Gwen Milikku Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Little Girl

Tasya menatap sahabatnya itu tak percaya. “Sumpah kita bakal masuk kesini?” Tanyanya.

Gwen tersenyum lebar dan mengangguk. “Iya buru masuk.”

“Gwen ini kelas elit banget. Anak sekolahan macam kita mana ada uang buat bayarnya.” Desis Tasya menahan tangan temannya itu.

“Udah lo tenang aja. Lagian gue gak mau mabuk sekarang dan lo juga gak boleh mabuk. Kita joget-joget aja nikmatin lagu di kelab kelas elit yang lo bilang ini.”

Sekali tarikan Tasya segera dibawa masuk oleh Gwen. Dan setelah mereka memperlihatkan tanda pengenal, mereka pun masuk kedalam.

Disini sebenarnya sama saja, berisik, sesak, ramai dan remang-remang. “Kita minum dulu kali Gwen. Biar gak seret pas goyang nanti.”

“Boleh deh. Yang ringan aja.” Ujar Gwen melihat sekelilingnya. Ia sudah biasa melihat semua ini, melihat orang-orang yang tidak malu melepas pakaian mereka demi mendapat kenikmatan.

“Nih minum.” Gwen dikagetkan oleh tepukan dibahunya.

“Ntar gue bayar.” Ujar Gwen langsung meneguk minumnya.

“Gak usah. Harganya gak semahal yang gue kira. Kita sering-sering ke sini ya, gue suka tempatnya.” Gwen mengangguk saja.

“Boleh deh. Langsung ke dance floor aja yuk, musiknya lagi enak ini.” Lagi-lagi Gwen menarik tangan Tasya.
Mereka bergoyang diantara orang-orang yang sama seperti mereka bergerak menikmati musik.

“Darren. Gue bakal bisa lupain lo.” Ujar Tasya berhasil membuat Gwen tertawa. Sepertinya sahabatnya itu butuh waktu untuk melupakan laki-laki brengsek itu.

“Nanti gue telfon lo ya, kayaknya gue mau minum aja. Jangan hilang.” Gwen mengiyakan saja ucapan temannya.

“Jangan sampe mabuk. Nanti gue hubungi lo kalo udah kelar.”

“Oke.”

Gwen kembali hanyut dalam alunan musik. Ia cinta sekali pada musik, membuat hatinya merasa senang. Gwen terus saja menari bergoyang sesuka hatinya tak memperdulikan mata-mata pria yang sedari tadi menatapnya. Sudah biasa bagi Gwen menjadi pusat perhatian, dan ia sangat menikmati itu.

Tetapi kali ini Gwen merasa sedikit risih, ia pun menolehkan wajahnya kesebelah kanan dimana itu adalah tempat sofa-sofa berada. Tatapan pria itu mengintimidasi dirinya, sialnya Gwen merasa tidak nyaman.

Seluruh laki-laki yang pernah dibuai olehnya tidak pernah menatapnya seperti itu, mereka biasanya memberikan kerlingan nakal bukan tatapan mengintimidasi. Tapi sepertinya kali ini akan menarik.

Gwen menatap pria itu dengan tatapan menggodanya, digigitnya bibir itu dan bergerak secara liar. Gwen tidak perduli pria itu sudah dikerubungi oleh tiga wanita sekalipun.

Ia hanya ingin mencoba-coba. Namun sepertinya gagal, karena pria itu masih tetap dalam posisi duduknya tanpa mengalihkan tatapan darinya. Gwen pun acuh dan kembali menikmati lagu, mungkin pria itu tidak suka daun muda seperti dirinya.

Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Gwen tahu itu pria karena sudah terasa dari tubuhnya yang lebih besar darinya, ia juga yakin pria ini pria kaya karena wangi dari tubuhnya menggunakan parfum mahal yang biasa dipakai sepupunya.

Melirik dengan ujung matanya, Gwen dapat melihat wajah tampan itu. Bukannya sok jual mahal, tetapi Gwen hanya akan melakukan hal biasa yang dilakukannya dengan pria tampan saja. Senyum miring terulas dibibirnya, pancingannya termakan.

Pria ini adalah pria yang tadi ia coba goda. Sengaja Gwen kembali menggoyangkan tubuhnya menggoda pria yang ada dibelakangnya. Dari bokongnya Gwen tahu junior pria itu sudah bangun, tetapi dengan sengaja pula ia menggesekkan bokong seksinya ke selangkangan pria itu.

“Gadis nakal.” Geraman terdengar ditelinga Gwen. Suara serak dan berat itu hampir membuatnya gemetar.

Pelukan pria itu mengerat dan sengaja semakin menempelkan dirinya ke tubuh Gwen. Satu tangan pria itu meraba perutnya dan yang satu ke arah paha mulusnya. Bibir pria itu pun tak tinggal diam, terus mencecapi leher serta telinga Gwen.

Sesekali digigitnya bahu dan punggung Gwen. Kembali Gwen menggoda pria itu dengan menekan dan menggoyang memutar bokongnya.

“Siapa namamu?” Tanya pria itu dengan nafas memburu. Gwen menatap manik kelam itu dengan menoleh ke samping kanan dimana wajah pria itu berada.

“Gwen.” Lirih Gwen ketika mata itu seakan menyalaminya.

“Just Gwen?” Gwen mengangguk dan melirik bibir pemuda itu. Tanpa banyak bicara Gwen langsung menyerang bibir indah tersebut.

Serangannya dibalas dengan brutal pula, panas dan menggelora. Tangan pria itu tak lagi diperutnya kini sudah masuk kedalam baju X striped halter top berwarna peach miliknya meremas payudaranya yang tanpa bra.

“No bra? Apa kau berniat menggodaku?” Dengusnya melepas ciuman mereka sebentar. Gwen pun berbalik menghadapinya.

“Untuk apa dipakai jika nanti dilepas?” Pertanyaan itu kembali memancing nafsu menggebu pria itu yang langsung menciumnya lagi tanpa ampun. Gwen sudah biasa menghadapi pria yang tidak sabaran macam ini, jadi ia dengan sigap mengimbangi. Sedikit melenguh karena tangan terampil pria itu dalam menyentuh payudaranya.

“Kita butuh kamar sekarang.” Tak perlu mendengar pendapat Gwen pria itu sudah membawanya keluar dari kelab dan langsung menaiki mobil mewah.

“Ke mana kita?” Tanya Gwen setelah terduduk nyaman disebelah pria itu.

“Apartemen ku.” Jawab pria itu tampak serius menatapi jalan. Tapi Gwen dapat melihat mata pria itu sesekali melirik pahanya seperti pria yang biasanya. Segera Gwen membawa salah satu tangan pria yang memegang stir kearah pahanya.

“Jika ingin menyentuhnya sentuh saja tidak perlu meliriknya terus menerus.” Ujar Gwen. Lagi pula saat ini ia memakai celana walau itu hotpants jadi ia merasa sedikit aman.

“Berapa usiamu?”

“18 tahun.” Jawab Gwen santai melihat keadaan diluar mobil.

“Masih sekolah?” Gwen mengangguk mantap. Diliriknya pria itu seperti tak percaya.

“Kamu jangan khawatir. Aku sudah ahli dalam hal ini jika yang kamu khawatirkan aku adalah seorang amatir.” Melihat kesempatan lampu merah, Gwen langsung mencium pria itu.

Sudah cukup lama hingga lampu kembali hijau.

“Aku tidak pernah mencobanya bersama anak sekolah.” Ujar pria itu jujur. Gwen mendudukan diri dipangkuan pria itu dan mencoba menggodanya lagi. Beruntung tubuh Gwen kecil jadi ia tidak menghalangi penglihatan pria itu dalam mengemudi.

Kecupan, hisapan dan jilatan Gwen di leher serta bawah telinga pria itu sangat berpengaruh, belum lagi payudara no bra yang ia gesekkan didada bidang pria itu dibalik kemejanya. Tak kalah bokongnya bergerak maju mundur. Membuat pria itu kembali menggeram menahan diri.

“Kalau begitu. Biarkan anak sekolah ini memberi pelayanan.” Bisik Gwen yang setelahnya menjilat dan mengulum telinga pria itu.

“Sialan!”

Bersambung