Gadis Ayah Yang Baik Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Douglas membawa Emma menuju penthousenya, selama dalam perjalanan Douglas melihat gadis itu sangat diam tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, sesekali tangan nya terlihat saling meremas pertanda dia sedang gelisah.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Douglas

“Yaa.. aku baik-baik saja” jawab Emma gugup.

Douglas melirik kearah Emma, dia merasa yakin ada sesuatu yang membuat gadis itu gelisah “kau yakin?. Apakah kau masih memikirkan tentang hubungan ayahmu dan Caitlyn?”

“Aku berharap wanita itu membusuk di neraka!” dengus Emma kesal.

Mereka tiba di area parkir, Douglas membuka pintu mobil untuk Emma menunggu hingga gadis itu keluar.

Saat Emma keluar dari dalam mobil rasa ragu dan juga takut seketika menyergapnya. Dia melirik gugup ke arah Douglas. Keinginan untuk melarikan diri dari pria ini sangat kuat.

Tiba-tiba dia merasa kakinya bergerak berlari menjauh dari pria itu. Emma terus berlari menjauh, masih di dengarnya teriakan Douglas menyerukan namanya tapi tetap tak dihiraukannya, hingga Emma menaiki sebuah taksi menuju apartment Dorian.

Emma menangis tersedu-sedu memasuki apartment milik Dorian, dia langsung menabrak tubuh Dorian saat dilihatnya pria itu berada di dapur. Dorian tampak sangat terkejut mendapati Emma pulang dalam keadaan yang sangat kacau seperti saat pertama kali dia datang kemari.

“Hei sweetheart. Ada apa, mengapa kau menangis seperti ini?” tanya Dorian cemas.

“Oh Dorian, aku harus bagaimana..” ucapnya masih dengan terisak.

“Duduklah, dan ceritakan padaku ada apa sebenarnya” kata Dorian membimbing Emma untuk duduk di salah satu sofa.

Dorian memberikan segelas air putih untuk Emma, saat dirasa Emma sudah mulai tenang, Dorian mulai bertanya apa yang membuat Emma sangat kacau akhir-akhir ini.

Emma menceritakan semua nya dari awal, bagaimana dia menggoda Douglas dan pria itu menolak nya sampai akhir nya mereka bercinta setelah Douglas marah besar karena melihat Emma pulang dalam keadaan mabuk. Emma menceritakan semuanya.

Kecuali fakta bahwa Douglas memiliki gaya hidup yang tak biasa, dia tak ingin ada orang yang mengetahuinya. Bagaimana pun dia masih menghormati pria itu dan menghargai privacynya.

“Lalu apa masalahnya sweetheart, bukankah itu berjalan sesuai dengan yang kau rencanakan?” tanya Dorian bingung.

“Tidak Dorian, semua menjadi sangat kacau saat aku menginginkannya lebih, menginginkan pria itu untuk diriku sendiri, aku merasa ragu akan perasaanku dan ada beberapa hal yang membuatku merasa takut akan pria itu, Douglas terlalu dominan dan masih banyak lagi” seru Emma.

Dorian tampak terdiam menatap Emma yang masih menangis “kau jatuh cinta pada Blackwood sweetheart?”

Emma membelalakan matanya yang terlihat basah dan merah kearah Dorian. “Aku… aku..” ucapnya gugup tanpa mampu menyelesaikan kalimatnya.

Dorian tersenyum. “Ya, tak disangsikan lagi kau mencintai Douglas Blackwood” Katanya.

“Tak ada yang salah dengan itu Em, setiap orang berhak untuk mencintai seseorang hanya saja kita pun harus siap dengan resikonya, kita tak mungkin memaksakan seseorang untuk membalas cinta kita. Tapi tak menutup kemungkinan dia akan menyadari bagaimana perasaan kita padanya, jika beruntung mungkin dia akan membalasnya. Tapi semua butuh pengorbanan”

Emma mengernyit bingung “apa maksudmu? ”

“Em, kau mencintai Blackwood. Kau merelakan sesuatu yang kau anggap berharga padanya dengan cuma-cuma. Jika kau memang mencintainya Em, mengapa kau tak mau berkorban lagi, berusaha untuk memahaminya, menerima kekurangan atau kelebihannya”

“Tapi, apakah aku mampu Dorian?” bisik Emma.

“Jangan jadi pesimis sweetheart, kau hanya perlu mencobanya. Aku tau kau gadis kuat dan berani mengambil resiko. Pikirkanlah lagi sebelum kau memutuskannya. Kau tak ingin kehilangan kesempatanmu bukan?” tanya Dorian yang diangguki oleh Emma.

***

Douglas mengacak-acak rambutnya dengan perasaan jengkel. Dia tak mampu mengenyahkan bayangan wajah Emma yang berlari ketakutan. Sudah sewajarnya jika gadis itu merasa ketakutan pada nya.

Sebenarnya apa yang ada dalam benaknya ketika dia meniduri gadis itu, mengapa dia tak memikirkan akibatnya.

Douglas terlalu hanyut kedalam pusaran gairah lnya, dia sudah menginginkan gadis itu sejak awal mereka diperkenalkan bahkan dia bermasturbasi hanya karena melihat tubuh muda nan ranum milik gadis itu, Demi Tuhan masturbasi! Pikirnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Gadis itu pasti kembali ke apartment pria cantik itu.

Brengsek! makinya. Apa kelebihan pria itu di banding dirinya selain bahwa si brengsek itu memiliki wajah cantik yang kebetulan sering terpajang di majalah fashion. Tentu saja karena pria itu lebih muda darinya! Batinnya kesal. Douglas mengepalkan tangannya dan meninju cermin dihadapannya, membuat tangannya berdarah karena tergores pecahan kaca.

***

Emma menghela nafas panjang, dia memikirkan nasihat Dorian kemarin, awalnya Emma merasa sangsi dan takut, tapi disisi lain gairah merayapinya secara perlahan, kebutuhan akan sentuhan Douglas membuat nya merasa gila.

Memikirkan percintaan mereka sore itu membuat tubuhnya menggigil dan kewanitaannya basah.

Emma sudah mengambil keputusan, dia pun mulai memahami gaya hidup Douglas setelah kemarin malam dia mencoba mencari tahu tentang itu semua di internet dan seharian ini dia Sudah mempersiapkan semuanya.

Dia siap. Dia akan mengambil semua yang ditawarkan Douglas padanya dan dia akan mencoba membuat pria itu jatuh cinta padanya karena dia tak ingin merasakannya sendiri saja.

**********

Douglas sedang berada di tengah-tengah rapat saat sekretarisnya tiba-tiba masuk dan menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat padanya.

“Maaf Sir, supir anda memintaku untuk menyerahkan ini pada anda. Dia bilang, Agatha yang menyuruhnya” bisik sekretarisnya.

“Terima kasih” jawab Douglas

Dia merasa sedikit bingung, dan membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya dia saat membuka amplop tersebut. Cepat-cepat dia berdiri dan membubarkan rapat nya, membuat beberapa pegawainya mengernyit bingung.

Douglas berjalan menuju ruangannya lalu merobek amplop cokelat tersebut dan dengan tangan gemetar dia mengeluarkan isinya. Apa maksud Agatha, pikirnya heran. Lalu sebuah kertas menarik perhatiannya

‘dear Sir , aku menyadari kesalahanku dan aku menunggu hukumanku sekarang juga di tempat kau menghukumku kemarin’

Douglas menggenggam erat secarik kain berwarna putih berbentuk segitiga lalu mengendus mencium aroma harum yang menempel di kain itu.

Tak perlu Douglas mencari siapa pengirimnya, dia sudah tahu. Dasar gadis nakal pikirnya tapi tak ayal hal ini cukup membangkitkan gairahnya. Dengan terburu-buru dia berjalan keluar memberitahu sekretarisnya bahwa dia akan pulang cepat.

Sepanjang jalan dia terus berpikir bagaimana jika gadis itu merasa ketakutan lagi padanya, dia mencengkram erat kemudinya. Dia menepikan mobil saat ragu menghampirinya.

***

Sudah satu jam Emma menanti Douglas, berulang kali juga dia merapikan kostum dan rambutnya yang dia kepang dua. Dia sudah berusaha keras menyiapkan semua nya. Suara derap langkah membuat Emma tersadar dan sedikit berlari menuju kedalam sel, berdiri di sudut dengan kepala tertunduk.

Douglas menatap Emma dari luar sel, tangannya mengepal. Dia melihat gadis itu berdiri dengan kepala tertunduk memakai kostum anak Sekolah dengan rok sangat pendek dan kemeja ketat hingga dua kancing teratasnya terbuka, kaki indahnya ditutupi stocking putih panjang yang Douglas yakin dibalik rok itu terdapat pengait. Douglas mengerang melihat penampilan Emma.

“Apa yang kau lakukan baby girl” bisiknya tajam berusaha menahan gairahnya yang mulai bangkit

“Aku menunggumu daddy” ucap Emma lirih seraya merangkak mendekati Douglas dengan sebuah cambuk kulit terselip di bibirnya.

Douglas menggeram kasar, nafasnya terengah . Oh Tuhan! Seru batinnya.

Bersambung