Gwen Milikku Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37
Not Badgirl

“Shh.. shit! Bibir mu luar biasa sayang.. Ahh.. teruskanhh..” Kepala Gwen maju mundur mengikuti irama yang dibuatnya tentu saja berhasil membuat pemuda yang terduduk di depannya ini memejamkan mata merasa kenikmatan.

Dan keluarlah cairan putih dari benda yang sedari tadi Gwen kulum. Tanpa basa-basi ditelan habis cairan itu oleh Gwen. Ditariknya tubuh Gwen hingga jatuh ke pangkuan pemuda yang tidak memakai celana itu dan melumat habis bibir seksinya.

Gwen pun menikmati ciuman panas mereka, membiarkan tangan pemuda itu memainkan payudaranya yang besar.
Hingga saat tangan pemuda itu terus turun dan ingin masuk kedalam celana hot pants miliknya, Gwen segera menghentikan itu.

“Aku sudah selesai.” Ujarnya bangkit dari pangkuan pemuda itu dan berjalan ke pintu kamar.

“Sialan kau! Aku sudah terangsang karenamu dan kamu harus tanggung jawab.” Maki pemuda itu membuat Gwen sedikit sebal. Untung pemuda itu tampan.

“Tapi kau sudah keluar tadi dengan mulutku. Sudahlah cepat buka pintunya.” Ujar Gwen malas berlama-lama.

“Dasar jalang! Kau tidak akan pernah keluar dari sini sebelum aku merasa puas dengan lubang longgarmu.” Ucapan pemuda itu sangat kasar dan sedikit menyakiti perasaan Gwen. Sedikit.

Lain dengan ucapannya tadi, Gwen mendekati pemuda itu meraih tengkuknya dan langsung melumat bibir sialan pemuda tersebut. Gwen dapat merasakan senyum kemenangan pemuda itu dalam tautan bibir mereka. Tanpa menunggu lagi, tangan nya dengan cepat memukul tengkuk pemuda itu hingga ia hilang kesadaran.

Dengan cepat ia mencari kunci kamar ini yang ternyata berada di bawah ranjang. Dengan umpatan Gwen mengambil kunci tersebut. Ini masih bisa ditoleransi, Gwen bahkan pernah melakukan hal lebih ekstrim dari ini hanya untuk mencari kunci atau keluar dari kamar yang disewa setiap pria yang mengajaknya make out.

Setelah berhasil keluar, Gwen segera menelfon temannya untuk menjemput dirinya.

“Gimana rasanya Gwen? Gede gak?” Itu adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir bengkak Tasya ketika dirinya masuk kedalam mobil sahabatnya itu.

“Biasa aja sih. Kalo masalah gede sih lumayan lah gak malu-maluin banget.” Jawab Gwen acuh sembari memainkan ponselnya.

“Tenaganya gimana? Mantap gak? Apa cepet loyo?”

“Yang ini cepet crotnya Sya. Kurang asyik.”

“Ah lo mah gitu tanggapannya. Mau ukurannya gede, kecil, sedang juga biasa aja. Lagian selama gue denger semua ucapan lo semua cowok cepet crotnya.” Gerutu Tasya tak diindahkan oleh Gwen.

“Keenakan kali Sya. Service gue gak ada tandingannya sih, jadi wajarlah cepet crotnya.” Tasya mengangguk paham.

“Iya sih. Eh, ini lo mau gue anter kemana? Apartemen atau rumah?”

“Apartemen deh biar cepet sampe. Mau tidur.”

“Oke. Ntar malem masih mau ke kesana kan?” Tanya Tasya memastikan.

“Selama besoknya hari libur ya harus kesana dong.” Jawab Gwen seadanya.

“Siap bu bos.” Balas Tasya antusias membuat Gwen menjadi geli sendiri. Sesemangat itukah sahabatnya itu jika datang ke tempat penuh dosa?

Sesampainya di apartemen, Gwen diikuti Tasya yang kayanya ingin menginap langsung menuju ke kamar. Usai membersihkan diri, ponselnya berbunyi. Tertera nama sang ibu disana.

“Iya hallo ma.”

“Sayang, kenapa kamu belum pulang?”

“Gwen balik ke apartemen ma, sama Tasya juga.”

“Oh yasudah, lain kali hubungi mama ya jika tidak pulang. Mama khawatir.”

“Oke ma, maaf ya buat mama khawatir.”

“Gak papa. Kamu istirahat ya.”

“Iya ma. Ini juga mau tidur.”
“Good night princess.”

“Malam ma.”

Komunikasi terputus dilihatnya sekrang pukul 11 malam. Ibunya belum tidur karena mengkhawatirkan dirinya. Gwen menjadi merasa bersalah.

“Nyokap lo?” Tanya Tasya yang sudah tergeletak dikasur.

“Iya, gak tega gue sama mama khawatir gitu.”

“Makanya lain kali kasih kabar Gwen. Kayak gue dong, belajar lah.”

“Iya iya. Gue ngantuk mau tidur.”

“Oke.”

Tanpa bicara lagi Gwen segera menenggelamkan diri diselimutnya, dan terlelap.

“Gwen.. bangun.. gue laper nih cari sarapan yuk.” Gwen menggeliat sama tidur nya karena merasa terganggu.

“Lo udah mandi belom?” Tanya Gwen dengan mata yang masih terpejam.

“Udah. Buru lo bangun terus mandi.” Segera Gwen bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.

Matanya sudah terbuka lebar dan tubuhnya terasa segar setelah mandi. Dilihatnya Tasya masih menunggui dirinya sambil memainkan ponsel.

“Yok cari makan. Kita ke kafe bawah aja.”

“Yaudah.”

Makan pagi ini diisi dengan obrolan biasa, tidak ada yang menarik. Hingga temannya itu menghela nafas begitu keras.

“Kenapa lagi Sya? Dari tadi malem lo agak aneh deh. Muram begitu mukanya.” Kembali Gwen mendengar helaan nafas dari temannya.

“Gue ngerasa Darren berubah Gwen. Dia jadi gak seperhatian kemarin ke gue.” Gwen menaikkan alisnya tak paham.

“Gak perhatian gimana Sya?”

“Dia udah jarang kasih kabar Gwen, telfon aja sekarang udah bisa dihitung pake jari.” Gwen memicingkan mata menatap sahabatnya.

“Lo udah kasih tubuh lo ke dia?” Pertanyaan itu begitu menusuk tetapi Tasya mendesis tak suka.

“Ya enggak lah. Gila lo. Walaupun bibir gue udah gak perawan, dada gue udah gak perawan tapi sorry to say ya Gwen lobang gue belum pernah dibobol.”
“Baguslah, kalo gitu putusin aja. Dia bosan kali sama lo gak mau kasih dia jatah.” Tasya membelalakkan matanya.

“Bosan gimana? Walau pun gue gak pernah kasih lebih ke dia, tapi gue kasih dia blowjob dan handjob kok. Cipok raba juga gue kasih. Nyusu kayak bayi juga gue beri.” Ujar Tasya tak terima.4

“Lo nemu Darren dimana sih Sya? Kayak gak tau pergaulan dia aja sebelum ketemu lo. Bahkan gue yakin dibelakang lo pun dia sering lakukan itu dengan yang lain. Jangan buta-buta amatlah karena cinta.” Decih Gwen.

“Kita begini kan cuma buat senang-senang aja Sya. Jangan bawa bebanlah, dan yang penting kita jaga harga diri kita yang tinggal satu-satunya itu. Yakin deh nanti bakal bahagia.”

“Iya ya. Apa gue putusin Darren aja? Tapi gue masih sayang sama dia gimana dong.” Tatapan mata Tasya begitu sedih.

“Sayang juga bisa hilang Sya. Yang penting lo berusaha. Buru telfon Darren minta putus, nanti malem kita pergi ke tempat asik buat senang-senang.”

“Nanti kalo Darren gak mau putus terus cari gue gimana?” Tasya terlihat khawatir tak membuat Gwen ikut khawatir juga.

“Ya jangan ditempat biasalah. Kita ke tempat baru, gue denger ini tempat keren banget lagi ngehits juga namanya. Gimana?” Tawar Gwen.

“Oke gue telfon Darren dulu.”

Bersambung