tidak menyukai wanita, itulah kenapa Kau masih belum menikah hingga sekarang,” jelas Audy.

“Kalau begitu aku akan buktikan padamu.” Dave menaruh jarinya di wajah Audy kemudian ia mencium bibir Audy, semakin dalam.

Memaksa Audy untuk membalas ciumannya.

Audy yang mulai diserang panas, di sekujur tubuhnya akibat alkohol itu. Kemudian menyerang Dave dengan tangannya, ia meraih rambut Dave dan meremas–remasnya. Dave membuka gaun Audy dengan cepat. Kemudian ia menarik tubuh sexy di depannya sehingga berbaring di bawahnya. Perlahan ia melepaskan bra dan g-string yang masih menempel di tubuh Audy.

Ciuman panas yang diciptakan oleh Dave perlahan turun ke bawah, ia menghisap niple payudara Audy, membuat Audy merasakan tubuhnya melayang, meliuk–liuk tak beraturan. Dave yang sudah sangat bergairah, segera membuka kedua kaki Audy dengan lututnya, sebuah benda keras miliknya sudah siap untuk di tancapkan.

Audy mengerang rasa sakit dan juga nikmat bersamaan, saat Dave memasuki dirinya. Audy kembali bergoyang–goyang mengikuti ritme, untuk menyeimbangi serangan benda milik Dave. Ia mendesah kenikmatan, begitu juga dengan Dave.

Mereka secara bersama-sama berteriak, menyelesaikan permainan cinta itu hingga keduanya tertidur. Dalam alam bawah sadarnya, Audy akhirnya mendapatkan jawaban bahwa Dave bukanlah gay.

‘Maafkan aku, Clara. Pertahanan tubuh dan pikiranku kini runtuh. Aku tidak bisa lagi menahan semua hasratku padamu. Namun, aku pasti akan bertanggung jawab padamu,’ batin Dave.

‘Sial! Aku tidak mampu menahan tubuhku dimanjakan olehnya. Satu yang aku dapatkan saat ini adalah, Dave bukan gay,’ batin Audy.

***

Sejak semalaman Jacob berputar-putar di hotel itu mencari bosnya. Hingga pagi ini, ia tanpa sengaja melewati sebuah pintu, yang sedang dalam penjagaan dua orang bodyguard bertubuh kekar. Jacob berpikir Audy berada di dalam ruang itu, ia mencoba mendekati penjaga pintu menanyakan.

“Apa ada seorang wanita di dalam sana?”

“Kau siapa?” tanya salah satu pria yang berdiri di sebelah kanan pintu.

“Aku Jacob, aku sedang mencari majikanku Nyonya Clara,” jelasnya.

“Tidak ada!” pria yang satunya menjawab dengan cepat.

Jacob frustasi, ia tidak bisa melakukan apa-apa jika seperti ini. Sementara di lobi hotel tiga orang pria sedang tersenyum bahagia.

“Aku sudah tidak sabar melihat ekspresi Dave,” ucap Gerard.

Ketika tiga orang pria itu mulai berjalan menuju kamar Dave, dan kebetulan melihat Nyonya Megan Lowri Howard juga berjalan menuju kamar Dave. Mereka bertiga kaget seperti sedang melihat hantu. Bahkan ini lebih menakutkan dari sekedar melihat hantu.

“Nyonya, selamat pagi,” sapa Gerard dengan cepat.

“Selamat pagi, Gerard,” sapa ibu Dave.

“Anda membutuhkan sesuatu Nyonya?” tanya Gerard dengan sopan.

“Tidak, aku hanya ingin melihat putraku,” jawab ibu Dave.

Ketiga pria itu menelan salivanya serentak. Jim menggenggam tangan Daniel dengan kencang, seperti butuh bantuan udara untuknya bernafas panjang.

“Dave sepertinya baru saja keluar, Nyonya,” bohong Daniel.

“Oh, tidak apa-apa. Aku akan menunggu di kamarnya,” balas ibu Dave.

Nyonya Megan Lowri Howard juga memiliki kartu untuk membuka kamar Dave, karena ia juga masih pemilik gedung itu.

“Matilah kita,” ucap Jim ketakutan.

Nyonya Megan Lowri Howard tiba di depan pintu, diikuti tiga sahabat Dave di belakangnya. Kedua penjaga itu mempersilahkan ibu Dave untuk masuk. Knop pintu ditekan ke bawah, mereka berempat masuk dan sama-sama menyaksikan pemandangan yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat.

Dave masih tidur dengan posisi memeluk Audy dari belakang. Wajah Audy menghadap pada pintu kamar, sehingga semua bisa melihat bagaimana mereka tidur pulas, dalam satu selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka.

Daniel histeris kemudian berteriak mengagetkan seisi ruang kamar. “Dave!”

Tentu saja teriakan Daniel membuat pasangan yang tengah tidur itu terkejut, mereka langsung duduk dan melihat sudah banyak orang ada di sana. Audy spontan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sementara Dave turun memungut celana panjang dan memakainya tanpa memakai celana dalam.

“Mom, aku bisa jelaskan ini di kamarmu. Ayo, Mom,” ajak Dave.

Ia tidak mau jika ibunya melihat Audy dengan seksama, pasti akan membuatnya sulit menghindar.

“Tidak, aku senang sekali Dave. Akhirnya aku bisa menikahkanmu dengan seorang wanita pilihanmu,” jawab Nyonya Megan Lowri Howard sambil tertawa.

“Mom, come on. Jangan mulai lagi,” bantah Dave.

“Jangan takut Sayang, Kau akan segera menjadi menantuku,” ujar ibu Dave.

Ia mendekati Audy, duduk di pinggir ranjang. Tangannya menyentuh tangan Audy yang masih ia tempelkan pada wajahnya.

Audy perlahan menurunkan kedua tangannya, menoleh pada wajah Nyonya Megan Lowri Howard.

“Tidak, Nyonya. Anda hanya salah paham. Aku dan Dave tidak memiliki hubungan khusus seperti yang Anda kira,” jelas Audy sopan.

“Mom, mereka harus bertanggung jawab untuk kekacauan ini.” Dave menunjuk tiga orang temannya dengan wajah merah, antara menahan marah dan juga malu.

Ketiga pria itu tidak berani menjawab, mereka hanya saling tunjuk menyalahkan satu sama lain.

“Aku harus berterimakasih pada mereka, Kalian mencarikan ku menantu yang cantik dan kelihatannya baik,” ucap Nyonya Megan Lowri Howard.

“Tentu saja,” jawab Daniel dengan bangganya, ia membusungkan dadanya.

“Sialan! Tunggu kalian!” ancam Dave.

“Baiklah Dave, aku harus pergi untuk mempersiapkan acara pernikahannmu. Bersikaplah seperti lelaki yang bertanggung jawab!” perintah Nyonya Megan Lowri Howard.

“Oh, Mom … please,” rengek Dave pada ibunya.

“Kau tidak bisa lagi menghindarinya Dave, sudah banyak saksi di sini. Jangan mempermalukanku,” bentak Nyonya Megan Lowri Howard. Ia kemudian pergi meninggalkan kamar Dave.

Dave bisa apa, jika ibunya sudah mendapatkan bukti seperti ini. Ia hanya memandang wajah Audy dengan sedikit rasa bersalah.

Audy ketakutan, wajahnya linglung. Ia tidak mampu membela dirinya kali ini, seseorang mengambil keputusan atas hidupnya. Saat ini ia hanya pasrah dalam balutan selimut berwarna putih hingga semua orang keluar dari ruangan itu, agar ia bisa segera bernafas.

Namun, tidak lama kemudian, seorang wanita berpakaian sangat minim. Bisa dikatakan hampir telanjang, karena separuh tubuhnya hampir kelihatan, masuk ke dalam kamar mencari seseorang.

“Aku diberi tahu, bahwa Tuan Daniel ada di sini, yang manakah satu di antara kalian?” tanya wanita itu.

“Aku?” kata Daniel, ia melongo bingung menatap ke wajah Gerard dan Jim, “Siapa Kau?”

Gerard dan Jim menduga itu adalah kekasih barunya. Tapi ternyata mereka salah.

“Aku Sarah, aku yang ditugaskan oleh teman wanitamu bernama Cindy untuk suatu pekerjaan di sini,” terang wanita itu.

Daniel kembali histeris dan berteriak, sudah menjadi hobi pria yang satu ini selalu tidak bisa menahan rasa kagetnya.

“What?!”

Wanita itu mengangguk, semua orang termasuk Audy bingung melihat perdebatan Daniel dan Sarah.

‘Apa lagi ini Tuhan?’ batin Audy.

“Kenapa Kau baru datang sekarang? Lalu ….” Daniel menatap Audy tajam.

Audy menjadi takut, Daniel mendekatinya pelan-pelan.

“Hei, apa masalahmu kawan?” Dave menghalangi Daniel mendekati Audy.

“Siapa Kau?” tanya Daniel pada Audy.

“Aku? Aku Clara” jawab Audy sedikit gugup, bibirnya bergetar mengucapkan nama Clara.

“Jika Kau bukan wanita yang aku sewa, siapa Kau sebenarnya?” Daniel serius menatap wajah Audy.

“Oh jadi Kau yang merencanakan ini semua, bangsat!” ucap Dave.

“Dengar Dave, kami yang melakukan ini bersama. Agar Kau bisa membuka kembali hatimu pada wanita. Tapi sepertinya ada kesalah pahaman di sini,” jelas Gerard.

“Kau jelaskan saja Daniel,” ucap Jim.

“Begini, aku meminta bantuan teman wanitaku, untuk mencarikan seorang wanita yang cocok untuk Kau jadikan kekasih atau mungkin jadi istri. Saat kita bermain golf waktu itu, aku mengira Clara adalah wanita yang di utus untuk melakukan pekerjaan itu,” jelas Daniel.

Semua terdiam, yang menjadi korban saat ini bukan hanya Dave, tapi juga Audy. Karena jebakan yang dibuat oleh ketiga teman Dave, sekarang Audy ditempatkan pada posisi yang rumit dan cukup sulit.

Audy berdiri turun dari ranjang, dengan tetap mengalungkan selimut tebal itu di tubuhnya.

“Baiklah, selesaikan saja urusan Kalian. Aku tidak ingin terlibat apapun, permisi.” Audy berusaha keluar dari kamar, tapi Dave mencegahnya.

“Sebentar Clara, aku belum selesai. Aku juga harus bicara padamu!” teriak Dave.

Keadaan semakin rumit di ruangan itu, Dave bingung harus berbicara dengan siapa terlebih dulu.

“Kalian keluarlah dulu, aku akan bicara dengan Clara!” perintah Dave.

Daniel seperti enggan meninggalkan ruangan, ia masih penasaran dengan Audy. Jim segera merangkulnya, mengajaknya keluar. Begitu juga dengan Gerard dan Sarah, wanita itu hanya bengong mengikuti apa yang dikatakan Dave.

“Kalian masih berhutang penjelasan padaku, jangan coba-coba kabur!” tegas Dave.

Audy ketakutan, kali ini ia akan menjelaskan apa pada Dave. Dave mendekati Audy yang masih berdiri dengan selimut di tubuhnya. Ia berharap dapat menggunakan sihir untuk menghilang dari kamar itu segera.

“Pakailah dulu pakaianmu,” ucap Dave.

Ia tahu kalau Audy tengah ketakutan, terlihat dari sorot matanya.

“Kau, berbaliklah dulu,” ucap Audy dengan gugup.

“Buat apa, bukankah tadi malam aku sudah melihat semuanya?” Dave merasa geli dengan permintaan Audy, ia seperti bukan wanita dewasa. Ditambah pipinya yang merona merah.

“Kau! Aku tidak pernah menginginkan peristiwa tadi malam!” Audy marah dan membentak Dave.

“Kau pikir aku menginginkannya?” balas Dave,

“Walaupun sebenarnya ya,” godanya sambil tertawa.

“Aku akan memakai pakaianku jika Kau berbalik, cepatlah!” Audy memaksa.

Dave terkekeh mengikuti apa yang diminta Audy. Audy segera memungut g-string dan branya, ia memakainya dengan cepat. Dilanjutkan dengan memakai gaunnya. Tanpa Audy sadari Dave berada di belakang punggungnya, membantu Audy menaikkan tali gaun berwarna ungu itu ke pundaknya.

Audy berbalik, menatap sinis mata Dave.

“Jangan menyentuhku!”

“Kau ini kenapa Clara? Kau sudah dengar bukan kalau kita akan segera menikah!” tegas Dave.

“Tidak! Aku tidak mau!” jawab Audy,

“Aku hanya korban dari perbuatan teman-temanmu, kenapa aku ikut bertanggung jawab?”

“Bukan hanya Kau saja korban di sini, aku juga. Kau tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan rasa malu itu padaku!” balas Dave.

“Itu urusanmu, bukan aku,” kata Audy.

“Sebentar, seingatku tadi malam, Kau mengatakan aku gay bukan?” tanya Dave.

Audy berpura-pura kalau kepalanya tiba-tiba sakit, ia tidak mau identitasnya terbongkar.

“Duh, kepalaku sakit. Aku tidak mengingat apapun yang aku katakan tadi malam,”

“Kemarilah, Kau minum terlalu banyak.”

Dave merangkul Audy, mengajaknya duduk di atas ranjang sambil mengelus-elus rambut Audy yang tergerai.

‘Aku harus berpura-pura tidak mengingat apapun, agar Dave tidak meminta penjelasan apapun saat ini, dan aku bisa keluar dengan cepat,’ batin Audy.

Dave mengambilkan segelas air putih dingin untuk Audy. “Minumlah, aku akan mandi dan menemui tiga orang sialan itu!”

“Aku kembali ke kamarku saja Dave, lebih tenang jika aku tidur di kamarku,” kilah Audy.

“Ini juga akan jadi kamarmu, Kau harus membiasakan dirimu mulai sekarang,” jawab Dave. Ia menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.

“Tidak!” Audy kembali berteriak, ia tidak suka dipaksa menjadi wanita yang terikat oleh pria.

Karena sudah belasan tahun Audy hidup bebas, melakukan apapun yang ia suka.

“Kau tidak perlu berteriak pada calon suamimu, seperti itu Clara. Telingaku bisa terserang penyakit jika Kau terus melakukan itu.” Dave menutup kedua kupingnya dengan tangan, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

‘Sialan!’ umpat Audy dalam hati.

Audy berdiri setelah Dave tidak terlihat. Ia mengetuk pintu kamar Dave, dua penjaga yang berada di luar kemudian menjawab. “Ada apa Bos?”

Tapi mereka tidak mendapatkan jawaban. Sekali lagi terdengar suara pintu yang di ketuk-ketuk. Dua orang penjaga saling pandang, salah satu dari mereka membuka pintu kamar itu dan masuk.

Bukk … kepala pria besar itu di pukul Audy dari belakang menggunakan vas bunga, tubuh pria itu langsung terjatuh. Audy keluar dan menendang tepat di bagian tengah tubuh pria yang satunya, hingga wajahnya memerah menahan rasa yang teramat sakit.

Audy berhasil lolos, ia berlari meninggalkan kamar Dave tanpa sepatunya. Beruntung ia masih sempat membawa clutch yang berisi ponsel. Dalam lift, Audy segera menghubungi Jacob yang sekarang masih berada di kamarnya.

“Jacob, ambil semua barang-barang dan keluar dari hotel ini sekarang juga. Aku tunggu Kau di bandara, cepat!” perintah Audy.

Jacob dengan sigap segera berlari menuju dua kamar yang mereka booking, memasukkan semua barang-barang tanpa tatanan yang baik. Ia berpikir harus segera meninggalkan tempat itu.

Saat Audy keluar dari lift, ia tidak sengaja berpas-pasan dengan Gerard yang ingin masuk lift.

“Hei, Clara. Kau mau kemana?” Gerard melihat Audy tergesa-gesa, ia memperhatikan hingga ke bawah, melihat Audy tidak mengenakan sepatunya.

“Aku buru-buru Gerard, sampai ketemu.” Audy berjalan dengan cepat, melambaikan tangannya tanpa melihat Gerard.

***

Bersambung