Forbidden Love Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6  

Forbidden Love Part 1

Start Forbidden Love Part 1 | Forbidden Love Part 1 Start

Prolog​

Jakarta 07 januari 2018.

Tak terasa bagiku sudah 2 tahun lamanya aku berada di ibu kota untuk mengadu nasib dan peruntunganku. Namun selama itu pula tak kunjung aku mendapatkan sebuah perkerjaan.

“Huft, lelah rasanya menjalani semua ini…!”

Apalagi dengan kondisi keuanganku yang tipis, membuatku harus memutar otakku untuk dapat bertahan hidup di sini.

“Yah, dengan cara membuka usaha kecil-kecilan atau bahkan aku berkerja di tempat pencucian motor Dan mobil semua kulakukan”.

Dan pada hari ini setelah penantian lama, akhirnya aku mendapatkan sebuah panggilan interview perkerjaan di sebuah perusahaan yang sudah mempunyai nama besar di negara ini.

“Ayo Andi kamu pasti bisa !, kamu harus sukses !!” bathinku, lalu akupun segera bersiap-siap untuk berangkat.

ooo~oo~ooo​

2 jam lamanya aku menghabiskan waktu dalam perjalanan, akhirmya kini aku telah berdiri tepat di depan gerbang pintu masuk Pt. Armatha Wijaya,“Huft,” kuhembuskan nafasku sebentar, aku pun berjalan menghampiri ke tempat pos satpam “Permisi pak,” Sapaku kepada para satpam yang menjaga di sana.

“Oh ya mas ada yang bisa dibantu,” Ucap salah satu satpam.

“Begini pak, saya kesini datang untuk interview,” balasku yang memberitahukan maksud kedatanganku kepada salah satu dari satpam yang berjaga dan tentunya satpam itu pun langsung menyuruhku untuk segera masuk kedalam. “Bismillah, aku harus sukses !” batinku sambilku berdoa dalam hati, dan kulangkahkan kakiku masuk kedalam sana.

Sesampainya di dalam, aku pun sempat tertegun dengan besarnya perusahaan yang memanggilku untuk interview kerja ini, bahkan sempat ada beberapa karyawan lain yang berpapasan denganku, melihat kearahku dan memberikan senyuman mereka.

“Fiuh ayo Andi kamu pasti bisa !”, bahtinku yang sekali lagi aku menyemangati diriku sendiri, lalu aku langsung berjalan menunju Reseptionist perusahaan ini, “Permisi mbak, saya datang untuk interview kerja” Ucapku.

“Oh ya dengan mas siapa ? Bisa saya lihat lamaran perkerjaannya ?” tanyanya.

“Ya mbak saya Andi, ini surat lamaran saya,” ucapku sambil kuserahkan surat lamaran perkerjaan yang kubawa ini.

“Ok mas silahkan tunggu dan duduk dulu yah,”

“Ya mbak,” ucapku, yang akhirnya mau tak mau aku harus menunggu hingga beberapa lamanya….

oOo​

2 tahun yang lalu, Malam sebelum aku berangkat ke ibu kota.

Di saat aku sedang berada didalam kamar, mempersiapkan segala perlengkapan pakaian yang akan kubawa nantinya, terdengar suara kakek Dan nenekku yang memanggil namaku berulang kali, “Andi…andi…andi..?! Sini ke ruang tamu nang kakek sama nenek mau bicara !”

“Ya sebentar kek, nek” Ucapku, sambil aku pun buru-buru memasukkan semua pakaianku ke dalam tas, dan setelah semua sudah tertata rapi dan selesai, aku pun segera keluar dari kamarku, menghampiri kakek,nenekku yang sedang terlihat duduk berdua berada di ruang tamu.

“Ada apa kakek dan nenek, panggil Andi?” tanyaku yang heran kenapa mereka berdua memanggilku,padahal aku sedang mempersiapakan semua perlengkapan untuk keberangkatanku ke kota besok harinya. Apalagi tiba-tiba aku merasa aneh sendiri, ketika aku melihat kakek dan nenek malah saling melihat satu sama yang lain, seakan-akan saling menyuruh untuk berbicara kepadaku.

“Hmm, persiapan kamu sudah selesai semua nang?” Tanya kakek yang membuka pembicaraan.

“Sudah semua kok kek, sebenarnya ada apa toh? Katanya kakek sama nenek mau ngomong sesuatu?” tanyaku penasaran.

“Sudah kek, sudah saatnya kita berdua kasih tau sebenarnya, nang sini nenek mau peluk kamu,” Ucap nenek memanggilku untuk lebih mendekat kepadanya. Dan tentunya tanpa menjawabnya, aku pun langsung mendekat memeluk tubuh hangatnya itu.

Hangat begitu hangatnya kurasakaan saat berada didalam pelukannya, bahkan rasanya aku ingin mengurungkan niatku untuk berangkat ke ibu kota besok.

“Nang, sebenarnya nenek sama kakek mau bicara tentang orang tuamu,” ucap nenek, dan kurasakan tangannya itu sambil mengusap lembut kepalaku.

“Orang tuakku !?” tanyaku yang membuatku seakan tak percaya mendengarnya.

Bagaimana tidak selama ini aku selalu bertanya dimana kedua orang tuaku, Namun kakek dan nenek hanya memberikan jawaban kalau kedua orang tuaku sedangkan berkerja, hingga waktu berlalu dan seakan bisa menerima jawaban yang sama keluar terus menerus dari mulut kakek dan nenek, aku pun mulai jarang bertanya dimana keberadaanku kedua orang tuaku.

“E..mang ada apa dengan orang tuaku nek? Kek?” tanyaku kembali, sambil dengan perlahan aku melepaskan diri dari pelukan nenek dan kutatap langsung wajah mereka berdua.

“Nang, nenek harap kamu bisa mengerti setelah mendengarkan semua dari kami berdua,dan nenek berharap kamu tak berubah sama sekali karena nenek sama kakek sudah menganggap kamu sebagai cucu nenek dan kakek sendiri,” ucap nenek yang membuat detak jantungku berdetak lebih kencang dan mulutku ini terasa berat untuk bertanya kepadanya.

Apa maksud omongan nenek ? Apakah aku memang bukan cucunya, lalu di mana keberadaan kedua orang tuaku selama ini?, muncul beberapa pertanyaan-pertanyaan dalam benakku sekarang ini.

Dan dalam diamku, tiba-tiba kurasakan tangan yang begitu lembut mengusap pipiku dengan perlahan. “Nek, A..a..apa maksud nenek?” tanyaku terbata-bata, namun kulihat nenek membalasnya dengan senyuman tulusnya itu.

“Kek, tolong ambil kotak itu. Tadi nenek taruh atas ranjang, di dalam kamar.”Kata nenek menyuruh kakek untuk mengambil sebuah kotak yang aku sendiri, tak tahu kotak apa itu sebenarnya.

“Ya, nang kamu yang sabar yah, kakek cuma mau bicara sama seperti nenek tadi, walau bagaimana pun kamu tetap cucuku, Andi !” Ucap kakek sebelum ia pergi mengambil kotak itu.

“Nang sini, nenek masih ingin meluk kamu lagi,” Kata nenek yang akhirnya sekali lagi aku memeluk tubuh hangatnya lagi. Ketika berada didalam pelukannya aku sempat berbicara pada diriku sendiri, bahwa suatu saat nanti aku pasti mencari kedua orang tuaku. Kakek, nenek walaupun nanti aku sudah mendengar semua kenyataan yang sebenarnya, aku akan tetap menganggap kalian berdua kakek nenekku.

Karena tanpa kalianlah aku tak bisa seperti sekarang ini, karena tanpa kalianlah mungkin aku tak bisa bertahan hidup tanpa kehadiran kedua orang tuaku. “Kakek,nenek, aku sayang kalian berdua.” bathinku sambil kueratkan lagi pelukanku merasakan semua rasa hangatnya dan perasaan nyaman ini.

ooo~oo~ooo​

“Kek, nek lihat Andi pasti sukses disini,” Bathinku ketika menginggat dimana aku bisa melihat wajah mereka berdua untuk terakhir kalinya.

“Mas andi..,mas andi…..,mas…,” terdengar suara seorang wanita yang membuatku sontak tersadar dari lamunanku, “Eh… I…iya mbak ada apa?” tanyaku.

“Haish, mas Andi melamun? Bu Melia sudah menunggu di ruanggannya, mari saya antar mas Andi, sekalian ini surat lamarannya mas Andi bawa sendiri, biar nanti mas Andi yang kasihkan ke bu Melia langsung,”Kata mbak reseptionist ini yang mengajak untuk segera pergi ke ruangan bu Melia.

“I..iya mbak ayo,” jawabku terbata-bata sambil kuambil kembali surat lamaran perkerjaanku, lalu aku pun langsung mengikutinya dari belakang hingga akhirnya kami berdua sampai di depan sebuah lift.

Tingg, pintu lift sudah terbuka lalu kami berdua pun langsung masuk kedalam lift tersebut.

Didalam lift aku sedikit merasakan perasaan gugup, gerogi membayangkan seperti apa orang seperti bu Melia yang nantinya akan menginterview aku, “Duh tenang tenang ndi ! Kamu harus lolos interview ini,”Bathinku, aku merasa ini adalah sebuah kesempatan yang tak akan dua kali datangnya, dan aku harus benar-benar memanfaatkan peluang ini dengan baik.

“Mas andi dari tadi diam aja? Gugup mas?” tiba-tiba mbak reseptionist bertanya padaku, bahkan pertanyaannya langsung tepat, seakan-akan ia tahu saat ini aku merasa gugup.

“I..iya mbak dikit hehehe,”balasku sambil tertawa kecil.

“Hmm, santai aja mas. Bu Melia orangnya baik kok sebenarnya atasan yang baik kok, yah walau susah senyum sih orangnya.” Ucapnya.

“Eh, i..iya mbak,” Jawabku lagi tanpa berkomentar sedikit pun, hingga akhirnya pintu lift yang kami berdua naikin telah terbuka.

Tinggg,

“Udah mas santai aja, yang penting mas fokus aja, pas di interviewnya nanti. Ayo saya antar ke ruangan bu Melia,”

“Baik mbak,” balasku lalu aku pun kembali mengikutinya dari belakang, hingga akhirnya aku telah sampai tepat di depan pintu sebuah ruangan.

Tokk..tokk.tookk…, bersamaan dengan suara ketukan pintu, tiba-tiba detak jantung terasa berdetak lebih kencang, lalu akhirnya terdengar oleh suara lantang yang menyuruh kami berdua untuk segera masuk kedalam ruangaan itu “Masuk !!”

Krieet, pintu itu telah terbuka….

Deggg

Deggggg

Degggggggg

Degggg

“Permisi bu saya mengantarkan mas Andi,” Ucap mbaknya dan dari belakang aku masih terdiam ketika melihat seorang wanita yang berada didalam ruangan ini, sedang duduk di singgasana kerjanya dengan kedua matanya selalu fokus menghadap ke layar laptop.

“Suruh dia masuk,” Katanya ang menyuruhku untuk segera masuk kedalam.

“Siapa dia? Kenapa saat pertama aku melihatnya, aku seperti telah mengenalnya lama? Eh duh…duh.. Ayo Andi fokus kamu kesini buat interview!” bathinku sambil kugeleng-gelengkan kepalaku sendiri.

“Baik bu, mas Andi silahkan masuk,”

“Eh, I..iya mbak,” balasku gugup, lalu dengan perlahan dan sebentar ku helakan nafasku, aku pun segera masuk kedalam ruangan itu, “Selamat pagi bu,” sapaku sambil kuberusaha untuk menyembunyikan perasaan gugup yang kurasakan.

“Kalau begitu saya permisi dulu bu Melia,” Ucap mbak receptionist yang tadi mengantarkanku ke ruangan ini.

“Okay !!”

Sepeninggalan mbak receptionist tadi, kini hanya ada aku berdua dengan bu Melia di dalam ruanggannya. 5 menit telah berlalu belum ada tanda-tanda bu Melia melepas pandangannya dari layar laptop, dan selama itu pula aku hanya bisa terdiam, menunggu dan terkadang juga aku sekali-kali aku menatap wajah bu Melia, “Kenapa yah?” bathinku.

Hingga akhirnya, “Sorry kamu nunggu lama yah,” bu Melia telah selesai dengan kesibukannya.

“Oh ya gpp kok bu hehehe,” Jawabku.

“Ok, sekarang boleh saya lihat lamaran perkerjaanmu?” Tanyanya.

“Oh ya bu, ini surat lamaran perkerjaan saya,” ucapku sambil kuserahkan surat lamaranku itu kepada bu Melia.

Selama beberapa menit kulihat bu Melia sedang membaca dan tengah mempelajari surat lamaran perkerjaanku itu, lalu akhirnya “Hmm, sebelumnya kamu sudah ada pengalaman perkerjaan?” bu Melia langsung bertanya pengalaman perkerjaanku.

“Belum bu, tapi sebelumnya saya hanya buka usaha kecil-kecil dan kerja serabutan bu,” jawabku.

“Hmm,” bu Melia bergumam dan kulihat raut wajah seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu tiba-tiba kedua matanya memandang kearahku dan kembali berbicara kepadaku. “Berarti sudah 2 tahun yah kamu belum berkerja?” tanya bu Melia.

“Iya bu, ” Jawabku langsung.

“Okay, saya tadi sudah baca Dan mempelajari semua ijazah, Nilai ijazahmu ini sesuai dengan keriteria karyawan yang dibutuhkan perusahaan ini. Tapi, saya mau tanya motivasi kamu, jika kamu berkerja di perusahaan ini?” tanya bu Melia dengan tegas padaku.

“Motivasi saya, tentu saja saya ingin memperbaiki masa depan kedepannya, dan jika saya menjadi karyawan disini, saya akan memberikan yang terbaik untuk perusahaaan ini,” jawabku.

“Hmm, sebenarnya apa pentingnya sebuah masa depan untukmu?”

“Masa depan bagi saya adalah sesuat hal yang penting dan harus dicapai, karena setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk memperbaiki masa depannya masing-masing, namun itu kembali dengan sebuah kemauan untuk berkerja keras demi masa depan yang lebih baik,” Jawabku dengan penuh percaya diri.

“Cukup menarik,” gumamnya sesaat ia pun menatap kedua mataku, lalu tiba-tiba bu Melia melayang sebuah pertanyaan yang sebenarnya aku tak ingin menjawabnya, “ Coba kamu sedikit menceritakan tentang keluargamu dan perkerjaan mereka,”

Deg, bathinku rasanya bergejolak tapi tetap saja aku menceritakan semuanya, dengan kuhelakaan nafasku sebentar , aku mulai menceritakan sedikit tentang keluargaku kepada bu Melia, misalnya dimulai aku dari kecil yang hanya dirawat oleh kakek dan nenekku dan tanpa mengetahui keberadaan kedua orang tuaku, hingga akhirnya ketika aku sudah lulus kuliah, aku memutuskan untuk pergi ke ibu kota demi mengadu nasibku di sini. “Begitulah bu cerita,” kataku sambil tersenyum, namun kulihat raut wajah bu Melia terlihat merasa tak enak jika bertanya seperti kepadaku.

“Hmm, maaf saya bertanya seperti tadi,” Ucap bu Melia lalu aku pun mencoba memenangkan sambil terus tersenyum kepadanya, “Gpp bu hehehehehe,”

“Setelah mendengar kisahmu dan keluargamu, ternyata kamu orang yang memiliki sebuah mental yang kuat dalam menghadapi kehidupanmu, dan saat ini memang perusahaan ini membutuhkan karyawan baru yang memiliki mental seperti kamu, agar siap menerima tekanan yang ada nantinya,” Ucapnya.

“Terima kasih bu,”

Sesaat kulihat bu Melia sedikit memberikan senyuman padaku, lalu akhirnya ia kembali berbicara kepadaku, “Ok, mulai besok kamu mulai aktif berkerja disini,” Ucap bu Melia yang langsung membuatku merasa senang dan bahagia ketika mendengarkannya. “Aku keterima kerja disini !!”

“Be..beneran bu, saya keterima kerja disini?” tanyaku sekali lagi memastikan semua yang kudengar tadi bukanlah khalayanku semata.

“Ya tentu saja,” balas bu Melia lalu dengan reflek aku pun langsung berdiri dan meraih tangannya serta mencium punggung tangannya itu.

“Eh, su..sudah sudah, yang penting kamu sekarang bisa membuktikan bahwa kamu memang karyawan yang dicari perusahaan ini,” kata bu Melia yang dengan perlahan menarik tanggannya dariku.

“Iya bu, maaf saya bersifat tidak sopan kepada ibu tadi,” Ucapku merasa malu dengan perbuatanku sendiri barusan.

“It’s ok, saya harap kamu tidak mengecewakan kepercayaaanku Ndi,”

“Baik bu ! Saya pasti menjaga kepercayan yang ibu berikan pada saya, dan saya pasti memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini,” balasku sambil tersenyum kepada bu Melia.

“Ya, sekali lagi saya ingin ucapkan selamat bergabung di perusahaan ini Ndi,” Ucap bu Melia yang memberikan selamat sekali lagi untukku, dan bu Melia pun mengajakku untuk bersalaman dengannya.

“Ya bu, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu Melia,” balasku sambil aku meraih tangannya itu dan bersalaman dengannya. Setelah selesai aku bersalaman dengan bu Melia, aku pun segera memohon untuk undur diri dari ruangannya, “ Kalau begitu saya permisi dulu yah bu.”

“Ok,” jawabnya singkat lalu aku pun segera beranjak berdiri dari tempat dudukku, dan berjalan menunju pintu keluar dari ruangan ini, namun ketika aku baru saja membuka pintu tiba-tiba bu Melia memanggil namaku, “Andi tunggu,”

“Yah bu, ada apa?” tanyaku sambil aku pun membalikan badanku kembali.

“Kalau kamu ada waktu. Hmm, bisakah kamu mengajarkanku untuk tersenyum?” tanyanya yang membuatku sedikit mengrinyitkan alisku, tapi aku langsung tahu maksud permintaan bu Melia barusan. “Baik bu, tentu saja saya dengan senang hati mengajari bu Melia,” Jawabku sambil tersenyum kepadanya.

“Hmm, terima kasih aku pegang janjimu ini Ndi,”

“Baik but, kalau begitu saya permisi dulu,” Ucapku lalu aku pun segera keluar dari ruangan bu Melia dan berjalan menunju ke arah lift.

Tinggg.., pintu lift telah terbuka. Aku pun langsung masuk kedalamnya dan memencet tombol lantai 1. Selama didalam lift perasaanku masih terasa sangat senang karena bisa mendapatkan sebuah kerja dan ditambah lagi aku sudah keterima di salah satu perusahaan yang sudah mempunyai nama besar di negara ini.

“Tapi apakah aku bisa menepati janjiku ke bu Melia tadi yah,” Bathinku yang kembali teringat janjiku agar mengajari bu Melia untuk tetap tersenyum. Aku juga merasa binggung sendiri dengan permintaan bu Melia tadi, “Tapi….., ah sudahlah janji tetaplah janji,”

Disaat bersamaan terdengar suara pintu lift sudah terbuka, aku pun langsung tersadar dari lamunanku, aku pun segera bergegas untuk berjalan keluar dari lift, namun

Brughhhhh

“Aduh !!!” aku tak sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh, sesaat aku ingin keluar dari lift ini. “Eh, maaf….maaf…., mbak saya gak sengaja,” ucapku langsung ketika aku melihat seseorang yang sudah kutabrak tadi ternyata adalah seorang wanita.

“Maaf maaf, kalau jalan pakai mata !! Lu punya mata gak, hah !!!!”bentak wanita langsung, dan kulihat juga ia menatap tajam kearahku.

“Sekali saya minta maaf mbak, mari saya bantu,” Ucapku sambil ku ulurkan tangan dengan maksud untuk membantunya berdiri.

Plak, namun sayang bukannya wanita itu meraih tanganku, ia malah menepiskan tanganku sambil kembali membentakku, “Gak usah !! Gue bisa berdiri sendiri !” bentak wanita sambil berdiri.

Ingin rasanya aku langsung meninggalkan wanita ini, tapi aku juga merasa bersalah kepadanya, dan sekali lagi aku pun coba meminta maaf kepadanya. Tapi wanita malah semakin menjadi-jadi membentakku dan mengeluarkan kata-kata kasarnya.

“Maaf maaf, makanya lu kalau jalan pakai mata ! Lu punya mata gak sih, dasar bego !?” Umpat wanita itu.

Sabar sekali aku mencoba untuk bersabar menghadapi semua kata-kata yang terus keluar dari wanita ini, bahkan aku menyangka wanita mengira aku sengaja menabraknya sampai membuatnya terjatuh tadi.

“Oooh, gue tahu !! Lu sengaja kan nabrak gue, hah!!” Ucapnya, yang akhirnya membuatku langsung mengambil keputusan untuk segera meninggalkan.

“Sekali saya minta maaf !!!” Ucapku sambil kubungkukan badanku kearah lalu berjalan pergi tanpa mempedulikan suaranya yang memanggillku berulang kali.

“Hoi tunggu ! Jangan kabur lu ?!Urusan kita belum selesai !!!!” teriaknya keras sekali hingga kulihat beberapa orang ada yang melihatku dan ke arah wanita secara bergantian.

Disaat aku sedang berjalan keluar dari perusahaan aku hanya bisa menghela nafasku menenangkan rasa kesalku, setelah bertemu dengan wanita tadi, “Duh kenapa bisa ketemu cewek kaya tadi! Huft, semoga aku gak ketemu dia lagi,” Bathinku.

Bersambung

END – Forbidden Love Part 1 | Forbidden Love Part 1 – END

FIRST CHAPTER |Bersambung(Forbidden Love Part 2)