Gwen Milikku Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat
Deterrent

Sudah terhitung satu minggu sejak Gwen menerima ajakan Max untuk berkencan, dan hari itu pula saat terakhir mereka bertemu karena tiba-tiba saja Max mendapatkan telfon bahwasanya ada masalah serius pada perusahaan cabang yang ada di Eropa.

Kesempatan ini tentu saja Gwen gunakan untuk memasang implan, ia tidak ingin kebobolan meskipun sudah memiliki status sebagai kekasih Max. Gwen tidak mau membuat masa depannya hancur lagi dan kembali membuat keluarganya murka.

Hari-hari Gwen tampak seperti biasanya tidak ada yang spesial kecuali Max yang terus menghubungi dirinya dan beberapa malam ini mereka melakukan panggilan video. Bersama Max, Gwen tidak akan mengharapkan lebih. Bahkan untuk membayangkan mereka menikah saja tidak ada, karena bagi Gwen yang ia jalani sekarang adalah mengikuti alur yang diciptakan oleh Max.

Pria itu masih ingin bersamanya dan sampai pria itu bosan, barulah Gwen bisa pergi. Lagipula di hubungan ini mereka saling menguntungkan, mereka bisa mendapatkan kenikmatan itu tanpa perlu lagi mencari orang yang tepat untuk melakukannya. Disisi lain Gwen juga tidak yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain, selama ini hanya baru Max yang melakukannya.

Untuk masalah perasaan, Gwen adalah tipe orang yang mengandalkan logika bukan perasaan. Sebodoh-bodohnya ia tidak terlalu bodoh seperti Tasya yang budak cinta, bisa dibilang Gwen tidak pernah benar-benar jatuh cinta. Gwen juga bukan tipe wanita gampang cemburu, ia bisa cemburu tapi untuk sesuatu yang memang perlu dicemburui saja.

Seperti sekarang ketika Cherry dengan menggebu-gebu bergosip tentang mantan-mantan kekasih Max setelah melihat berita infotainment terbaru tentang Alli Martinez yang diketahui semua orang menjadi mantan kekasih Max.

Cherry bilang Alli Martinez mendapatkan pekerjaan sebagai brand ambassador perusahaan mobil di Barcelona yang mempunyai cabang disini, sehingga wanita yang berprofesi sebagai model itu terbang ke negara ini untuk pertama kalinya setelah hubungannya dikabarkan putus dengan Max.

Ada berita juga yang mengabarkan bahwa Alli Martinez datang ke pesta pertunangan kakak laki-laki Alexa Smith sehingga menimbulkan banyak rumor setelahnya. Gwen mendengarkan semua yang Cherry katakan dengan baik, ia tidak akan menutup mata untuk segala sesuatu tentang pria yang baru-baru ini menjadi kekasihnya.

Dan Gwen akui Alli Martinez ini memang cantik wajar saja karena profesinya adalah model, jauh lebih tinggi darinya dan berasal dari keluarga konglomerat. Dari semua mantan kekasih Max yang paling Gwen sesali adalah tinggi tubuhnya, ia tidak terlalu tinggi juga wajahnya terlihat sangat muda dari usianya. Sangat tidak bisa dibandingkan dengan para mantan kekasih Max yang terlihat dewasa dan sempurna dimata public.

“Gwen apa kau punya kekasih?”

Pertanyaan itu sontak saja berhasil membuat Gwen mengehentikan gerakan garpunya dari menggulung pasta. Rebecca tiba-tiba bertanya seperti itu padanya, setelah pembicaraan mereka beralih fokus menjadi pria-pria hebat di ranjang.

“Ya bisa dibilang begitu, kami akhirnya kembali bertemu setelah beberapa tahun.” Ungkap Gwen memberitahu keadaan sebenarnya.

“Astaga, pasti kalian sangat saling mencintai sampai tidak ingin terpisah lagi.” Cherry terlihat begitu berbinar sedangkan Gwen hanya berdehem pelan.

Saat ini mereka sedang menikmati makan siang bersama, Rebecca dan Mandy yang jarang bergabung hari ini tak tahu mengapa pergi ke cafetaria bersama Gwen dan Cherry. Nyatanya mereka tidak sekaku yang terlihat sebelumnya, hanya mungkin Gwen belum mengenalnya saja.

“Aku juga dengan suamiku sebelum menikah juga begitu, karena dia terus tebang ke satu negara dan negara lain membuatku berpikir aku tidak akan bisa bertahan dengan pekerjaannya sebagai seorang pilot yang jarang pulang.”

“Tetapi nyatanya kalian menikah dan kekuatan cinta memang sehebat itu.”

Sambung Mandy memotong ucapan Rebecca yang mengangguk setuju. Rebecca baru saja menikah setengah tahun yang lalu, sedangkan Mandy dan Cherry mereka masing-masing sudah punya kekasih. Berbeda dengan Cherry yang sudah berpacaran sejak kuliah, Mandy tipe orang yang selalu berganti pasangan.

“Cherry aku tahu ini sensitif, tetapi apa kekasihmu yang sudah mengambilnya pertama kali? karena kalian berpacaran sejak masa kuliah.”

Cherry menggeleng pelan dan menyeruput jus alpukatnya sebelumnya menjawab.

“Tidak. Kesucianku pertama kali diambil oleh kekasih pertamaku, sayangnya dia mengalami kecelakaan dan tidak bisa diselamatkan.”

“Astaga, maafkan aku Cherry. Aku turut berduka mengetahuinya.”

“Tidak masalah, lagipula itu sudah lama sekali. Saat aku masih berada di junior high school, dia adalah teman bimbel-ku. Dia sudah tenang disana sekarang. Lalu bagaimana dengan kalian? Siapa yang mengambilnya pertama kali?”

“Kakak iparku?” Mereka semua cukup terkejut saat mendengar hal itu dari mulut Mandy.

“Aku sudah benar-benar mengakhiri itu semua oke? Jadi jangan pandangi aku dengan berlebihan.”

“Pasti itu sangat menegangkan karena rentan sekali untuk diketahui orang. Kau benar-benar berani.” Mandy menggedikkan bahunya pelan.

“Itu yang disebut masa-masa pembodohan, entahlah aku malas membahasnya.”

“Kalau aku dengan orang asing, saat aku pergi traveling di negara sepupuku. Jujur saja itu pengalaman yang tidak bisa dilupakan.”

“Setelah itu aku yakin kalian akan sangat awkward.” Mereka terkekeh menyetujui celetukan Cherry menyusul ucapan Rebecca,

“apalagi jika itu tidak dengan keadaan mabuk.”

“Aku juga sadar saat melakukannya pertama kali.” Semua mata kini tertuju pada Gwen, mereka ingin tahu.

“Aku memang suka pergi ke club dan minum-minum selama sekolah, tapi tidak pernah melakukan having sex dengan kekasihku.”

“Tak tahu mengapa aku tertarik pada orang asing itu, lalu bercinta. Aku pergi meninggalkannya setelah esok paginya dan kami tidak pernah lagi bertemu dalam waktu yang lama.”

“Lalu kalian bertemu lagi dan menjadi sepasang kekasih?” Tanya Mandy takjub.

Gwen menggedikkan bahunya pelan, “ya begitulah.”

“Takdir begitu luar biasa hingga mempertemukan kalian kembali hingga bisa menjadi sepasang kekasih seperti sekarang. Apa karena kau kemari dan dia tinggal disini?” Cherry benar-benar penasaran.1

“Iya dia tinggal disini dan lahir disini.” Cherry menepuk tangannya, ini sungguh luar biasa. Ia pikir hal-hal seperti ini hanya terjadi di film-film, ternyata dunia memang sekecil itu.

“Dari cerita mu itu aku berharap sekali aku tidak akan dipertemukan oleh pria asing itu. Aku sudah sangat bahagia dengan suamiku sekarang, bahkan kami akan mempunyai anak.” Gumam Rebecca yang dapat didengar yang lain.

“Kau sedang hamil Rebecca? Benarkah?” Rebecca mengangguk pelan seraya menyelipkan rambutnya ke telinga, ia terlihat malu juga begitu bahagia membuat wanita manapun iri.

“Ya ampun, selamat sista…”

“Semoga kau selalu sehat begitupun dengan baby-nya.”

“Ini adalah keponakan keempat kita setelah anak Mr. Liam dan Hanry.”

“Terimakasih semuanya.” Gwen tersenyum tulus, otaknya berpikir mungkinkah jika ia hamil ekspresi diwajahnya akan sama seperti Rebecca meskipun itu hanya kemungkinan kecil?

Bersambung