Gwen Milikku Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
About Gwen

Wajah pucat Gwen baru kali ini terlihat, biasanya wajah perempuan muda itu akan berekspresi kesal, marah dan penuh emosi sangat lain dengan hari ini yang begitu kuyu sekali. Anggun sama sekali tidak mau mendatangi Gwen kekamar putrinya itu, karena ibu itu masih begitu sakit hati atas apa yang Gwen lakukan.

“Papa sudah memutuskan untuk mengirim kamu Aussy besok.”

Gwen cukup terkejut mendengar pernyataan Papanya tersebut, seketika Gwen menggeleng untuk menolaknya.

“Gwen gak mau.”

“Kamu tidak ada hak untuk memilih Gwen. Segera bersiap-siap selepas makan malam.”

Gwen menghela nafasnya menyerah, ia tidak akan kekanakan dengan tak mau makan dan merajuk. Ia lapar sekali sekarang dan merajuk bukanlah sifat Gwen. Jika Papanya sudah memutuskan sesuatu maka itu tidak bisa digugat lagi, ingin menolak sebagaimana pun tak akan bisa merubah keputusan Papanya. Mengingat Gwen juga tak dekat dengan sang Papa semakin memperluas jarak diantara mereka.

Selama makan malam tak ada lagi yang berbicara selepas keputusan itu dilayangkan, ruang makan dilingkupi keheningan. Gwen sakit hati sekali karena Mamanya tak ada mengajaknya bicara. Usai makan malam semua orang pergi meninggalkan ruang makan kecuali Anggun dan Hana yang selalu membantu pelayan membereskan perabotan makan.

“Ma…”

Gwen dengan berani memanggil Mamanya, berharap ia dimaafkan dan diberi muka. Tetapi Anggun malah pura-pura tak lihat dan pura-pura tak dengar, ibu tiga orang anak itu mencuci piring dan menyuruh Bi Kiki dan Hana kembali ke kamar. Gwen melangkahkan kakinya mendekati sang ibu yang membelakanginya, lalu memeluknya dengan erat.

“Maaf Ma, maaf. Gwen tahu Gwen sudah kelewatan, maaf Ma..”

“Gwen juga gak mau ini terjadi, Gwen gak mau kasih Mama kecewa. Gwen menyesal Ma.” Tapi Mamanya masih saja diam melanjutkan pekerjaannya.

“Mama please jangan diamkan Gwen seperti ini, Gwen janji Gwen gak akan mengulangi ini. Gwen janji akan berubah. Mama Gwen minta maaf hiks..”

“Mama pegang janji kamu untuk tidak mengulangi lagi dan akan berubah.”

“Iya iya apapun akan Gwen lakukan asal Mama mau memaafkan Gwen.” Akhirnya Anggun membalikkan tubuhnya menatap putri bungsunya dengan pandangan yang bercampur aduk.

Jujur saja selain rasa sayang yang besar, Anggun sangat mengasihani anaknya ini. Gwen bukan berbeda dari anak-anaknya yang lain, Gwen hanya unik. Gadis kecilnya ini pemberontak, keras kepala dan berbuat semaunya. Anggun cukup paham jika sifat dan sikap setiap anak itu berbeda, tetapi Anggun tidak bisa memberi pemahaman yang lebih baik untuk suaminya.

Dikedua keluarga mereka Anggun akui bahwa Gwen adalah anak yang paling cantik. Anggun berasal dari keluarga yang berpendidikan tinggi dan Hans berasal dari keluarga yang dididik dengan peraturan ketat. Hidup dua keluarga itu begitu tertata dan penuh dengan pembahasan bermutu, Gwen bersikap tak tahu aturan tentu dipandang tak suka oleh keluarga mereka yang lain.

Anggun pikir ia sudah menjalani hal yang ia anggap tepat untuk Gwen agar anaknya itu tidak mengalami depresiasi dan tertekan berada dikeluarga seperti ini. Tetapi Anggun mendapat kekecewaan dan ia sudah tidak bisa lagi membantu anaknya.

“Kamu tahu kan, Mama sudah tidak bisa membantu kamu lagi kedepannya? Mama sudah memohon dengan susah payah pada Papamu untuk satu kesempatan melonggarkan aturan padamu dikesempatan kemarin.”

“Kamu bersiaplah untuk besok berangkat ke Aussy karena sekarang kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri Gwen.” Setelah berkata demikian sang Mama pergi meninggalkannya begitu saja di dapur.

Gwen tahu ia sudah membuat kesalahan fatal, sungguh Gwen tidak bisa membayangkan seperti apa hidup yang akan ia alami di Aussy tempat tinggal keluarga ayahnya. Disana ada Granny yang begitu kolot, galak dan banyak aturan.

Tak membuang waktu lagi Gwen kembali ke kamarnya dan menyiapkan apa-apa yang ia butuhkan selama tinggal disana. Gwen tak tahu ia akan sampai kapan tinggal disana, tetapi Gwen yakin ia akan kuliah disana juga. Gwen sebenarnya sedang menunggu pesta perpisahan disekolahnya, tetapi sekarang ia tidak bisa datang kesana dan bersenang-senang.

Rasa kantuk menghampiri Gwen sebelum ia benar-benar selesai dengan barang-barangnya.

Tubuhnya terasa digoyangkan seseorang disertai suara yang terus memanggil namanya supaya bangun. Dengan rasa kantuk yang masih begitu jelas Gwen membuka matanya sedikit, melihat Mamanya membereskan isi kopernya.

“Cepat Mandi dan Makan.”

Teringat akan janjinya akan berubah Gwen segera bangkit dari tidurnya, berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selepas mandi, ia duduk ditepi ranjang dimana Bi Kiki sudah membawakan sarapan untuknya.

“Minum ini.”

Gwen melihat obat apa yang Mamanya berikan padanya.

“Sebelum semuanya terlambat, kita perlu berjaga-jaga. Mama tidak bisa bayangkan jika apa yang kamu lakukan semakin fatal, cukup beri satu kekecewaan tidak dengan kekecewaan lain.”

Menghela nafasnya sedih Gwen menelan obat itu kemudian menghabiskan makanannya. Meskipun Gwen yakin ini bukan masa suburnya tetapi apa yang bisa menjadi jaminan kalau ia tidak akan hamil kedepannya?

Saat kedua orangtuanya tahu ia sudah tidak perawan lagi, ia diasingkan ke istana mengerikan milik Keluarga ayahnya. Gwen juga tidak bisa membayangkan hal mengerikan apa yang akan dilakukan keluarganya jika ia benar-benar hamil diluar nikah tanpa tahu siapa ayah bayinya.

Selepas makan ia segera turun ke lantai bawah bersama sang Mama. Disana sudah ada Papa dan kedua kakaknya, Gwen akan berangkat sekarang.

Kedua kakaknya memeluknya dan memberi kata-kata standar dalam perpisahan karena tak bisa mengantarkannya ke bandara. Yang mengantarnya adalah kedua orangtuanya disertai seorang supir. Selama di perjalanan sang Papa terus memberikan wejangan untuk tidak berbuat ini itu dan apapun yang tidak disukai dikeluarga ayahnya, pria yang menjadi ayah kandungnya itupun mengatakan akan terus mengawasi Gwen.

“Ingat dengan semua yang Papa katakan, baik-baik disana.” Gwen memeluk Papanya lalu bergantian dengan Mamanya. Lalu ia segera masuk karena pesawat akan take off.

Selama di pesawat Gwen hanya terlarut dalam pikirannya sendiri, ia berharap Tasya baik-baik saja nanti setelah sampai disana Gwen berencana untuk menghubungi sahabatnya itu. Dan untuk pria itu… Gwen harap mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Gwen akan memulai hidupnya yang baru dan penuh perencanaan, masa lalu kelam seperti pria itu tidak harus lagi muncul untuk menghancurkan semuanya. Ia akan menjadi Gwen yang baru, Gwen yang diinginkan keluarganya.

Bersambung