Gwen Milikku Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat
Miss You

Sejak kejadian di toilet itu, Alexa tidak pernah kapok untuk berurusan dengan Gwen. Wanita itu malah semakin menjadi tingkahnya. Misal saat berpapasan di lift Alexa dengan sengaja menyerobotnya atau menyenggol bahunya dengan kuat.

Pernah juga wanita itu dengan sengaja menumpahkan minuman pada pakaian kerjanya saat mereka sedang makan bersama. Dan selama itu juga Gwen tidak terpancing emosi, ia masih menahan batas sabarnya sampai ia benar-benar akan menyerang wanita itu.

Gwen ingat sekali dirinya bukanlah di negara kelahirannya jadi ia tidak bisa berbuat bar-bar untuk menghajar wanita itu meskipun Max ada disampingnya. Gwen akan membalas dendam dengan cara yang lebih elegan agar wanita itu semakin dongkol.

“Gwen aku minta maaf atas nama Alexa, aku tidak tahu mengapa dia bisa menjadi seperti itu akhir-akhir ini.”

Mr. William menatap Gwen dengan tatapan penuh maaf, tidak memperdulikan dokumen yang baru saja Gwen taruh diatas mejanya. Gwen menatap tanpa ekspresi atasannya itu, Gwen tahu bahwa Jeff William adalah pria yang peka terhadap sekitarnya apalagi kekasihnya jadi harusnya pria itu tahu alasan mengapa Alexa bersikap agresif padanya.

“Anda tahu jelas mengapa Tunangan Anda bersikap demikian Mr. William. Dan saya rasa untuk itu harusnya Anda sadar dan berhenti memperhatikan saya.”

Cukup bagi Gwen untuk tidak bertindak tegas dengan atasannya, jujur saja ia tidak takut sama sekali akan di pecat atau dicap tidak sopan. Ingat bahwa Gwen tidak akan meminta maaf jika ia tidak salah, ia bisa berbuat apapun semau-maunya dengan oranglain beda hal jika itu dengan keluarganya. Kalian tahu sendiri keluarganya seperti apa, keras tak terbantahkan.

“Saya pikir rasa penasaran Anda terhadap sosok dari mobil yang familiar itu tidak ada gunanya.”

Telak, Gwen tahu sedari awal pria ini menanyakan tentang Max yang menjemputnya malam itu. Entah untuk apa pria ini ingin tahu sekali dengan kekasih Gwen sampai bersikap sok perhatian dan Tunangannya yang cemburu.

Gwen pikir jikapun atasannya ini tahu bahwa Max adalah kekasihnya lalu apa? Apakah pria ini akan memberitahu media masa? Atau mungkin Tunangannya?

Jeff William terbungkam sebentar, ia agak terkejut saat Gwen dengan begitu frontal dalam berbicara. Sangat to the point sekali. Jeff berdehem pelan, lalu ia menatap Gwen masih dengan tatapan tulusnya.

“Mungkin benar aku penasaran dengan kekasihmu itu, tapi Gwen aku tidak punya maksud lain padamu.”

Menggeleng pelan Gwen sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria ini, nyatanya didunia ini tidak ada hal yang terjadi tanpa alasan. Semua didunia ini butuh alasan dan maksud.

“Tolong Mr. William jangan berpikir kita sedekat itu sampai memanggil nama depan saya. Pekerjaan adalah pekerjaan dan kita harus profesional, lagipula selain pekerjaan kita tidak punya hubungan apapun. Kalau begitu saya permisi.”

Gwen kembali kursinya seraya menghela nafas besar, dua puluh menit lagi waktu pulang. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, tertera nama Max disana. Pria itu mengatakan sudah sampai di L.A dan pria itu akan menjemputnya sepulang kerja, Gwen harus menunggunya di lobby.

Dalam hati Gwen merasa senang, entah apakah yang ia rasakan pada Max ini disebut rindu atau bukan tetapi rasanya sangat tidak nyaman. Biasanya mereka bertemu, membicarakan banyak hal ataupun melakukan hal yang menyenangkan bersama lalu tergantikan dengan beberapa pesan, panggilan suara dan panggilan video. Jujur saja Gwen tidak menyukai itu.

“Gwen apa terjadi sesuatu?”

Lagi-lagi Cherry kepo dengan urusannya juga Mr. William. Kejadian di toilet waktu itu juga Cherry terus mengintrogasi nya seperti wartawan, bahkan Cherry yang begitu emosi saat menyaksikan bagaimana menyebalkannya tingkah Alexa pada Gwen. Tapi Gwen selalu menyelanya, mengatakan bahwa itu bukan masalah besar untuk Gwen selama Alexa tidak benar-benar melukai fisiknya.

“Aku rasa apa yang kukatakan pada Mr. William cukup tepat, aku juga tidak menerima permintaan maafnya untuk Medusa itu.” Cherry berdecak pelan seraya menggelengkan kepalanya.

“Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Mr. William, pria itu masih saja melindungi Tunangannya meskipun salah.”

“Kurasa pikirannya harus dihabiskan sekarang karena memikirkannya akan membuang waktumu, sekarang waktunya pulang.” Gwen membereskan meja kerjanya, mematikan laptopnya dan memasukkan apa-apa yang penting ke dalam tasnya.

“Apa kau butuh tumpangan Gwen? Aku bisa memberi tumpangan untukmu.” Gwen menggelengkan kepalanya pelan.

“Kekasihku akan menjemputku, terimakasih atas tawarannya.” Gwen keluar dari ruangan kerjanya diikuti teman-teman yang lain.

“Aku sangat penasaran dengan kekasihmu Gwen, mungkin lain kali kau bisa mengenalkannya pada kami.”

“Aku tidak yakin dia mau berbaur dengan orang banyak.” Ujar Gwen agak ragu mengingat perangai Max yang tidak terlalu suka keramaian dan bagaimana dominannya pria itu membuat orang lain merasa tidak nyaman, belum lagi jika teman-temannya tahu bahwa kekasihnya adalah Max sudah pasti teman-temannya sangat segan sekedar untuk menyapa.

Mereka turun menggunakan lift dalam keramaian karyawan lainnya,

“baiklah kalau begitu sampai jumpa minggu depan.”

Gwen keluar mencari dimana keberadaan Max hingga ponselnya berdering, memunculkan nama pria itu yang mengatakan dimana keberadaannya. Setelah menemukan mobil Max, Gwen tanpa sungkan langsung masuk kedalam mobil.

Ia disambut dengan senyum manis Max dengan balutan pakaian santainya, pria itu langsung membawa Gwen kepelukannya berutung Gwen memakai celana sehingga saat Max mengangkat tubuhnya hingga menduduki pria itu tidak kesulitan. Max menatapinya dalam seolah dengan itu Gwen tahu apa ia rasakan, tak butuh waktu lama bagi bibir mereka untuk saling bertaut berbagi kerinduan.

Max mengecup sekali bibir Gwen sebagai penutup dari ciuman manis mereka, tangan lebar pria itu tidak melonggarkan pelukan eratnya ditubuh Gwen.

“Aku sangat merindukanmu.”

Senyum Gwen mengembang, ia membalas senyum Max yang sejak ia masuk ke mobil tak luntur juga.

“Aku juga sangat merindukanmu.”

Gwen menyatukan kening mereka tanpa melepaskan tatapan, tidak peduli mereka berada dimana sekarang. Rasanya perasaan yang Gwen dan Max miliki meletup begitu saja atas pertemuan setelah sekian lama.

“Kenapa kau makin tampan huh?”

Max terkekeh, ia mengusap pipi Gwen lembut.

“Dan kenapa kau terlihat semakin seksi?”

“Pembual.”

Gwen memukul pelan dada Max, lalu pindah ke kursi yang ia duduki sebelumnya tepat disamping Max. Hari ini Max yang membawa mobilnya sendiri menjemput Gwen, jadi tidak ada supir diantara mereka. Sedang Max tertawa pelan mendengar gerut Gwen, entah mengapa wanita muda ini terlihat semakin cantik setelah ia tinggalkan demi pekerjaannya.

“Aku tidak membual, aku sedang merayumu.” Sahut Max yang dibalas senyum miring dari Gwen.

“Rayuanmu tidak akan bisa menggodaku, sekarang aku sedang menstruasi jadi jangan berharap lebih.”

Bersambung