Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Tamat

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Hanya Ingin Kau Menjadi Milikku Part 1

Prolog

“Jangan terburu-buru Sir … mari kita bermain-main dulu.” Audy mengecup bibir pria tua itu. Simon Marcos yang sudah dimabuk nafsu mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh Audy.

Disela–sela itu, tangan Audy memberikan kode pada Jacob yang tidak jauh darinya. Jacob kemudian datang mendekat dan menempelkan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius pada wajah Simon Marcos.

Tubuh pria itu langsung terjatuh, Audy membuka pintu kamar hotel, menyuruh Jacob melakukan pekerjaannya. Jacob membuka semua pakaian Simon Marcos, membaringkannya terlentang di atas kasur kamar hotel itu.

Audy kemudian naik ke atas tempat tidur membuka separuh gaunnya, memposisikan diri memeluk tubuh Simon Marcos dengan tertelungkup, agar wajahnya tidak terlihat. Jacob mengambil kamera, segera mengambil foto dua orang yang terlihat telanjang, seperti telah melakukan hubungan intim.

Dengan berbagai posisi yang berubah-ubah, Jacob mengambil foto–foto bosnya dari berbagai arah, sementara wajah Audy tetap tidak diperlihatkan demi menjaga privasinya.

Setelah itu, Audy menuliskan memo yang berisi. “Kembalilah ke istri Anda Tuan Simon Marcos! Jalani rumah tangga bersama keluarga Anda dengan normal. Itu pun jika Anda masih menyayangi jabatan Anda di pemerintahan, jadi lakukan saja apa yang aku katakan!”

“Lelaki bajingan selalu mencoba mengasah insting binatangnya,

Dan tidak pernah puas untuk berburu,”

* Audy *

***

Next Mission

“Nyonya, ada e-mail yang masuk dari klien. Tapi kasus ini sedikit berbeda dari biasanya. Aku ragu Anda akan melakukannya,” jelas Jacob.

Audy kembali mendapatkan pekerjaan baru.

“Apa itu Jacob, Aku penasaran?” tanya Audy.

Wanita bernama lengkap Audy Ghena Larry ini, memiliki profesi sebagai agen bawah tanah, ia tidak pernah bertemu langsung dengan klien yang menyewa jasanya.
Jacob yang merupakan kaki tangan Audy yang setia, dengan berat hati membacakan e-mail tersebut.

“Selamat sore, aku Megan Lowri Howard. Aku memiliki seorang putra bernama Dave Grant Sherman, usianya saat ini memasuki tiga puluh sembilan tahun, aku terlalu khawatir dengan putraku yang saat ini masih belum berniat untuk membina sebuah rumah tangga. Kami sudah berusaha mencarikan jodoh terbaik untuknya, tapi ia selalu menolak. Mungkinkah putraku adalah penyuka sesama jenis? Kami sangat membutuhkan informasi ini demi calon penerus usaha keluarga Sherman. Katakan berapa yang Kau minta?” Jacob selesai membacakan e-mail tersebut.

“Bagaimana, Nyonya?” tanya Jacob.

“Ehmm … cukup menarik, kita akan cari tahu Jacob.” Artinya Audy menerima pekerjaan tersebut.

“Berapa besaran uang mukanya, Nyonya?” tanya Jacob.

“Minta padanya delapan belas ribu US Dollar !” Audy tersenyum.

Ia merasa bahwa pekerjaannya ini adalah sesuatu yang menyenangkan, bahkan kali ini kasus yang akan ia selesaikan membuatnya tertantang.
Tidak lama setelah Jacob membalas e-mail dari kliennya, Jacob kembali menerima notifikasi e-mail dari bank tempat Audy membuat rekeningnya.

“Nyonya, uang yang Anda minta pada wanita itu sudah masuk ke rekening Anda,” kata Jacob.

Audy bekerja professional, bayaran mahal untuk pekerjaannya adalah sesuatu yang sangat pantas ia dapatkan.

“Wow … cepat sekali. Kau minta data anak lelakinya itu Jacob! Aku akan memikirkan cara bagaimana menjebak lelaki itu.” Audy memegang dagunya mulai berpikir.

Keesokan harinya,

“Bagaimana Jacob? Kau sudah mendapatkan informasinya?” tanya Audy.

“Ya Bos, aku sudah mendapatkannya.” Jacob menyodorkan beberapa lembar dokumen dan foto.

Tapi kali ini Audy malas untuk membacanya. “Tolong Kau bacakan saja! aku sangat lelah hari ini,” keluh Audy.

Jacob mengerti, dan segera membacakan data mengenai targetnya kali ini.

” Dave Grant Sherman, seorang pria berusia tiga puluh sembilan tahun, tinggi seratus delapan puluh tiga sentimeter berat tujuh puluh delapan kilogram. Pewaris Kingston International Resort Group di Florida. Hobinya bermain golf setiap sabtu pagi, di Chimera Golf Club.” Jacob selesai membacakan datanya.

Jacob selesai membacakan datanya

Ia menyerahkan foto lelaki itu. Audy yang melihat wajah dengan rahang yang tegas dan mata biru tajam pada foto tersebut. Membuatnya agak sedikit bergidik, berada di antara rasa ngeri, geli dan jijik. Karena baru kali ini targetnya mungkin adalah seorang gay.

“Apa dia tidak suka berpesta, Masa aku harus menemuinya di lapangan golf?” Audy lebih memilih tempat pertemuan yang menyenangkan daripada harus berpanas–panasan di sebuah lapangan.

“Ehmm … aku tidak mendapatkan informasi lain seperti itu Bos.” Jacob menaikkan kedua bahunya, artinya tidak ada cara lain.

“Kalau begitu aku harus latihan golf terlebih dahulu Jacob, aku tidak ingin terlihat aneh di depannya.” Audy menggeleng–gelengkan kepala, sepertinya ini lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Untuk permulaan saja ia harus rela melakukan latihan golf terlebih dahulu. Menurutnya calon korbannya adalah pria yang sedikit aneh, tidak menyukai pesta seperti kaum LGBT (Lesbi Gay Bisexual dan Transgender) lainnya. Audy berinisiatif meminta temannya mengajarinya bermain golf.

“Kenapa tiba–tiba begini? Bukannya Kau tidak pernah tertarik dengan golf?” Kata temannya di telepon.

“Ya Kau benar, tapi saat ini aku membutuhkannya hehe ….” Audy sebenarnya sangat malas, karena ini bukanlah passionnya.

Tentu saja, temannya dengan senang hati menyuruh Audy datang ke tempat biasa temannya mengajari orang–orang bermain golf, secara teori maupun praktek.

Dua minggu berlalu, Audy sudah merasa bosan. Latihan golf ternyata membutuhkan kesabaran yang sangat besar, sementara Audy harus cepat menyelesaikan pekerjaannya, karena ia sudah diberikan separuh pembayaran di awal.

“Jacob, sepertinya pekerjaan ini memakan waktu lebih dari dua hari. Jadi persiapkan semuanya dengan rinci! Aku akan memberi tahu Jillian, bahwa aku akan pergi sedikit lama.” Audy berjalan ke kamar Jillian, ia melihat putrinya sedang duduk di meja belajar memainkan jari–jarinya di laptop.

Jillian sedang mengerjakan tugas sekolahnya, ia tidak sadar bahwa ibunya sedang memperhatikannya.

“Ehmm … ehmm … apa aku mengganggumu Sayang?” tanya Audy lembut.

“Tidak, Mom kemarilah. Aku sedang membuat laporan kegiatan kelompokku,” jawab Jillian.

Audy mendekati Jillian dan memeluknya dari samping.

“Jillian, mommy akan keluar kota bersama paman Jacob. Mungkin kali ini agak lama, karena mommy harus meyakinkan calon konsumen kita,” jelas Audy.

“Apa sulit meyakinkan mereka Mom? hingga Kau harus meninggalkan aku lama?” Jillian menatap mata Audy. Ia terlihat sedih, mendengar akan ditinggalkan lama oleh ibunya.

“Ya, konsumen kita kali ini sedikit berbeda dari yang biasanya. Jika Kau membutuhkan sesuatu, bibi Dayna akan mengurus semuanya untukmu,” pesan Audy.

“Baik Mom, segeralah pulang jika sudah selesai. Aku pasti akan merindukanmu.” Jillian memeluk Audy dengan erat, dan Audy mencium kening putrinya.

Jillian tidak pernah mengetahui pekerjaan Audy yang satu ini, ia menganggap semua perkerjaan Audy berhubungan dengan Calameo Catering.

“Sepertinya pekerjaan kali ini, lebih mudah. Dia pasti tidak akan menyentuhku, jika ia benar-benar seorang gay.” Audy denganrasa percaya diri.

~xoxo~

***

Their First Meeting

Jacob dan Audy terbang ke Florida hari jum’at. Karena sabtu pagi ia akan memulai aksinya. Mereka sudah menyiapkan semua perlengkapan golf yang akan dipakai oleh Audy.

“Baiklah, Jacob Kau sudah siap?” tanya Audy.

“Ya Bos,” jawab Jacob.

Pagi itu Audy memberikan penampilan bak pemain golf wanita profesional, ia dan Jacob menuju Chimera Golf Club yang berada di belakang Kingston International Resort. Ketika Audy dan Jacob tiba di sana, mereka tidak mendapati siapa pun.

“Apa Kau yakin jadwal lelaki itu bermain golf, Jacob?” Audy tidak ingin ada kesalahan dalam pekerjaannya.

“Ya, Bos tentu saja. Aku sudah memastikan semuanya sebelum kita berangkat kesini. Sebaiknya kita tunggu sebentar,” saran Jacob.

Pagi itu cuaca di Florida sangat cerah, Audy mulai merasa gerah dan berkeringat. Disaat Audy sedang asik bermain golf sendiri, Dave Grant Sherman bersama dengan rombongannya tiba. Audy melihat sekilas untuk memastikan bahwa itu adalah Dave Grant Sherman.

“Ya itu dia,” ucap Audy dalam hatinya,

“Wow, tampan juga pria ini. Ah, tapi sayang dia bukan pria tulen.”

Itu mengingatkan Audy pada target sebelumnya, Simon Marcos,merupakan pria bertubuh pendek, perut sedikit buncit dan berusia sekitar enam puluhan tahun. Tentu sangat berbeda dengan Dave Grant Sherman, pria yang saat ini berada tidak jauh di depannya.

Dave memasuki lapangan, tapi sesuatu menarik perhatiannya.

“Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya di sini?” tanya Dave pada Caddy wanita pendamping rombongan mereka.

“Aku tidak tahu, Tuan, aku juga belum pernah melihatnya. Sepertinya ia berasal dari luar kota,” kata Caddy cantik di samping Dave.

Audy selalu melap keringat di keningnya, membetulkan letak kaca mata hitamnya. Sementara Jacob berdiri di belakang Audy dengan setia memayunginya. Walaupun masih amatir, Audy terlihat seolah–olah mampu menguasai permainan golf yang ada di sana, tanpa mempedulikan kehadiran Dave Grant Sherman.

“Jika Kau lelah, beristirahatlah dulu Bos,” bisik Jacob pada Audy. Ia khawatir jika bosnya jatuh pingsan.

“Sebentar lagi Jacob, aku akan menarik perhatian lelaki itu,” jawab Audy.

Audy melirik tiap waktu, ke wajah Dave, tapi pria itu tidak peduli sama sekali dengan Audy dan itu membuatnya menyimpulkan bahwa Dave kemungkinan seorang gay.

“Bagaimana bisa pria sejati mengabaikan penampilanku?” keluh Audy. Baru kali ini Audy mendapatkan kesulitan mendekati targetnya.

Setengah jam berlalu, Audy tidak mendapatkan perhatian dari Dave, akhirnya ia mencoba untuk melakukan pendekatan.

“Apa yang akan Anda lakukan Bos?” tanya Jacob.

“Kau lihat saja Jacob!” Audy berjalan mendekati Dave dan rombongannya.

Setiap pria yang datang bersama Dave terpesona dengan kecantikan Audy, kulitnya yang putih bersih tinggi sekitar seratus enam puluh tujuh sentimeter, tubuh ramping dan rambut coklat bergelombang.

Satu dari empat pria di sana menyapa Audy.

“Hai, apa Kau ingin bermain bersama kami?” tawar pria yang berkulit kuning kecoklatan pada Audy.

Dave melemparkan pandangan sinis pada temannya itu, yang artinya ia tidak setuju.

“Dengan senang hati Tuan.” Audy tersenyum sambil melihat reaksi Dave, ternyata masih dingin.

Dave yang ditinggal sendiri, sementara teman-temannya kelihatan bersenang-senang dengan Audy mulai merasa kesal. Ia mendekati teman-temannya.

“Tidak ada, tapi ia sangat menarik Dave,” kata salah satu temannya.

Mereka melakukan kompetisi golf dengan Audy. Tentu saja Audy selalu kalah, karena mereka bukanlah tandingan Audy. Dave tidak tahan dengan teman-temannya yang mencoba mengambil kesempatan dan keuntungan dari Audy.

Dave kemudian mencoba membantunya.

“Sebentar!” Dave menghentikan Audy yang tengah bersiap mengayunkan stik golfnya.

Audy dan tiga temannya terdiam, melihat Dave berjalan mendekatinya, semakin dekat hingga Jacob yang berada di belakang Audy harus mundur beberapa langkah. Dave berdiri tepat dibelakang Audy, ia berniat menunjukkan cara mengayunkan stik golf dengan lembut tapi membuatnya bertenaga.

“Kau harus memegang stiknya seperti ini. Jangan terlalu kuat, hanya akan membuat gerakanmu kaku. Kemudian naikkan lenganmu sebanyak enam puluh derajat, tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, lihat ini!” ucap Dave tanpa melihat sedikitpun pada wajah Audy.

Ia kemudian memegang tangan Audy membenarkan caranya bermain golf. Benar saja ketika bola golf itu dipukul oleh mereka berdua, bola itu langsung masuk tepat di lubang yang berjarak lima meter dari mereka berdiri. Audy menyukai adegan itu, baru kali ini ia merasakan sedikit bahagia dan jantungnya mulai berdegup tak menentu.

Audy melompat–lompat girang dan tidak sengaja memeluk Dave. Akhirnya ia sadar dengan tingkahnya.

“Oh, maafkan aku Tuan, aku tidak berniat mengotori bajumu ini.” Audy berpura–pura membersihkan baju Dave, tapi Dave hanya diam dan berlalu meninggalkannya.

“Clara ayo sarapan bersama kami,” ajak Jim, teman Dave yang tadi sudah lebih dulu berkenalan dengan Audy.

Audy melirik ke Jacob sebentar, memberikan kode agar Jacob kembali ke hotel lebih dulu dan ia akan menyusulnya, Jacob mengerti dengan perintah bosnya.

“Baiklah.” Audy menerima ajakan Jim.

Mereka mengajak Audy ke restoran yang ada di Kingston International Resort, semua pelayan dan pegawai di sana siap melayani bos mereka dengan baik. Mereka memilih tempat duduk di tepi kolam renang resort itu.

“Clara apa Kau berasal dari kota ini?” tanya Daniel, menatap mata Audy dalam. Sedari tadi Daniel selalu memperhatikan Audy.

Mereka begitu asik berbincang dengan wanita yang ada di depannya. Kecuali Dave, ia hanya diam sambil melahap sarapannya.

“Tidak, aku berasal dari San Fransisco,” jawab Audy, sambil menyeruput hot green tea pesanannya.

“Apa Kalian sering bermain golf disini?” tanya Audy yang berpura–pura tidak tahu apapun.

“Ya, sudah hampir menjadi rutinitas kami,” jawab Jim.

“Hei, Dave. Kenapa Kau diam saja dari tadi? Tidak baik mengabaikan tamu secantik ini,” goda Jim, tersenyum pada Dave.

Ia tahu bahwa Dave akan selalu bersikap dingin jika berada dekat dengan wanita.

“Makanlah tanpa berbicara, itu lebih baik,” jawab Dave. Tanpa sedikitpun melihat pada Audy.

Ketiga temannya hanya saling lirik, dan tersenyum pada Audy.

“Bagus sekali akting wanita ini,” ucap Daniel dalam hatinya.

“Maaf, Clara. Dia memang selalu seperti itu, tapi percayalah Dave pria yang baik,” jelas Gerard.

Teman Dave yang satu ini, selalu berpihak pada Dave, apapun yang dilakukan oleh Dave.

“Oh tidak apa-apa,” jawab Audy.

“Apa yang Kau lakukan di sini Clara?” tanya Gerard.

“Hanya sekedar berlibur, mencoba suasana baru,” jawab Audy seanggun mungkin.

“Benarkah? Kami bisa mengajakmu ke tempat yang bagus di Florida, jika Kau mau?” Gerard memang selalu bersikap manis dan tulus dengan siapa saja, itulah kenapa Dave sangat menyayanginya dibanding Jim dan Daniel.

“Ya, Clara. Kami akan mengajakmu menjelajahi Florida,” ucap Daniel dengan cepat.

Ia berharap agar Dave bisa dekat dengan Audy. Sementara Jim tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Audy, tanda setuju dengan usualan teman-temannya.

‘Ini kesempatanku, mencari tahu informasi itu dari teman-temannya,’batin Audy.

“Sepertinya menyenangkan, baiklah. Aku setuju,” jawab Audy.

Sementara Dave berdehem, memberikan kode tidak setuju pada ketiga temannya. Sambil melap bibir dengan tisu, karena ia sudah menyelesaikan makannya.

“Kau harus ikut Dave, ini akan jadi pengalaman baru. Karena kita memiliki teman baru, Clara,” ajak Jim.

“Aku ada banyak pekerjaan, kalian saja,” Dave mengeluarkan ponselnya, mengabaikan ajakan Jim.

“Pekerjaan yang mana kawan? Aku akan selesaikan semuanya untukmu,” jawab Gerard yang merupakan asisten pribadi Dave.

“Baiklah guys, terimakasih jamuannya. Aku harus kembali ke kamarku sekarang,” ucap Audy pada mereka berempat.

Ini merupakan salah satu trik Audy menarik perhatian Dave, tapi sekali lagi Audy tidak mendapatkannya. Justru Daniel yang semakin tertarik mendekati Audy.

“Kami tunggu di sini besok pagi pukul delapan, Clara,” ucap Daniel antusias.

Audy menganggukkan kepala tanda setuju, ia berdiri dibantu oleh Daniel kemudian berlalu meninggalkan empat pria itu.

“Aku menyukainya,” ucap Daniel yang masih melihat punggung Audy.

“Kau memang menyukai semua wanita, tanpa terkecuali,” goda Jim. Daniel mengibaskan poninya yang mulai panjang hingga menutupi sebelah matanya.

“Pilihanmu bagus juga,” bisik Jim pada Daniel.

“Tentu saja, aku cukup menelepon teman wanitaku untuk mendapatkan wanita yang cocok untuk Dave,” ucap Daniel yang juga berbisik pada Jim, mereka bertiga termasuk Gerard merencanakan sesuatu untuk Dave.

‘Siapa Clara? Aku belum percaya bahwa ia kemari hanya sekedar berlibur.

Aku harus mencari tahunya,’ batin Dave.

***

Bersambung