Gadis Ayah Yang Baik Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

“Selamat pagi” sapa Emma saat melihat Agatha sedang menyiapkan sarapan.

“Halo sayang. Duduklah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu” Kata Agatha tersenyum.

“Dimana Douglas?” tanya Emma melahap sarapannya, ini masih pagi tapi pria itu sudah tak ada di sampingnya saat dia bangun tadi.

“Mungkin dia berada di ruang kerjanya, sayang” jawab Agatha

“Aku akan menemui Douglas” kata Emma beranjak bangun setelah menghabiskan sarapannya.

Setelah mereka menghabiskan malam bersama tempo hari, hubungan keduanya sedikit membaik. Emma kembali ke penthouse Douglas, dan dia selalu menghabiskan malam bersama Douglas.

Dan mereka tak menutupi hubungan mereka didepan Agatha. Semua berjalan apa adanya. Tetapi ada sesuatu yang membuat Emma resah, mereka selalu bercinta tanpa menggunakan pengaman. Emma sangat mencemaskan hal itu. Dia akan membicarakan hal ini dengan Douglas.

Tanpa mengetuk Emma membuka pintu ruangan Douglas dengan tiba-tiba. Dia melihat Douglas sedang duduk di ujung meja. Emma berjalan menghampiri Douglas, memeluk tubuhnya dan mengecup sekilas bibir pria itu.

Suara seseorang memanggil nya dengan kasar membuat Emma terkejut dan menoleh ke arah sumber suara tersebut

“Ayah..” seru Emma terkejut dan dengan cepat melepaskan pelukannya pada Douglas.

Richard memandang kearah Emma dan Douglas bergantian. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada marah seraya menarik tubuh Emma.

Douglas yang melihat itu berusaha menenangkan Richard. “Tenanglah Richard, kendalikan dirimu. Kau menyakiti putrimu” bujuk Douglas.

Richard memandang tajam kearah Douglas. “Aku memang menawarkan semua asetku untuk menutupi semua hutang-hutangku D, tapi putriku tidak termasuk didalamnya. Dan, demi Tuhan. Aku menitipkan putriku padamu tapi mengapa kau tega mengambil keuntungan dari kepolosannya.”

“Demi Tuhan Richard, apa yang kau katakan! Aku tak pernah menganggap Emma sebagai bagian dari aset-aset yang kau tawarkan, aku tak serendah itu. Dan aku tak pernah mengambil keuntungan seperti dugaanmu tadi. Semua terjadi begitu saja.” desis Douglas.

Emma memandang ayahnya dan Douglas bergantian, wajahnya terlihat pias. Airmata jatuh bergulir di pipinya. Dia benar-benar merasa bingung.

“Cepat kemasi barang- barangmu!, kita akan pulang” perintah ayahnya.+

“Sekarang?, tapi ayah..” jawab Emma mencoba untuk membuat ayahnya mendengarkan dia.

“Aku tak ingin mendengar alasan-alasan yang akan kau katakan Emm, sudah cukup liburanmu disini. Kau berjanji hanya akan berlibur selama sepuluh hari tapi nyata nya ini sudah lebih dari sepuluh hari. Tidakkah kau tahu aku mencemaskanmu, maka dari itu aku menyempatkan diri untuk melihat dan membawamu pulang. Tapi sekarang aku mengerti apa penyebab keenggananmu untuk pulang” desis Richard seraya menatap tajam kearah Douglas.

“Jangan salahkan putrimu Richard” pinta Douglas.

“Aahh. Jadi, sekarang kau akan mengakui bahwa kau yang sudah merayu putriku untuk naik keatas tempat tidurmu?!” teriak Richard pada Douglas.

“Demi Tuhan Douglas!, tidakkah kau sadar, dia masih remaja! dan kau..kau nyaris seusia ku!”

Douglas hanya diam memandang Richard yang terihat sangat marah, dia memang salah. Seharusnya dia mampu membendung gairahnya terhadap Emma.

Tuhan tahu bagaimana kerasnya dia berusaha untuk meredam gairahnya tapi dia tak mampu. Emma terlalu menggairahkan membuatnya mabuk dan ketagihan.

“Bagaimana dengan Caitlyn ayah, bukankah dia juga terlalu muda untukmu?” Sela Emma dengan lantang.

“Aku menikahinya! Sesuatu yang tak akan pernah bisa kau dapat dari seorang Douglas Blackwood!” jawab ayahnya tajam menohok hati Emma, membuatnya limbung karena menyadari kebenaran akan kalimat yang dilontarkan ayahnya.

Tatapan Emma jatuh pada Douglas yang berdiri terpaku.

Tangan Douglas mengepal erat. Pernikahan. Menikah. Dilihatnya Emma yang berdiri menatap kearahnya. Emma masih terlalu muda untuknya, dan bodohnya lagi dia teringat setiap kali mereka bercinta dia tak menggunakan pengaman.

Bagaimana jika Emma hamil?. Ya Tuhan. Jangan biarkan hal itu terjadi. Douglas merasa telah menghancurkan masa depan Emma, gadis itu sangat muda. Jalannya masih cukup panjang, masih banyak hal-hal yang pastinya ingin dia raih. kau benar-benar bajingan ulung Blackwood. makinya.

Harusnya dia berpikir kearah sana sebelum dia bercinta dengan gadis itu.

Emma membalikkan tubuhnya. Meninggalkan ruangan Douglas. Sudah jelas baginya. Douglas hanya menganggap dirinya sebatas teman tidur, sama seperti wanita-wanita yang selama ini pria itu kencani. Setelah bosan, bisa dia campakkan.

Ayahnya berkata benar. Douglas Blackwood takkan pernah menikahinya.

***

Emma melangkah gontai menuju kamarnya, dia terlalu lelah. Bukan hanya karena perjalanan yang sangat jauh yang dia tempuh tapi dia juga lelah karena terus menangisi Douglas.

Setelah kejadian di ruang kerja pagi itu, dia segera berkemas mengikuti perintah ayahnya. Tapi Douglas tak menemuinya saat dia akan pergi, hanya Agatha yang mengantarnya dengan perasaan sedih dan juga cemas.

Emma mengabari kepulangannya pada Dorian melalui telepon, dan pria itu berjanji akan mengunjunginya saat dia melakukan pemotretan di London dalam waktu dekat ini.

Emma menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, seorang pelayan menawarinya untuk mandi dan makan, tapi dia tidak ingin melakukan apa-apa dan dia tak peduli. Dia hanya ingin meratapi kesedihannya, kebodohannya, hingga jatuh terlelap.

***

“Emm, sayang. Bangunlah, ayah ingin bicara denganmu” panggil ayahnya seraya menepuk pipi Emma.

Emma menggeliat, untuk sesaat dia merasa sedikit bingung ketika memandang kesekeliling kamarnya. Lalu dia sadar bahwa dia sudah kembali ke London. Dipandanginya wajah ayahnya, gurat lelah tercetak jelas di wajahnya.

Emma membelai wajah ayahnya, lalu memeluknya erat. Richard membalas pelukan Emma, membelai rambutnya dengan sayang.

“Apakah benar usaha ayah sedang dalam keadaan terpuruk? Dan itu penyebab mengapa Caitlyn pergi meninggalkan ayah?” bisik Emma.+

Richard menghela nafas panjang “ya sayang, maafkan ayah” ucapnya pelan.

“Mengapa ayah harus minta maaf padaku?. Harusnya aku yang meminta maaf pada ayah karena terlalu egois. Harusnya disaat-saat seperti ini aku berada disamping ayah. Menguatkan ayah” kata Emma sedih.

“Ayah berhutang banyak pada Douglas, dan bermaksud untuk menjual semua aset yang ayah miliki. Tapi ayah bersumpah, ayah tak pernah menjualmu padanya” ucap ayahnya sedih.

“Aku tak pernah berpikir kearah itu ayah. Soal hubunganku dengan Douglas, aku yang merayunya. Aku yang salah” isak Emma.

“Ya Tuhan Emm, apa yang kau katakan? Apa yang merasuki dirimu sebenarnya?” bisik ayahnya tajam.

“Aku yang merayu Douglas karena kupikir dia terlalu arogan dan sombong. Tapi..” isaknya

“Tapi apa?” tanya ayah nya

“Tapi itu seolah menjadi bumerang untukku ayah. Aku jatuh cinta padanya, dan itu diluar kendaliku” jawab Emma semakin terisak.

“Dan kau menyerahkan dirimu padanya!. Oh Tuhan. Emm, kau sadar dengan yang kau katakan?. Douglas terlalu tua untukmu, tidakkah kau tahu dia tak pernah berhubungan serius dengan satu wanita. Tapi semua sudah terjadi. Dan ayah harap kau menyesalinya dan berusaha untuk melupakan pria itu.” ucap ayahnya tegas.

“Bagaimana hutang-hutang ayah padanya?” Bisik Emma lirih.

“Itu akan menjadi urusan ayah dengan dia” ucap ayahnya seraya beranjak pergi.

Ya, Emma berharap apa yang ayahnya katakan benar-benar terjadi, mungkin jarak akan membuatnya melupakan Douglas Blackwood.

Bersambung