Drama Threesome Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 38 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 37

Ratna membelai rambut Putri yang tengah menelungkup diatas kasur kamar tidur Ratna dan Rio. Putri membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal. Tubuhnya berguncang menahan tangis yang sedari tadi ingin dilepasnya.

“Putri ….” bisik Ratna lembut

“Apa yang sekarang Putri rasakan? Ayo ceritakan pada ibu Nak …”

Hening. Ratna hanya mendengar isak lirih Putri dari balik bantalnya.

“Putri …” ujar Ratna tanpa berhenti membelai rambut putri tercintanya itu

“Tidak ada yang berubah dalam hidup kita Sayang … Putri tau Ayah sangat menyayangi Putri. Putri ingat waktu Putri ujian Piano beberapa bulan yang lalu? Hujan besar dan petir .. tapi Ayah tetap datang dengan basah kuyup mendampingi Putri ujian” Putri tetap tidak bergeming.

“Lalu Dek Bima … saat sakit tengah malam, Ayah langsung pulang dengan penerbangan tercepat untuk menemani Bima. Waktu itu Ayah sedang berdinas di Papua. Putri ingat?” lanjut Ratna lagi

“Ibu pun sama Nak .. Untuk ibu, Ayah tetap Ayah yang terbaik …” ujar Ratna

“Tapi Tuhan mentakdirkan Ayah bertemu Tante Wulan Nak .. Tidak tau apakah Tuhan mengirim Ayah untuk menjaga Tante Wulan, atau Tuhan mengirim Tante Wulan untuk menemani ibu berjuang menyelamatkan Ayah bulan lalu ….”

“Putri harus tetap kuat .. sayang Ayah .. Sayang ibu .. Jaga Adek … Putri sudah mulai besar, sudah bisa membedakan apa yang salah dan tidak …” Ratna terus membelai Putri

“Tante Wulan pandai dan baik hati Nak .. Tidak apa kalau Putri berkeberatan Ayah menikah dengan Tante Wulan .. Tapi Tante Wulan dan Ayah tidak perlu Putri hukum juga. Semua sudah terjadi sayang. ini kehendak Tuhan yang harus kita terima dengan lapang dada”

Puri beringsut bangkit dari posisinya.Wajahnya terlihat berurai air mata. Ratna merasa sesuatu menindih dadanya. Berat. Kesedihan Putri adalah kesedihannya juga

“Apa yang salah dengan ibu? kenapa Ayah mencari orang lain lagi Bu?” tanya Putri

“Tidak ada yg salah Sayang .. semua kehendak Tuhan sayang …” jawab Ratna bersusah payah menahan tangisnya

“Tante Wulan akan membantu kita menjaga Ayah .. itu saja yang harus putri fikirkan.”
Putri memeluk tubuh Ratna erat erat

“Ibu janji, tidak akan ada yang berubah pada keluarga kita, walau kini sudah ada Tante Wulan dan Dek Duma ..”

Ratna melangkah masuk ke dalam kamar Bima. Ia mendapati Rio duduk di tempat tidur memandangi Bima yang sudah tertidur lelap. Rio menoleh, menatap Ratna dengan pandangan penuh harap

“Putri …?” tanyanya cemas

“Sudah tidur juga Yah .. biar aku tidur bersamanya di kamar nanti .. Ayah bisa tidur bersama Bima disini” jawab Ratna.

Rio bangkit, memeluk Ratna erat erat. Ia sadar telah melukai banyak hati malam ini. Bima pun merasakan hal yang sama. Rio dapat melihat tatapan matanya yang kecewa, namun Bima lebih terbuka menghadapi hal ini.

“Bima suka adik Duma .. lucu ..” jawabnya setelah Rio menjelaskan panjang lebar tentang adanya kehidupan lain yang harus ia terima saat ini “Ayah akan pergi menemani Dek Duma?”

“Tidak sayang .. Ayah tetap disini kapanpun Mas Bima perlu Ayah ..” jawab Rio

“Bima juga harus begitu kalau sudah besar nanti. Laki laki harus bertanggungjawab kepada keluarga. Sesulit apapun, harus dihadapi. ”

Rio berusaha untuk bersikap seperti biasa keesokan harinya. Saat sarapan pagi, ia memulai percakapan seperti kebiasaan yang selalu mereka lakukan selama ini. Putri hanya menjawab pertanyaan yang diajukan Rio dengan jawaban singkat. Rio dapat melihat mata Putri yang sembab. Bima menghabiskan sarapannya cepat cepat dan segera keluar menunggu Rio dan Putri di dalam mobil. Rio akan mengantar mereka kesekolah pagi ini.

“Ayah akan ke hotel pagi ini?” tanya Ratna hati hati

“Saat istirahat siang nanti mungkin Bu .. atau kalau tidak sempat Ayah ke hotel setelah pulang kerja.” jawab Rio seraya mengingat jadwal kegiatannya yang padat hari ini

“Ayah sudah sewakan satu mobil beserta supir untuk Wulan berkeliling kota hari ini. Ia akan baik baik saja.”

Ratna mengangguk “Anak anak masih kecewa. Perlu waktu untuk membuat mereka memahami hal ini. Mereka saat ini perlu pembuktian dari janji-janji Ayah. Hati hati …” ujar Ratna

“Biar Ibu tanyakan pada Wulan nanti Yah kalau Ayah tidak sempat .. mungkin Wulan perlu sesuatu ..” ujar Ratna

Rio mengangguk, mengecup kening Ratna dan segera menuju mobil tempat anak2 menunggunya.

Suasana Cafe “PADMA” sore ini tidak terlalu ramai. Wulan dan Ratna mengambil tempat duduk didekat sebuah jendela besar yang menampilkan pemandangan Taman Hotel yang cukup indah. Wulan dan Ratna menghabiskan waktu untuk berbincang santai sambil menikmati makanan ringan dan menghirup secangkir teh hangat.

Wulan seharian tadi mengelilingi kota bersama ibu dan adik adiknya, serta tak lupa membeli sedikit oleh oleh untuk mereka bawa pulang kembali ke Jakarta. Duma saat ini tengah tertidur lelap, Wulan menitipkan Duma sejenak di kamar Fiska selama ia berbincang dengan Ratna.

“Lusa kami pulang mba .. besok mungkin kami akan berkeliling kota sekali lagi mencari tempat wisata” ujar Wulan setelah menelan potongan terakhir Sacher Cake nya.

Ratna mengangguk angguk mengunyah perlahan pastri Zupa Sup yang masih mengepul hangat dihadapannya. Ia semakin merasa nyaman berhadapan dengan Wulan saat ini. Mereka merasa sudah saling mengenal selama berabad abad.

“Coba kunjungi Pasar Tradisional di pusat kota” saran Ratna

“Ada pojok kuliner disana. Kalian bisa menikmati makanan khas kota ini, sekaligus kerajinan tradisionalnya. Ini .. gelang kayu yang kupakai ini bisa kamu beli disana. Bagus kan?” ujar Ratna lagi seraya menunjukan gelang ukiran terbuat dari kayu yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Iya .. Oo, cocok dengan kain yang kubeli tadi mba” ujar Wulan seraya meraba gelang yang ditunjukkan Ratna “Aku tadi singgah ke toko kain rekomendasi dari Google”

“Toko PRIMA?” tanya Ratna

“Itu langganan para pejabat kalau sedang berkunjung kesini. Sedikit lebih mahal tapi kualitasnya bagus”

Wulan mengangguk setuju “Iya mba .. banyak orang berbelanja kain disana .. tampaknya memang pengunjung dari luar kota” ujarnya

Mereka melanjutkan percakapan dengan santai. Wulan memesan semangkuk bubur kacang hijau untuk melanjutkan kudapan, Sementara Ratna lebih memilih sepiring buah segar sebagai penutup kudapannya. Ratna menceritakan bagaimana malam sebelumnya Rio menyampaikan keberadaan Wulan kepada anak anak. Ratna berpikir itu adalah hal yang saat ini harus dilakukan apapun hasilnya nanti. Wulan mendengarkan dengan serius.

“Aku tidak akan pernah merebut Mas Rio dari anak2 dan mba Ratna” ujar Wulan memastikan sekali lagi posisinya kepada Ratna

“Sampaikan kepada anak anak mba … aku menyayangi mba Ratna dan anak anak seperti aku menyayangi mas Rio .. Tidak akan ada yang berubah, aku berjanji”

“Aku tahu …” jawab Ratna

“Hanya anak anak yang perlu diyakinkan .. pelan pelan .. aku yakin mas Rio bisa ..”

Wulan tersenyum, merasa lega Ratna bisa menerima keberadaanya dan Duma. Bukan hal yang mudah, Wulan sangat mengerti. Ia pun merasakan hal yang sama.

“Malam ini mas Rio tidur disini …” ujar Ratna. Wulan menatapnya. Mimik wajah Ratna tidak berubah sedikitpun. Ia tampak tenang, menyodorkan sebuah tas jinjing kepada Wulan

“Baju mas Rio dan perlengkapannya ada disini. Mungkin sebentar lagi mas Rio datang.” lanjut Ratna seraya melirik jam di pergelangan tangannya.

Wulan menunduk. Ia merasa sedikit gugup. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini. Sudah lama ia tidak berhubungan sex dengan Rio, semenjak kehamilan Duma, peristiwa Fani dan retak pada tulang leher yang memaksanya menggunakan kursi roda selama beberapa saat. Jantungnya berdebar saat membayangkan Rio

“Mba Ratna … tidak ikut menginap ….?” tanyanya tiba tiba. Ratna tampak terkejut memandang Wulan tak mengerti.

“Maksudmu?” tanya Ratna. Wulan terhenyak. Ia sendiri tidak menyadari mengapa pertanyaan itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya

“Mba … aku … kenapa tiba tiba aku merasa gugup begini …” bisik Wulan. Ratna tertegun memandangnya. Ia kemudian menggenggam tangan Wulan yang terjulur diatas meja

“Aku … sudah lama tidak berhubungan dengan mas Rio …”

“Ya .. aku tau .. mas Rio sudah menceritakannya” ujar Ratna tenang. Ia mengerti kerisauan yang dirasakan Wulan “Apa yang kamu takutkan?”

“Ini seperti aku .. pertama kali bersama mas Rio .. aku masih sedikit terbayang akan apa yang aku lihat saat itu .. Fani dan Mas Rio dan ….” Wulan menutup wajah dengan kedua tangannya

“Aku tidak tau apa aku bisa melakukannya saat ini mba …”

“Wulan …” tegur Ratna dengan suara tegas

“Kewajiban seorang Isteri memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Kamu harus menghilangkan segala perasaan itu dari hatimu.”
Wulan mengangguk.

“Apakah mba Ratna sudah ….?” Wulan tidak dapat meneruskan kata katanya.

“Ya” jawab Ratna seolah dapat membaca pikiran Wulan

“Kami melakukannya rutin .. tidak ada yang berubah. Mas Rio hampir setiap hari meminta berhubungan sex denganku … Tidak sekalipun aku menolaknya. Aku juga merasakan kekecewaan sama sepertimu .. tapi aku berusaha untuk tidak memikirkannya Wulan”

Tepat saat Ratna menyelesaikan kalimatnya, merasakan seseorang berdiri di samping meja mereka. Ratna dan Wulan serempak menoleh dan mendapati Rio yang tengah berdiri memandang keduanya. Baju Rio penuh dengan tanah dan lumpur. Wulan terpana, sementara Ratna memandangnya dengan tenang

“Ayah .. ujarnya menyambut Rio dengan pelukan “Bagaimana latihannya?”

Untuk Wulan ini adalah kali pertama ia melihat Rio dengan seragam lapangannya. Rio sangat gagah walaupun terlihat sedikit lelah. Sementara untuk Ratna ini adalah hal yang sangat sering ia temui. Ia sedikitpun tidak merasa heran dengan baju kotor atau sepatu kotor pada Rio. Biasanya, ia akan membantu Rio melepas seragamnya, dan merendamnya dalam air sabun untuk dicuci pada keesokan harinya

“Lancar Bu …” jawab Rio

“Ini sedikit robek dibagian lutut. Ibu bisa menjahitnya kan?”

“Tentu bisa …” jawab ratna seraya tersenyum.

“Ayah lelah …” ujar wulan seraya tersenyum

“Mau Bunda pesankan minuman? Teh hangat ya?”

Rio tersenyum seraya menggelengkan kepalanya

“Tidak usah Bun .. biar Ayah ganti saja bajunya sambil mandi.” Rio melirik Ratna

“Ibu bawa kan?”

“Itu didalam tas Yah .. sudah Ibu siapkan”

Rio mengangguk

“Aku antar Ibu pulang ya .. sudah hampir maghrib. Setelah mandi nanti Ayah kembali kesini menemani Bunda” ujar Rio mengalihkan pandangannya pada Wulan

“Tidak usah .. ” jawab Ratna.

“Ada Dodi yang mengantar ibu tadi Yah .. mungkin saat ini mengantar anak2 les sebentar, setelah itu menjemput ibu disini”

“Baiklah … ” ujar Rio

“Ayah temani Bunda nanti setelah mandi, menunggu Dodi ya …”

Rio menatap Wulan, mengajaknya untuk kembali ke kamar sejenak.

“Saya bantu mas Rio membuka pakaiannya dulu mbak ..” ujar Wulan seraya menatap Ratna

“Ayo ikut ke kamar .. mas Rio perlu mba Ratna ..”

Ratna menatap Wulan dan Rio bergantian. Entah apa yang menyebabkan Wulan berkata seperti tadi. Apakah karena kekuatiran Wulan yang tadi disampaikannya, ataukah karena ada pembicaraan serius yang baru saja mereka lakukan.

“Ayo mba Ratna” ajak wulan, kali ini seraya menggamit lengan Ratna. Ratna melangkah ragu. Ia menatap rio yang tersenyum penuh arti
Ketiganya berjalan menghampiri lift yang akan membawa sampai ke lantai kamar Wulan.

Ratna melipat dengan cekatan baju kotor Rio. Wulan memperhatikan dengan takjub tangan Ratna bergerak lincah melipat dan memasukkan baju Rio kedalam plastik yang telah disiapkannya. Ia belum pernah secara langsung melihat Rio berseragam dinas apalagi mengurus semua perlengkapannya seperti yang dilakukan Ratna sekarang ini.

“Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama” ujar Ratna seraya mengangkat tas berisi baju kotor Rio dan meletakkannya ke atas meja

“Kalau suatu saat nanti kamu berkesempatan mendampingi mas Rio, baju kotornya harus segera direndam. Atau nanti noda tanahnya akan sulit hilang. Jangan menggunakan mesin cuci .. disikat dengan menggunakan tangan”

“Berat?” tanya Wulan

“Ya .. seragam lapangan ini berat .. beda dengan seragam dinas sehari hari” jawab Ratna menghempaskan diri di sofa kamar hotel.

Wulan mengangguk angguk. Dibukanya tas berisi baju Rio yang tadi dititipkan Ratna padanya. Ia sekarang menyiapkan keperluan Rio. Dikeluarkannya baju dalam, kaos dan celana pendek Rio dari dalam tas, dan menyusunnya dipinggir tempat tidur mereka. Gemercik air dan suara senandung Rio terdengar samar dari dalam kamar mandi. Wulan beranjak ke meja hotel, menyiapkan secangkir teh hangat untuk Rio dari complimentary set yang disediakan hotel

“Mba Ratna mau ku buatkan teh atau kopi?” tanya Wulan sambil membuka bungkus teh celup yang tersedia

“Biar aku buat sendiri …” ujar Ratna seraya bangkit dari sofa dan menghampiri Wulan

“Kamu mau juga?”

Wulan mengangguk

“Kopi …” jawabnya sambil tersenyum.

Pintu kamar mandi terbuka, Rio melangkah keluar hanya mengenakan handuk yang dililit dibatas pinggangnya sampai diatas lutut. Wulan dan Ratna serempak mengalihkan pandangan ke arah Rio. Keduanya tertegun melihat pemandangan indah dihadapan mereka. Dada Rio bidang dengan sedikit tetesan bulir air yang masih tersisa. Rambutnya basah.

Wajah Rio terlihat segar dan ia pun menatap dua wanita yang berdiri berdampingan dibelakang meja dihadapannya. Wulan dan Ratna hampir memiliki tinggi badan yang sama. Wulan lebih tinggi beberapa senti dari Ratna. Tubuh Wulan lebih gemuk berisi, sementara Ratna memiliki berat yang proposional. Kulit Wulan lebih kecoklatan, kulit Ratna putih bersih.

Rambut Ratna bergelombang ikal, sama seperti rambut Wulan, hanya saja Rambut Wulan terjuntai panjang sementara Ratna lebih menyukai potongan pendek yang praktis. Ratna memiliki bentuk muka lonjong, sementara Wulan berwajah bulat dengan pipi yang lebih berisi. Bagi Rio, keduanya sama cantiknya. Dua bidadari yang tidak mungkin ia pilih salah satu diantara keduanya.

Ia sangat mencintai Ratna, ibu dari dua anaknya yang telah mendampinginya dalam suka dan duka. Ia juga mencintai Wulan dengan segala kelembutan dan pengertiannya, yang juga telah memberinya satu putera yang sangat ia sayangi. Rio tersenyum canggung, mencoba mencairkan suasana.

Wulan terlebih dulu membuka suara “Ehm .. Ayah .. itu bajunya diatas .. diatas tempat tidur …” ujarnya tanpa melepaskan tatapannya kearah Rio. Wulan merasakan detak jantungnya semakin bertambah cepat. Ia sangat merindukan Rio. Entah berapa purnama mereka lewati tanpa bercumbu mesra. Malam ini bisa jadi merupakan malam pertama mereka memadu Cinta lagi.

Rio melangkah mengambil bajunya dan bersiap kembali ke kamar mandi untuk mengenakannya, saat ia mendengar suara Ratna bertanya “Mau kemana ayah?”
Rio menoleh melihat Ratna melangkah kearahnya

“Mau pakai baju dong ..” jawab Rio seraya mengangkat tumpukan baju yang telah disiapkan Wulan

“Di kamar mandi?” tanya Ratna, terus berjalan pelan menghampiri Rio

“Kenapa tidak dipakai disini saja? Kenapa harus di kamar mandi?

Rio terdiam canggung. Ia melihat Ratna semakin mendekat “Eeh .. yaa .. iya .. OK Ayah pakai disini”

Ratna mendekati Rio, berdiri selangkah dihadapannya. Ia menatap Rio dalam dalam. Malam ini, untuk pertama kalinya ia dengan sadar akan merelakan suaminya bersama wanita
lain. Kali pertama, setelah sebelumnya ia tidak pernah mengetahui bahwa saat suaminya jauh darinya, ia ternyata tengah memadu kasih dengan yang lain.

Namun kali ini, ia tahu. Bahkan, ia sendiri yang menyiapkan segalanya. Mata Ratna berkaca kaca. Ia merasa cemburu, namun ia harus melakukannya. Ia sudah memutuskan untuk merelakan Rio membagi hatinya. Maka seharusnya inilah yang ia lakukan. Ratna tau, ia harus membiasakan diri dengan keadaan ini.

Rio membuka lilitan handuk yang dikenakannya, menampakkan seluruh tubuhnya dalam keadaan telanjang. Ratna menatap seluruh tubuh Rio dari kepala hingga kaki. Rio baru saja hendak memakai Celana Dalamnya saat Ratna tiba tiba memeluknya erat

“Bu …” bisik Rio.

Ia mendekap Ratna lembut, membelai kepalanya, merasakan guncangan lembut pada dadanya. Ratna menangis. Walau tanpa suara, Rio bisa merasakan isak tertahan Ratna. Rio tau apa yang dirasakan Ratna saat ini. Ia merasakan tetesan air mata Ratna jatuh diatas perutnya. Rio memandang wulan yang berdiri mematung dibelakang meja. Wulan menundukkan kepalanya saat Rio menatapnya.

“Ayah … ” bisik Ratna disela isaknya. Pelukannya bertambah erat, seolah tidak ingin melepas Rio pergi. Rio menghela nafas, membiarkan Ratna berlama lama memeluknya.

“Biar Ayah pulang saja malam ini ya …” ujar Rio lirih

“Ayah temani ibu malam ini dirumah …”

Isak Ratna semakin bertambah “Tidak …” bisiknya hampir tak terdengar

“Ibu tidak apa apa .. hanya .. kenapa rasanya berat sekali ..”

Rio menunduk, “Maafkan Ayah, Bu ….” ujarnya

“Tidak apa apa .. Ayah pulang malam ini .. Ayah tidak bisa tinggal disini kalau perasaan ibu masih seperti ini ..”

Rio menatap Wulan yang masih memandang ia dan Ratna dari jauh. Rio tau Wulan pun merasa canggung dengan keadaan ini. Namun Rio sangat mengenal Wulan, yang pasti akan membiarkannya pergi untuk menemani Ratna, memahami bahwa bagi Ratna ini adalah hal yang sangat berat.

“Biar ayah pakai baju dulu ya Bu .. kita pulang ..” ujar Rio sambil berusaha melepaskan pelukan Ratna yang mulai mengendur

“Bun …” seru Rio memanggil Wulan untuk mendekat.

Wulan membawa secangkir teh hangat yang sudah mereka buat, menghampiri mereka dan mengelus punggung Ratna lembut

“Mba … ayo diminum tehnya supaya Mba Ratna tenang …”

Ratna menoleh kepada Wulan yang tersenyum lembut

“Ayo .. kita duduk di sofa .. biar mas Rio berganti baju dulu mba ..”

Ratna meraih teh yang disodorkan Wulan dan meminumnya perlahan. Perasaan hangat sejenak mengalir memenuhi rongga dadanya

“Maafkan aku ..” ujar Ratna pada Wulan. Wulan menggelengkan kepalanya

“Tidak apa apa mba … aku sangat mengerti.” ujar Wulan seraya melirik Rio yang sudah selesai berpakaian

“Mas Rio dan mba Ratna saling mencintai .. Mas Rio tidak akan membiarkan mba dalam keadaan seperti ini sendiri ..”

“Tapi mas Rio juga suamimu …” jawab Ratna. Ia mulai merasa tenang, merasa beban yang tadi menghimpitnya berangsur angsur menghilang

“Mas Rio dan kamu juga berhak memiliki waktu sendiri”

Rio mendekat, menyeruput secangkir teh hangat buatan Wulan dan duduk dihadapan Ratna

“Ayo Bu .. kita pulang .. Setelah Ayah habiskan teh ini ya ..” ujar Rio

“Atau ….”

Rio menatap Ratna dan Wulan bergantian.

“Bun … Bunda keberatan kalau .. Mba Ratna menginap disini malam ini?”

Wulan dan Ratna terkejut. Keduanya menatap Rio tak mengerti

“Maksud .. Maksud Ayah?” tanya Ratna

“Ibu menginap disini malam ini ya .. Ibu bisa tidur dikasur dengan Wulan, biar Ayah tidur di Sofa ..”

Ratna dan Wulan saling berpandangan “Boleh kan Bun?” tanya Rio pada Wulan.

“Boleh .. tentu saja ..” jawab Wulan ragu

“Mba Ratna bisa .. pakai baju tidurku kalau tidak keberatan”

“Tapi ….” jawab Ratna ragu

“Bu … Bunda …” ujar Rio, menatap kedua isterinya bergantian

“Maafkan Ayah .. kalau belum bisa bersikap adil pada kalian berdua. Tapi dengan semua kekurangan Ayah, Ayah akan berusaha menjaga perasaan Ibu dan Bunda .. Malam ini, Ayah tidak bisa meninggalkan Bunda .. tapi juga Ayah tidak bisa membiarkan ibu sendiri dengan perasaan seperti itu .. Maka, Ayah putuskan untuk menjaga kalian .. Ibu dan Bunda, sekaligus disini …”

Ratna dan Wulan menunduk, tenggelam dalam pikirannya masing masing.

Bersambung