Gadis Ayah Yang Baik Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

“Kau tampak cantik sekali sweetheart. Dan aku bertaruh banyak pria yang bermasturbasi saat melihat fotomu disini” seru Dorian ketika melihat hasil foto-foto Emma.

“Dorian, apakah menurutmu foto-fotoku terlalu terbuka?” tanya Emma cemas.

“Hei, kau melakukan sesi foto di kolam renang jadi kau harus memakai bikini. Memangnya kenapa, semua wanita memakai bikini saat akan berenang atau pergi ke pantai” jawab Dorian.

“Aku sedikit cemas. ” kata Emma lirih.

“Sweetheart, aku ikut prihatin mendengar masalah keluargamu. sebagai sahabat, aku ingin membantumu dan hanya pekerjaan ini yang bisa kutawarkan padamu” jawab Dorian penuh simpati.

“Aku sangat berterimakasih untuk itu Dorian. Mungkin aku sedikit merasa gugup” jawab Emma

“Apakah kau takut jika Blackwood mengetahuinya?” tanya Dorian

“Blackwood sudah mengetahuinya jika yang kau maksud adalah foto-foto sialan Emma dalam majalah murahan ini” potong suara berat seorang pria dengan penuh amarah.

Emma menoleh kearah suara itu. Dan sangat terkejut.

“Douglas…” bisiknya lirih.

“Pangeran berkuda datang menyelamatkan sang putri” gumam Dorian dengan nada geli.

“Halo Mr.Blackwood, senang berjumpa denganmu lagi” sapa Dorian ramah yang hanya di balas tatapan tajam oleh Douglas.

Emma menatap takut kearah Douglas yang jelas terlihat sangat marah. Tapi dirinya menolak untuk merasa terintimidasi oleh pria dihadapannya itu.

“Ayo kita pulang, little girl” ucap Douglas dengan ketenangan yang membuat Emma kagum.

“Tidak..aku tidak bisa pulang sekarang” jawab Emma menundukan kepalanya.

Sebenarnya, malam ini adalah malam pertama dia akan bekerja di salah satu bar di pinggir kota London. Dan dia berencana setelah dari sini, dia akan langsung berangkat bekerja.

“Kau akan pulang sekarang juga, denganku. Kau tidak akan bekerja di bar malam ini. Kau mengundurkan diri” jawab Douglas tajam.

Emma terkejut, bagimana mungkin Douglas mengetahui tentang pekerjaannya. Dia berjalan mendekat kearah Douglas.

“Apa maksudmu. Mengapa kau melakukan itu. Tahukah kau aku susah payah mendapatkan pekerjaan itu, dan kau seenaknya memutuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kulakukan” teriak Emma

“Tenanglah sweetheart” kata Dorian mencoba menenangkan Emma.

“Terkutuklah aku jika membiarkanmu bekerja ditempat seperti itu! Ditempat kotor dan dipenuhi banyak pria yang bisa menjamahnya!” desis Douglas

“Well, Mr.Blackwood yang terhormat. Maaf jika pekerjaan yang ku pilih tidak sesuai dengan standarmu” sindir Emma.+

“Aku sedang tak ingin dibantah little one. Sebaiknya kau ikut pulang denganku, atau perdebatan kita ini akan menarik perhatian orang banyak” kata Douglas.

“Kalau kau ingin pulang, pulanglah aku tak peduli” jawab Emma tak acuh.

“Sebaiknya kau pulang sweetheart” kata Dorian mencoba menengahi kedua orang itu.

Rahang Douglas menegang mendengar panggilan sayang yang dilontarkan Dorian pada Emma. Dia menatap tajam kearah Dorian.

“Sudah kubilang, aku tidak ingin pulang!” Emma bersikeras.

“Jangan merajuk seperti anak kecil Emm, ayo pulang!” bujuk Douglas.

“Jika aku tetap berkeras untuk tinggal apa yang akan kau lakukan, memukul bokongku?” desis Emma yang di sambut siulan Dorian.

Emma melihat tangan Douglas yang mengepal, terlambat untuknya menyesali ucapan yang dia lontarkan pada Douglas. Seharusnya dia tak menyinggung hal itu di depan umum.

Emma menatap Douglas yang terdiam menatap kearahnya. Pria itu menatapnya tajam. Emma merasa sangat lelah. Dan akhirnya dia menyerah.

“Dorian, kurasa aku akan ikut pulang dengan Douglas” ucap Emma lirih. Dia menyerah, anggap saja ini adalah bentuk penyesalannya atas ucapannya tadi.

“Tentu sayang, itu lebih baik” senyum Dorian. Keinginan Dorian untuk mengusik ketenangan Douglas sangat besar. Diliriknya pria itu, lalu dengan sengaja Dorian meraih bahu Emma dan mengecup bibir gadis itu.

Emma yang terkejut dengan tingkah Dorian hanya mengernyitkan dahinya dan menatap Dorian dengan sorot mata bingung yang dijawab kekehan oleh sahabatnya itu.

“Maaf sir, kumohon jaga Emma dengan baik” kata Dorian merangkul bahu Emma seolah tak peduli dengan Douglas yang terlihat marah dan siap menerjang tubuhnya.

“Kau tak perlu mengajariku! Aku tahu apa yang harus kulakukan!” Kata Douglas dengan geram.

Dengan kasar Douglas menarik tangan Emma agar mengikutinya pergi. Tawa Dorian nyaris meledak saat itu juga ketika melihat tingkah Douglas.

*****

Emma menyilangkan tangan didepan tubuhnya, menolak menatap kearah Douglas yang duduk di sampingnya.

Untuk apa pria ini ada disini. Bukankah dia seharusnya berada di Manhattan diatas tempat tidurnya yang besar bersama mantan istrinya yang sebentar lagi akan berubah status menjadi istrinya lagi.

Membayangkan Douglas bersama wanita lain membuat dadanya sesak. Dia ingin sekali memukul kepala pria bodoh di sampingnya ini.

Tapi disini Emma lah yang paling bodoh karena mengharapkan sesuatu yang tak mungkin. Douglas hanya menganggapnya sebagai partner seks, tidak lebih.+

“Mengapa kita kemari, aku ingin pulang” seru Emma saat dia sadar mobil Douglas memasuki sebuah hotel dikawasan Mayfair

“Aku ingin bicara denganmu sebentar tanpa diganggu siapapun” kata Douglas.

“Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, kau dengar?” desis Emma seraya menusuk-nusuk dada Douglas dengan jari telunjuknya.

“Turunlah” kata Douglas seolah tak peduli dengan amarah Emma

“Aku tidak mau” jawab Emma

Douglas menghela nafas panjang lalu turun dari mobil meninggalkan Emma yang mengira Douglas menyerah membujuknya.

“Antarkan aku ke..” belum sempat Emma menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba pintu mobil disisi tempat dia duduk terbuka
Emma sangat terkejut ketika dia merasa tubuhnya diangkat begitu saja oleh Douglas seperti sebuah barang.

“Turunkan aku sialan!. Ya Tuhan ini memalukan. Kubilang turunkan aku..” jerit Emma meronta-ronta.

Jeritan Emma mengundang perhatian orang-orang di lobi.

Douglas tersenyum meminta maaf karena keributan yang ditimbulkan olehnya dan memasuki sebuah lift dengan Emma yang masih terus meronta

Lift berhenti di lantai teratas. Douglas membuka pintu suitenya, menaiki tangga yang melingkar dan menurunkan Emma di sebuah sofa.

“Kau seperti orang barbar brengsek” jerit Emma.

Douglas mengedikan bahunya tak peduli. Lalu membuka kemejanya didepan Emma. Emma menelan ludahnya, dengan cepat memalingkan wajahnya dan berjalan menuju jendela.

Langit sore itu tampak merah, lampu-lampu mulai menyala menghiasi kota. Sebuah tangan melingkari pinggang Emma membuat Emma berjengit.

“Babygirl…” desah Douglas dilekukan leher Emma.

Tubuh Emma gemetar. “Lepaskan aku Douglas” cicitnya.

Douglas semakin mengeratkan rangkulannya alih-alih melepaskannya seperti keinginan Emma, dia menciumi bahu Emma yang lembut, menghirup wangi tubuh Emma yang sudah membuatnya gila akhir-akhir ini.

“Jika kau menginginkan partner seks selama kau berada di London, kau dengarkan aku baik-baik Mr. Blackwood yang terhormat. Aku tak berminat!” kata Emma menekankan kalimat terakhirnya.

“Hmmm..” gumam Douglas masih terus mencumbu Emma tak peduli dengan rentetan tudingan gadis itu padanya.

“Kalau kau butuh partner seks mengapa tak kau bawa Irina mu kemari” ucap Emma masih dengan nada marah.

“Irina?, ada apa dengan Irina?” tanya Douglas tanpa menghentikan aksinya.

Emma meronta, melepaskan diri dari dekapan Douglas dan beranjak menjauh. “Bukankah dia kekasihmu, dan kalian kembali bersama?” ada kesan terluka yang bisa Douglas tangkap dalam nada bicara Emma.

Douglas menatap Emma. “Kau terdengar seperti seorang yang sedang cemburu” kekeh Douglas seraya menuangkan wiski kedalam gelas.

“Untuk apa aku merasa cemburu?” jawab Emma sedikit gugup.

Douglas mendekat kearah Emma dan memerangkap tubuh gadis itu diantara jendela dan tubuhnya.

“Sayang sekali, padahal aku berharap sekali kau akan merasa cemburu” bisik Douglas.

“Aku tak peduli. Irina atau wanita mana saja boleh memilikimu dan aku tak peduli” desis Emma mengangkat wajahnya menatap Douglas tajam.

“Benarkah?” ucap Douglas pelan.

“Kau tak peduli?””

Emma memalingkan wajah nya enggan membalas tatapan Douglas. Douglas terkekeh lalu mengangkat tubuh Emma dan mendudukannya diatas meja.

Douglas berlutut didepan Emma meraih kaki jenjang gadis yang duduk diatasnya, mencium setiap jari kakinya.
Emma terpekik dan mencoba menarik kakinya tapi Douglas tetap menahannya.

“Hentikan Douglas” desah Emma.

“Ohh..apa yang kau lakukan” pekik Emma terkejut saat Douglas menggigit ibu jari kakinya dan mengulumnya.

“Tidak bisakah kau menebaknya babygirl?” ucap Douglas menatap Emma dengan penuh gairah.

Bersambung