Gwen Milikku Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat
Medusa

Waktu berjalan begitu cepat dan selama itu pula Gwen sudah merasa nyaman bersama dengan Max menjalin hubungan berstatuskan sepasang kekasih. Seperti biasanya Max kembali meninggalkan Gwen demi pekerjaannya. Pria itu bilang akan sedikit lama berada di Barcelona tidak seperti perjalanan bisnis biasanya.

Sedikitnya Gwen merasa kesal jika Max sedang dalam keadaan sibuk-sibuknya dengan pekerjaan karena ia akan diabaikan oleh pria itu demi pekerjaannya. Nyatanya Max lebih workaholic dari yang Gwen duga.

Hubungan mereka masih aman sejauh ini dalam artian ‘tidak ada yang tahu’. Max sebenarnya sangat keberatan dengan hal ini tapi tentu saja Gwen menjelaskan perkara sebenarnya jika hubungan mereka terkuak. Dan sejak Mr. William menanyai tentang Max, Gwen menjadi lebih berhati-hati.

“Ini.” Mr. William mengangsurkan minuman didepannya pada Gwen entah untuk keberapa kalinya hampir setengah tahun ini jika mereka sedang makan bersama dengan anggota tim.

“Terimakasih.”

Gwen kembali menyibukkan diri dan tidak mengambil pikir semua perhatian tidak wajar Mr. William padanya. Tak tahu sebenarnya ada apa dengan pria itu sehingga harus membuat Gwen berada diposisi tidak nyaman seperti sekarang.

Gwen memang aman dalam hubungannya bersama Max, tetapi dengan Mr. William ia malah mendapat masalah. Pria itu sering sekali menyuruhnya ke ruangan pria itu untuk antar ini antar itu meskipun itu bukan bagian dari pekerjaannya. Pria itu bisa dibilang sering makan di Cafetaria memaksa untuk bergabung dengan Gwen juga teman-temannya.

Pria itu juga beberapa kali menawarkan Gwen untuk pulang bersama. Dan seperti sekarang contohnya, pria itu entah secara sengaja atau tidak bersikap perhatian padanya. Membantunya memotong daging stik yang sebenarnya tidak perlu. Menyodorkan minuman untuknya bahkan pria itu memesankan makanan yang pria itu yakini sebagai makanan kesukaannya.

Akibat dari hal itu ia menjadi bahan gosipan. Tinggal tunggu saja Alexa benar-benar melabraknya. Karena beberapa hari lalu saja saat mereka berpapasan di lift tatapannya sudah sinis dan benci pada Gwen. Gwen sendiri ingin bicara dengan Mr. William agak tidak bersikap demikian, tetapi Gwen takut dibilang terlalu percaya diri oleh Mr. William hanya karena hal biasa.

Sedangkan Cherry dan Mandy yang tahu keadaan Gwen sebenarnya tidak bisa membantu banyak mengingat Mr. William adalah atasan mereka.

“Babe.”

Panggilan itu mengalihkan tatapan semua orang yang ada meja mereka. Alexa datang bersama dengan ketiga temannya yang sudah pasti kaum sosialita kelas atas. Ketiga temannya lebih dulu memisah diri dan mencari meja lain membiarkan Alexa mendekati Tunangannya Jeff William.

“Hai, makan siang disini?” Balas pria itu menerima kecupan dibibirnya. Alexa mengangguk dan mengambil duduk disatu-satunya kursi kosong dimeja itu tanpa meminta izin ataupun berbasa-basi.

“Aku baru saja selesai dari salon dan memutuskan untuk makan siang disini, tidak disangka bertemu denganmu juga karyawan lain.” Jeff William mengangguk pelan mengiyakan.

“Benar, kali ini kami berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik hingga mendapatkan tender besar. Apa kau mau ini?”

“Itu berita yang bagus. Tidak, aku ingin pesan makanan baru saja. Aku tidak mau mengambil jatah makanmu yang sudah bekerja dengan keras.”

Langsung Alexa memanggil pelayan dan memesan makanannya. Wanita itu mengobrol dengan Tunangannya seakan tidak ada Gwen dan teman-teman yang lain dimeja itu. Bahkan wanita itu sesekali meliriknya dengan tatapan meremehkan.

Gwen bangkit dari kursinya dan pamit ke kamar mandi, ia perlu buang air kecil. Menitipkan tasnya pada Cherry dan segera mencari toilet di tempat makan itu. Seusai menuntaskan keinginannya Gwen menghela nafas lega, menahan sesuatu itu memang tidak enak baik itu menahan buang air ataupun menahan perasaan.

Gwen keluar dari bilik toilet dan mencuci tangannya di wastafel. Alangkah terkejutnya ia mendapati Alexa disana terlihat menungguinya dengan gaya sok melipat kedua tangannya didepan.

“Ada apa?”

Sebut Gwen tidak sopan pada kekasih atasannya itu juga dengan orang yang lebih tua darinya, tapi Gwen tidak bisa lagi bersikap sopan mengingat sikap wanita ini padanya.

“Berhenti menggoda Tunanganku, kau pikir kau lebih cantik dariku?”

Gwen mengeringkan tangannya dan membalas tatapan marah Alexa dengan datarnya.

“Apa sebelumnya aku pernah mengatakan aku lebih cantik darimu? Lagipula aku tidak tertarik dengan Tunanganmu.”

“Omong kosong, kau jalang murahan hanya mengincar uang Jeff. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hubunganku dengan Jeff. Kau dengar itu?”

Alexa terlihat sangat murka karena tidak ada ekspresi berarti dari wajah Gwen. Ingin melampiaskan rasa kesalnya, Alexa melayangkan tangannya untuk menampar wajah Gwen.

Tapi sayangnya Gwen dengan mudah menangkisnya bahkan membuat keadaan mereka terbalik. Tangan Alexa diputar kebelakang berhasil membuat wanita itu merintih kesakitan dan minta dilepaskan. Meskipun sudah lama sekali Gwen tidak melatih keahlian bela dirinya, tetapi refleks itu masih ada.

“Aww- Lepaskan aku.”

Nyatanya keinginan Alexa hanyalah angan saja karena Gwen sama sekali tidak menuruti perintahnya. Gwen malah makin menguatkan kunciannya dan membawa tubuhnya lebih dekat dengan Alexa.

Perbedaan tinggi tubuh mereka tidak jadi halangan berarti untuk Gwen. Ia adalah wanita tangguh dan Alexa sungguh memilih lawan yang salah. Gwen bukanlah tipe wanita yang akan meminta maaf jika ia tidak salah. Ia bahkan akan dengan berani terus menantang lawannya hingga berbalik minta maaf padanya.

“Dengarkan ini baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya. Tunanganmu tidak cukup kaya hingga membuatku mau menjadi jalangnya. Aku bahkan bisa menggoda Maxime Beauchamp lalu untuk apa aku juga menggoda karyawannya. Sangat tidak masuk akal.”

Selepas mengatakan itu Gwen melepaskan Alexa dan menyemprotkan hand sanitizer yang tersedia di wastafel. Alexa sendiri meringis kecil seraya memegangi lengannya. Menatap Gwen nyalang ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gwen dengan percaya dirinya.

“Kau pikir kau sangat cantik ya sampai berani menyebut nama Max disini.”

“Kau pikir kau sangat akrab dengannya sampai berani memanggil nama kecilnya disini?” Gwen mengeluarkan senyum remehnya pada wanita ini. Rasanya Gwen rindu sekali masa-masa sewaktu sekolah ia membully orang.

“Kau-” Alexa geram sekali pada wanita satu ini, rasanya ia ingin menarik rambut Gwen. Tapi ia tahu diri tidak punya kekuatan lebih dari Gwen yang tadi dengan mudahnya membalikkan keadaan.

“Gwen…” Tiba-tiba saja Cherry masuk kedalam toilet sembari membawa dua tas. Gwen pergi cukup lama membuat ia khawatir apalagi saat Alexa juga pamit ke toilet tak lama dari itu. Cherry bisa merasakan adanya ketegangan disana.

“Cherry apa sudah ingin kembali?” Cherry dengan cepat menganggukkan kepalanya, tidak mau menambah masalah apapun. Gwen sendiri mengangguk, lalu pergi melewati Alexa begitu saja dan mengajak Cherry segera pergi dari sana.

“Wanita sialan!”