Gwen Milikku Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat
Be My Honey

Max mendengus sebal, entah bagaimana bisa di pesta yang baru saja ia tinggalkan itu ada saja hal yang tak diinginkan. Sembilan puluh lima persen wanita yang pernah menjadi kekasih Max berkumpul disana. Entah bagaimana bisa mereka saling mengenal yang pasti Max sangat mencurigai Alexa Smith. Mungkinkah wanita itu menjadi stalker dirinya selama ini?

Bahkan untuk Alli Martinez yang tinggal di Barcelona saja sampai hadir dan terlihat begitu akrab dengan wanita itu. Belum lagi ibunya yang terlihat begitu senang memperkenalkannya kesana-kemari. Bahkan tidak malu mengatakan bahwa Max sedang mencari pasangan, membuat Max semakin tidak habis pikir.

Selama Max memiliki kekasih, ia selalu memberi batasan untuk tidak terlalu dekat padanya. Dalam artian saling mengenal lebih jauh meskipun saling punya perasaan. Max hanya tertarik lalu menerima pernyataan perasaan mereka dan mereka berkencan. Hanya dinner dan berhubungan seksual termasuk memberi mereka kartu kredit.

Tidak ada menonton film, pergi menghabiskan waktu malam minggu, berlibur atau hal-hal lain yang biasa pasangan kekasih lakukan karena ia terlalu sibuk pada pelajaran juga pekerjaannya. Hal itu sudah terjadi sejak Max berpacaran dengan kekasih pertamanya, Selena yang sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun silam hingga Alli Martinez kekasihnya terakhir kali.

Bagi Max masa lalu adalah masa lalu, tidak ada kesempatan lagi untuk terulang kecuali itu tentang Gwen. Gwen adalah masa lalu indahnya sejak tiga tahun lalu dan Max masih terus ingin mengulang kebersamaan mereka selama-lamanya, Gwen juga adalah masa depannya.

“Antarkan aku ke apartemen Gwen.”

Edward dengan patuh mengikuti keinginan bosnya.

“Setelah itu pulanglah.”

Sesampainya Max disana segera saja pria itu menaiki lift dan masuk kedalam apartemen Gwen dengan kartu akses masuk yang dimilikinya. Max membuka semua pakaiannya menyisakan boxer, lalu pergi ke tempat tidur dimana Gwen sudah tertidur semenjak ia datang.

Otaknya tidak lagi memikirkan tentang pesta dikediaman keluarga Smith tapi jatuh pada pembicaraannya dengan Alex Noerdin tadi siang tentang keluarga Adam. Mungkinkah Gwen sudah ditentukan oleh Keluarganya akan menikah dengan siapa? Tidak adakah kesempatan bagi Max untuk bersama dengan Gwen seperti kemauannya?

Akan terdengar konyol tapi benar-benar miris jika mereka tidak bisa bersama hanya karena sebuah perjodohan dari keluarga yang menjunjung tinggi martabat mereka. Di otak Max belum menemukan cara tepat agar bagaimana ia bisa mendekati keluarga itu.

Ingin tiba-tiba menjatuhkannya lalu mengancamnya adalah jalan yang salah, mereka tidak akan sudi menerima Max sebagai menantu keluarga jika itu yang Max lakukan. Sedangkan jika Max melakukan kerjasama bisnis, Max tidak yakin para ayah di keluarga Adam itu akan menyodorkan anaknya pada kolega bisnisnya.

Tetapi menjalin kerjasama bisa jadi langkah awal bagi Max untuk mengenal keluarga Adam, mungkin nanti ia akan bicarakan ini dengan Wakil Direkturnya. Dan sekarang Max harus beristirahat dan menikmati waktunya bersama wanita yang dicintainya sekarang.

Ohh jangan lupakan misi Max yang ingin membuat Gwen hamil, mungkin itu salahsatunya cara agar keluarga Adam cepat menikahkan mereka. Max melirik Gwen yang tidur membelakangi tubuhnya, lalu tangannya menarik pelan tubuh Gwen agar terlentang dibawah kuasanya.

Malam ini Gwen hanya memakai tank top putih tanpa bra dan celana pendek yang tipis, entah mengapa apapun yang dipakai oleh Gwen dimata Max tetap saja cantik dan seksi. Max mengecupi wajah Gwen, leher dan juga telinganya sedangkan tangannya masuk dan bergerak aktif menggerayangi tubuh bagian atas Gwen.

Meloloskan atasan itu tanpa kesulitan sama sekali, membuat Max semakin menguasai Gwen. Ia menyesap dan mengigit payudara Gwen gemas hingga meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya, sedang tangannya merayap kebawah untuk semakin menggoda Gwen. Max melepas celana Gwen hingga benar-benar polos lalu memasukkan satu jarinya disana, bergerak keluar masuk tanpa sekalipun mulutnya berhenti menjilati Gwen dimana-mana. Desahan terdengar oleh Max tetapi mata Gwen masih saja terpejam, tanpa permisi Max memasukkan miliknya untuk bersatu dengan Gwen.

Miliknya yang besar secara perlahan masuk kedalam milik Gwen yang kecil dan bersih tanpa rambut. Setelah dirasa masuk seluruhnya, barulah Max menggerakkan pinggulnya maju mundur seraya kembali menggoda payudara Gwen. Bergerak dengan tempo yang cukup liar hingga membuat Gwen terbangun dan menyadari perbuatannya.

“Ahh Max…”

Tidak ada yang bisa Gwen lakukan selain menikmati perbuatan Max padanya, ia mencengkram rambut pria itu dan memejamkan mata. Dalam tidurnya tadi Gwen sempat merasa aneh pada tubuhnya, awalnya seperti ada yang basah pada payudaranya lalu ada yang masuk ke dalam miliknya dan benar saja itu adalah Max.

Gwen tak tahu sejak kapan pria itu ada di apartemennya dan berinisiatif untuk menganggu tidur Gwen, menggantinya dengan kenikmatan menuju surga dunia. Gwen sampai pada pelepasannya lebih dulu kemudian barulah disusul oleh Max yang mengeluarkannya didalam Gwen, Gwen menghela nafas ia tadi siang sempat membeli pil pencegah kehamilan dan kemungkinan ia harus mengonsumsi itu lagi sebelum ia memakai implan sesuai dengan keinginannya selepas pergi konsultasi tadi.

Nafas mereka memburu selepas pelepasan itu, tetapi Max sama sekali tidak berniat untuk melepas penyatuan mereka. Max malah menatapnya semakin instens dan membuat tubuh mereka semakin menempel hingga yang dibawah sana pun semakin menyusup kedalam menyentuh titik g-spot Gwen sampai wanita muda itu refleks mendesah. Kening dan ujung hidung mereka saling bertemu, kedua tangan besar Max merangkum wajah kecil Gwen.

“Gwen jadilah kekasihku.”

Gwen terdiam, jelas ia tidak menyangka Max akan mengajaknya berkencan secepat ini dan dalam keadaan seperti ini. Baru ingin buka suara, pinggul Max naik lalu diturunkan lagi hingga sedalam sebelumnya membuat Gwen kembali mendesah.

“Aku tidak ingin menerima penolakan darimu,”

Max kembali berulah membuat Gwen tidak bisa bicara lagi selain mendesah dan kesal karena Max terlihat mempermainkan dirinya, melakukan sentakan dengan jeda waktu.

“Aku ingin menikahimu, tetapi aku tahu kau tidak akan mau.”

Kali ini Max bergerak lebih kuat dari sebelumnya, Gwen mencengkeram punggung Max karena ini benar-benar nikmat, sangat intens dan dalam.

“Ahh.. hah..”

“Jadi bagaimana? Jadi kekasih ku?”

Max berhenti bergerak membuat Gwen sangat frustasi. Wanita muda itu memutar balik keadaan hingga Max yang sekarang berada dibawahnya.
Tangan kecil itu menyentuh rahang tegas Max,

“hanya sebagai kekasihmu.”

Gwen memeluk leher Max dan mengecup sisi wajah pria itu seraya pinggulnya terus bergerak mencari kenikmatan, tidak peduli dengan dadanya yang berbenturan dengan dada bidang Max.

Max tersenyum puas, lalu bergerak dari bawah sebelum ia kembali mengambil alih. Membuat tubuh Gwen membelakanginya dan menyetubuhi kekasihnya dengan kuat dan kasar namun memberi efek yang luar biasa.