Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 1

Time to Action

“Jangan khawatir Clara, kami adalah pria yang baik,” jelas Gerard.

Ini adalah hari ketiga Audy berada di Florida, ia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk segera kembali ke San Fransisco. Karena ia mulai memikirkan Jillian, putrinya.

Mereka berlima masuk ke dalam mobil mewah milik Daniel, Jeep Grand Cherokee Overland berwarna putih dengan lima kursi penumpang. Gerard mengambil alih kemudi, Dave duduk di samping Gerard dan tentu saja Daniel tidak akan melewatkan kesempatan untuk berdekatan dengan Clara alias Audy. Audy duduk diantara Daniel dan Jim.

Gerard memasang sabuk pengaman dan kaca mata hitam, membuat penampilannya semakin macho. Begitu juga dengan Dave, dengan pakaian kasualnya, celana Jeans gelap dan kemeja pendek berwarna putih. Ia juga mengenakan mirror sun glassesnya, semakin menambah ketampanan pria yang terkenal dingin pada wanita ini.

Tujuan pertama mereka adalah, bermain ke taman hiburan Seaworld Orlando berjarak satu jam dari hotel. Audy merasa sangat bersyukur bertemu dengan teman-teman Dave, ia bisa merasakan sedikit kebahagiaan yang telah lama ia tinggalkan.

Dalam perjalanan itu, Audy sempat menerka-nerka siapa di antara tiga pria ini yang merupakan pasangan sejenis Dave. Audy kemudian berpikir, Gerard lah yang menjadi pasangan sejenis Dave, karena Gerard yang terlihat sangat protektif dan dekat dengan Dave dibanding Jim dan Daniel.

“Apa mungkin mereka berempat adalah gay? Dengan pasangannya masing-masing, Dave dengan Gerard dan Jim dengan Daniel?” pertanyaan itu berputar-putar di dalam otak Audy sekarang.

“Ayo, Clara. Kita sudah sampai,” ajak Daniel, membuyarkan lamunan Audy.

Seperti taman hiburan pada umumnya, tempat ini sangat ramai dengan pengunjung berbagai usia. Ditambah lagi hari ini adalah hari minggu.

“Ayolah Dave, lupakan usiamu. Kau masih kelihatan tampan seperti remaja belasan tahun,” goda Gerard.

Tiba-tiba Daniel berbisik di telinga Audy mengatakan.

“Lakukan aksimu pada Dave, buat ia tertarik padamu. Kami akan membantumu.” Daniel berlalu meninggalkan Audy yang terdiam.

Sontak perkataan itu membuat Audy terkejut, ia membuka mulutnya kemudian menutupnya dengan tangannya cepat.

“Apa maksudnya? Apa mereka tahu siapa aku?” tanya Audy dalam hati.

Ia berencana untuk cepat menyelesaikan misinya. Karena berbahaya untuk Audy, jika ketahuan identitas sebenarnya.

Mereka melihat pertunjukkan lumba-lumba, kemudian berpindah ke aquarium raksasa yang menyajikan pemandangan dunia laut dalam. Audy berjalan bersama Gerard di belakang Jim dan Daniel, sementara Dave berjalan sendiri sambil bermain tablet yang ia bawa.

“Apa kau memiliki kekasih?” tanya Audy pada Gerard.

“Ya, tidak lama lagi kami akan bertunangan setelah ia kembali dari Jerman,” jawab Gerard.

“Bagaimana dengan Dave? Apa dia sudah memiliki kekasih?” tanya Audy. Ia benar-benar tidak bisa menunggu untuk mengetahui tentang Dave.

“Belum,” jawab Gerard singkat. Membuat Audy penasaran.

“Mengapa belum? Ia tidak memiliki kekurangan,” cecar Audy.

“Kau yang akan mencari tahunya bukan?” tegas Gerard sambil tersenyum.

Audy bertambah bingung, mengejar Gerard yang mempercepat jalannya.

“Kenapa aku?” tanya Audy dalam hati.

Jim dan Daniel sudah berdiri mengantri, di wahana permainan Manta Roller Coaster. Wahana terbaik di taman bermain itu. Dave tidak mau ikut menaikinya, ia hanya berdiri jauh dari ke empat orang tersebut dan sesekali melihat dari jauh.

Dalam antrian yang ramai itu, Dave melihat seorang pria muda berdiri disamping Audy mencoba mengambil sesuatu dari sling bag ungu yang dikenakan Audy. Audy tidak menyadarinya karena ia mengobrol dengan Gerard di samping kanannya, sementara Jim dan Daniel berdiri di antrian depan.

Saat antrian itu berjalan, Dave berlari mendekat kesamping Audy kemudian melingkarkan tangannya dengan cepat ke pinggang Audy. Sehingga Audy terdiam, tidak bisa berjalan mengikuti antrian tersebut. Gerard tidak menyadari hal itu, ia bersama dua temannya sekarang sudah berada dalam wahana permainan. Mereka berpikir Audy mungkin mendapatkan kursi dibelakang.

Audy menatap Dave, begitu juga dengan Dave.

“Aku hanya menyelamatkan tas kecilmu dari pencopet,” jelas Dave.

Ia kemudian melepaskan tangannya.

“Terima kasih,” balas Audy.

“Apa Kau sibuk?” tanya Audy.

“Hmm,” jawab Dave.

“Apa Kau membenci kehadiranku?” cecar Audy.

Dave tetap diam, ia terus berjalan menuju kursi tak jauh dari wahana itu. Audy mengikuti dengan cepat di belakangnya. Mereka duduk berdekatan di kursi itu.

“Jangan mengangguku!” ucap Dave.

“Maaf, aku tidak akan menganggumu Dave. Aku hanya ….” Audy bingung merangkai kata-kata yang tepat untuk menanyakan tujuan misinya.

“Hanya apa?” tanya Dave.

“Maaf Dave, apa aku membuat hubunganmu dan Gerard terganggu?” Audy dengan penuh keberanian, langsung menanyakan hal tersebut. Ia sudah tidak sabar menyelesaikan misinya.

Walaupun tadi Audy sempat mengobrol dengan Gerard mengenai kekasihnya yang di Jerman, Audy tidak mau percaya begitu saja. Bisa saja Gerard berbohong demi menutupi hubungannya dengan Dave.

“Hubungan? Aku dan Gerard? Maksudmu apa?” tanya Dave yang dibuat bingung oleh Audy.

“A … aku … mendengar gosip bahwa ….” Belum sempat Audy mengatakannya, tiga orang pria yang baru saja bermain, mendatangi mereka dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Kau tahu Dave? Daniel hampir saja mengompol karena ketakutan. Ha … ha ….” Jelas Jim pada Dave, ia bersemangat untuk mengejek temannya itu.

Daniel hanya mencibirkan bibirnya pada Jim, ia tidak punya alasan untuk membalasnya.

“Kau di sini bersama Dave?” tanya Gerard pada Clara.

Ketiga pria itu saling pandang. “Ehm … ada yang terlewatkan oleh kita sepertinya?” ucap Jim melirik Dave.

“Ayo kita pergi,” Ajak Dave, ia bosan berada empat jam di taman bermain tersebut. Ia seperti menjaga empat orang anak kecil, dan sebenarnya ia mulai perhatian pada Audy tanpa ia sadari.

“Sebentar!” teriak Audy,

“Aku ingin membeli souvenir di sana.” Audy menunjuk ke sebuah toko souvenir.

“Mari aku temani, Clara,” ajak Daniel.

Ketiga pria lainnya berjalan menuju mobil yang terparkir di luar taman bermain.

“Apa Kau sudah merayunya Clara?” tanya Daniel.

“Belum, aku belum sempat melakukan apapun,” jawab Audy.

Tanpa Audy sadari maksud dari perkataan Daniel. Ia memilih mengabaikan kecurigaannya demi bisa menyelesaikan misinya cepat.

“Ok, aku akan mengulur waktu lebih lama lagi, untuk bisa membuat Dave dekat denganmu,” ucap Daniel.

~XOXO~

Blue Spring State Park

“Aku akan tunjukkan pemandangan alam yang bagus, Clara,” jelas Daniel.

“Baiklah,” jawab Audy.

‘Tuhan berikan aku jalan keluar dengan cepat,’ ucap Audy dalam hati. Ia merasa kesulitan untuk mendapatkan jawabannya.

Daniel mengemudikan mobilnya, ke suatu tempat yang sudah ia rencanakan. Dave duduk di sampingnya, sementara Audy duduk di antara Jim dan Gerard di kursi belakang. Selang satu jam mereka tiba di bumi perkemahan Blue Spring State Park.

Audy terpanah dengan pemandangan di sekitar, begitu hijau, bersih dan udaranya sangar segar. Ia begitu excited hingga ia berlari-lari menuju sebuah jembatan kecil, di bawahnya mengalir air sungai yang sangat jernih. Hingga siapapun bisa melihat apa yang ada di dalam air itu.

“Tempat ini keren sekali!” teriak Audy.

“Clara, tunggu aku,” panggil Daniel. Tapi Audy tetap berlari meninggalkan keempat pria itu.

Jim, Gerard dan Dave berjalan dengan santai menikmati alam sekitar yang begitu tenang. Gerard memperhatikan ekspresi wajah Dave, yang tertarik dengan tempat itu.

“Kau menyukainya?” tanya Gerard pada Dave.

“Ya, ini sangat tenang,” jawab Dave.

“Bukan, maksudku Clara,” jelas Gerard.

“Tidak,” jawab Dave.

“Tidak usah terburu-buru Bos, nanti juga Kau akan menyukainya,” goda Gerard.

Mereka terhenti di sebuah danau, danau itu berisi air yang sangat bersih, bening dan berwarna hijau. Di dalamnya terdapat banyak anjing laut, yang sengaja dirawat oleh pihak Blue Spring State Park.

“Kau ingin mencobanya?” tanya Jim pada Audy yang sedang melihat kayak (sejenis perahu, berpenumpang satu orang) tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Pasti menyenangkan, ayo,” jawab Audy.

Semuanya antusias ingin mengendarai kayak tersebut, termasuk Dave. Ia menyukai permainan dengan sedikit olahraga.

“Bagaimana jika kita berpacu hingga tengah danau itu, kemudian berputar kembali kesini?” tanya Jim.

“Yes, Let’s go!” ucap Gerard.

Mereka masuk ke masing-masing kayak yang mereka pilih, karena kayak ini hanya bisa dikendarai oleh satu penumpang saja.

Semua bersiap, Audy berada di tengah empat pria yang sudah tidak sabar mendengar aba-aba permainan.

Jim di barisan paling ujung kiri, mulai menghitung. “Are you ready? One, two, three, go!” teriaknya.

Masing-masing mereka mengerahkan tenaga sekuat mungkin, untuk mendayung kayak tersebut. Ternyata Audy mampu mengalahkan Daniel, yang tertinggal di urutan paling belakang. Itu membuat Audy sangat bersemangat.

Jim berhasil meninggalkan keempat lawannya, sementara Dave di posisi kedua, Gerard ketiga, Audy keempat dan Daniel kelima.

“Yuhuuu, aku pemenangnya,” teriak Jim dari atas jembatan.

“Kau hanya beruntung,” ucap Dave, tengah mengikatkan kayaknya di tepi jembatan. Kemudian disusul oleh Gerard.

Saat Audy tiba di tepi jembatan, naas. Kayak yang ditumpanginya bertabrakan dengan anjing laut yang sangat besar, hingga kayak Audy terbalik. Hal itu membuat semua pria di sana terkejut.

Jim dan Gerard hanya berteriak memanggil nama Clara, tapi Dave langsung melompat mencari tubuh Audy di dalam danau

Tak lama kemudian, Dave muncul bersama Audy di dalam gendongannya. Audy terlihat lemas.

“Sudah Dave, turunkan saja aku,” minta Audy. Dave kemudian menurunkan Audy.

“Merepotkan saja!” keluh Dave.

Mendengar itu, Audy merasa kesal dan marah.

“Hey Tuan, aku tidak meminta bantuanmu. Aku bisa berenang ke atas sendiri, aku bukan wanita bodoh!” teriak Audy.

Dave juga membalasnya. “Dasar wanita tidak tau terima kasih,”

“Hei, sudah-sudah. Jangan bertengkar!” Gerard memisahkan kedua orang tersebut.

“Clara, kau tidak apa-apa?” tanya Daniel yang menyentuh tangan Audy. Karena mood Audy sedang buruk, ia tidak menjawab pertanyaan Daniel.

Langit di atas Blue Spring State Park mulai gelap, kilat menyambar dimana-mana. Mereka berjalan cepat menuju mobil yang parkir di luar taman, tapi ternyata hujan deras turun tanpa kompromi, hingga mereka berhenti di sebuah gazebo.

“Clara, bajumu basah. Kau pasti kedinginan. Bagaimana kita mampir di guest house itu sementara hingga hujan mereda?” usul Daniel.

Daniel menunjuk sebuah guest house putih, ia melihat Dave bertelanjang dada, dan Audy dengan pakaian yang basah membuatnya khawatir pada dua orang tersebut.

Audy mengangguk, ia tidak bisa berbuat apa-apa dalam keadaan seperti ini. Mereka berlari kencang menuju guest house. Beruntung masih tersisa satu kamar untuk mereka berteduh.

“Apa kau memiliki pakaian kering yang bisa aku pake?” tanya Audy pada pemilik guest house.

“Ya, Nyonya. Aku bisa meminjamkan milik istriku,” jawab pria itu.

Pria itu masuk ke sebuah ruangan yang terletak di belakang, tak lama ia kembali dengan dua buah pakaian.

“Ini, Nyonya,” kata pria itu sambil menyerahkan pakaian yang ia bawa.

Audy melihat ada dua pakaian, satu pakaian wanita dan satu pakaian pria. Audy menatap mata pria itu dan mengerti maksudnya. Namun Audy enggan memberikan pakaian itu pada Dave. Ia hanya melemparkan pakaian itu pada Dave.

Audy masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, pakaian dress panjang sekaki itu agak kebesaran di tubuhnya. Tapi Audy tidak peduli, ia kembali bergabung bersama pria-pria tadi. Ia melihat Dave sudah memakai baju kaos switer yang diberikan pria pemilik guest house.

‘Aku yakin, perlahan Dave akan menyukai Clara, Ia hanya butuh waktu intensif bersama Clara. Dan aku akan membantunya,’ batin Gerard.

***

OUT OF PLAN

Hujan masih saja deras, mereka hanya memesan berbagai makan dan minuman hingga membuat mereka mengantuk. Daniel dan Jim tertidur di sofa, Gerard di lantai berkarpet tebal, Dave di kursi goyang dan Audy di atas bed ukuran single.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, hujan mulai reda. Duarr … Mereka terbangun bukan karena petir, tapi karena mendengar sebuah tembakan dari luar guest house. Sontak mereka kaget dan terduduk di posisi masing-masing. Beberapa pengunjung juga histeris dan berhamburan keluar.

“Aku akan memeriksanya,” kata Gerard.

‘Berhati-hatilah, Kau tidak bersenjata!” peringatan Dave.

Baru saja Gerard membuka pintu kamar, seseorang bertubuh tegap penuh dengan luka di wajahnya berkata.

“Tuan, geng Bugsy menyerang. Segera tinggalkan tempat ini!”

Audy dengan wajah pucat, meremas jari-jarinya. Ia ketakutan melihat ke wajah Gerard. Gerard pun melihat wajah tegang ketiga pria di belakangnya.

‘Oh God, apa lagi ini?’ batin Audy berkata.

“Dave, Kau dan Clara segera pergi lewat belakang guest house ini. Aku, Daniel dan Jim akan mengalihkan perhatian mereka.

“Ya, aku setuju,” ujar Jim.

“Tidak!” bentak Dave, “Aku tidak bisa pergi tanpa kalian, Daniel kau saja yang bawa pergi wanita ini!” perintah Dave.

“Dave, Kau yang diincar oleh mereka. Percayalah, mereka tidak akan menyakiti kami,” jelas Daniel.

“Cepatlah Dave!” perintah Gerard.

Tanpa berkata apapun, Dave menarik pergelangan tangan Audy bergegas meninggalkan guest house itu dari pintu belakang.
Saat Dave dan Audy sudah keluar. “Apa ini bagian rencanamu?” tanya Jim pada Daniel.

“Entahlah, aku lupa,” jawab Daniel.

“Sialan!” Umpat Jim.

Dave dan Audy berhasil berjalan hingga masuk di kegelapan hutan. Nafas mereka terengah-engah karena berlari, dan kemudian berhenti di bawah pohon besar.

“Tunggu!” Audy kelelahan mengikuti langkah Dave yang tidak sebanding dengannya.

Dave berhenti, ia melihat wajah Audy dalam remang-remang cahaya pendar dari langit. “Baiklah, istirahat sebentar,” usul Dave.

Mereka duduk berdekatan di akar pohon raksasa, suara serangga malam membuat Audy was-was. Ia belum pernah berada pada kondisi seperti saat ini. Tubuhnya lelah, matanya mengantuk tapi ia tidak ingin ketiduran.

“Kau tidur saja, aku akan berjaga,” kata Dave.

“Ok, kita akan bergantian. Bangunkan aku jika Kau ingin tidur,” tawar Audy.

Dave hanya menyunggingkan senyumannya yang tidak terlihat oleh Audy. ‘Dasar wanita, Kau pikir Kau lebih kuat dari aku,’ batin Dave.

Audy mulai tertidur bersandar di pohon. Dave melihat jam tangannya, sudah pukul satu malam, langit semakin terang. Ia mulai mengantuk, namun sesuatu terdengar. Seperti suara kaki berjalan. Dave menyentuh bahu Audy, membangunkannya dan berbisik.

“Clara, seseorang menuju kemari. Kita harus bersembunyi,” bisik Dave pelan di telinga Audy. Audy mengangguk.

“Kita akan panjat pohon ini, Kau naiklah ke bahuku!” perintah Dave.

“Aku tidak bisa Dave,” rintih Audy.

“Cepatlah! Kau ingin kita mati di sini?” ancam Dave.

Audy dengan terpaksa, memijakkan kakinya ke bahu Dave. Ia menggapai cabang pohon dan naik menunggu Dave. Dave kemudian menyusul Audy menaiki cabang pohon yang terlihat kokoh untuk bobot dua orang, hanya saja ukuran cabang itu semakin meruncing ke ujung hingga pijakan kaki mereka terbatas.

Audy berdiri di pangkal cabang pohon menghadap Dave. Mereka saling berpegangan, Audy takut jika ia akan terjatuh. Dave berusaha menyeimbangkan tubuhnya, kakinya terlalu besar untuk berpijak pada cabang pohon itu.

Apa yang di curigai Dave benar adanya, seseorang mengenakan penutup wajah hitam memegang senjata laras panjang sedang menyisir tempat itu. Ketika pria bertopeng itu melewati pohon raksasa tersebut, Audy histeris ingin berteriak.

Beruntung Dave langsung memeluk dan menempelkan bibirnya ke bibir Audy dengan cepat. Dengan cara itu Audy pasti akan diam tanpa pergerakan.

Audy sedikit kaget dengan tindakan Dave yang tiba-tiba. Tapi ia menyukainya, pelukan hangat dan sentuhan hangat di bibirnya. Berharap posisi ini terjadi lebih lama lagi.

Dan Dave memaki dirinya di dalam hati atas tindakannya ini. Jantungnya yang berdegup kencang membuatnya malu, ia berharap Audy tidak merasakan degup jantungnya. Ciuman ini membuat mereka menahan nafas agak lama, hingga akhirnya penjahat itu pergi.

Namun, suasana romantis itu berubah seketika ketika sebuah suara terdengar dari perut Audy. Krikk … krik …

“Dasar wanita! tadi kan sudah makan,” ucap Dave berbisik.

“Tapi itu sudah tidak bersisa Dave, Kau membuatku lari sekuat tenaga,” jawab Audy.

Dave segera melepaskan Audy dengan cepat, tapi kakinya sebelah terpeleset. Audy segera menarik tangan Dave agar kembali seimbang. Tidak sengaja mereka bertatapan, dan keduanya tampak gugup dan canggung.

“Sepertinya sudah aman, aku akan turun terlebih dahulu,” kata Dave.

“Tunggulah sebentar, pastikan dulu dari sini,” jawab Audy. Ia tidak mau mengambil resiko jika ternyata di dalam gelap hutan itu masih ada pria lain yang mencari mereka.

Dave mengangguk. Baru kali ini ia sependapat dengan Audy. Pikirannya melamun pada ketiga temannya. Ia khawatir jika mereka terluka karenanya.

Hampir dua jam mereka duduk di atas pohon, akhirnya mereka turun.

“Ayo kita kembali sekarang,” ajak Audy.

“Tidak, tunggu hingga pagi baru kita kembali,” bantah Dave.

“Tapi ….” Audy ingin berbicara, tapi Dave langsung menyelanya.

“Jika Kau mati, maka lebih baik aku mati saja karena tidak akan memaafkan diriku!” bentak Dave, ia sendiri heran kenapa ia berbicara seperti itu pada Audy.

Mungkin karena rasa bersalahnya pada seseorang di masa lalu dan ia tak ingin peristiwa itu terulang.

Audy heran dengan perkataan Dave, ia akan menanyakan pernyataan itu suatu saat nanti. Daripada harus berdebat dengan Dave, ia memilih duduk seperti posisinya di awal. Audy mulai memikirkan Jacob, Jacob pasti khawatir dengan Audy saat ini. Dan Audy tidak bisa mengambil ponselnya untuk memberi tahu Jacob karena Dave berada di sampingnya.

Mereka hanya saling diam. ‘Ini kesempatanku bertanya pada Dave,’ batin Audy.

Saat Audy menoleh ke samping, Dave ternyata sudah tertidur bersandar di pohon. “Sial!” umpat Audy.

Tak lama kemudian, Audy pun tertidur di samping Dave.

“Pertama kalinya, setelah tujuh tahun lalu.

Perasaan yang sama menghinggapiku,

Siapa Kau, Clara?”

***

Bersambung