Drama Threesome Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 40 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 39

Rio memompa penisnya keluar masuk mulut Wulan, sesekali melakukan deep troath kedalam pangkal tenggorokan Wulan. Sensasi berbeda ia rasakan dalam posisi ini. Wulan berusaha melakukan gerakan menghisap kuat kuat penis Rio dalam mulutnya. Rio bergidik menahan birahi

“Ooohhhh … Bundaaaa ….” ia bergumam seraya terus memompa penisnya dalam mulut Wulan

“Mmmhhh uuhh .. enaknyaaa Buun …”

Ratna memperhatikan aksi dihadapannya dengan takjub. Ia tidak pernah bisa melakukan Oral Sex terhadap Rio. Bukan tidak mau, tapi ia merasa tidak cukup pandai menservis Rio dalam hal ini. Ia memperhatikan betapa Wulan begitu serius memberikan kenikmatan pada Rio melalui layanan Oral Sexnya.

Ia tampak menikmati hal tersebut. Mata Wulan terus mengawasi ekspresi Rio, sinar matanya terlihat sangat puas saat Rio melenguh menikmati sensasi yang ia berikan. Sesekali Ratna melihat Wulan tersedak saat Rio membenamkan penisnya terlalu dalam, namun Wulan tampak tidak memperdulikan hal tersebut. Ia terus menerima serangan serangan Rio yang semakin membuat Rio larut dalam kenikmatan.

Ratna bangkit, memposisikan dirinya dihadapan Rio. Ia melumat bibir Rio, meraih tangan Rio dan meletakkannya pada payudaranya. Rio meremas remas payudara Ratna, mulai merasa kewalahan menahan kenikmatan pada penis dan sensasi pada bibirnya bersamaan

“Mmmhh … mmbbnhmmnnhhh …” racaunya tak terkendali.

Wulan mengerti, Ratna memiliki tujuan yang sama dengannya, ingin membawa Rio ke puncak kenikmatan kali ini.

Wulan mengkombinasikan service sex nya pada Penis Rio dengan gerakan tangannya. Sesekali di genggamnya penis Rio, mengocoknya lembut dan cepat, menggigit ujungnya perlahan sebelum kembali membiarkan Rio melakukan penetrasi di dalam mulutnya. Terus berulang ulang. Lidahnya lincah membelai belai ujung penis Rio dan menghisap kuat saat Rio melakukan penetrasi lebih dalam.

Rio mengakui kehandalan Wulan dalam melakukan Oral Sex, namun kali ini, dua serangan kenikmatan harus ia rasakan sekaligus. Ia menyerah. Kali ini ia akan membiarkan dirinya mencapai puncak di mulut Wulan. Ia menikmati layanan sex yang diberikan Wulan. Ia merasakan hisapan kuat, belaian lembut dan tekanan tekanan dari permainan tangan Wulan mengocok penisnya. Ia menikmati lidah Ratna yang bermain dalam mulutnya serta kenyalnya payudara Ratna dalam genggamannya.

“Uuuuhhhhhhhhh Bundaaaaaaaa ..” Rio berteriak saat sesaat berhasil terbebas dari dekapan mulut Ratna.

Ratna tidak membiarkannya berlama lama, kembali meraih kepala Rio dan membenamkan kembali mulutnya pada mulut Rio. Rio hampir kehabisan nafas menahan serangan membabi buta Ratna pada mulutnya dan permainan lidahnya yang mengunci seluruh otot mulutnya. Di waktu yang bersamaan ia harus menahan serangan mulut Wulan yang semakin liar memainkan penisnya

“Mmmnhhhhh …. mmmmmmmmhhhhhhh …….” Rio tidak dapat lagi menahan puncaknya.

Ia mendekap Ratna erat erat, seluruh tubuhnya mengeras dan cairan mani mengalir deras dari penisnya kedalam mulut Wulan. Wulan terus menghisap penis Rio kuat kuat, menelan seluruh cairan hangat yang mengalir dalam mulutnya dan menjilatnya bersih sampai tetes penghabisan.

Rio menghempaskan dirinya terlentang diatas kasur, dengan Ratna rebah pada sisi kirinya dan Wulan pada sisi kanannya. Ketiganya kemudian tertidur puas dalam kenikmatan, saling berpelukan tanpa busana sampai pagi menjelang.

Lobby Hotel pagi ini cukup ramai. Wulan dan keluarga sudah bersiap kembali ke Jakarta. Semua barang sudah diturunkan, dikumpulkan menjadi satu di sudut ruangan. Wulan menimang Duma yang merengek gelisah dalam gendongannya. Ia sedikit demam sejak semalam. Wulan sudah mencoba menenangkannya dengan memberinya ASI, tapi Duma tidak juga tenang.

“Jam berapa flight kita mba?” tanya Fiska

“Masih 3 jam lagi .. Mas Rio akan mengantar kita sampai ke Bandara.” jawab Wulan

“Hanya 15 menit menuju Bandara. Kita tunggu mas Rio ya …”

“Mas Rio tidak ikut mengantar sampai Jakarta?” tanya Fiska lagi. Wulan menggeleng.

“Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Mas Rio. Mungkin dia akan menyusul kita minggu depan ke Jakarta.” jawab Wulan masih terus menimang Duma, membelainya lembut, berusaha menenangkannya.

Lima menit berlalu, Rio datang bersama Ratna, Bima dan Putri. Rio segera mengecup kening Wulan dan tersenyum

“Sudah siap Bun? Kita berangkat sekarang?” tanya Rio

“Barang bawaannya cukup banyak. Mungkin perlu waktu lama untuk memasukkan ke bagasi saat check in nanti” Wulan tertawa

“Ini karena perlengkapan untuk seserahan Juna” ucapnya menggoda Juna.

Juna akan melamar pujaan hatinya Bulan depan. Momen ini ia manfaatkan untuk membeli beberapa perlengkapan untuk acara lamarannya nanti. Juna menyeringai canggung. Beberapa dus besar memang hanya berisi perlengkapannya.

“Duma kenapa?” tanya Rio melihat Duma merengek gelisah dalam gendongan Wulan. Rio meraih Duma dan mendekapnya lembut

“Astaga .. Bun .. Duma demam ..”

Wulan mengangguk “Iya Ayah .. dari semalam .. mungkin Duma kelelahan “ujar Wulan tidak dapat lagi menyembunyikan kecemasannya.

“Minumkan ASI banyak banyak ..” ujar Ratna yang ikut memegang kening Duma dalam gendongan Rio

“Duduklah di Sofa sana Wulan .. beri Duma ASI yang banyak. Biar aku ke apotik seberang .. ada kompres siap pakai khusus bayi”

Tanpa menunggu lama Ratna bergegas pergi. Wulan menuju Sofa untuk memberi Duma ASI. Rio tampak cemas duduk disampingnya

“Biar Ayah ikut ke Jakarta ya Bun …” ujarnya

“Besok pagi Ayah bisa pulang lagi kesini dengan pesawat pertama. Ayah kuatir Duma …”

“Tidak usah Ayah ..” jawab Wulan seraya tersenyum

“Duma hanya kelelahan. Besok kalau demamnya tidak turun juga, Bunda bawa ke dokter”

“Tapi Bun .. Ayah kuatir. Duma masih sangat kecil …” bantah Rio

“Ayah …” ujar Wulan lembut sambil memegang lengan Rio

“Ayah selalu menepati janji. Nanti malam adalah konser piano tunggal Putri yang pertama, Ayah janji akan hadir. Penuhi dulu janji Ayah. Bunda dan Duma baik baik saja, percayalah …”

Rio melirik Putri yang berpura pura asik bermain game pada HP nya. Rio menghela nafas, menatap Wulan dengan gundah

“Tidak ada yang berubah .. Ayah janji itu. Kita sudah melewati hal seperti ini cukup lama, dan semua baik baik saja . Maka semua akan tetap seperti ini” lanjut Wulan

“Pikirkanlah untuk tinggal dan menetap di kota ini Bun …” bujuk Rio

“Supaya Ayah tenang dekat dengan Bunda”

Wulan tersenyum penuh arti “Tidak Ayah .. Lebih baik Bunda tinggal di Jakarta. Kita sudah pernah membahas hal ini bukan?” ucap Wulan tenang

“Kehidupan Bunda ada disana .. pasien2 Bunda, ibu, Fiska, Juna …. Terlalu banyak yang berubah kalau Bunda tinggal disini”

Rio mengangguk, membelai rambut Wulan dengan sayang. Ia tau apa yang akan dikatakan isterinya semua benar adanya. Rio percaya Wulan bisa menjaga dirinya baik baik di Jakarta.

Ratna datang dengan membawa kompres khusus bayi yang dibelinya. Ia segera membukanya, menempelkannya pada dahi Duma yang mulai tenang dipelukan Wulan.

“Kurasa ia rindu Ayahnya” ujar Ratna sambil tersenyum menatap Duma

“Lihatlah .. Ayah datang, dan dia langsung tertidur lelap”

Wulan dan Rio tersenyum. Rio mengelus rambut Duma perlahan. Duma sedikit bergerak, namun kembali tertidur sambil mulutnya sibuk menghisap ASI dari payudara Wulan.

“Ayo kita berangkat sekarang” ujar Rio

“Mana tas tas Bunda dan Duma? Biar Ayah angkat”

Rio sibuk membawa beberapa koper, tas jinjing dan kereta dorong Duma. Ia melirik Fiska dan Juna yang juga sibuk dengan bawaan masing masing ditambah tas milik ibu mereka.

“Bun .. serepot ini nanti .. Bunda bagaimana nanti?” tanya Rio cemas

“Bunda harus menggendong Duma juga”

“Ada porter Yah ..” jawab Wulan santai

“Sudahlah .. tasnya dibawa dua kali bolak balik saja ke mobil sekarang .. nanti di Bandara Bunda panggil porter untuk membantu”

Rio mengeluh, namun tetap membawa tas Wulan satu demi satu ke mobil.

“Hati hati dijalan ya Wulan. Aku tidak ikut mengantar, mobilnya tidak cukup nanti” ujar Ratna

“Mba Ratna pulang dengan siapa nanti?” tanya Wulan kuatir

“Kami naik taksi saja .. tidak usah kuatir” jawab Ratna sambil tersenyum

“Jaga Duma baik baik ya ..”

“Main ke Jakarta kapan kapan mba .. ajak Puteri dan Bima juga ..” jawab Wulan sambil memeluk erat Ratna “Terimakasih .. ”

Ratna tersenyum. Tanpa sepengetahuan mereka, Putri memperhatikan seluruh kerepotan yang terjadi didepannya. Saat Wulan berpamitan menuju ke mobil, tiba tiba Putri berkata

“Tante … Biar Ayah mengantar sampai Jakarta saja. Kasian tante repot begitu …”

Rio dan Ratna terperanjat. Mereka memandang Putri dengan takjub. Selama ini Putri satu satunya yang belum dapat menerima keberadaan Duma dan Wulan. Ucapan yang keluar dari mulut Putri tadi merupakan suatu hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Wulan tersenyum, mendekati Putri

“Tidak Putri …” jawab Wulan

“Nanti malam adalah saat terpenting untukmu. Ayah harus hadir. Kamu yang terpenting, Tante dan Duma akan baik baik saja ….”

Mata Putri berkaca kaca. Wulan ternyata tidak seperti dugaannya. Ia memeluk Wulan erat erat seraya berkata “Maafkan aku tante ….”

Wulan tersenyum, mendekap Putri dengan satu tangannya “Tante yang minta maaf sayang .. Tapi Tante berjanji, tidak akan ada yang berubah untuk Putri dan keluarga …”
Ratna dan Rio berpandangan dengan tatapan lega. Putri tersenyum pada Wulan

“Jangan lupa kabari Putri ya Tante .. Semoga dek Duma lekas sembuh ..”

Wulan mengangguk “Terimakasih sayang .. kabari tante juga hasil konsernya ya …” jawab Wulan.

Wulan melangkah menuju ke mobil untuk berangkat ke Bandara. Ia menoleh dan melambai pada Ratna, Putri dan Bima saat mobil mulai melaju. Wulan menggenggam tangan Rio disampingnya dan tersenyum bahagia. Semua telah selesai dan ia dengan lega dapat melanjutkan hidupnya bersama Rio sebagai sepasang suami isteri. Keadaan memang tidak selalu seperti yang ia inginkan. Namun ia yakin, bersama Rio, ia dapat melewati apapun dengan penuh kebahagiaan.

Konser Putri berjalan lancar. Penampilannya sangat bagus dan mendapat Standing Ovation dari seluruh penonton di gedung kesenian malam itu. Setelah menyelesaikan penampilannya, Putri bergegas menjumpai Rio dibawah panggung.

“Ayah! Telepon Tante Wulan! Tanyakan kabar Dek Duma Yah!” ujarnya cepat

“Ya .. nanti kita telepon setelah sampai di rumah ya” jawab Rio santai.

Sebetulnya ia sudah mengetahui keadaan Wulan. wulan sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Duma masih demam dan Rio sudah meminta Wulan untuk segera membawanya ke dokter.

“Sekarang Yah!! Jangan nanti!!” desak Putri sedikit resah.

Rio tersenyum, meraih HP nya dan menelepon Wulan. Ia memasang set on air saat nada sambung mulai terdengar

“Tante !! Bagaimana kabar Dik Duma??” tanya Putri saat suara Wulan terdengar diujung sana.

“Hallo mba Putri … Dik Duma baik baik saja .. sudah dapat obat dari dokter dan demamnya sudah mulai turun ..” jawab Wulan. Ratna dan Rio berpandangan sambil tersenyum melihat tingkah Putri

“Apa kata Dokter tante? dik Duma kenapa?” desak Putri lagi

“Tidak apa apa mba .. Dek Duma hanya kelelahan .. ini sekarang sedang tidur nyenyak …” jawab Wulan lagi

“Mba Putri bagaimana konsernya?”

“Sempurna” jawab Ratna

“Ia dapat banyak pujian dari pengamat tadi”

Wulan tertawa “Waah hebat! Selamat ya mba Putri …” ujarnya lagi.

Putri tertawa senang “Libur sekolah nanti aku ke Jakarta ya Tante .. mau ketemu Dek Duma” ujarnya sebelum mengakhiri telepon dengan Wulan.

Rio tersenyum, mengamati kejadian yang sangat membuatnya bahagia dihadapannya ini. Entah bagaimana ia harus bersyukur atas semua karunia Tuhan yang didapatnya dengan dua keluarga kecilnya. Tuhan telah mengatur segalanya dengan sangat sempurna untuknya.

Ia berjanji dalam hati, akan selalu menjaga kerukunan dua keluarganya sekuat tenaga. Ia sangat menyayangi keduanya. Dan sampai hembusan nafas terakhirnya, tidak akan ada yang bisa mengganggu keutuhan dan kebahagiaan keluarganya. Ia akan pertaruhkan segalanya, termasuk nyawanya sendiri, untuk keselamatan keluarga yang sangat ia cintai …..

THE END