Gwen Milikku Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Shock

Gwen kembali ke rutinitasnya setelah Tasya pulang ke Seattle, sahabatnya itu menepati janjinya dengan membuatkan Gwen banyak stok camilan di apartemen. Kemarin mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama dengan berkualitas dan memuaskan. Mungkin lain kali Gwen akan berkunjung ke Seattle untuk bertemu dengan Tasya.

“Bagaimana?” Suara Cherry menghapus keheningan yang dalam ruang kerja team mereka tepat setelah kedatangan Mandy.

Mandy kembali duduk dikursinya bersamaan dengan mug yang wanita itu letakkan diatas meja kerjanya, wajah anggunnya terlihat menggedikkan bahu. Sedang Gwen tidak mengerti apa yang sedang terjadi disini.

“Lebih baik kita tunggu konfirmasi dari Leader langsung daripada terus menduga dan mencari gosip.” Cherry terlihat mencebikkan bibirnya, terlihat kecewa dan sedih bersamaan.

“Cherry sebenarnya ada apa?”

“Aku kemarin mendengar informasi bahwa Leader Liam akan dipindahkan ke team lain. Aku sungguh menyukai cara kerjanya, entah nanti Leader baru kita seperti apa tapi ku harap berita itu salah.”

Gwen yang baru tahu mengenai itu sedikit bingung, selama ia kerja disini Leader Liam adalah Leader terbaik yang Gwen tahu. Pekerjaannya bersih dan rapih, disiplin tapi dibuat nyaman, tapi mengapa pria itu harus pindah jika pekerjaan nya bagus?

“Mungkin kau bingung, akan aku jelaskan. Jadi seperti yang kita tahu Leader Liam sudah bekerja dengan baik disini dan ia menjadi leader team ini beberapa hari sebelum aku datang. Dan disini terbiasa untuk melakukan pertukaran Leader agar kinerja para akaryawan lebih baik.”

“Leader Liam kemungkinan akan di pindahan pada team yang dikira kinerjanya kurang dari tema yang lain karena pekerjaannya yang bagus.”

Gwen menganggukkan kepala paham, ia mengerti sekarang. Sistem seperti itu juga ia rasa cukup efektif untuk membangun semangat persaingan kinerja antar karyawan. Jadi karyawan disini selalu berlomba-lomba untuk mendapat posisi terbaik, berdedikasi pada pekerjaannya.

Pintu ruangan terbuka disana Leader Liam masuk dengan sebuah map coklat ditangannya, senyum menenangkan pria itu muncul entah memberi pertanda apa.

“Lima menit sebelum makan siang tolong luangkan waktu kalian, aku ingin berbicara.”

Lalu setelah itu pria berkacamata tersebut memasuki ruangannya sendiri, kembali membawa keheningan pada mereka yang matanya masih menatap pada pintu ruangan ketua tim yang ada didalam ruangan.

“Sepertinya memang kita akan kedatangan pengganti ketua tim.” Ujar Hanry yang langsung melanjutkan pekerjaannya.

Kembali mereka dalam keheningan dan fokus pada pekerjaan, sementara Gwen meski matanya menatap layar komputer tetapi pikirannya bercabang. Ia masih anak baru disini, masih butuh penyesuaian dan sekarang bertambah pula penyesuaiannya karena ketua tim baru. Gwen berharap ketua tim yang baru tidak cerewet dan menyebalkan.

Benar saja saat Leader Liam meminta waktu lima menitnya, pria yang sudah memiliki dua orang anak itu mengatakan bahwa ia akan dipindahkan pada team lain. Besok pria itu harus pindah dan ketua tim yang baru akan datang, pria itu berterimakasih pada mereka semua karena selama ini sudah bekerja keras dan memotivasi agar mereka selalu tetap semangat.

Gwen bahkan bisa melihat Cherry yang terus mengusap air matanya, wanita itu begitu sensitif. Sedangkan wanita lain diruangan ini yaitu Mandy dan Rebecca masih bisa mempertahankan raut mukanya.

“Kalian akan kedatangan Mr. William sebagai ketua tim yang baru. Kuharap apa yang sudah kalian lakukan, harus tetap dipertahankan baik itu semangat dalam bekerja dan kekompakan kalian.”

Waktu lima menit sangatlah singkat hingga waktu makan siang tiba, Cherry yang semula terharu biru sekarang begitu sumringah membuat Gwen tak paham mengapa wanita itu begitu cepat berganti suasana hati.

“Apa ada sesuatu yang menyenangkan? Mengapa kau terlihat menahan senyum seperti itu.”

Cherry menaikkan wajahnya setelah wanita itu menyesap jus miliknya, menatap Gwen dengan senyum yang sama seperti sebelumnya.

“Ketua tim kita yang baru Sir William adalah pria tertampan di sini tentunya setelah Owner perusahaan dan wakil direktur.”

“Apa sebelumnya dia ketua tim lain?” Tanya Gwen yang akhirnya paham mengapa Cherry begitu senang, Gwen pikir nanti setelah ketua tim itu datang Cherry akan mengencaninya.

“Bagaimana kinerjanya?”

“Ya, dia ketua tim lain sebelumnya. Tentu kinerjanya bagus karena Timnya selalu masuk peringkat ketiga, tetapi yang penting dia tampan tampan tampan dan tampan.”

Gwen mengerutkan keningnya, menurut Gwen tampan tidak bisa menjadi patokan dari segala sesuatu. “Bagaimana sikapnya selama bekerja menjadi ketua tim? Apa menyebalkan?”

“Tentu tidak, mana ada pria tampan yang menyebalkan. Wajah tampan mereka menyelamatkan mereka dari hal itu.” Mendengar ucapan Cherry yang tidak bisa diharapkan, akhirnya Gwen memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Mungkin ia akan tahu nanti jika pria itu sudah pindah ke timnya.

“Tetapi tetap saja tidak ada yang lebih tampan daripada Owner perusahaan kita sekaligus CEO M.B.Inc. dia adalah pria tampan yang paling diincar dinegara ini ah tidak mungkin di dunia ini. Sangat kaya dan tampan sekali.”

“Apa kamu pernah bertemu dengan CEO kita?”

“Tentu tidak, aku hanya sering lihat dimajalah.” Kantin yang awalnya senggang tiba-tiba menjadi ramai, terlihat rombongan yang masuk. Gwen yang tidak pernah berjumpa dengan hal ini bertanya pada Cherry, apa yang terjadi.

“Sepertinya CEO kita akan makan disini.”

Ponsel mereka bergetar bersamaan, memunculkan notifikasi pesan dari perusahaan yang menyuruh agar mereka tetap melanjutkan makan siang dengan tenang seperti biasa tanpa harus memperdulikan ada CEO disana.

“Wajahnya sangat tampan sekali, terlihat tidak nyata.”

Gwen hanya mendengarkan saja semua yang Cherry katakan, tak ingin tahu soal rupa CEO. Lagipula jika dilihat ia hanya cukup tahu saja, tak ada manfaat lebih seperti tiba-tiba diberi uang satu miliar. Dalam hidupnya Gwen sudah kenyang melihat pria tampan bahkan kemaluan mereka.

Astaga.. jika diingat ingat sudah lama sekali Gwen tidak bertemu dengan benda itu. Dan pria itu yang menjadi terakhir juga yang mengambil kesuciannya adalah yang paling terbaik dari yang lain.

Gwen.. apa yang kau pikirkan, ya ampun pikirannya begitu kotor sekali dan ia rasa ia perlu mencuci muka agar pikirannya jernih supaya tidak melulu memikirkan kemaluan pria.

“Aku akan ke kamar mandi sebentar.”

Gwen bangkit dari kursinya dan pergi menuju toilet diluar area kantin. Baru saja ia masuk dan ingin menghidupkan air keran, seseorang masuk dan mengejutkan Gwen karena pria itu menarik Gwen hingga tersudut didinding.

“Gwen…”

Melihat wajah pria itu saja Gwen syok sekali, ditambah pria itu memanggil namanya dengan nada marah yang kental. Gwen tidak percaya mengapa mereka bisa bertemu disini.

“Dimana saja kamu selama ini, katakan padaku.”

Dalam rasa terkejutnya Gwen sama sekali tidak menjawab pria ini.

“Dimana anakku Gwen?”

Bersambung