Gwen Milikku Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat
Reminder

Gwen kembali ke apartemennya. Ia sangat lelah sekali sekarang jadi sesampainya disana ia langsung membersihkan diri dan berlanjut membenamkan diri di kasur. Usapan diwajahnya menganggu Gwen karena Gwen adalah tipe orang yang sensitif ketika tidur, tidak bisa diganggu bahkan berisik sekalipun. Tak tahu berapa lama ia tertidur, matanya begitu berat untuk diajak melihat.

“Tidurlah lagi jika masih mengantuk.”

Bisikan dengan suara yang sangat rendah itu berhasil membuat Gwen merinding.

Hatinya tersengat saat ia mengingat suara ini, suara pria itu pada saat mereka melakukan penyatuan dulu. Dengan paksa Gwen membuka matanya dan seseorang disampingnya ini berhasil kembali mengejutkan Gwen.

“Kau kenapa bisa ada disini?”

Pertanyaan Gwen sama sekali tidak dijawab karena pria itu bahkan dengan santainya menopang kepala dengan sebelah tangannya menatap Gwen dengan intens tanpa merubah posisi dari merebahkan diri.

“Bagaimana kau bisa masuk kemari?”

“Aku ingin bersama kekasihku, lalu dimana salahnya.”2

Kening Gwen merengut protes akan sebutan yang Max beri untuknya.

“Aku bukan kekasihmu dan cepat pergi dari sini.”

Gwen membenarkan jubah tidurnya yang tipis berharap kulit tubuhnya bisa tertutupi, masih menatap Max kesal.

“Sejak kita bertemu pertama kali dan bercinta, lalu kau meninggalkan aku pergi begitu saja selama bertahun-tahun. Kita adalah sepasang kekasih.”

Gwen memutar matanya malas, memilih untuk turun dari kasur agar bisa menjaga jarak dari Max.

“Aku tahu kau kaya dan bisa melakukan apapun, tetapi kau sama sekali tidak berhak untuk mengusik hidupku. Dan ingat ini baik-baik, kita bukan sepasang kekasih tetapi hanya mantan partner sex. Sekarang keluar dari apartemen ku.”

Max bangkit dari posisinya dan mendekati Gwen, membuat Gwen semakin was-was.

“Sudah bicara nya?”

Gwen semakin mengkerut saat mereka semakin dekat bahkan sangat dekat. Dan tak terhindarkan Gwen sudah berada didalam rengkuhan Max.

“Jadi benar kita tidak mempunyai anak.”

Tangan Gwen menahan dada Max agar mereka tidak terlalu menempel, “lepas.”

Gwen yakin sekali jika Max dalam keadaan sadar tidak mabuk. Gwen berharap Max pergi dari apartemennya meskipun terdengar mustahil disaat mereka sudah sangat intim seperti ini.

Hal tak terduga lainnya adalah Max mengecupi lehernya dan semakin merapatkan sedikit jarak diantara mereka.

“Aku sangat merindukanmu Gwen.”

“Ahh..”

Gwen kelolosan mendesah saat Max menjilati serta mengigit area bawah telinganya, otaknya terus menyuruh Gwen untuk segera lepas dari Max tetapi tubuhnya juga merindukan pria ini. Sial!

Sedangkan Max semakin gigih menggoda Gwen, ia tidak akan pernah melepaskan wanita muda ini. Selepas pekerjaannya selesai hari ini ia langsung pergi ke apartemen Gwen yang sudah ia ketahui serta ia dapatkan juga kartu akses masuknya.

Mendapati Gwen tertidur dengan nyenyak membuat Max tidak sampai hati untuk mengganggunya, nyatanya Gwen terbangun dan ini adalah part yang Max harapkan. Max menyerang bibir Gwen dan tak disangka serangannya dibalas, mereka memperdalam ciuman mereka dengan Gwen yang selalu bisa mengimbangi permainan Max.

Dan cardigan tipisnya berhasil diloloskan oleh Max, Max membawa Gwen mendekati ranjang dan mendudukan wanita muda itu dipangkuannya. Menikmati aroma yang sangat pria itu rindukan seraya terus memancing Gwen yang semakin tersulut, terlihat dari bagaimana Gwen dengan tidak sabaran membuka kemeja Max yang memang sedari awal tidak terpasang dengan benar.

Dengan kasar Max melepaskan bra yang dipakai oleh Gwen, menerkam dada sintal yang masih saja kebesaran ditangannya. Menyusu seperti bayi yang kelaparan, membuat Gwen menggelinjang tak karuan karena Max begitu pandai memainkan lidahnya. Karena begitu terbuai Gwen sampai tidak sadar ia sudah terkapar diatas ranjang dengan Max diatasnya dalam posisi celana dalam sudah tidak dipakainya lagi.

Perlahan Max mengecup kening Gwen, berlanjut turun ke hidung dan berlama-lama mengeksplorasi kembali mulut Gwen. Ke telinga lalu leher memberikan tanda-tanda kepemilikannya disana, terlihat begitu seduktif dan sangat berbahaya. Sedangkan Gwen sudah sangat pasrah dibawah kuasa Max, otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih apalagi saat lidah Max menggeliat di privasi Gwen. Untuk kedua kalinya ada orang lain yang melihat Gwen begitu terbuka dan itu dengan orang yang sama.

“Ahhmmm…”

Gwen mendesah kembali dan langsung mengigit bibirnya, menahan sebisa mungkin agar desahan itu keluar dari mulutnya. Tangan Max bekerja ekstra, satu tangan mengobrak-abrik masuk kedalam milik Gwen bersamaan dengan lidahnya dan tangan satunya lagi menyentuh dagu Gwen menarik pelan agar mulut itu terbuka. Gwen kembali mendesah refleks ia mengulum ibu jari tangan Max, tak pernah terpikir bahwa apa yang dilakukannya itu akan menambah gairah Max.

Tidak butuh waktu lama bagi Gwen untuk mendapatkan pelepasannya, Max sendiri langsung menanggalkan sisa pakaiannya dan menyatukan tubuh mereka. Baru saja merasa lega sekarang Gwen sudah menegang kembali, Max menyatukan tubuh mereka dengan pelan tetapi rasanya tetap saja aneh untuk Gwen.

“Kau masih saja sempit.”

Max menggenggam sesaat menyatukan dirinya dengan Gwen, miliknya terasa begitu terjepit dan rasanya masih sama seperti saat pertama kali mereka melakukannya.

Saat dirasa sudah masuk sepenuhnya Max mulai bergerak membuat ritmenya dan malam panjang itu menjadi saksi percintaan mereka setelah sekian lama tak berjumpa. Max begitu puas menggempur Gwen hingga pagi menjelang.

Bahkan pria itu sengaja tidak memakai pengaman sama sekali agar dari percintaan mereka kali ini akan membuahkan hasil. Gwen sendiri membuka matanya setelah baru tertidur satu jam, ia harus bekerja.

Dilihatnya Max yang memeluknya erat dari belakang, Gwen secara perlahan bangkit dan berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa menganggu Max. Semalam Gwen sangat sadar melakukannya dengan Max meskipun berawal dari pria itu yang menggodanya.

Tetapi Max tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena jika Gwen tidak tersulut gairah juga hal yang nikmat itu tidak akan terjadi. Gwen ingat dengan janjinya dan ia akan membeli pil pencegah kehamilan nanti saat diperjalanan menuju perusahaan, atau mungkin Gwen akan pergi konsultasi ke dokter agar bisa menghindari kehamilan dalam waktu lama.

Gwen sendiri tidak bisa mempercayai pemikiran bahwa Max akan segera pergi dari hidupnya. Pria itu akan terus menemui sampai pria itu bosan, dan untuk dirinya sendiri Gwen mungkin ia akan memberi kelonggaran untuk bersenang-senang. Karena tidak mungkin ia bisa menolak kenikmatan yang ditawarkan oleh Max.

Satu hal yang perlu Gwen pegang yaitu ia tidak boleh hamil dan membuat masalah baru dalam hidupnya. Membuat keluarganya kembali murka meskipun ia hamil anak dari pengusaha kaya di Amerika. Keluarganya bukan keluarga mata duitan yang menghormati seseorang hanya karena materi. Sekaya apapun dan sehebat apapun seseorang jika sudah melakukan hal buruk dimata keluarganya maka tetap saja buruk.

Bersambung