Gwen Milikku Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Complicated

Hari ini pengganti Leader Liam mulai bekerja, saat pertama kali melihatnya Gwen setuju jika Mr. William adalah pria yang tampan. Dari sikap dan gaya bicaranya Gwen juga tahu bahwa pria itu adalah orang yang sedikit mirip dengan kepribadian Leader Liam.

Meskipun ada leader tim baru tetapi mereka tetap bekerja seperti biasa bahkan mendapatkan tekanan baru. Mr. William sebelumnya sudah mengevaluasi tentang perkembangan tim ini, pria itu secara mantap mengatakan semua target yang harus dicapai dimasa yang akan datang.

Ponsel Gwen bergetar, ia melihat ada satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Segera saja ia membukanya dan mengetahui bahwa itu adalah Max, pria itu mengatakan basa-basi tak penting menurut Gwen juga ucapan semangat. Walaupun tidak terlalu berpengaruh tetapi setidaknya Gwen merasa ia lebih bersemangat lagi menyelesaikan pekerjaannya yang semakin menumpuk.

Sedangkan Max pria itu masih berada di apartemen Gwen dengan keadaan full naked dibawah selimut. Untuk kedua kalinya Gwen meninggalkan Max selepas percintaan luar biasa mereka, yang berbeda hanya saat itu Max tidak tahu Gwen pergi kemana dan kali ini Max tahu segalanya tentang Gwen juga wanita muda itu tidak bisa pergi darinya lagi.

Setelah mengirimkan pesan pada nomor Gwen yang lagi lagi ia dapatkan karena kekuasaannya, Max menghubungi asistennya untuk membawa pakaiannya juga memanggilkan jasa House Keeping untuk membersihkan apartemen milik Gwen.

Max memiliki jadwal yang sangat padat hari ini, tetapi karena Max bangun terlambat dan Max adalah bosnya tentu saja tidak akan ada yang bisa memarahi dirinya. Selesai Max berpakaian dan menghabiskan makan paginya, pria itu langsung menuju ke kantor cabang yang harus ia datangi hari itu.

Kedatangan Max mengundang perhatian siapapun, pria itu sangat tampan dan terlihat berkarisma ditambah dengan rombongan yang dibawanya membuat siapapun tahu bahwa Max adalah orang yang berkuasa. Para petinggi kantor itu segera menyambut Max dan menggiringnya menuju ruang rapat yang telah disiapkan. Mereka akan ada projek untuk mengeluarkan mobil model baru dipertengahan tahun depan.

Rapatnya berjalan lancar dan Max langsung menuju ke sebuah restoran tempat ia akan bertemu dengan kolega bisnisnya. Saat diperjalanan ponselnya berdering memunculkan nama ibunya disana, segera saja Max mengangkatnya.

“Hallo bu? Ada apa?”

“Max, nanti malam Mrs. Smith mengadakan pesta pertunangan putranya. Ingat janjimu Max, Ibu akan tunggu dirumah. Jangan lewat dari jam 6.” Sambungan terputus setelah ibunya Elleana berkata demikian.

Max menghela nafas, lalu melempar pandangannya pada Edward asistennya.

“Ed, kosongkan semua jadwal sebelum jam 6. Lalu antarkan aku kerumah keluarga ku.”

“Baik Sir.” Mengangguk puas pada Edward, Max kembali menjatuhkan pandangan pada ponselnya. Ia teringat Gwen, dan langsung mendial nomornya.

“Ya, ada apa?” Suara lesu itu menyapa telinga Max, memberikan ia sengatan semangat.

“Makanlah dulu, ini sudah masuk waktu istirahat. Jangan terlalu keras bekerja.” Hanya deheman yang Max dapatkan dari ucapannya.

“Setelah ini kau tidak akan merasa lelah lagi karena bekerja karena akan menjadi Nyonya Beauchamp.”

“Aku harus pergi ke Cafetaria. Sampai jumpa.”

Dan sambungan kembali terputus secara sepihak. Entah mengapa wanita-wanita itu suka sekali mematikan telfon. Gwen bahkan tidak memberinya perhatian balik seperti menyuruhnya untuk makan atau sebagainya, hal itu membuat Max cukup kesal karena perasaan Gwen yang sekeras batu. Max berjanji pada dirinya akan membuat Gwen membalas perasaan nya.

“Kita sudah sampai Sir.”

Edward sudah membukakan pintu untuknya, mengintrupsi Max dari pikirannya sendiri tentang Gwen. Siang itu ia akan bertemu dengan salah satu kolega bisnisnya dari Singapura, pembicaraan seputar dunia bisnis tentu menjadi topik utama.

Pria itu mengatakan akan mengadakan acara pernikahannya bulan depan, berharap Max dapat hadir. Max terus melobi pria yang hanya lebih tua beberapa tahun darinya, bertanya tentang perusahaan-perusahan yang sedang berkembang dan hebat-hebatnya saat ini.

Perusahaan Adam’s Power Group akhirnya ikut terseret, Alex yaitu teman makan siang Max mengatakan bahwa perusahaan itu tetap stabil sampai sekarang sejak mengawali karirnya. Alex terlihat cukup akrab dengan keluarga Adam lebih tepatnya dengan Hendery Adam putera sulung Hugo Adam.

Alex mengatakan bahwa Keluarga Adam masih memegang teguh pendirian serta adat istiadat keluarga yang sudah ada sejak dulu, Alex juga menimpali bahwa Keluarga Adam lebih condong pada perjodohan keluarga untuk menentukan pasangan anak cucunya. Membuat Max mengerutkan keningnya penuh protesan, membicarakan tentang Keluarga Adam otaknya tertuju pada Gwen seorang. Apa mungkin Gwen akan dijodohkan nantinya?

Alex mengatakan bahwa ia tertarik dengan seorang wanita dari keluarga Adam yang bernama Hana, tetapi Hendery mengatakan bahwa Hana sudah ditentukan akan berada dikeluarga apa untuk menikah. Membuat Alex berpikir bahwa setiap wanita dan pria dari keluarga Adam sedari kecil sudah dipikirkan masa depannya, memberi pengaruh yang cukup besar untuk Max.

Alex yang bisa dikatakan termasuk sepuluh orang paling kaya di Asia saja akhirnya tidak memiliki wanita yang disukainya dan menikah dengan wanita lain, apa mungkin hal ini akan berlaku juga pada Max dan Gwen? Selain itu jarak usia mereka juga menjadi hal dipikirkan oleh Max.

Selepas makan siang Max kembali menyelesaikan pekerjaannya sebelum memenuhi janjinya pada sang ibu. Tepat pukul 6 Max tiba dirumah keluarganya, sang ibu sudah cantik dan siap dengan gaun pestanya menunggu Max yang perlu mandi dan mengganti pakaiannya. Tidak terburu-buru tapi terkesan lebih cepat dari biasanya Max kembali pada ibunya dengan kondisi sudah bersih, rapi dan tampan. Mereka memilih untuk menaiki mobil milik Elleana sedangkan Edward mengikuti dibelakang dengan mobil milik Max.

“Oh ya Max, ibu pernah mendengar bahwa Alexa Smith adalah mantan kekasihmu. Apa itu benar?”

“Itu hanya kencan remaja pubertas.” Max mengatakannya sambil menggedikkan bahu, ia tidak mungkin menampik kenyataan. Bicara bohong bukanlah tipe pria seperti Max.

“Dia pembawa berita yang hebat, sangat profesional dan ramah. Apa tidak ada peluang kalian untuk menjalin hubungan kembali?”

“Aku sudah punya kekasih. Lagipula Alexa sudah bertunangan dengan kekasihnya.” Elleana berbinar mendengar perkataan putera sulungnya, bahkan wanita paruh baya itu refleks menggenggam tangan Max.

“Benarkah? Siapa namanya? Apa pekerjaannya? Tingg-”

” ibu tidak perlu tahu.”

Elleana berdecak pelan mendengar apa yang Max katakan, begitu menyebalkan.

“Bagaimana bisa ibumu tidak perlu tahu, wanita ini kan yang akan kau nikahi nanti? Atau jangan-jangan hanya dijadikan mainan oleh karena itu-”

“Aku akan menikahinya.”

Elleana mendengus kesal, ucapannya selalu saja dipotong oleh Max.

“Kalau begitu kenalkan kami maka ibu akan membantumu untuk bisa menikahinya.”

Max menghela nafas gusar seraya membuang pandangan ke jendela. “Entahlah ini terdengar rumit.”

Bersambung