Gwen Milikku Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Lovers

Gwen memposting foto terbarunya di media sosial yang ia punya, tidak dengan nama aslinya Gwen lebih memilih untuk memberi nama lain yang unik hingga anggota keluarganya tak akan tahu bahwa itu adalah miliknya. Pengikutnya cukup banyak karena Gwen memang populer, ia me-privasi akunnya dan itu adalah pilihan bijak. Ia mengirimkan fotonya bersama Max yang kemarin mereka ambil dalam kencan tiap hari libur mereka. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang bahagia.

Sudah satu bulan ini mereka menjalin hubungan dan Gwen menikmatinya sejauh tidak ada yang tahu tentang mereka dalam artian sebenarnya. Seperti teman-teman kerjanya ataupun media apalagi keluarganya.

“Bagaimana Gwen, apa kau sudah menyiapkan apa yang akan kau pakai malam ini?”

Gwen menganggukkan kepala pelan, ia kemarin lusa sempat membeli dress untuk menghadiri ulangtahun William leader mereka. Pria itu mengundang mereka dan melarang untuk dibawakan kado atau apapun, lagipula nanti malam hanya ada acara makan-makan saja dirumah pria itu tidak dengan acara mewah yang berlebihan.

“Aku sungguh tidak sabar, kira-kira siapa saja ya yang datang nanti malam? Mungkinkah Tunangan Mr. William akan mengundang teman-teman selebritisnya juga?”

“Aku tidak tahu.”

Gwen menggedikkan bahunya karena memang ia tidak tahu dan tidak terlalu memikirkannya.

“Kau jangan lupa untuk menjemputku nanti Cherry.”

“Tentu, jangan berdandan terlalu cantik. Alexa pasti akan tidak suka jika kita berdandan berlebihan.”

Gwen mengangguk pelan, ia akan tampil biasa saja tanpa make up berlebihan sama seperti ia biasa bekerja. Lalu mereka berpisah di lobi, Gwen kembali ke apartemennya sendiri begitupun dengan Cherry.

Sesampainya di apartemen, Gwen tidak menemukan siapapun. Karena memang ia sudah memberitahu Max bahwa ia ada janji dengan teman-teman kantornya untuk menghadiri undangan makan malam. Mungkin juga pria itu lembur hari ini atau mungkin akan pergi ke luar negeri.

Gwen cukup tahu diri bahwa Max orang sibuk, keuntungannya juga jika Max sibuk karena ia bisa memiliki me time. Gwen memilih untuk istirahat sebentar sebelum bersiap dan Cherry menjemputnya, ia memilih untuk mengambil pop mie sebagai penunda laparnya. Selama disini Gwen selalu berbelanja di Indonesian market, ia suka menyetok mi instan dan banyak lagi hanya untuk mengisi perutnya yang sering merasa lapar.

Setelah cukup bersantai, Gwen masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Memilih dress yang sudah ia beli dipadukan dengan clutch hitam dan stiletto senada. Rambutnya ia biarkan tergerai tanpa aksesoris apapun, memulas make up tipis dan ia sudah siap berangkat.

Ponselnya berdering, segera saja ia melihatnya dan menemukan nama Max yang memanggilnya dalam panggilan video. Gwen menerimanya tanpa ragu, dan langsung terpampanglah wajah Max dengan ekspresi datar.

“Apa kau baru saja pulang kerja?” Gwen berinisiatif untuk membuka pembicaraan, wanita itu bahkan kembali memulas lipstiknya merasa kurang tebal.

“Apa tidak ada pakaian lain?” Pertanyaan yang Max ajukan sama sekali tidak tersambung dengan apa yang Gwen tanyakan sebelumnya.

“Pertanyaan jangan dijawab dengan pertanyaan.” Gwen menjawabnya dengan acuh, wanita muda itu malah sibuk menyisir rambutnya.

Terdengar helaan nafas disana sebelum Max menjawab pertanyaannya. “Aku baru kembali dari rapat. Setelah ini harus kembali kekantor dan mengecek sesuatu sebelum pulang.”

Gwen mengangguk mengerti, “baiklah. Jangan lupa makan. Mungkin aku akan pulang agak malam.”

“Aku akan menjemputmu kalau begitu.”

“Lihat saja jika berani.” Bunyi bel apartemen terdengar, sepertinya Cherry sudah datang menjemputnya.

“Sudah ya, temanku sudah menjemput. Bye..” Tanpa mendengar balasan Max lebih dulu, Gwen sudah mematikan sambungan telfon. Menuju ke pintu apartemen dan langsung pergi setelah benar Cherry yang menjemputnya.

“Kau benar-benar terlihat cantik dengan dress ini juga sexy.” Gwen berdecak pelan, ia tidak terlalu percaya dengan pujian Cherry. Wanita itu bahkan terlihat lebih wahh darinya.

“Dimobil sudah ada Rebecca dan Mandy. Mereka terlihat sangat bersemangat.”

Sesampainya mereka disana, Cafe yang di sewa khusus oleh William itu sudah dipenuhi orang-orang yang diundang. Cherry, Gwen, Rebecca dan Mandy langsung mengucapkan selamat ulang tahun pada William yang terlihat begitu bahagia. Tidak memperdulikan tatapan Alexa padanya, Gwen mengajak teman-temannya untuk memilih meja yang nyaman. Mereka menikmati hidangan yang ada ditemani oleh band yang menampilkan musik secara live.

Sampai Alexa mengambil alih acara dan menjadi pusat perhatian seluruh orang yang diundang disana. Ya seperti kekasih yang sewajarnya, wanita itu mengucapkan hal-hal romantis untuk ulangtahun kekasihnya begitupun surprise dan acara tiup lilin dan potong kue. Disini Alexa tampil sebagai kekasih idaman.

Gwen sangat sadar bahwa Alexa sedari awal menatapinya tidak suka, sedangkan Gwen sendiri tidak pernah berbuat salah ataupun menyinggung wanita itu sehingga wanita itu bisa bersikap seperti itu padanya.

Hal tak terduga lain datang yaitu saat teman-teman selebritis Alexa datang beramai-ramai dan membuat suasana disana menjadi heboh. Gwen bahkan dapat melihat langsung beberapa mantan kekasih Max disana terutama Alli Martinez, secara refleks ia membandingkan dirinya dengan mereka dan hal itu berhasil membuatnya berdecak kesal.

Mungkin jika ada Max disini pria itu pasti akan bisa menjalin hubungan lagi dengan para mantan kekasihnya lalu mengacuhkan Gwen, dan jika itu terjadi mungkin bisa disebut sebagai ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?

Tapi kembali lagi itu hanya jika, hanya dalam bayangan Gwen. Lagipula tidak mungkin Max kemari karena pria itu sibuk. Ia sedikit melamun sampai Cherry menyikut lengannya dan mengatakan ponselnya berdering sedari tadi. Gwen melihat nama Max di id call-nya yang segera saja ia angkat.

“Halo.”

“Keluarlah, aku ada didepan.” Gwen cukup kaget mendengar apa yang dikatakan Max, untuk apa pria itu menjemputnya.

“Ini sudah malam dan kau belum pulang. Cepatlah.”

Menghela nafas Gwen mengangguk pelan, “sebentar aku akan pamit dengan teman-temanku.” Sambungan mereka terputus.

Gwen pamit dengan teman-temannya diikuti Rebecca yang katanya sudah dijemput suaminya. Sesampainya di luar Cafe ia segera masuk kedalam mobil yang ia yakini milik Max tanpa tahu bahwa ada seseorang yang terus memperhatikannya.

Gwen melipat kedua tangannya didada, menatap Max kesal. “Sudah ku katakan jangan menjemputku. Bagaimana jika ada yang tahu?”

“Aku tidak masuk kedalam dan tetap dimobil.”

“Sama saja.”

Gwen berdecak pelan, ia berharap sekali tidak ada yang menyadari bahwa mobil mewah ini milik Max. Max sendiri hanya diam tidak membalas lagi perkataan Gwen, melajukan mobilnya ke apartemen wanita itu tempat yang mereka setujui sebagai tempat tinggal mereka. Lebih tepatnya Max yang memaksa tinggal disana.

“Aku tidak akan siap wajahku berada di halaman utama majalah gosip.”