Gwen Milikku Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Worries

Gwen merasakan nyeri pada lengan dalam bagian atasnya tempat dimana ia menanam implan, beberapa hari kemarin bagian itu juga sempat lebam. Gwen bahkan konsultasi lagi ke dokter untuk bertanya tentang apa yang ia alami, katanya hal itu normal terjadi bahkan efek dari pemasangan implannya ini cukup banyak seperti gangguan menstruasi yang tidak teratur, kemungkinan perubahan berat badan, nyeri kepala, perubahan mood yang tiba-tiba, nyeri pada payudara serta mual dan nyeri perut.

Sepulang dari kerjanya Gwen langsung kembali ke apartemen, rencananya ia akan memasak mi sambil menonton film. Sayangnya yang terjadi selepas ia mandi adalah Gwen merasakan mual yang membuat dirinya tidak nafsu untuk memakan apapun sehingga ia memilih untuk tidur saja.

Sebuah tangan dingin tersampir dikenangnya, meskipun Gwen tertidur tetapi ia tidur terlalu lelap.

“Apa kau sudah makan?”

Suara berat yang Gwen kenali sebagai Max menyapa telinganya. Gelengan pelan dan gumaman menjadi balasan Gwen, ia tidak punya tenaga untuk membalas Max.

“Apa yang kau mau hmm? Aku akan membelikannya untukmu.”

Tetapi Gwen tidak menjawab kali ini malah memilih untuk kembali masuk kedalam selimutnya.

“Apa kau merasa tidak nyaman sekarang? Perlu kupanggilkan dokter.”

“Tidak.”

Suara serak milik Gwen berhasil membuat Max menghela nafas. Ia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya dan langsung menuju kemari, mendapati Gwen tidak ada dimanapun sampai ia mengecek kamar. Gwen tertidur dan terkubur selimut, melihat keringat yang muncul di pelipis wanita muda itu membuat Max berpikir Gwen sedang sakit.

Max memilih untuk menelfon anak buahnya agar koki di mansion miliknya segera memasakkan makanan untuk Gwen yang sedang sakit dan langsung dikirim kemari tidak lupa ia juga minta dibelikan alat penurunan demam instan.

Selepas itu Max melepas jas yang dipakainya juga dasi hingga menyisakan kemeja mahal yang membalut tubuh atletisnya, menggulung lengan panjang itu sampai siku agar bisa bergerak bebas. Duduk disisi Gwen, mengusapi kepala wanita muda itu pelan berharap Gwen mendapatkan tidur yang nyaman.

Tak sampai satu jam menunggu anak buah Max datang membawa apa yang diminta Max, pria itu membangunkan Gwen untuk makan sedikit mengisi perutnya meskipun harus diawali penolakan. Max menyuapi Gwen dengan penuh perhatian, lalu menempelkan kompresan instan di kening Gwen seusai makan dan menyuruh wanita tercintanya itu untuk kembali istirahat.

Beruntung besok hari libur jadi Gwen tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaannya. Max memeluk Gwen dalam tidurnya menghabiskan waktu malam itu, berharap wanita muda dalam pelukannya lekas sembuh.

Keesokan paginya Gwen bangun dengan keadaan lebih baik dari semalam, nyatanya efek dari pemasangan implan bisa membuatnya lemas sedemikian rupa. Tangan Gwen tersampir pada keningnya dimana ada sesuatu yang menempel disana, setelah mengambilnya Gwen tahu bahwa itu adalah alat penurun panas instan. Tatapannya jatuh pada Max yang masih memeluknya tanpa terganggu dengan pergerakannya sedikit pun. Sepertinya pria itu kelelahan juga.

Gwen tidak tahu Max datang jam berapa karena ia tidak melihat jam ataupun keadaan sekitarnya, ia benar-benar hanya butuh tidur semalam. Dengan perlahan Gwen melepaskan belitan Max padanya lalu pergi menuju kamar mandi untuk menggosok gigi sebelum menuju ke dapur menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Dan Gwen memutuskan untuk membuat Quiche berbahan dasar telur dan keju, juga tambahan jamur dan bayam.

Mendengar suara langkah kaki Gwen menaikkan wajahnya dari sarapan pagi yang ia buat, disana Max keluar dari kamarnya dengan keadaan khas orang bangun tidur.

“Kau sudah bangun?”

“Apa kau sudah merasa baikan?” Max mendekati Gwen dan memeluk wanita muda itu erat.

“Jangan sakit lagi.” Gwen cukup terenyuh mendengar ucapan yang yg terdengar mengkhawatirkan dirinya itu. Ia membalas pelukan Max sama eratnya, sekarang mereka sepasang kekasih ingat?

“Aku sudah lebih baik, hanya kelelahan saja semalam. Ayo kita makan.” Gwen terlebih dulu mengurai pelukannya dengan Max, memotong Quiche buatannya untuk bagian Max.

“Aku harap ini enak.”

“Kau sudah berusaha membuatnya, itu sudah cukup bagiku.” Max menuangkan segelas air untuk diminumnya sebelum mengambil suapan dari makanan hasil buatan Gwen.

“Ini enak.”

Pujian itu setidaknya membuat perasaan Gwen senang, jika diingat-ingat lagi sepertinya ini pertama kali bagi Gwen memasak untuk Max. Gwen memakan makanannya dalam diam, sedangkan Max tak henti terus saja menatapnya.

“Ayo kita berkencan hari ini.” Ajakan itu sontak membuat Gwen menatap balik Max.

“Kencan?” Max menganggukkan kepalanya, meskipun ini terdengar aneh karena Max untuk pertama kalinya mengajak wanita berkencan dalam artian sebenarnya.

“Apa ada tempat yang ingin kau tuju?”

Gwen tampak berpikir, selama ia tinggal disini ia tidak pernah pergi ke tempat-tempat wisata selain yang ada dilingkungan kota dan gedung-gedung besar. Tapi ia jujur tidak tahu harus kemana.

“Aku tahu suatu tempat yang mungkin kau sukai.”

“Itu terdengar bagus, kenapa harus bertanya padaku jika kau sudah tahu akan pergi kemana?” Max menggedikkan bahunya pelan.

“Aku hanya bertanya, mungkin kau punya suatu tempat untuk dikunjungi.”

“Tidak ada, mandilah lebih dulu. Aku akan mencuci piring ini.”

Gwen mengambil semua alat makan yang sudah dipakai lalu mencucinya, tetapi Max tidak sekalipun beranjak mengikuti ucapan Gwen. Pria itu malah ikut membantu Gwen mencuci peralatan makan.

“Ini sedikit, tidak perlu dibantu.”

“Aku ingin kita mandi bersama agar lebih cepat.”

Gwen mengerutkan keningnya bingung. Sepertinya mandi bersama hanya akan memperlambat bukannya mempercepat, tetapi Gwen sama sekali tidak memprotes Max.
Dan benar saja seusai mencuci piring, bukannya cepat-cepat mandi Max malah menggodanya.

“Ini kenapa?” Menyentuh lengan dalamnya yang masih terlihat lebam sedikit, tempat dimana ia menanam implan.

“Ahh itu.. Sebenarnya kemarin aku mengalami sedikit kecelakaan. Kulitku terjepit dan sampai menjadi seperti ini, mungkin ini juga yang menyebabkan aku sakit.” Gwen menelan ludahnya, ia berbohong dengan sangat lancar, bahkan untuk mengatakan hal itu Gwen sudah belajar dari jauh-jauh hari.

“Sebaiknya kita periksakan ke dokter, bisa saja terjadi infeksi.” Max terlihat sangat khawatir padanya.

“Sebenarnya aku sudah berkunjung ke dokter dua kali, katanya lebam ini tidak akan bertahan lama. Jadi tidak usah khawatir hmmm.”

Max menghela nafasnya dan mengangguk, rencananya ingin bercinta dengan Gwen hilang sudah karena melihat ada lebam seperti itu wanita muda ini. Max tidak ingin Gwen semakin merasa sakit. Akhirnya mereka benar-benar mandi cepat dan bersiap menuju tempat yang dimaksud oleh Max.

Didepan apartemen sudah ada sebuah mobil juga beberapa bodyguard, Gwen mendengus pelan melihat seberapa berkuasanya pria itu.

“Semuanya sudah ada di mobil Tuan.” Max mengangguk puas dan mengajak Gwen untuk segera masuk kedalam mobil.