Gwen Milikku Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Slave of Love

“Apa terjadi sesuatu?”

“Apa?”

Gwen menatap Max tidak paham, saat ini mereka sedang berada disebuah tempat yang Max pernah janjikan padanya sebelum pria itu pergi ke Barcelona. Angin bertiup hingga rambut Gwen ikut terbawa, seperti akhir pekan yang biasa mereka lewati kali ini pun Max memilih tempat diluar ruangan.

Mereka lebih sering mengadakan piknik kecil-kecilan seperti ini, dengan beberapa makanan dan lebih banyak mengobrol. Mungkin baru dua kali Max mengajaknya makan di restoran mewah itupun mereka memesan ruangan VIP, jika sedang malas keluar biasanya mereka tetap mengendap di apartemen memasak atau membuat kue juga menonton film.

Tapi Gwen menikmati semua yang mereka jalani ini, sekarang.

“Aku pergi cukup lama meninggalkanmu disini, apa terjadi sesuatu?” Ulang Max.

Gwen yang sedang memakan sushi lebih mengutamakan menyelesaikan kunyahan dan menelan makanannya dahulu sebelum menjawab Max, seraya berpikir.

“Tidak terjadi apapun.”

Max memicingkan matanya penuh selidik, “benarkah?” Tanpa ragu Gwen mengangguk. Mau tidak mau Max percaya, spontan ia menghela nafas pelan dan tangannya tersampir diatas kepala Gwen.

“Jika terjadi sesuatu apapun itu segera beritahu aku.”

“Siap boss.” Gwen meletakkan tangannya di pelipisnya memperagakan prajurit yang melakukan hormat. Max mengangguk puas seraya mengusap lembut puncak kepala Gwen. Lalu pria itu tampak merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.

“Ada apa?”

Max menatap ponselnya dan mengetikkan sesuatu sebentar sebelum kembali mengalihkan fokusnya pada Gwen.

“Pesan dari Mama, dia menyuruhku untuk datang ke pesta lusa.”

“Pesta siapa?”

Bukan sekali dua kali Gwen tahu bahwa Max sering dipaksa ibunya untuk menghadiri pesta. Untuk alasannya pun Max sudah memberitahunya, nyatanya Gwen sama sekali tidak bisa membantu karena wanita itu menolak setiap kali diajak Max bertemu ibunya untuk mengenalkan sebagai pacarnya.

Gwen tidak siap untuk dikenalkan dengan ibu Max karena itu berarti mereka serius dengan hubungan ini, sedangkan nyatanya Gwen sadar tidak akan ada masa depan untuknya dan Max.

“Keluarga Smith.”

Gwen mengernyitkan keningnya, dalam kurun waktu satu tahun keluarga Smith sudah lebih dari tiga kali mengadakan pesta yang Gwen sendiri tidak tahu pesta apa saja yang keluarga itu adakan. Nyatanya setiap pesta keluarga Smith ibu Max selalu memaksa Max untuk hadir lebih intens daripada pesta keluarga lainnya, atau entahlah mungkin hanya perasaan Gwen saja.

Jika gaya hidup keluarga Smith dibandingkan dengan keluarganya tentu saja sangat jauh berbeda, meskipun jika diukur dengan kekayaan Gwen pikir kekayaaan mereka tidak berjarak terlalu jauh meskipun Gwen belum tahu pasti siapa yang lebih kaya.

“Pesta apalagi kali ini? Melihat kau pergi ke pesta Keluarga Smith lebih dari tiga kali, kupikir mereka cukup berfoya-foya dengan harta mereka.”

Kali ini Max mengangguk setuju, setelah melihat sendiri keluarga itu selama hidupnya Max cukup setuju dengan opini kalau keluarga Smith suka berfoya-foya.

“Mereka memang sering mengadakan pesta meskipun hanya untuk hal kecil. Tak tahu apakah benar itu tradisi keluarga mereka atau hanya ingin tetap eksis di kalangan kelas atas.”

“Lalu jika tahu keluarga itu suka berfoya-foya, bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan Alexa Smith?” Pancing Gwen yang membuat Max cukup terkejut karena Gwen tahu tentang itu.

“Bagaimana kau tahu tentang itu?” Bukannya menjawab Max malah bertanya balik, pria itu terlihat sangat penasaran.

“Maksudku, apa kau tahu lebih banyak dari yang aku kira?”

Nyatanya meskipun hubungan mereka sudah berjalan cukup lama yaitu hampir setengah tahun, tetapi mereka tidak pernah membicarakan tentang hubungan masa lalu juga para mantan kekasih. Max dan Gwen benar-benar hanya menikmati kebersamaan mereka, tidak memikirkan orang lain sama sekali.

“Mungkin aku hanya tahu beberapa saja dari barisan mantan kekasihmu, di kantor banyak yang membicarakan tentang ini dan menjadikannya bahan pembicaraan paling seru.” Gwen tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya pada Max.

“Jadi berhati-hatilah, banyak mata yang melihatmu. Jika aku tahu kau ada sesuatu dengan orang lain diluar sana, tidak akan ada kesempatan kedua.”

Max berdecak pelan, menatap Gwen jengkel. Ia tidak suka jika dicurigai seperti ini.

“Aku tidak akan pernah bisa berpaling darimu.”

“Itu terdengar mirip dengan apa yang mantan kekasihku ucapkan waktu itu.” Sahut Gwen dengan tampang tak berdosanya, bahkan wanita muda itu mengatakannya seraya memakan potongan buah yang sempat mereka bawa untuk piknik kali ini.

“Siapa? Ah tidak, kuganti pertanyaanku. Berapa mantan kekasihmu?”

Meskipun sebenarnya tidak terlalu penting bagi Max karena ia yang sudah menjadi pria pertama bagi Gwen, tetapi tidak menutup kemungkinan wanita itu masih menyimpan perasaan dengan mantan kekasihnya kan?

“Entahlah aku lupa.” Jawab Gwen tanpa berpikir lama.

Ia jujur lupa berapa banyak mantan kekasihnya, lagipula ia punya pacar atau tidak bagi Gwen tidak ada bedanya. Ia tetap pergi bersenang-senang dengan teman-temannya tidak memperdulikan para kekasihnya yang jika protes dengannya langsung Gwen putuskan.

Dulu Gwen punya kekasih hanya dengan menerima seseorang yang menyukainya, tidak ada balasan berlebihan untuk dari Gwen untuk itu. Ia terlalu sibuk menyenangkan dirinya sendiri agar lupa dengan segala perasaan tidak menyenangkan saat dirumah.

“Untukmu, aku hanya tahu Alexa Smith, si model Barcelona, model Rusia, anak perdana menteri dan beberapa sosialita.” Sambungnya.

Menghela nafasnya, Max tak tahu harus berkomentar apa. Wanita memang mengerikan jika menjadi stalker. “Aku tidak akan kembali lagi pada mereka, aku hanya ingin denganmu.”

“Memangnya aku pernah bilang kalau kau akan kembali pada mereka? Tidak kan?”

“Lalu untuk apa mencari tahu jika tidak ada ketakutan aku akan kembali dengan mereka?”

Gwen menggedikkan bahunya.

“Aku kan hanya mendengar orang bergosip, tidak menduga kalau akan mendapatkan informasi tentang kekasih ku. Lagipula aku juga sadar jika dibandingkan dengan mantan-mantan kekasihmu aku kalah telak. Oh dan jangan lupakan pertanyaanku, jika tahu keluarga itu suka berfoya-foya, bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan Alexa Smith?”

Max menggedikkan bahunya, lalu dengan santai berucap.

“Alexa menjadi kekasih pertamaku karena taruhan, teman-teman ku tidak percaya aku normal dan kau tahu begitulah.”

Gwen bergumam paham, menerima kembali informasi baru. Mungkin ini bisa menjadi fakta menyenangkan untuk Gwen beritahu pada Alexa si sombong itu. Dalam lamunannya Gwen terkesiap saat pergelangan tangannya digenggam erat oleh Max, bahkan Gwen juga cukup terkejut mendapat eskpresi Max berubah secepat itu dari biasa ke wajah mengeras dan tatapan yang begitu tajam.

“Satu hal lagi, jangan pernah merendahkan dirimu pada apapun dan pada siapapun. Kau sempurna, sangat berbeda dengan mereka.”

Terkekeh sebentar Gwen pun ikut merubah ekspresinya melawan Max. “Aku sempurna itu hanya katamu, dasar budak cinta.”

Bersambung