Gadis Ayah Yang Baik Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

“Apakah kau tak bisa menebaknya babygirl?” tanya Douglas menatap Emma dengan penuh nafsu.

Emma menggelengkan kepalanya mencoba menepis pesona Douglas, dia tak ingin lagi menjadi mainan seks pria itu. Tapi, sentuhan Douglas membakarnya. Membuatnya bergairah.

Tangan Douglas dengan cekatan menarik lepas kaos Emma dan membuka kaitan branya. Tangan besarnya menangkup payudara Emma, memberi gigitan kecil di belahan payudaranya.

Emma menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Menggigit bibir mencoba menahan erangan nikmatnya saat Douglas kembali menyapukan bibirnya di sepanjang kaki indah Emma.

“Hentikan Douglas… Ohhh..kumohon” desis Emma.

Douglas mengangkat kepalanya. Tangannya meraih hotpants yang dikenakan Emma lalu menariknya lepas. Douglas menatap pakaian dalam Emma yang sudah terlihat basah dan menaruh kedua kaki Emma ditepi meja.

Kepala Douglas turun, menghirup dalam aroma Emma yang terasa memabukan. Dengus nafas Douglas yang terasa hangat membuat tubuh Emma menggigil hebat.

Jemari Douglas membelai lembut daerah kewanitaan Emma yang masih tertutup kain. Tubuh Emma melengkung, kepalanya terjuntai kebawah melewati tepi meja kecil yang kini menopang punggung gadis itu.

Suara sobekan kain membuat nafas Emma semakin memburu.
Douglas kembali berlutut. Kedua tangannya mencengkram erat paha Emma dan membukanya lebar.

Sapuan lidah Douglas di daerah kewanitaannya membuat Emma memekik tertahan. Lidah Douglas terus membelainya, membuat Emma merasa dirinya akan meledak karena gairah. Pinggulnya turun naik seiring sapuan lidah Douglas.

“Ohh Douglas…ohhh” racau Emma. Kedua tangannya meremas kuat payudaranya yang menegang.

Teriakan Emma memberitahu Douglas bahwa gadis itu sudah mencapai puncaknya. Tubuh Emma masih bergetar hebat, matanya terpejam dengan nafas terengah.

Douglas tersenyum lembut, menarik tangan Emma hingga gadis itu terduduk. Matanya perlahan terbuka, menatap langsung manik mata Douglas.

Douglas membelai pipi Emma, mengecup lembut dahi nya. Emma nyaris meneteskan airmatanya mendapat perlakuan selembut itu dari Douglas.

“Kenapa…ada apa denganmu?” bisik Emma lirih.

Douglas memeluk tubuh Emma menaruh kepalanya dilekukan leher gadis itu. Emma bisa merasakan senyum Douglas mengembang.

“Kau terasa lezat” bisik Douglas menjilati kulit Emma.

Emma memeluk leher Douglas, salah satu kakinya melingkari pinggang pria itu dan menggosokan pahanya. Tangannya mulai melepas celana Douglas. Membelai ereksinya yang tegak menegang.

Douglas melumat bibir Emma dengan penuh gairah. Meremas payudaranya dan mencubit kecil puncaknya.

“Aku menginginkanmu baby girl, sekarang. Saat ini juga” desahnya diantara lumatannya.

Emma bergumam lirih, mengisyaratkan keinginannya. Douglas melepaskan pelukan Emma, berjalan menjauh. Emma menatap Douglas bingung lalu tersenyum ketika melihat Douglas memungut dasi yang tergeletak dilantai.

“Apakah kau keberatan baby girl? ” tanyanya menatap Emma

Emma menggeleng tersenyum. Douglas meraih kedua tangan Emma dan mengikatnya menjadi satu, lalu melingkari tangan itu dilehernya. Kedua kaki Emma mengait erat dipinggang Douglas.

Douglas memposisikan dirinya. Ereksinya membelai milik Emma lalu masuk dengan perlahan.

“Douglas, jangan bergerak. Rasanya sangat perih” ringis Emma

Kepala Douglas turun, menjilati leher Emma lalu mencoba bergerak perlahan. Ringisan Emma berubah menjadi erangan nikmat.
Douglas memeluk Emma dan mengangkat tubuhnya. Reflek Emma mengencangkan kaitan kakinya pada pinggang Douglas. Tangannya yang terikat dileher Douglas meremas kuat rambutnya.

“Berpeganganlah yang erat, baby girl” desis Douglas seraya terus memompa tubuh Emma dengan posisi berdiri

Emma merasa takjub. Posisi ini membuat miliknya terasa penuh. Ereksi Douglas menyentuhnya dengan sangat intens.
Emma mencoba menggerakan tubuhnya naik turun mengatur gerakannya.

“Ohhhh..iniii sangat nikmaat Douglas…” desahnya

“Kau suka?” bisik Douglas

“Yyy yaaaa..” erang Emma

Douglas mencengkram erat bokong Emma jemarinya membelai liang anus Emma dan dengan perlahan jemari itu menerobos masuk dan menggodanya

“Ooohhhh…Douglas…” jerit Emma kencang. Kepalanya terlempar kebelakang. Kakinya mengetat di seputar pinggang Douglas. Klimaks kembali mengguncang tubuhnya

Douglas terus memacu ereksinya. Jemarinya masih mengaduk-ngaduk liang anus Emma. Emma terus meracau. Tubuhnya mengkilap karena keringat.

Douglas berjalan menggendong Emma menuju salah satu kursi kayu yang berukir indah.Mendudukan Emma. Melepaskan rangkulan gadis itu dan mencabut ereksinya yang masih menegang

“Kau percaya padaku, baby girl?” tanyanya lembut

Emma mengangguk menatap Douglas. “Ya Douglas” jawabnya parau

Douglas meraih tangan Emma yang masih terikat. Lalu menaruhnya di belakang kepala gadis itu, melingkari sandaran kursi kayu yang dia duduki

“Berpeganglah yang erat sayang ” perintahnya

Emma mencengkram sandaran kursi kayunya. Douglas menaruh kedua kaki Emma dibahunya hingga tubuh Emma terangkat dari kursi sementara satu tangannya memegang erat paha Emma dan tangan lainnya memposisikan ereksinya.

“Bersiaplah sayang. Kali ini aku tidak akan lembut. Aku tak bisa menahan diriku lagi” pintanya lembut

Emma menggigit bibirnya. Menanti kenikmatan yang Douglas janjikan

Douglas menenggelamkan kembali ereksinya lalu mencabutnya. Terus seperti itu. Memancing desahan dan erangan Emma.

Milik Emma sudah terasa sangat basah. Douglas mengolesi liang anus Emma dengan cairannya.

Lalu dengan perlahan ereksinya masuk menerobos liang itu seinci demi seinci. Emma menjerit perih. Tangannya mencengkram erat kursinya. Giginya beradu dengan kuat menahan rasa sakit.

Douglas menggerakan tubuhnya dengan cepat. Kali ini tak ada sikap lembut dan hati-hati. Jemari Douglas menyelinap masuk ke liang kewanitaannya dan ibu jari pria itu membelai klitoris lnya. Membuat gairah Emma semakin menggila

Douglas tak mampu menahannya lagi. Ereksinya berkedut, tubuhnya menggigil hebat. Gerakan tubuh dan jemarinya di liang Emma semakin cepat.

Emma terengah. “A..akuu..aku tak tahan lagi” desahnya dengan terbata-bata.

“Ya sayang..ya..” desis Douglas

Douglas menghujam Emma beberapa kali. Jeritan Emma kembali terdengar, getaran tubuhnya dan cengkraman otot kewanitaannya di ereksi Douglas membuat gairah Douglas meledak. Klimaks menggulungnya dengan dahsyat.

Gerakan Douglas semakin liar. Emma bisa merasakan hangat nya cairan Douglas didalam liang anusnya, mengalir keluar.

Douglas menatap Emma yang sedang menatapnya. Bibirnya menyapu lembut kaki Emma. Lalu mengaitkan kaki gadis itu di pinggangnya, meraih tangannya masih gemetar, dan membuka ikatannya.

Emma memeluk leher Douglas erat. Mencium denyut nadi dileher pria itu. Pria itu membawa Emma ke tempat tidur. Menyandarkan tubuhnya dan menarik Emma ke pelukannya.

Tangan Douglas membelai rambut pirang Emma. Emma menguap, rasa kantuk mulai menyerangnya.

“Tidurlah sayang ” bisik Douglas yang diangguki Emma

Setengah tertidur dia bergumam dilekukan leher Douglas, membisikkan kata-kata cintanya pada pria itu. Emma yakin pria itu pasti mendengarnya. Karena samar-samar dia bisa merasakan tubuh Douglas menegang lalu kembali rileks.

Bersambung