Gadis Ayah Yang Baik Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Emma mundur selangkah mendengar ucapan Douglas, nafasnya tercekat. Benarkah yang dia dengar tadi, Douglas melamarnya, memintanya untuk menjadi istrinya

Emma menatap tak percaya pada Douglas.

“Kenapa..? ” tanyanya lirih

“Apakah aku harus mengatakannya padamu? ” tatap Douglas lembut

Emma memejamkan matanya, kepala nya terlalu pening karena semua kejutan ini

“Aku butuh mendengar nya, Douglas.” pinta Emma dengan nada memohon

Douglas meraih tangan Emma, mengecup jemarinya dan membimbing gadis itu untuk duduk disalah satu kursi dan Douglas duduk di tepi meja dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Emma

“Aku tak tahu apa-apa tentang cinta baby girl. Hidupku selalu di kelilingi wanita, seks dan affair, aku tak memungkirinya. Aku bajingan arogan” Emma menangkupkan tangannya yang lain diatas tangan Douglas yang sedang menggenggam tangannya

“Mungkin ini semacam gen yang diwariskan oleh mendiang ayahku. Saat aku remaja, aku terbiasa melihat ayah dan ibu tiriku yang sering membawa pulang kekasih-kekasih mereka, pesta seks, narkoba dan berganti-ganti pasangan”

Emma bisa mendengar kemarahan dan kebencian disuara Douglas, dikecupnya lembut punggung tangan Douglas. Douglas tersenyum dan membelai pipi Emma

“Aku marah pada mereka. Aku merasa diabaikan. Disaat teman-teman seusiaku bermain, aku memutuskan untuk bekerja, demi mempertahankan hidup. Karena ayahku dan istrinya benar-benar tak peduli padaku. Bahkan aku sanksi jika mereka menyadari keberadaanku”

Douglas terdiam, Emma merasa hati nya dihantam palu godam saat dia mendengar pengakuan Douglas. Dia bisa merasakan kepedihan Douglas.

“Kemarahanku dan kebencian ku terbawa hingga aku dewasa. Aku selalu menganggap wanita tak lebih sebagai alat pemuas nafsu. Setiap kali aku berhubungan seks, aku melihat bayangan ayahku dan istrinya. Aku ingat bagaimana kehidupanku saat kecil. Aku melampiaskan amarahku pada wanita-wanita itu. Seks keras. Sebagai bentuk hukuman. Dan aku menikmatinya. Hingga Irina mengenalkanku pada duniaku sekarang.” Douglas menghela nafas panjang

Emma berdiri dan memeluk tubuh Douglas erat, tangisannya pecah seketika. “Cukup Douglas, jangan dilanjutkan lagi” isaknya

“Aku hanya ingin kau tahu tentang masa lalu ku, rahasia tergelapku, apa yang menjadi alasan aku memilih gaya hidup seperti itu. Aku marah. Aku membenci diriku sendiri, aku membenci masa kecilku. Aku membencinya, ayahku dan istrinya.”

Tubuh Douglas bergetar, Emma tahu pria ini begitu terluka akibat masa lalunya. Diabaikan oleh orangtuanya. Melihat hal-hal yang seharusnya tidak dia lihat, dan harus menanggung beban yang berat, mencari uang untuk bertahan hidup. Ayah macam apa yang membiarkan anaknya tumbuh dalam keluarga seperti itu.

“Tapi semua berubah sejak kau melangkah masuk ke kehidupanku. Aku menikmati setiap menit yang kita lewati bersama. Denganmu aku mengerti apa itu bercinta, yang kita lakukan bukan hanya sekedar seks” bisiknya dengan mata terpejam

Emma membelai rahang Douglas dengan perlahan dan lembut

“Aku tahu masa laluku terdengar menjijikan. Aku tak tahu apa itu cinta tapi satu hal yang aku tahu, aku tak ingin kehilanganmu. Kehilangan cahaya yang mampu menuntunku keluar dari lorong gelap masa laluku. Aku tak berhak meminta sesuatu yang suci dan murni, semua terserah padamu baby girl. Aku menerima apapun keputusanmu.” ucap Douglas dengan nada pasrah

Emma menatap Douglas dengan sendu, ini adalah prianya. Miliknya. Kekasihnya. Masa depannya.

“Kau benar-benar bodoh. Mengapa kau putus asa secepat itu. Apakah jika aku menjawab tidak, kau akan langsung pergi tanpa berusaha meyakinkanku lagi?” sungut Emma kesal

Douglas menatap Emma, mencoba mencerna kalimat Emma lalu senyumnya mengembang, dia berlutut di depan Emma, membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.

“Katakan baby…aku ingin mendengar kepastiannya”

“Ya, Douglas..aku akan menikah denganmu. Menjadi istrimu, kekasihmu atau apapun itu namanya” isak Emma bahagia.

“Oh sayang…terima kasih” peluk Douglas semakin erat. Bibirnya menyapu seluruh wajah Emma membuat gadis itu terkikik geli

“Tapi, bagaimana dengan Irina? Bukankah kabarnya kalian kembali bersama?” ucap Emma penuh selidik+

Douglas tersenyum menanggapi pertanyaan Emma, dia tahu gadisnya ini akan mengajukan pertanyaan tersebut.

“Baby, dengarkan baik-baik. Tak ada wanita yang kuinginkan selain dirimu. Semua yang kau dengar itu hanya kebohongan yang diciptakan oleh Irina” dengus Douglas. “Aku mengakui dia datang menemuiku, meminta untuk kembali”

“Lalu apa jawabanmu?” tanya Emma dengan nada tak suka

“Aku mengusirnya dari rumahku dan dari hidupku. Dulu dia yang memilih untuk keluar dari hidupku dan aku bersyukur karenanya” bisik Douglas

Emma mempererat pelukannya, menghirup aroma khas tubuh Douglas. “Milikku.” desahnya

“Milikmu baby…” balas Douglas melumat bibir gadis itu.

***

Emma menatap pantulan diri nya di depan cermin. Gaun pengantin berwarna putih gadingnya terlihat sangat luar biasa melekat ditubuh indahnya. Mereka akan menikah di London di mansion yang belum lama ini dibeli oleh Douglas.

Satu set berlian menambah kesan mewah. Hari ini adalah hari bahagia milik dia dan Douglas.

Emma tersenyum saat mengingat pria itu. Douglas tetaplah Douglas, pria menyebalkan dan arogan bagi Emma, tapi dia sangat mencintainya.

Mereka memutuskan (well,sebenarnya ini keputusan Douglas), mereka menikah satu minggu setelah Emma lulus sekolah. Awalnya ayah Emma menolak karena itu terlalu cepat. Tapi entah apa yang Douglas katakan pada ayahnya hingga ayahnya terlihat pucat dan gugup lalu menerima begitu saja keinginan Douglas tadi.

Saat Emma bertanya, apa yang Douglas katakan pada ayahnya, pria itu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya. Rahasia. Kata pria itu tersenyum lebar.

Sejak Emma kembali ke asrama, mereka tak pernah bertemu lagi. Mereka berkomunikasi hanya melalui telpon dan pesan singkat

Rindu?, tentu saja. Dan Emma selalu merengek meminta Douglas datang menemuinya. Bahkan Emma pernah meminta ijin pada pihak sekolah dengan alasan yang mengada-ngada hanya untuk menyusul Douglas yang sedang ikut berlayar dalam rangka bisnis dengan kapal pesiarnya

“Sayang, kau sudah siap?” kedatangan ayahnya membuyarkan lamunan Emma. Dia tersenyum dan menggamit lengan ayahnya

“Ayah ikut bahagia untukmu sayang. Ayah sangat yakin, Douglas akan selalu membuat putri kesayangan ayah ini merasa bahagia” bisik ayahnya.

Emma tersenyum menanggapi kata-kata ayahnya. Airmata bahagia menggenang disudut matanya. Awalnya dia merasakan sedikit kesedihan saat berpikir akan jauh dari ayahnya.

Tapi satu fakta mengejutkan yang membuat dia kini merasa tenang adalah, bahwa ayahnya sedang menjalin hubungan dengan Agatha. Ya, Agatha.

Emma menyukai Agatha. Wanita itu sudah seperti ibu baginya dan Emma yakin Agatha adalah seseorang yang tepat untuk ayahnya.

Saat mereka tiba di kebun belakang, pandangan Emma terfokus pada pria yang sedang berdiri menunggunya dan menatapnya dengan pandangan memuja.
Ayahnya menyerahkan Emma pada Douglas yang disambut lembut oleh pria itu.

“Aku mencintaimu sayang.” Bisiknya lirih. Serangkaian kalimat yang sarat akan janji. Janji seorang Douglas Blackwood untuk gadis yang akan segera menjadi istrinya, kekasihnya, miliknya.

***

Emma tersenyum membaca secarik kertas bertuliskan tulisan tangan Dorian yang meminta maaf karena tidak bisa menghadiri acara pernikahannya
Sahabatnya itu mengiriminya sebuah kotak persegi empat berwarna silver. Emma membuka kotak tersebut dan terkejut saat mengetahui isinya

Dia terkikik geli dan tak menyadari kedatangan Douglas

“Ada apa sayang, mengapa kau tertawa” Douglas membuka jas dan simpul dasinya.

“Lihat ini, Dorian mengirimiku sebuah hadiah sebagai permintaan maaf karena tak bisa menghadiri pernikahan kita” ucap Emma dengan mata berbinar-binar

Douglas mendengus sebal dan berjalan menuju jendela kamar nya, membuka setiap kancing kemejanya. Ada rasa tak suka saat Emma menyebut nama Dorian. Dia membenci pria cantik itu. Dia masih merasa kesal karena pria itu seenaknya mencium Emma.

Emma yang bingung dengan perubahan sikap Douglas mendekati pria itu dan memeluknya dari belakang

“Ada apa, mengapa kau terlihat kesal?” Tanya Emma.

“Tak apa-apa, hanya saja aku tak menyukai pria itu. Dia terlalu sering menyentuhmu” desis Douglas kesal

Hening sejenak lalu Douglas merasakan tubuh Emma berguncang dan tawa meledak dari gadis itu

“Oh Tuhan, Douglas. Maaf. Maafkan aku. Apakah benar yang kupikirkan ini, kau cemburu pada Dorian? Itukah sebabnya kau tak pernah menyukainya?” tawa Emma masih menggema didalam kamar itu membuat Douglas semakin kesal

“Maafkan aku. Sebenarnya kau tidak perlu merasa cemburu, karena kenyataannya Dorian tidak menyukai ku. Dia..mmm..dia memujamu” Emma mencoba menahan tawanya

“Apa maksudmu?” Douglas tampak tak mengerti maksud Emma

Emma berjalan kehadapan Douglas, memeluk leher suaminya dan tersenyum. “Dia menyukaimu. Dia selalu bilang kau adalah pria yang tampan, seksi dan panas” desah Emma

Douglas mengerang. Mengerti kemana arah pembicaraan Emma. “Oh Tuhan. Jadi pria itu gay!” Seru Douglas tak percaya

Emma terkekeh, melihat reaksi Douglas. “Ya. Dan dia menyukaimu” goda Emma

“Tidak!” kata Douglas menggelengkan kepalanya disambut gelak tawa Emma

“Well. Seksi. mari kita buktikan seberapa panasnya dirimu” desah Emma membelai perut datar Douglas yang ditumbuhi bulu halus dan melumat bibir pria itu.

“Dengan senang hati baby girl” ucap Douglas membalas lumatan Emma.

END