Gadis Ayah Yang Baik Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Emma menghabiskan sisa liburannya dengan berdiam diri di rumah. Memikirkan tentang ayahnya yang terlilit banyak hutang, yang mengharuskan orangtua satu-satunya itu membanting tulang lebih keras lagi.

Bayangan Douglas pun seperti enggan membiarkannya tenang. Pria itu, cinta pertamanya. Emma terus bertanya apa arti dirinya bagi Douglas, tak jarang memikirkan hal itu membuat dia menangis.

Emma berusaha bersikap seperti biasa saat berada di dekat ayahnya. Dia tak ingin membuat ayahnya kembali marah, dan merasa terbebani dengan semua ini.

Suatu malam, saat mereka duduk diruang kerja Richard.

“Ayah, aku sudah mengambil keputusan” kata Emma

“Tentang apa nak?” Tanya ayahnya

“Tentang hidupku, aku memutuskan untuk keluar dari asrama, dan bersekolah di sekolah umum. Hal itu akan sedikit membantu mengurangi bebanmu. Dan mungkin, aku bisa mencari pekerjaan paruh waktu” jawab Emma.

“Apa?. Tidak! Tidak! Ayah tak akan pernah menyetujuinya” jawab ayahnya tegas.

“Tapi kenapa ayah, aku bisa melakukan pekerjaan sepulang sekolah” kata Emma berusaha meyakinkan ayahnya.

Ayahnya berjalan menghampiri Emma, meraih kedua tangan putrinya lalu menggenggamnya erat. “Dengar sayang, apa yang akan aku katakan pada arwah mamamu disana nanti, jika aku membiarkanmu bekerja. Aku sudah berjanji padanya akan menjagamu, sayang” bisik ayahnya lirih.

“Tapi ayah, aku tak ingin hanya berdiam diri sementara ayah bekerja sangat keras” jawab Emma sedih seraya memeluk ayahnya erat.

“Aku yakin, jika mama masih hidup, dia akan mengerti keputusan yang kuambil ini”

***

Douglas merebahkan tubuhnya yang letih diatas tempat tidur, sudah satu minggu Emma pergi meninggalkan dirinya. Dan selama itu juga dia tidak berhubungan dengan wanita manapun juga. Tubuh dan pikirannya menolak kehadiran wanita lain dalam pelukannya.

Dan Douglas merasa dirinya seperti seorang bajingan pengecut. Saat Emma dipaksa kembali ke London oleh Richard, dia hanya berdiam diri didalam ruang kerjanya.
Douglas bangkit duduk di tepi ranjang, menatap nanar kesekeliling kamarnya, lalu meraih jubah sutra milik Emma yang tertinggal di sana.

Diciumnya sutra biru itu.

Aroma Emma masih tertinggal disana, membuatnya semakin gila karena mengingat percintaan mereka yang terakhir. Tubuhnya bereaksi keras hanya dengan mengingatnya.
Suara ketukan di pintu kamarnya menghentikan lamunannya. “Masuk” serunya.

Agatha melangkah masuk kedalam kamar Douglas, dia menghela nafas panjang saat melihat majikannya menggenggam sehelai kain yang dia tahu bahwa itu adalah milik Emma, ditatapnya pria itu dengan pandangan penuh simpati.

“Mr. Blackwood, kau harus segera turun kebawah, Irina datang ingin bertemu denganmu” kata Agatha dengan nada tak suka

“Irina? Untuk apa dia kemari?” tanya Douglas heran.

“Entahlah, saat kutanya tentang apa keperluannya denganmu, dia tidak mau menjawab dan berkeras ingin menemuimu langsung” jawab Agatha.

“Baiklah, aku akan segera turun” kata Douglas malas.

Irina disini?, mau apa lagi dia sekarang. Irina adalah mantan istri nya, mereka berpisah karena wanita itu ingin mengejar kariernya sebagai seorang model, sedangkan Douglas sangat menginginkannya untuk tetap diam dirumah.

Awalnya Douglas mencoba untuk mengerti keinginan Irina dan mendukungnya. Tapi semakin lama, wanita itu semakin sulit dikendalikan. Pertengkaran demi pertengkaran semakin sering terjadi.

Bahkan mereka tak lagi peduli satu sama lain. Douglas membiarkan Irina bersenang-senang dengan banyak pria, begitu juga dengannya. Dan akhirnya, mereka sepakat untuk berpisah dan tentu saja Irina menuntut sebagian harta milik Douglas.

Kabar terakhir yang Douglas dengar bahwa mantan istrinya itu hidup mewah sebagai kekasih beberapa jutawan, dan Douglas tak pernah merasa heran mendengarnya. Irina seperti Caitlyn, seorang gold digger. Dan sekarang wanita itu disini, ingin bicara dengannya.

Douglas memperhatikan Irina saat wanita itu tidak menyadari kehadirannya. Irina sangat cantik dengan tubuh yang luar biasa indah dan dada yang besar. Wajah khas Eropa Timurnya sangat disukai para fotografer.

“Ada apa kau mencariku Irina?” tanya Douglas tanpa basa basi.

“Douglas sayang, apa kabarmu?” sapa Irina tak mempedulikan sikap kasar mantan suaminya itu.

“Katakan dengan cepat, apa maumu lalu cepat pergi. Aku sangat sibuk” ucap Douglas dingin

“Baby, aku sedang ada pemotretan disini. Lalu kupikir kenapa aku tak menyapamu, dan siapa tahu kita bisa melakukan beberapa hal seperti dulu” jawab Irina seraya membelai dada Douglas yang tertutup kemeja.

“Aku merindukanmu, master” desah Irina.

Douglas menepis tangan Irina dan sedikit menjauh darinya. “Pergilah Irina, carilah pria lain untuk kau ajak bersenang-senang. Aku tak berminat” jawab Douglas.

“Apakah kau sudah menemukan penggantiku?” tanya Irina tiba-tiba.

“Bukan urusanmu” desis Douglas.

“Baiklah baby, aku mengerti. Mungkin aku datang di waktu yang kurang tepat. Tapi jika kau menginginkanku, kau tahu aku berada dimana Douglas. Aku disini selama tiga hari” desahnya, lalu melumat bibir Douglas dengan penuh gairah yang tak dibalas oleh pria itu.

“Sampai jumpa, sayang” katanya dengan sengaja membelai daerah selangkangan Douglas.

“Dasar perempuan jalang!” desis Agatha tak peduli Douglas mendengarnya atau tidak.

Douglas menghela nafas lelah, dia sangat ingin tidur. Semua masalah yang dia hadapi membuatnya merasa lelah dan sekarang, Irina membuatnya semakin merasa muak.

***

“Ayah, aku pergi” seru Emma

“Tunggu sebentar sayang, apakah kau yakin akan melakukannya?. Sayang, kumohon. Jangan membuatku merasa semakin bersalah” erang Richard.

“Ayah, aku sudah cukup dewasa. Biarkan aku membantumu dan aku mampu melakukannya. Ini hanya sebuah cafe” ucap Emma berusaha menenangkan ayahnya

“Tapi sayang, ini tak benar. Kau seharusnya berada di asrama, mendapat pendidikan layak sesuai keinginan mendiang mamamu” jawab ayahnya dengan nada sedih

“Ayah, kita sudah pernah membahas masalah ini. Lagipula, aku menyukai sekolah baruku. Sekarang berhentilah mencemaskanku. Aku harus berangkat, aku tak ingin terlambat di hari pertama aku bekerja” jawab Emma tersenyum yang dibalas oleh ayahnya.

Sejujurnya Richard merasa sangat bersalah karena membiarkan putrinya mengambil keputusan sebesar ini. Tapi, apa daya ini semua adalah keputusan Emma dan putrinya benar, mereka harus menghemat uang mereka. Mereka sudah mengurangi pelayan dirumah mereka dan belajar untuk lebih mandiri.

Sempat terpikir oleh Richard untuk menjual mansion mereka tapi terlalu banyak kenangan disini.

Emma sangat mencemaskan ayahnya, dia tahu jika ayahnya memikirkan keputusan yang Emma ambil. Tapi hal ini memang harus dia lakukan agar ayahnya bisa sedikit bernafas lega.

Setelah para pelayan diberhentikan, Emma belajar mengurus rumah dan memasak. Untungnya sedari kecil dia sudah sering memperhatikan ibunya dan diasrama dia diajarkan untuk mandiri.

Emma bertekad untuk membuktikan pada ayahnya bahwa dia mampu melakukan tanggung jawabnya. Emma mengusap airmatanya yang terjatuh di pipi. Dia harus kuat. Demi ayahnya.

***

Pukul sepuluh malam saat Emma dan beberapa pegawai di cafe tempat dia bekerja sedang membersihkan dan merapikan cafe yang sudah tutup, tanpa sengaja dia melihat sebuah acara di televisi yang dinyalakan oleh pemilik cafe. Acara itu sedang membahas tentang Douglas Blackwood.

“Jean, bisakah aku minta tolong untuk sedikit membesarkan volumenya ?” pinta Emma pada salah satu temannya

“Tentu. Apakah kau tertarik dengan pria ini? Sangat tampan bukan?. Ohh…bagaimana rasanya ya, memiliki kekasih setampan dia, seksi juga kaya raya” desah Jean berlebihan

“Uhh, aku lebih ingin tahu bagaimana dia diatas tempat tidur, pasti sangat menggairahkan” desah salah seorang gadis.

Tangan Emma terkepal saat mendengar komentar gadis itu. Dia nyaris menjambak dan menyeret gadis itu karena rasa cemburu dan mengatakan padanya bahwa Douglas adalah miliknya.

Tapi perhatiannya teralihkan saat acara itu menampilkan gambar pria yang dicintainya itu tengah dipeluk dan dicium sekilas oleh seorang wanita yang disebutkan sebagai mantan istri Douglas Blackwood dan mereka berspekulasi, kemungkinan pasangan itu akan kembali bersama.

Tubuh Emma bergetar, tangannya basah oleh keringat. Oh Tuhan, jangan katakan bahwa berita itu benar.

Tidak. Itu pasti bohong!. Bagaimana mungkin pria itu dengan cepat mendapat pengganti dirinya.

Dia memang bodoh! bodoh! bodoh!. Dia terlalu yakin jika pria itu merasakan hal yang sama. Harusnya dia bisa menduganya ketika pria itu tak pernah mencoba menghubunginya. Harusnya dia tahu.

Tapi dia terlalu lemah, dia berpikir mungkin pria itu ingin mencari waktu yang tepat, menunggu hingga amarah ayahnya sedikit mereda. Tapi nyatanya seperti ini.
Pria itu tak pernah menganggapnya ada. Tak pernah mempunyai rasa yang sama dengannya. Semua hanya angan-angan Emma.

Bersambung